Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 23 ~ Hari yang Melelahkan


__ADS_3

Sebelum kaki Li Yao melangkah keluar dari ruangan Tao Zhen, Li Yao berbalik lalu menanyakan sesuatu yang selama ini mengganggu dirinya.


"Saya hampir lupa. Ketua, apa kalian benar-benar membuang prasasti batu yang ada di ruangan leluhur?"


"Prasasti batu? Oh, batu jelek itu," ucap Tao Zhen, baru mengingat batu yang ada di ruangan leluhur.


"Kami memang membuangnya karena batu itu jelek dan tidak berguna, apa ada masalah? Kenapa kamu menanyakan itu?"


"Tidak ada, murid hanya penasaran saja. Kalau begitu, sekarang murid akan undur diri!"


Begitu Li Yao berada di luar ruangan, wajah polosnya dalam sekejap langsung berubah.


"Aku tarik ucapanku beberapa saat lalu! Kalian memang idiot."


Li Yao segera pergi dari tempat tersebut. Sesampainya di tempat latihan, Li Yao langsung menghampiri Gao Ming yang kelihatan sedang mempratikkan Teknik Pedang Menembus Awan.


Kedatangan Li Yao membuat Gao Ming marah. Tentu saja Gao Ming marah. Setelah Li Yao mengatakan semua itu, anak itu malah pergi entah ke mana lalu datang terlambat ke tempat latihan.


"Pelatih Gao, Ketua Sekte memanggilmu ke ruangannya."


Mulut Gao Ming hendak terbuka, namun Li Yao sudah berbicara terlebih dahulu. Li Yao tahu Gao Ming ingin memarahinya. Sebab itulah Li Yao memotong perkataan Gao Ming sebelum sempat membuka mulut.


"Ada urusan apa?" tanya Gao Ming, tubuhnya berhenti mempratikkan Teknik Pedang Menembus Awan.


"Saya kurang tahu, tapi sepertinya Ketua Sekte ingin mengadakan rapat penting dengan semua Tetua," jawab Li Yao dengan polosnya.


"Begitu," guman Gao Ming, ia memandang seluruh murid yang sedang berlatih menggunakan pedang kayu.


"Lanjutkan latihan kalian! Jangan sampai ada yang bermalas-malasan, saat aku tidak ada di sini untuk mengawasi kalian!" seru Gao Ming kepada seluruh murid tingkat ketiga.

__ADS_1


Pandangan Gao Ming kembali ke arah Li Yao. Sebelum Gao Ming pergi ke tempat ketua sekte, ia ingin memperingati anak tersebut agar takut kepada dirinya.


"Nanti akan kita bahas alasan keterlambatanmu."


Sosok Gao Ming pergi dari tempat latihan, Li Yao menghela napas lalu tersenyum. Semua anak di tempat itu tetap latihan dengan serius seperti yang diperintahkan oleh Gao Ming.


Walau tubuh mereka sudah sangat lelah akibat latihan neraka tadi pagi, mereka tetap menjalani latihan pedang tersebut dengan sungguh-sungguh.


Li Yao mengambil sebuah pedang kayu lalu berlatih. Berbeda dengan latihan yang dilakukan oleh semua murid, Li Yao hanya melakukan latihan dasar seperti memasang kuda-kuda lalu menebas ke depan secara vertikal berkali-kali.


Seluruh murid tidak paham dengan latihan membosankan yang dilakukan oleh Li Yao. Sesudah puas mengawasi Li Yao selama beberapa waktu, mereka kembali fokus dengan latihan yang sedang mereka jalani.


Sekarang adalah saat yang tepat untuk membiasakan diri. Li Yao sadar, bila ia harus bisa beradaptasi dengan tubuh barunya yang kecil dan lemah. Itulah alasan Li Yao berlatih dengan teknik dasar, agar tubuhnya terbiasa melakukan gerakan dasar dengan benar dan akurat.


Setiap kesalahan kecil di dalam pertarungan, nyawa bisa menjadi taruhannya. Oleh karena itulah cara memegang pedang, cara mengayunkan pedang, cara menarik pedang, cara melangkah, cara melangkah, cara menggerakkan tubuh, dan lainnya sangat penting untuk dikuasai.


***


Kurang satu jam, Gao Ming telah kembali ke tempat latihan untuk mengumumkan sesuatu yang sangat penting. Tatapan Gao Ming mengarah kepada Li Yao, kemudian kembali menatap seluruh murid yang penasaran.


"Mulai hari ini, kita tidak akan berlatih menggunakan Teknik Pedang Menembus Awan dan Teknik Dasar Perjalanan ke Gunung! Kita akan fokus menempa tubuh dan memurnikan Qi menggunakan Teknik Dasar Memulai Perjalanan!" seru Gao Ming, sesekali melirik Li Yao. Ia tahu perubahan ini di sebabkan oleh bocah itu.


Semua murid terkejut, kecuali Li Yao. Mereka semua tidak pernah menduga, bila teknik yang sudah mereka pelajari akan di ganti dengan teknik lama yang sudah dianggap kuno.


Pelatihan murid-murid tingkat ketiga yang baru telah dimulai. Gao Ming menempa tubuh mereka dengan latihan fisik yang cukup keras. Pada sore harinya, Gao Ming mengajarkan murid-muridnya Teknik Dasar Memulai Perjalanan untuk memurnikan Qi di dalam tubuh mereka.


Sejak bergabung dengan Sekte Jalan Pegunungan, belum pernah mereka secapek ini. Hari ini sungguh hari paling melelahkan di dalam hidup mereka. Seolah setelah tenaga mereka habis di peras, daging dan tulang mereka juga ikut diperas.


Tubuh mereka sakit.

__ADS_1


Waktu makan malam hampir tiba, walau demikian tak ada murid yang bersemangat. Sehabis mandi dan membersihkan diri, Li Yao menyelinap masuk ke dalam dapur lalu memasukkan setangkai rumput darah ke dalam sup sayur.


Rumput darah adalah sumber daya langka peringkat rendah yang dapat meningkatkan vitalitas. Li Yao harus berhemat menggunakan rumput darah, sebab ia hanya memiliki 30 tangkai.


Di depan meja makan, murid-murid terlihat sangat tidak berselera untuk makan malam. Selain karena sekujur tubuh mereka terasa sakit, warna sup sayur di depan mereka juga kelihatan sangat mencurigakan.


Sejak kapan sup sayur yang biasanya mereka santap berwarna merah? Beberapa murid dengan tangan gemetar mencoba rasa sup tersebut. Hasilnya, mereka langsung memuntahkannya.


Rasanya sangat asin, asam, dan pahit. Walau mereka sudah terbiasa makan dengan seadanya, memakan makanan dengan rasa yang seperti itu sungguh sangat menyiksa lidah mereka.


Hanya satu murid di tempat itu yang memakan makan malam dengan sangat lahap, siapa lagi murid itu jika bukan Li Yao. Semua murid di ruangan itu menatap Li Yao seakan ia adalah orang aneh.


Sebenarnya Li Yao tidak terganggu dengan tatapan itu. Li Yao hanya tidak suka mereka membuang-buang makanan dan sumber daya. Apalagi mereka butuh tenaga dan istirahat ekstra untuk melanjutkan latihan besok.


Itulah alasan Li Yao memasukkan rumput darah ke dalam makan malam, agar vitalitas murid-murid lainnya semakin kuat.


Tidak bisa begini, Li Yao sudah memberikan sumber daya yang sangat berharga kepada mereka secara percuma. Mereka tidak boleh menyia-nyiakan sumber daya pemberiannya.


Brak!!!


Li Yao tiba-tiba menggebrak meja, kedua ujung bibirnya terangkat mengukir senyum yang sangat polos.


"Kakak-kakak yang aku hormati, apakah makan malamnya sangat tidak enak?


Senyum polos Li Yao seketika membuat semua murid di tempat itu bergidik, ngeri. Ketika Li Yao tersenyum seperti itu, mereka semua tahu bila Li Yao sedang mempertimbangkan untuk menghajar orang yang tidak disukainya.


Seluruh murid terpaksa memakan makanan yang sangat menjijikkan itu. Mereka semua juga tahu, bila mereka butuh tenaga yang sangat banyak untuk berlatih besok. Makan adalah salah satu cara paling sederhana untuk mendapatkan tenaga.


Ruangan itu lenggang, semua murid tidak punya tenaga untuk berbicara. Mereka hanya fokus menghabiskan makanan yang tersaji di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2