
Setelah tersadar dari lamunannya Bima menyentuh kembali tangan Miracle alias Elenna.
Bima menggenggam kembali tangan Miracle dan menciumnya.Reflek Elenna menarik tangannya.Dan membuat Bima terkesiap sesaat dan setelah sadar tiba-tiba hatinya terasa sangat-sangat sakit.
Tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Elenna merasa bersalah atas sikap refleknya tadi.
Bima berusaha menahan diri untuk tidak meneteskan air mata pedih yang ia rasakan. Ia berusaha merapatkan kedua rahangnya untuk menahan rasa sakit yang menyelinap tanpa sopan di dadanya.
Tetapi ternyata usahanya sia-sia airmata itu terus menerobos dan mengalir di pipi Bima.
"Bim maaf, aku tidak bermaksud--" melihat cairan bening di pipi Bima, membuat Elenna merasa bersalah.
"Tidak apa-apa El, aku sadar kok siapa aku bagimu." ucap Bima lirih dengan segala kesakitannya.
"Bukan begitu Bim, kamu juga seseorang yang berarti buat aku.Tolong jangan posisikan diriku seperti orang yang tidak tahu berterima kasih." ungkap Elenna.
Perlahan Elenna menyentuh tangan Bima dan menggenggamnya.
"Aku masih ingat semuanya Bim, semua kebaikan dan cinta tulus kamu padaku disaat aku merasa asing dengan sekelilingku.Kamulah satu-satunya teman aku dan selalu ada buat aku." ucap lirih Elenna.
"Teman---" ucap Bima lirih hampir terdengar bagaikan suatu gumaman saja.
Bima tetap berusaha tersenyum diatas rasa sakit yang ia rasakan.
"Bima..., walau pada akhirnya ternyata kita ---" kalimat Elenna terhenti ia bingung bagaimana menyampaikan perkataannya tanpa menyakiti hati Bima.
Paham dengan apa yang menjadi kegundahan hati Elenna."Aku ngerti kok El, kamu tidak perlu sungkan begitu.Jupiter sangat sering menceritakan tentang kisah cinta kalian yang begitu indah. Aku sadar tidak mungkin aku hadir di tengah-tengah kalian " ungkap Bima.
__ADS_1
"Maafkan aku Bim, seandainya saja----"
Bima menutup bibir Elenna dengan jari telunjuknya.
"Ssst... tidak ada seandainya.Takdir kalian sudah jelas tertulis untuk hidup bahagia bersama selamanya."Bima tersenyum manis menutupi luka hatinya.
Bima menyentuh kedua pundak Elenna."Berbahagialah bersama Jupiter. Dia lebih bisa membahagiakanmu daripada diriku. Cintanya sudah sangat teruji hanya untukmu."
"Tapi Bim---"
Bima kembali tersenyum, "Tenang saja aku tidak apa-apa kok, sekarang kamu adalah lah adik aku. Adik ipar aku. Selamat berbahagia ya... "
"Terima kasih Bim, semoga kamu juga akan menemukan kebahagiaan sejati mu." ucap Elenna.
Bima tersenyum lebar." Amin. Terima kasih buat doanya.Okay aku pamit dulu ya.Aku yakin Jupiter sedang overthinking tentang kita disini berdua." bisik Bima terkekeh.Lalu ia pun melangkah keluar ruangan.
Elenna hanya menatap kepergian Bima dengan sorot mata sedih dan bersalah
Jupiter menarik napas lega melihat Bima akhirnya keluar dari ruangan kekasihnya.
Tidak sengaja Jupiter dan Bima saling bertatapan. "Aku balik dulu ya.Aku percayakan Elenna padamu." Bima tersenyum sekilas lalu berpamitan pada Kakek dan berjalan meninggalkan Rumah Sakit.
Jupiter masih terkejut dengan kemunculan kakaknya yang langsung pamit meninggalkan mereka.
Tanpa menunggu lebih lama lagi ia kemudian masuk ke ruangan Elenna.
"Ell!!"
__ADS_1
"Piterr!" mereka pun berpelukan saling melepas kerinduan dalam pelukan.
"Jangan tinggalkan aku lagi Ell! Aku tak sanggup hidup tanpa dirimu lagi. Sudah cukup selama ini aku melalui nya sendiri tanpa dirimu." bisik Jupiter.
"Tidak akan !! Aku tidak akan pernah meninggalkan mu apapun alasannya. Kita akan selalu bersama." Dalam sorot mata penuh kerinduan dan cinta, mereka saling bertukar pandang dan memadu kasih setelah beberapa tahun terpisah.
Dering telepon tiba-tiba membuyarkan semuanya. "Sebentar ya.." Jupiter merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya lalu membaca sekilas tulisan di layar ponselnya.
Kening Jupiter berkerut membaca tulisan yang tertera di ponselnya.
"Siapa?" tanya Elenna.
"Orang tua Renata." lalu Jupiter pun menerima telepon tersebut.
"Percobaan bunuh diri?? Sekarang ada di Rumah Sakit mana? Baik Tante Jupiter akan kesana." kemudian hubungan telepon pun tertutup.
" Renata mencoba bunuh diri." ucap Jupiter.
"Renata bunuh diri?"
"Iya, semalam ia menelan obat penenang satu botol.Kata mamanya." jelas Jupiter.
"Tengok lah dia Piter, semoga Renata baik-baik saja. Sampaikan salam aku buat Keluarganya." ucap Elenna.
Jupiter menatap bangga kekasihnya itu. Walaupun Elenna tahu apa yang telah dilakukan Renata selama ia hilang ingatan.Tetapi Elenna masih mempunyai hati yang begitu mulia pada sahabatnya yang telah jelas-jelas menusuknya dari belakang.
"Terima kasih sayang.Aku bangga memiliki kamu. Love you. Aku pergi dulu ya. Aku akan segera kembali." Jupiter mencium kening Elenna lalu meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
..................................................
.