Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 46 ~ Permata Siluman


__ADS_3

Mendadak Huli berubah wujud menjadi rubah emas berekor satu. Li Yao sama sekali tidak terkejut melihat perubahan Huli. Sejak awal Li Yao memang sudah menduga, bila Huli adalah siluman berwujud manusia.


Tubuh rubah emas berekor satu jauh lebih kecil dari tubuh rubah emas berekor tujuh. Walau begitu, tubuh Huli masih tergolong cukup besar karena bisa di sandingkan dengan ukuran tubuh serigala dewasa.


Huli lekas berlari mendekati rubah emas raksasa itu. Rupanya rubah emas raksasa tersebut adalah ibunya yang tadi sempat dibicarakan.


Li Yao mengamati rubah emas raksasa itu dengan lebih teliti. Di bagian bawah perutnya yang tersembunyi, terdapat luka besar hasil pertempuran yang sangat intens.


Luka tersebut tampaknya berusaha disembunyikan dari anaknya, Huli. Li Yao sadar bila ada yang salah dengan kondisi rubah emas raksasa itu, hanya dengan melihat aliran Qi miliknya yang sangat kacau.


Walau napas rubah emas raksasa itu terlihat penuh dengan vitalitas, sekarang rubah emas raksasa tersebut pasti sedang berusaha keras agar kelihatan baik-baik saja di depan anaknya.


"Ibu, aku sudah membawa Kakak ke sini!" beritahu Huli kepada ibunya, ia lekas mengusapkan kepalanya manja ke tangan ibunya yang sangat besar.


Perlahan kelopak mata rubah emas raksasa itu mulai terbuka. Sesungguhnya makhluk kolosal tersebut tidak pernah tidur sejak awal, ia hanya menutup matanya untuk menenangkan diri.


Mata berwarna emas yang indah itu segera menyapu pandangannya ke arah Li Yao dan Tao Yuhan. Tatapan mata makhluk kolosal tersebut sangat mengintimidasi, Li Yao bisa merasakan bila sosok raksasa itu sedang menyelidikinya.


"Siapa teman kecil yang baru ini?" tanya rubah emas tersebut, merasa tertarik dengan keberadaan Li Yao.


"Perkenalkan namaku Li Yao, aku adalah murid Sekte Jalan Pegunungan dan junior Kakak Tao Yuhan." Li Yao memperkenalkan dirinya dengan sopan.


"Kenapa kamu memanggilku?" tanya Tao Yuhan langsung ke intinya, tidak membiarkan Li Yao berbasa-basi dengan ibunya Huli.


Nada bicara Tao Yuhan tetap datar seperti biasa. Sekarang mereka sedang berhadapan dengan makhluk yang bisa meratakan satu kota dalam semalam! Li Yao lumayan heran melihat sikap dan cara bicara Tao Yuhan yang terkesan sangat kurang ajar.


Kebanyakan siluman setingkat Raja Pendekar adalah makhluk yang sangat sombong, mereka sangat mudah tersinggung dengan perkataan dan sikap seorang manusia. Apalagi jika manusia tersebut jauh lebih lemah dari dirinya.


Li Yao mengamati perubahan pada rubah emas raksasa itu lalu menghela napas lega, untung saja ibunya Huli tidak merasa terhina dengan cara bicara Tao Yuhan.


"Apakah dia orang yang bisa kamu percaya?" Rubah emas raksasa itu balas bertanya, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Tao Yuhan karena merasa curiga dengan Li Yao.

__ADS_1


"Aku dulu mempercayainya, tapi ternyata dia membohongiku. Sekarang aku tak tahu apakah bisa mempercayainya atau tidak," ungkap Tao Yuhan, membahas masalah yang ia dan Li Yao tunda.


Apakah kebohongan konyol tentang hewan peliharaan itu adalah kebohongan serius?Pertanyaan tersebut muncul di dalam pikiran Li Yao.


Cara memandang rubah emas raksasa itu tiba-tiba berubah. Ada ketidak-sukaan di dalam mata emasnya yang indah tatkala memandang Li Yao. Entah kenapa Li Yao merasa terpojok, ia seharusnya melanjutkan kebohongan konyolnya sampai akhir.


"Teman kecil, kamu harus menunggu di luar! kami memiliki pembicaraan penting yang tidak boleh kamu dengar!" usir rubah emas raksasa itu dengan halus.


Mulut Li Yao terbuka lalu tertutup lagi. Li Yao ingin protes namun ia menahan diri. Walau penasaran dengan isi pembicaaan mereka, saat ini Li Yao sudah terlalu malas untuk berdebat dengan Tao Yuhan.


Li Yao secara sukarela keluar lalu menunggu di depan gua. Sebenarnya Li Yao bisa diam-diam menguping pembicaraan mereka, tetapi ia tak melakukannya karena terlalu beresiko.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Tao Yuhan setelah keberadaan Li Yao menghilang dari gua tersebut.


"Aku akan mati sebentar lagi," ungkap rubah emas raksasa itu dengan tenang, sudah waktunya ia memberitahu kebenarannya.


Mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut ibunya, Heli mendongak lalu menatap ibunya dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Jadi?" ucap Tao Yuhan dengan datarnya, seakan ia tidak punya perasaan.


"Ibu seharusnya memberitahumu sejak dulu, bahwa ibu sudah sekarat. Hanya saja itu terlalu berat," tutur ibu rubah tersebut dengan suara lemah.


"Tidak mungkin!" ujar Huli tak ingin percaya lalu menangis.


"Teman kecil, jagalah Huli setelah aku mati! Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa aku percaya untuk merawat Huli." Rubah emas raksasa itu mengungkapkan permintaannya kepada Tao Yuhan.


Ekspresi Tao Yuhan masih datar, ia tidak terganggu sama sekali dengan kematian makhluk kuat dan bersahabat di depan matanya.


"Apa imbalannya?"


Tao Yuhan melihat Ibu Huli tengah tersenyum setelah mendengar perkataannya, atau itu hanya perasaan Tao Yuhan saja.

__ADS_1


"Aku akan memberikan jantungku kepadamu." Rubah emas raksasa itu menawarkan sesuatu yang sangat berharga kepada Tao Yuhan sebagai imbalan.


Tangis Huli semakin kencang dan keras.


Jantung siluman adalah nyawa siluman itu sendiri. Seluruh Qi milik siluman berkumpul dan menyebar dari jantung, bisa dikatakan jantung siluman adalah Inti Qi milik seekor siluman.


Jantung siluman berbentuk seperti permata, oleh karena itu jantung siluman juga di sebut dengan Permata Siluman. Semakin pekat warnanya, maka semakin murni Qi di dalam permata siluman. Semakin besar ukurannya, maka semakin banyak jumlah Qi di dalam permata siluman tersebut.


Layaknya makhluk hidup pada umumnya, siluman akan mati jika tidak memiliki jantung. Ibu Huli sadar dengan keputusannya itu, memberikan jantungnya sama saja dengan bunuh diri.


***


Di dalam rumah yang sederhana, terdapat seorang anak laki-laki yang sedang menunggu ibunya menyiapkan makan malam. Ayah anak tersebut duduk di sebelahnya.


Sembari menunggu kehadiran satu-satunya wanita di rumah itu, ayah dan anak tersebut berbincang riang di depan meja makan. Mereka bertiga adalah keluarga normal yang tinggal di pinggiran Kota Awan Biru bagian selatan.


Malam itu sama seperti malam pada hari-hari biasa. Malam yang dingin dan gerimis, sangat normal dan tidak ada yang janggal.


Suara gedoran pintu yang mengganggu tiba-tiba terdengar, memaksa sang ayah untuk pergi membuka pintu rumah. Tidak lama berselang setelah kepergian sang ayah, anak laki-laki tersebut mendengar suara aneh dari tempat ayahnya berada.


Ketika anak itu sampai ke ruangan depan, ia melihat sesosok monster hitam humanoid tengah menggigit dan memakan tubuh ayahnya. Tubuh anak itu membeku, pemandangan di depan matanya sangat mengerikan.


Kehadiran anak tersebut segera di sadari oleh sang monster, sosok monster hitam itu menghentikan aktivitas makan malamnya lalu berjalan mendekati anak tersebut.


Anak itu tidak bisa bergerak.


Sekarang anak tersebut bahkan lupa cara untuk bernapas. Saat monster hitam itu berada sangat dekat di depan sang anak, ibu anak tersebut muncul lalu menarik tangan anaknya untuk menjauh dari monster mengerikan itu.


"PERGI! JANGAN GANGGU ANAKKU!" ujar sang ibu sambil menodongkan golok.


Ibunya berada di depan, menjadi tameng untuk anak tersebut. Anak itu hanya bisa terpaku melihat keberanian ibunya. Seketika monster tersebut mengibaskan tangannya ke depan lalu pandangan anak tersebut menjadi merah.

__ADS_1


Di sebuah kamar yang sederhana, anak laki-laki itu tiba-tiba menjerit lalu terbangun dengan keringat yang mengucur deras. Rupanya cuma mimpi buruk.


Mimpi buruk yang berasal dari kejadian di masa lalu. Sesuatu yang tidak mungkin dilupakan oleh anak tersebut. Anak laki-laki itu lantas menangis, anak tersebut adalah pencuri kecil yang telah di selamatkan oleh Deng Xue siang tadi.


__ADS_2