Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 48 ~ Makan Malam


__ADS_3

Kemunculan tiga anak kecil tersebut sungguh mengejutkannya. Wanita tua itu bisa merasakan keanehan pada situasi mereka, terutama ketika ia melihat bercak berwarna merah darah pada pakaian dua anak tersebut.


Anak perempuan yang paling tua, terlihat sedang menggendong adik perempuannya yang ketiduran. Mata anak perempuan yang ketiduran itu sembab. Sekilas wanita tua itu berpikir bila anak tersebut habis menangis keras.


"Nak, siapa kalian? Di mana orang tua kalian? Di sini tempat yang berbahaya, kalian tidak seharusnya berkeliaran di sekitar sini pada malam har!" ujar wanita tua itu, cemas dan marah.


"Orang tua kami sudah meninggal!" ungkap Tao Yuhan datar, entah serius atau bercanda. Li Yao melayangkan tatapan tajam kepada Tao Yuhan, menyuruhnya untuk menutup mulut.


"Bibi, kami ingin menginap di sini!" ucap Li Yao seraya menunjukkan surat dari pengurus kota.


"Kami adalah pendekar jadi Bibi tidak perlu mengkhawatirkan kami."


Mata wanita tua itu mengerjap tidak percaya. Li Yao menghela napas malas, faktor usia selalu memperlakukannya seperti ini. Mendadak Li Yao mengeluarkan Qi miliknya yang sangat murni.


Meski wanita tua itu hanya orang biasa, ia tetap bisa merasakan bila Qi milik Li Yao memang sungguh luar biasa. Pandangan wanita itu terhadap mereka tiba-tiba berubah.


"Apa kalian pendekar yang datang untuk memburu monster di sini?" tanya wanita tua tersebut tidak percaya, bagaimana bisa anak sekecil mereka di perintahkan untuk memburu monster yang berbahaya itu?


"Ya," jawab Li Yao singkat.


"Bagaimana bisa kalian diperintahkan untuk memburu monster mengerikan itu? Apa kalian dipaksa? Tidak punya pilihan? Setelah menginap malam ini, berjanjikan kalau besok pagi kalian akan langsung pulang! Jangan buang nyawa kalian di tempat ini!" ujar wanita tua itu menaikkan intonasinya.


"Niat kami memang begitu." Li Yao berbohong dengan lancarnya.


"Kami tidak-"


Seketika Li Yao membekap mulut gadis yang berada di samping dirinya, ia sudah menduga Tao Yuhan akan bertindak seperti itu. Tatapan Tao Yuhan menajam, ia tidak suka Li Yao menghentikan kata-katanya.


"Bibi, tolong siapkan satu kamar untuk kami!" ucap Li Yao buru-buru, agar wanita tua itu tidak penasaran dengan kata-kata Tao Yuhan yang terpotong.

__ADS_1


"Kami juga ingin mandi dan makan malam!" sambung Li Yao.


"Mohon tunggu sebentar!" ucap wanita tua itu ramah, ia lekas pergi mengambil kunci kamar yang akan dipakai oleh ketiga anak tersebut.


"Kita tidak akan kembali ke sekte sebelum monster itu kita habisi," ucap Tao Yuhan dingin, setelah menyingkirkan tangan Li Yao dari depan mulutnya.


"Tentu saja!" ucap Li Yao malas.


"Jadi kamu berbohong lagi!" balas Tao Yuhan dengan nada datarnya.


"Oh, Ayolah! Kamu juga pernah membohongiku!" ujar Li Yao kesal.


Sungguh, kenapa ia harus melakukan percakapan bodoh seperti ini?


beberapa jam yang lalu, selepas Tao Yuhan keluar dari dalam gua sambil menggendong Huli yang tertidur lelap, Li Yao dan Tao Yuhan melanjutkan misi mereka untuk memburu monster.


Sayang sekali usaha mereka itu tidak membuahkan hasil, monster yang mereka cari selama lebih dari 4 jam sudah tidak dapat ditemukan di hutan tersebut.


Tapi gadis itu tidak pernah menjawabnya.


Alasannya adalah rahasia, begitulah yang terus dikatakan oleh Tao Yuhan. Beberapa saat sebelum Tao Yuhan keluar dari dalam gua dengan membawa Huli, Li Yao merasakan energi yang sangat luar biasa tiba-tiba muncul lalu menghilang.


Itu adalah tanda-tanda kematian siluman yang sangat kuat. Melihat Huli tertidur dengan mata yang sembab, Li Yao sangat yakin bahwa ibu Huli sudah meninggal.


Rubah emas berekor tujuh itu sekarat. Sejak pertama kali melihat luka pada tubuh siluman tersebut, Li Yao memang sudah menduga bila kematian tidak lama lagi akan menghampiri ibunya Huli.


Meski wujud manusia Huli kelihatan seumuran dengan Li Yao, sebenarnya Huli baru berusia sekitar tiga bulanan. Anak siluman yang sangat langka seperti Huli dapat tumbuh dengan sangat cepat. Jadi Li Yao tidak terlalu heran.


Melihat umur Huli yang masih sangat muda, kemungkinan besar rubah emas berekor tujuh tersebut di serang saat sedang melahirkannya. Saat sedang melahirkan, siluman betina memang berada dalam kondisi yang sangat rentan.

__ADS_1


Begitulah yang dipikirkan oleh Li Yao.


Sehabis menempatkan Huli yang tertidur di atas kasur, Li Yao dan Tao Yuhan langsung membersihkan tubuh mereka di tempat yang telah disiapkan oleh pemilik penginapan.


Lima menit setelah Li Yao dan Tao Yuhan selesai mandi, makan malam akhirnya di hidangkan ke hadapan mereka. Sesuai pesanan Tao Yuhan, menu makan malam mereka kebanyakan adalah daging.


Tao Yuhan dengan sangat rakus langsung memakan hidangan yang baru sampai ke atas maja. Cara makannya sangat tidak beradab, Li Yao sempat berpikir bila Tao Yuhan di besarkan oleh binatang buas.


Entah bagaimana cara Tao Zhen mendidik anak perempuannya? Kacau sekali.


Bola mata wanita tua pemilik penginapan itu saja sampai melotot, ketika melihat Tao Yuhan sudah menghabiskan setengah hidangan di atas meja. Di sisi lain, selera makan Li Yao jadi menghilang setelah melihat cara makan Tao Yuhan yang sangat brutal.


"Kamu nggak lapar, kan?" tanya Tao Yuhan seraya mengulurkan sepotong daging ke arah Li Yao. Itu adalah potongan terakhir dan tampaknya Tao Yuhan tak ikhlas menawarkannya.


"Aku sedang tidak selera makan," jawab Li Yao sinis, berusaha menyindir Tao Yuhan tetapi gagal.


Potongan daging terakhir itu di habiskan Tao Yuhan dalam hitungan detik. Ia lekas meminum air putih lalu bersendawa puas. Saat itu Li Yao dengan heran bertanya-tanya di dalam hatinya, bagaimana bisa ada perempuan seperti ini?


Tao Yuhan benar-benar tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Jika sikap Tao Yuhan tidak berubah, ia pasti tidak akan pernah mendapatkan pasangan hidup. Siapa pria yang cukup sabar untuk menangani gadis se-absurd itu? Li Yao tidak habis pikir.


"Makanan ini mengingatkanku dengan rasa ibu dan ayahku," ucap Tao Yuhan, mengomentari rasa makan malamnya. Li Yao menggeleng, ia pikir telinganya salah mendengar.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua akhirnya bergabung ke atas kasur bersama Huli. Kasur itu sangat luas untuk ukuran tubuh anak kecil. Mereka bertiga cukup muat untuk tidur di atas kasur yang sama.


Li Yao berbaring di bagian paling kiri, Huli berbaring di bagian tengah, sedangkan Tao Yuhan berbaring di bagian paling kanan yang dekat dengan pintu. Aneh rasanya tidur bersama seperti itu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Tao Yuhan sambil menatap langit-langit kamar.


"Kita tidur!" sahut Li Yao dari sisi yang lain.

__ADS_1


Satu menit berlalu dan Tao Yuhan sudah terlelap. Li Yao lantas menguap lalu tidur mengikutinya. Di dalam keheningan yang memuakkan, wanita tua pemilik penginapan diam-diam menyelinap masuk ke dalam kamar mereka.


__ADS_2