
Jalanan hiruk pikuk dengan orang-orang. Malam sudah panjang namun kota masih terjaga. Di depan sebuah toko acak, Ren Shun dan anak kecil itu sedang duduk bersebelahan di bangku kayu yang cukup panjang.
"Apa kamu benci dengan wanita itu?" tanya Ren Shun dengan bodohnya.
Anak laki-laki itu baru saja menceritakan masalah yang terjadi di dalam hidupnya kepada Ren Shun, pemuda asing yang baru ia temui. Apakah itu tindakan yang benar? Anak itu tak tahu. Setelah bercerita, perasaan anak tersebut sudah mulai membaik walau cuma sedikit.
"Tentu saja aku sangat membencinya! Dia sudah membohongiku, mempermainkanku!" jawab anak itu di dalam hati.
Kesedihan masih menyelimuti wajah anak tersebut. Ia diam, tidak menjawab pertanyaan Ren Shun.
"Kamu sekarang pasti sangat membencinya." Ren Shun menjawab pertanyaannya sendiri, kemudian mengajukan pertanyaan lainnya.
"Apa kamu menyayanginya?"
Pertanyaan itu menggema di dalam kepala anak tersebut. Berulang kali anak itu menjawab bila dirinya tidak menyayangi wanita tersebut, namun ia masih tak bisa yakin. Anak itu diam dalam gejolak aneh dipikirannya.
"Apa kamu tak akan pernah memaafkannya?" Ren Shun lanjut bertanya, ini adalah pertanyaan terakhir yang akan ia tanyakan kepada anak tersebut. Ia tahu bahwa anak itu tidak boleh terus ditekan dengan pertanyaannya.
Anak itu masih diam dengan pikiran yang berkecamuk.
"Kamu harus memutuskannya sendiri, Nak! Bagaimanapun juga, seorang ibu rela melakukan apa saja untuk melindungi anaknya. Ibumu juga tidak berbeda," tutur Ren Shun lalu berdiri, ia menatap anak tersebut dengan iba matanya.
"Nak, aku tak bisa menemanimu lebih lama lagi. Semoga takdir mempertemukan kita, sampai jumpa!" ucap Ren Shun, ia pergi meninggalkan anak laki-laki yang masih berkutat di dalam benaknya sendiri.
"Buatlah keputusan yang jangan pernah kamu sesali!"
Selesai mengucapkan kalimat itu, sosok Ren Shun dalam sekejap langsung menghilang. Anak itu melihat kepergian Ren Shun dalam diam. Sekarang sudah tidak ada orang yang menemaninya.
Di tengah jalan yang agak sepi, Ren Shun berbicara kepada dirinya sendiri.
"Hmm... Monster itu sudah tewas."
Langkah Ren Shun berhenti, pandangan matanya yang kosong menoleh ke arah selatan.
"Mereka pasti sudah mengatasinya," ucap Ren Shun lalu melanjutkan perjalanannya.
"Berbicara tentang monster dan iblis, aku penasaran dengan keadaan Chenyu sekarang. Apakah dia baik-baik saja?" gumam Ren Shun, ia masih berbicara seorang diri.
__ADS_1
"Siapa yang anda maksud, Tuanku?" tanya seseorang entah darimana, wujudnya sama sekali tidak kelihatan.
"Bukan siapa-siapa, hanya kenalan dari masa lalu," jawab Ren Shun.
"Apa kita langsung pulang? Bukankah tujuan kita datang ke kekaisaran ini untuk bertemu dengan tunangan anda, Putri Qin Yuexin?"
"Kita langsung pulang!" tegas Ren Shun.
"Tuan Ren Tian pasti akan marah dengan keputusan anda."
"Ayah tak akan marah, terlebih lagi Qin Yuexin sangat tidak menyukaiku. Untuk apa membahas pernikahan dengan gadis seperti itu? Yang ada kami pasti akan bertengkar," sahut Ren Shun, suara misterius itu tidak menjawab.
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan, Ren Shun akhirnya berbicara lagi dengan suara yang sarat akan kerinduan.
"Aku tak sabar menunggu Turnamen Kekaisaran. Semoga saja aku bisa bertemu dengannya di dunia itu."
***
Anak laki-laki lusuh itu berlari sekencang mungkin, melewati dua anak kecil yang terlihat kacau dan babak belur. Dua anak kecil tersebut adalah Li Yao dan Tao Yuhan. Anak laki-laki itu terus berlari, menghiraukan mereka berdua.
Pecakapannya dengan Ren Shun menyebabkan dirinya berpikir keras. Anak itu sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat penting.
Tempat tinggal anak tersebut, penginapan itu kelihatan hampir ambruk dari kejatuhan. Sesampainya di depan penginapan, anak itu melihat seorang wanita tua yang sedang menggenggam sebilah pisau.
Wanita tua itu adalah pemilik penginapan dan orang yang telah merawatnya, juga alasannya kembali ke tempat ini. Saat wanita tua itu ingin menenggelamkan pisau tersebut ke dalam perutnya, anak itu berteriak lalu berlari mendekatinya.
"HENTIKAN! APA IBU SUDAH GILA!?"
Wajah wanita tua itu menoleh ke arah suara, ekspresinya yang hampa seketika langsung dipenuhi dengan keterkejutan. Ia tidak pernah menyangka bila anak itu akan kembali kepada dirinya, ia juga tidak pernah menduga kata 'ibu' akan keluar dari mulut anak tersebut.
Mulut wanita itu hendak terbuka, namun pelukan yang tiba-tiba diberikan oleh anak tersebut menyebabkan dirinya langsung membeku. Semua kejadian ini terlalu mengejutkan sampai wanita itu tidak bisa berkata-kata.
"Aku membencimu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Kamu sudah membohongiku! Aku tak akan pernah memaafkanmu!" ucap anak itu sambil menangis tersedu-sedu.
Wanita tua itu menggertakkan giginya kuat, air matanya kembali menganak sungai. Kini ia sudah tak punya hak untuk membantah pernyataan anak tersebut.
"Jangan mati! Kamu harus membayar semua kebohonganmu sampai aku memaafkanmu! Jangan melarikan diri! Kamu bilang padaku untuk tidak jadi seperti sang dewi, tapi kamulah yang menjadi seperti sang dewi! Dia tidak bisa menerima kenyataan dan tidak bisa melangkah maju."
__ADS_1
"Orang yang sudah mati tidak akan pernah hidup kembali, jadi jangan mati!"
Tangis wanita itu pecah, ia sudah tidak bisa menahan emosinya setelah mendengar semua perkataan anak tersebut. Seluruh perasaan bersalah yang selama ini ia pendam akhirnya keluar.
"Aku minta maaf! Aku sungguh-sungguh sangat minta maaf!"
Inilah keputusan anak tersebut, ia tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya.
***
Sungguh malam yang sangat panjang.
Saat ini Li Yao dan Tao Yuhan sedang berjalan menuju ke pusat kota. Mereka ingin melapor ke kantor pengurus kota, bila misi mereka telah selesai. Setelah itu Li Yao hanya ingin beristirahat, entah bagaimana dengan Tao Yuhan.
Di tengah jalan, Li Yao dan Tao Yuhan merasakan ada sesuatu yang kurang dari mereka. Apa itu? Mereka juga tak tahu atau belum menyadarinya.
Li Yao melirik Tao Yuhan, ada yang aneh dari tingkah gadis tersebut. Tao Yuhan yang biasanya datar kini terlihat sangat gelisah. Mendadak Tao Yuhan jatuh, Li Yao mendekatinya lalu bertanya tentang keadaannya.
"Jangan mendekatiku! Pergilah sejauh mungkin!" ancam Tao Yuhan dengan nada yang sangat dingin.
Bola mata gadis itu kembali berubah bentuk, Li Yao bisa merasakan bila dirinya sedang ditatap binatang buas. Sebelum Li Yao sempat bereaksi, Tao Yuhan seketika menyambar tangan Li Yao lalu menggigitnya.
Daging Li Yao segera terkoyak.
Tao Yuhan mengunyah sesuatu dengan mulut gemetar.
"Pergi!" ucap Tao Yuhan pelan, ia berusaha sekuat tenaga memberitahu Li Yao sebelum kesadarannya lenyap.
Kelopak mata Li Yao terasa berat, ia ingin membalas perkataan Tao Yuhan namun tak bisa. Waktu itu Li Yao hanya bisa menggerutu di dalam hati.
"S****n! Aku akan pergi seandainya gigitanmu tak beracun."
Li Yao tiba-tiba merasakan kenyamanan yang memabukkan. Rasa sakit dan lelah pada tubuhnya menghilang, digantikan rasa nyaman yang sudah lama ia dambakan.
Tubuh Li Yao kehilangan seluruh tenaganya. Sekarang ia hanya bisa pasrah dan menyerahkan dirinya pada rasa nyaman. Sebelum Li Yao pingsan, ia melihat Tao Yuhan tengah mengoyak dagingnya sekali lagi.
Tidak ada rasa sakit sama sekali.
__ADS_1
Walau demikian, Li Yao tetap tidak bisa tidak membayangkan kematiannya.
"Apakah aku akan mati konyol seperti ini?"