Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 53 ~ Melanggar Janji


__ADS_3

Kilatan cahaya bergerak menghampiri Huli yang tengah berlari kencang. Huli terkejut, pinggang kecilnya tiba-tiba tangkap lalu diangkat oleh seseorang dari belakang. Waktu Huli menoleh, ia melihat seorang pria botak menyedihkan sedang tersenyum kepadanya.


Senyuman itu membuat Huli merinding.


"Lepaskan aku!" ujar Huli marah sekaligus takut, ia meronta mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga.


Pria botak itu tidak lain adalah Cheng Lei.


Kondisi Cheng Lei sekarang memang sangat menyedihkan. Penampilannya tidak kalah mengenaskan dengan pengemis yang sering di hinanya. Setelah melarikan diri dengan mengorbankan keempat muridnya, Cheng Lei ingin memulihkan diri lalu membalas perbuatan makhluk menjijikkan tersebut.


Begitulah niat awal Cheng Lei, sampai ia merasakan gelombang Qi yang sedang bertarung. Cheng Lei lekas pergi ke pusat pertarungan lalu melihat sesuatu yang sangat mengejutkannya.


Kedua bocah yang telah menghinanya kala itu sedang bertarung melawan makhluk tersebut, makhluk yang telah menyebabkan Cheng Lei sampai melarikan diri dengan sangat menyedihkan.


Cheng Lei tercengang melihat Li Yao dan Tao Yuhan bisa memberikan perlawanan kepada makhluk tersebut. Sayangnya Cheng Lei tidak bisa melihat akhir pertempuran mereka. Ada seseorang yang harus Cheng Lei kejar, orang itu adalah Huli.


"Katakan! Di mana tempat persembunyian ibumu sekarang?" bentak Cheng Lei menginterogasi. Tujuan awal Cheng Lei mengunjungi kota ini adalah untuk memburu rubah emas berekor tujuh yang telah sekarat, bukan melawan mahkluk menjijikkan itu.


Setelah melakukan pencarian selama berminggu-minggu, Cheng Lei akhirnya tiba di Kota Awan Biru. Pada awalnya Cheng Lei mengira bila monster yang meneror kota adalah siluman yang ia cari, namun ternyata ia salah.


Siluman dan monster itu adalah makhluk yang sangat berbeda.


Untung saja Cheng Lei pergi melihat pertempuran tersebut. Andaikan tidak, maka Cheng Lei tidak mungkin menemukan anak rubah emas lalu menangkapnya.


Huli mengamati wajah Cheng Lei dengan lebih saksama. Seketika Huli mengingat, bila pria botak di hadapannya adalah salah satu dari sekian banyak pria botak yang telah memburu dan melukai ibunya.


Huli sadar bahwa mereka-lah yang telah menyebabkan kematian ibunya. Seandainya mereka tidak ada di hidup Huli, ibu Huli pasti sekarang masih hidup menemaninya.


Tatapan Huli berubah, kini matanya di penuhi dengan amarah dan kebencian. Huli menggeram layaknya binatang buas lalu menggigit tangan Cheng Lei sampai berdarah.


Alis Cheng Lei terangkat, ia agak terkejut kala melihat gigitan siluman kecil itu berhasil melukainya.


"Berhentilah! Apa kamu pikir aku akan kesakitan lalu melepaskanmu?"

__ADS_1


Tubuh Cheng Lei tetap bergeming, seolah tidak merasakan gigitan Huli. Sebagai seorang pendekar yang telah mencapai alam menghancurkan kehidupan, rasa sakit seperti itu tidak ada apa-apanya bagi Cheng Lei yang telah melewati kesengsaraan surgawi.


Walau demikian, Huli tetap menggigit tangan Cheng Lei dengan sekuat tenaga. Cheng Lei kesal lalu mencampakkan tubuh Huli dari tangannya. Tubuh Huli lekas menabrak pohon lalu terkapar, gadis itu bisa merasakan tulangnya patah.


"Sekarang cepat katakan! Dimana ibumu sedang bersembunyi?" ancam Cheng Lei dengan suara halus, ia berjalan mendekati Huli yang sedang tidak berdaya.


"DIAM!" teriak Huli dengan kebencian mendalam.


"Kalian... Kalian telah membunuh ibuku!"


Langkah Cheng Lei terhenti, ia jelas tercengang dengan kata-kata yang diucapkan oleh Huli.


"Aku akan membunuhmu!" ungkap Huli. Ia bangkit dengan susah payah lalu berlari menyerang Cheng Lei.


Mendadak tangan Cheng Lei bergerak mencekik leher Huli, gerakan tangannya sangat cepat sampai Huli tidak bisa melihatnya. Cheng Lei lekas mengangkat tubuh kecil Huli lalu memandangnya.


"Oh, begitu! Jadi dimana kamu sembunyikan mayat ibumu?" tanya Cheng Lei sembari menguatkan cekikan tangannya.


Napas Huli tercekak, leher dan paru-parunya terasa sangat tersiksa. Tubuh gadis kecil itu meronta-ronta, kedua tangannya berusaha melepaskan cekikan Cheng Lei namun sia-sia. Ia bisa merasakan kematian perlahan menghampirinya.


"Cheng Lei, kamu belum berubah sedikit pun sejak aku meninggalkan Biara!"


Suara yang familiar tiba-tiba masuk ke dalam telinga Cheng Lei. Cheng Lei menoleh lalu menemukan seorang pria berbadan kekar sudah berada di sebelahnya. Pria itu memiliki kumis yang sangat lebat, siapa lagi pria itu jika bukan Deng Xue.


Kehadiran Deng Xue yang tidak bisa di sadarinya membuat Cheng Lei menjadi agak panik, bukankah kultivasi Deng Xue sudah dihancurkan?


"Sekarang sifatmu bahkan jadi lebih buruk. Apakah Biara Laut Putih sudah dipenuhi dengan orang sepertimu? Bagaimanapun juga, kamu memang sudah tidak tertolong lagi!" sambung Deng Xue, ia lekas meremas tangan Cheng Lei yang sedang mencekik leher Huli.


Tangan Cheng Lei patah, Huli jatuh lalu terbatuk parah sambil mengelus lehernya. Mata Cheng Lei membelalak, ia tidak percaya melihat tangannya telah patah. Ketakutan mendadak timbul di dalam hati Cheng Lei.


"Bukankah Ketua Biara sudah menghancurkan kultivasimu?" tanya Cheng Lei dengan getir.


"Guru tahu kalau aku tidak bersalah," jawab Deng Xue tenang.

__ADS_1


"Lantas kenapa kamu hanya diam saja saat diusir dengan hina? Padahal kamu adalah kandidat terkuat untuk posisi Ketua Biara selanjutnya." Cheng Lei lanjut bertanya.


"Aku lelah menghadapi dunia ini."


"Dasar s*****! Seandainya aku punya bakat seperti dirimu."


Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Cheng Lei.


Setelah mengatakan itu sosok Cheng Lei dalam sekejap langsung menghilang. Deng Xue menghela napas, ia baru saja melanggar janji untuk tidak pernah menggunakan kekuatannya.


Huli bangkit lalu melirik Deng Xue dengan pandangan menyelidik.


"Pulanglah! Sudah tidak ada paman jahat yang akan mengikutimu," ucap Deng Xue lalu berbalik, ia ingin pergi ke arah pertarungan yang sedang berlangsung.


Tanpa di duga, gadis kecil itu tiba-tiba memeluk kaki Deng Xue lalu menangis. Wajah Deng Xue mengeras, ia tidak tahu harus melakukan apa dalam situasi seperti ini.


"Nak, dimana orangtuamu?" tanya Deng Xue sehalus mungkin. Tangis Huli semakin keras, Deng Xue bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


Tersembunyi di gelap malam, di atas kepala mereka ada gambar telapak tangan yang tampak melubangi awan.


***


Di sisi lain, anak laki-laki yang pernah dirawat oleh ibu sang monster sekarang sedang berlari menuju ke pusat kota. Wilayah kota bagian dalam sangat gemerlap, penuh dengan cahaya lentera yang sangat indah.


Pemandangannya sangat kontras dengan wilayah pinggiran.


Saat ini anak itu hanya ingin terus berlari. Perasaannya kacau, ia masih belum bisa menerima kenyataan yang sedang dihadapinya. Di tengah kesedihannya, anak tersebut tiba-tiba menabrak seseorang.


Anak itu jatuh lalu bangkit kembali. Waktu anak itu ingin melarikan diri, orang yang telah ditabraknya seketika menangkap tangannya. Anak tersebut menoleh lalu melihat seorang pemuda, pemuda tersebut adalah Ren Shun.


"Adik, kamu ada masalah apa?" tanya Ren Shun khawatir.


"Bukan urusanmu! Sekarang lepaskan tanganku!" bentak anak itu kasar.

__ADS_1


Seketika Ren Shun memeluk tubuh anak tersebut. Anak itu kaget, ia tidak menyangka akan dipeluk. Pelukan Ren Shun terasa hangat, walau demikian anak tersebut tetap berusaha melepaskan dirinya.


Anak itu mulai tenang setelah Ren Shun mengelus punggungnya dengan sangat lembut. Ren Shun segera membisikkan kata-kata yang menenangkan ke telinganya. Tidak lama kemudian, anak itu menangis keras.


__ADS_2