Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 34 ~ Kunjungan Belakang


__ADS_3

Li Yao sudah mengganti penyamarannya, bukan sebagai kakek tua kini ia menyamar menjadi seorang pendekar berusia 30 tahun yang misterius.


Penyamarannya tetap tanpa cela, Li Yao yakin tak ada orang yang akan mengenalinya. Setelah mencari masalah dengan pria berseragam putih, Li Yao yakin sosok kakek tua penyamarannya akan ditetapkan menjadi buronan.


Sekarang bukan saat yang tepat untuk mencari masalah dengan Aliansi Surgawi. Li Yao masih sangat lemah, lemah sekali. Ia perlu melatih dirinya dengan lebih giat agar dapat membalas dendam kepada mereka.


Pertemuannya dengan pemuda misterius itu masih mengganggu pikiran Li Yao. Apakah pemuda tersebut benar-benar bisa melihat penyamarannya? Andaikan benar, maka itu pasti akan sangat menyebalkan.


Saat ini Li Yao memutuskan untuk mengabaikannya. Ia berharap, semoga pemuda tersebut tidak memiliki hubungan dengan Aliansi Surgawi.


Bisa gawat jika pemuda itu melaporkan penampilan Li Yao.


Di pinggiran Kota Awan Biru, Li Yao melihat kedai kecil lalu memasukinya. Kedai itu adalah kedai yang dikunjungi oleh Li Yao ketika pertama kali tiba di Kota Awan Biru.


Pria kekar dan besar dengan kumis lebat, itulah pemilik kedai kecil di pinggir kota yang sedang dikunjungi oleh Li Yao. Deng Xue tidak berubah, ia tetap kelihatan gahar dan mengintimidasi.


Penampilannya yang bengis tersebut sangat tidak cocok untuk melayani pelanggan, mungkin itu sebabnya pelanggan jarang mengunjungi kedai kecilnya.


Apa pria kekar itu tidak menyadarinya? Li Yao bertanya-tanya di dalam hati. Jika situasi ini terus berlanjut, bisnis kedai kecil milik Deng Xue pasti akan bangkrut. Li Yao menghela napas, sadar bila hal itu bukan urusannya.


"Apa Adik ingin pergi ke luar kota sekarang?" Deng Xue memulai obrolan dengan Li Yao. Pria kekar itu bosan dan jenuh, terlebih waktu itu hanya Li Yao satu-satunya pelanggan di dalam kedai kecilnya.


Makanan di atas meja Li Yao sudah habis, sekarang ia sedang menikmati arak tanpa memikirkan usia dari tubuhnya. Li Yao tahu meminum arak tidak baik untuk tubuh anak kecil. Setelah hari ini, Li Yao berjanji untuk tidak meminum arak sampai tubuhnya memasuki usia dewasa.


"Bagaimana Kakak mengetahuinya?" Li Yao balas bertanya sambil tersenyum, penyamarannya sukses seperti biasa. Tentu saja Li Yao sesungguhnya tidak ingin pergi keluar kota. Ia pergi ke pinggir kota hanya untuk mampir ke kedai ini.


Li Yao bosan dengan makanan yang disajikan oleh sektenya.


"Aku melihatmu keluar dari pusat kota," jawab Deng Xue apa adanya, Li Yao mendengarkan dengan seksama.


"Malam ini sebaiknya urungkan niat Adik untuk pergi keluar kota!" lanjut Deng Xue, suaranya kedengaran serius.


"Kenapa?" tanya Li Yao penasaran.

__ADS_1


"Apa Adik belum pernah mendengar tentang rumor itu?" ucap Deng Xue pelan.


"Rumor apa?"


"Pasti Adik orang baru di kota ini." Deng Xue mendesah lalu melanjutkan penjelasannya.


"Tiga bulan belakangan ini, muncul seekor monster yang sering menyerang dan membunuh orang. Monster itu sangat haus darah. Setelah membunuh orang, monster itu akan langsung memakan orang tersebut. Anak kecil, wanita, orang tua, semuanya dia bunuh tanpa pandang bulu."


Rumor itu sedikit mengejutkan Li Yao, pasalnya hutan di kawasan Kota Awan Biru telah bersih dari binatang buas berbahaya apalagi siluman.


"Monster? Apa dia siluman yang sangat kuat?" Li Yao menginterogasi.


"Mungkin saja." Deng Xue menjawab.


"Monster itu memiliki sosok humanoid seperti manusia. Jadi tak ada yang tahu apakah monster itu adalah siluman, binatang buas, atau bahkan manusia."


"Apa penjaga atau prajurit kota tidak mengurus masalah ini?"


"Mereka telah meminta bantuan kepada Aliansi Surgawi, Pemerintahan Timur, Sekte Seribu Pedang, dan Biara Laut Putih. Sebulan sudah berlalu namun belum ada tanggapan. Setelah itu, Pengurus Kota mengabaikan masalah monster ini. Toh monster itu hanya menyerang wilayah pinggiran di bagian selatan kota."


"Kenapa meminta bantuan jauh-jauh, bukankah ada yang lebih dekat?" Li Yao tersenyum tipis.


"Maksud Adik?" tanya Deng Xue kebingungan.


"Sekte Jalan Pegunungan."


***


Pengurus dan Penduduk Kota sudah tidak memiliki kepercayaan terhadap Sekte Jalan Pegunungan. Li Yao sadar akan hal itu, sebab itulah mereka tidak perlu bersusah payah meminta bantuan kepada sekte terdekat.


Sekte Jalan Pegunungan sangatlah lemah, bahkan jika sekte itu mengirimkan pendekar untuk memburu monster tersebut, hampir bisa dipastikan pendekar yang mereka kirim akan mati dengan sia-sia.


Li Yao sama sekali tidak marah dengan keputusan Kota Awan Biru. Faktanya Sekte Jalan Pegunungan memang sangat tidak berdaya, tidak ada yang bisa di harapkan dari sekte seperti itu.

__ADS_1


Anak kecil berusia 8 tahun itu cuma kesal. Sekarang adalah saat yang tepat untuk mengembalikan kepercayaan penduduk kota terhadap Sekte Jalan Pegunungan. Itulah alasan Li Yao menyuruh Deng Xue untuk percaya dengan sektenya.


Sebagaimana dengan janji (ancaman) yang diucapkan oleh Tao Yuhan kepada Li Yao, anak laki-laki itu langsung pergi mengunjungi belakang sekte untuk bertemu dengan gadis tersebut.


Tepat setelah Li Yao mendaki gunung dan memasuki sektenya kembali.


Tao Yuhan sangat aneh dan kuat. Walau sudah bertarung dengannya, Li Yao merasa bila gadis kecil itu masih menyembunyikan sesuatu. Apa pun yang ia sembunyikan, firasat Li Yao mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang buruk.


Li Yao akhirnya sampai di depan kolam kecil, tempat kali pertama ia bertemu dengan Tao Yuhan. Di dekat kolam tersebut, berdiri sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal bagi gadis kecil yang manis itu.


Sosok Tao Yuhan sama sekali tidak kelihatan di depan sana. Saat Li Yao berbalik, mendadak ia tersentak kala melihat Tao Yuhan sudah berdiri di belakangnya.


"Apa kamu mencariku?" tanya Tao Yuhan dengan suara datar, sedatar ekspresi wajahnya seperti biasa.


"Aku pikir kamu tidak akan datang, hampir saja aku melaporkanmu."


"Kepada siapa kamu melaporkanku?" tantang Li Yao, agak kesal dengan kemunculan gadis tersebut.


"Kepada ayahku," jawab Tao Yuhan.


"Siapa ayahmu?" pancing Li Yao.


"Ayahku adalah ayahku."


Li Yao menggelengkan kepalanya, menyerah menginterogasi gadis kecil yang manis itu. Ada alasan lain kenapa Li Yao mengunjunginya. Tao Yuhan adalah pendekar yang sangat kuat, mengingat usianya masih belia.


Tao Yuhan cocok sekali menemani Li Yao untuk berlatih tanding. Sejujurnya sampai sekarang Li Yao belum terbiasa bertarung menggunakan tubuh kecilnya. Pada kesempatan kali ini, Li Yao harus berlatih membiasakan diri.


"Siapa namamu?" tanya Tao Yuhan seraya memasang kuda-kuda berpedang, siap menyerang orang di hadapannya.


Begitu juga dengan Li Yao.


"Namaku Li Yao!"

__ADS_1


__ADS_2