Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 33 ~ Kebetulan Janggal


__ADS_3

Hawa dingin segera menyergap tulang punggungnya, pria berseragam putih tersebut bisa merasakan nada kebencian yang teramat dalam pada ucapan orang di belakangnya.


"Siapa saja orang yang membakar perpustakaan dan menghancurkan istana Sekte Jalan Surgawi?" lanjut Li Yao, pedang dinginnya ia lewatkan ke leher pria berseragam putih.


Tidak bisa menahan diri untuk meneguk ludah, pria itu sadar bila Li Yao serius akan membunuhnya jika jawabannya tidak memuaskan.


Setelah memutar otaknya selama lebih dari satu menit untuk mengingat sebutir informasi, sebuah nama alhasil muncul di dalam pikiran pria berseragam putih tersebut.


"Wu Hua, Kepala Keluarga Agung Wu! Aku pernah membaca berkas kejatuhan Sekte Jalan Surgawi, di sana nama Wu Hua tercatat sebagai orang yang memimpin perundingan terhadap Sekte Jalan Surgawi," jawab pria berseragam putih, kulit pusatnya berkeringat dingin.


Saat ini ia sudah menghambat pengeluaran darahnya dengan Qi agar tidak keluar melalui lukanya. Andaikan tidak, sekarang pria itu pasti sudah pingsan karena kekurangan darah.


Hening sesaat.


Sosok Li Yao seketika menghilang dari ruangan tersebut. Li Yao keluar melalui jendela. Menyadari keberadaan Li Yao sudah tidak ada di ruangannya, pria berseragam putih itu menggerakkan giginya lalu mengutuk.


"Sampaikan kepada semua orang di Aliansi Surgawi, Yang Membelah Surga sudah bangkit kembali dan akan membalas dendam!"


Suara Li Yao menggema di dalam telinga pria berseragam putih. Pria tersebut lekas menutup mulut, khawatir kata-katanya barusan di dengar oleh sosok Li Yao.


Waktu itu ia benar-benar ketakutan, seakan nyawanya berada di ujung tanduk hanya karena mendengar suara tersebut


***


Di jalan menuju pinggiran Kota Awan Biru, Li Yao tengah berada dalam suasana hati yang sangat buruk. Banyak informasi ia dapatkan dari pria berseragam putih, semua itu adalah informasi yang sangat menguntungkannya.


Walau demikian Li Yao tetap merasa tak tenang. Wu Hua adalah seorang Raja Pendekar, orang sekuat itulah target pertama yang harus merasakan amarah darinya.


Belum lagi Wu Hua adalah kepala keluarga Wu, salah satu keluarga agung. Sudah jelas sangat sulit untuk bertarung apalagi mengalahkannya.

__ADS_1


Li Yao menghela napas, dirinya ingin sekali menaikkan tingkat kultivasinya secepat yang ia bisa. Kepala Li Yao menggeleng, jangan terburu-buru atau hasilnya nanti tidak maksimal dan kacau. Ia masih muda dan memiliki banyak waktu.


Yang perlu Li Yao lakukan hanyalah berlatih dengan lebih keras dan lebih giat.


"Nak, tenangkan amarahmu! Tidak ada hasil yang baik jika kamu terpaku pada emosi itu. Sebagai yang tertua, kamu seharusnya bisa mengendalikan diri dengan lebih baik!"


Suara ramah itu menyadarkan Li Yao untuk keluar dari dunianya sendiri. Li Yao menoleh ke segala arah, mencari asal suara yang menyapanya dengan ramah.


Suara itu ternyata berasal dari seorang pemuda berusia 15 tahun yang berada persis di sebelah kirinya. Punggung Li Yao merinding, ia gagal menyadari keberadaan pemuda itu.


Tidak ada yang aneh dari pemuda tersebut. Pemuda itu memberikan perasaan nostalgia yang nyaman kepada Li Yao. Seumur hidupnya dahulu, belum pernah Li Yao merasakan perasaan itu selain dari gurunya.


Hal tersebut sudah menunjukkan seberapa anehnya pemuda itu. Li Yao memeriksa pemuda tersebut dengan lebih teliti. Penampilan pemuda itu tergolong biasa saja, wajahnya tidak tampan ataupun jelek, hanya rata-rata.


Pemuda itu berkulit agak pucat, dengan rambut hitam sepanjang bahu yang diikat rapi. Satu-satunya yang mengganggu Li Yao mengenai penampilan pemuda tersebut adalah matanya.


"Apakah dia buta?" tebak Li Yao di dalam hati.


Ada kegelisahan di dalam hati Li Yao tatkala melihat pemuda itu. Kenapa Li Yao gelisah hanya karena melihatnya? Li Yao sendiri tak tahu. Kultivasi pemuda tersebut juga tidak bisa Li Yao rasakan, mungkin saja itu alasan kegelisahannya.


"Apa kamu berbicara denganku?" tanya Li Yao kepada pemuda misterius tersebut. Langkah kaki mereka sudah berhenti sejak pemuda itu menyapa dirinya.


"Menurutmu?" Pemuda tersebut balas bertanya, senyum tipis yang sangat lembut melunturkan keseriusan di wajahnya.


"Apa maksudmu mengatakan itu?" Li Yao bertanya lagi, mengabaikan pertanyaan pemuda itu. Mengapa dia memanggil Li Yao dengan sebutan 'Nak'? Bagaimana bisa dia mengetahui bila Li Yao sedang diliputi kemarahan besar?


Penyamaran Li Yao sangat luar biasa. Seorang Pendekar Surga saja kesulitan melihat penyamarannya, bagaimana bisa seorang pemuda 15 tahun mengungkap penyamarannya?


Apalagi Li Yao sama sekali tidak menunjukkan kemarahannya. Raut wajah dan hawa keberadaannya tetap terlihat tenang dan santai. Li Yao harus menyelidiki pemuda misterius itu, demi keamanan dan masa depannya.

__ADS_1


"Hmm... Terserah, anggap saja aku tidak pernah berbicara denganmu! Toh barusan aku cuma asal ngomong."


Selesai mengatakan kalimat itu, pemuda misterius tersebut melanjutkan langkah kakinya ke depan, meninggalkan jejak penasaran di dalam pikiran Li Yao.


Apakah pemuda itu cuma asal bicara? Li Yao memandangi kepergian pemuda tersebut dalam diam. Sosok pemuda itu segera membaur dengan orang-orang di jalan lalu menghilang.


Seharusnya Li Yao menghentikan pemuda itu atau mengikutinya, tapi ia tak melakukannya. Entah kenapa, Li Yao merasakan perasaan yang sangat membahayakan dari pemuda tersebut.


***


Pemuda itu masuk ke dalam Penginapan Rongrong, penginapan yang tadinya dimasuki oleh Li Yao. Ekspresi Mu Rong Buruk sekali, seakan ada penyesalan dan masalah besar yang menimpanya.


Setelah menunjukkan identitasnya kepada MU Rong, wanita dewasa yang cantik itu langsung mengizinkan pemuda tersebut untuk masuk menemui seseorang. Ada keterkejutan di wajah Mu Rong, tatkala mengetahui identitas pemuda itu.


Berjalan menuju kamar nomor 29 di lantai 2, pemuda tersebut melihat banyak pelayan sedang bergosip. Inti dari pembicaraan mereka adalah, seseorang yang menginap di penginapan ini telah di serang oleh pengunjung misterius.


Setibanya di depan pintu kamar nomor 29, pemuda itu langsung mengetuk pintu. Pintu di buka oleh seseorang, sepertinya orang itu adalah tabib. Pemuda itu berbincang sebentar dengan tabib tersebut, namun seruan marah dari dalam kamar segera menyuruh tabib tersebut untuk kembali.


Pemuda itu mengikuti sang tabib dari belakang, ia akhirnya melihat seorang pria berseragam putih sedang terbaring lemah di atas kasur. Kondisi pria tersebut sangat menyedihkan, satu tangannya telah buntung.


Begitu sosok pemuda itu muncul di hadapan pria berseragam putih, pria tersebut otomatis langsung terduduk tanpa menyembunyikan keterkejutannya.


"Langit memberkati anda!" ucap pria berseragam putih itu, sambil menundukkan kepala dan menangkupkan tangannya hormat.


Sekilas tidak ada yang dapat mengenali identitas pemuda tersebut. Penampilan pemuda itu biasa saja dan kultivasinya tidak terlihat, seperti orang-orang normal pada umumnya.


Tidak seorang pun yang baru pertama kali menemuinya akan percaya, bila pemuda tersebut adalah satu-satunya putra Sang Raja Perang Ren Tian, Pemimpin Aliansi Surgawi.


Nama pemuda itu adalah Ren Shun.

__ADS_1


__ADS_2