
"Muridku, ada apa? Apa kamu sedang melihat Ketua Sekte Tao Zhen? Apa dia yang menyerangmu?" tanya Peng Mu gusar, pria tua itu lekas memandang Tao Zhen dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Tao Yuhan memang berdiri tepat di sebelah Tao Zhen, jadi tak heran Peng Mu berpikir demikian. Di sisi lain, ingatan Song Hao mengenai kejadian beberapa hari yang lalu kembali berputar di kepalanya. Waktu itu Song Hao dipukuli habis-habisan oleh seorang gadis.
Sejak kejadian itu, Song Hao berusaha keras mencari keberadaan gadis tersebut, namun sayangnya ia tak berhasil menemukannya. Sekarang gadis tersebut sedang berada di hadapannya. Bagaimana itu bisa terjadi?
Mulutnya mulai terasa perih, Song Hao lekas menyentuh bibirnya yang sudah hancur. Berbagai gambaran tentang apa yang telah terjadi sebelum dirinya pingsan mulai bermunculan. Song Hao akhirnya mengingat, bila dirinya di serang secara tiba-tiba oleh seorang bocah bernama Li Yao.
Bocah itu sekarang sedang berdiri di samping seorang gadis yang telah menyerang dirinya. Seketika Song Hao dibakar oleh api amarah, kedua bocah tersebut telah berhasil mempermalukan dirinya.
"Kalian berdua! Berani sekali kalian berdua menyerangku secara diam-diam!" ujar Song Hao, ia buru-buru bangkit lalu berdiri.
Mendadak wajah Peng Mu dipenuhi oleh keterkejutan. Jadi selama ini muridnya di kalahkan oleh dua bocah dari Sekte Jalan Pegunungan. Peng Mu hampir tidak percaya dengan fakta tersebut.
"Kamu menghajar si botak itu?" tanya Tao Yuhan datar.
"Ya! Apa Kakak juga pernah menghajar di botak itu?" Li Yao bertanya balik.
"Ya! Dia orang yang mengesalkan, bukan?"
"Ya! Aku tak tahan ingin menghancurkan mulutnya."
"Aku juga!"
Kepala Tao Zhen menggeleng pelan usai mendengar percakapan mereka. Terlepas dari kekacauan yang telah terjadi di tempat ini, sejujurnya Tao Zhen sangat bangga mengetahui bila murid sektenya berhasil mengalahkan Song Hao.
"Muridku, apa maksud perkataanmu barusan? Apa kamu di kalahkan oleh dua bocah itu?" tanya Peng Mu untuk memastikan.
Raut wajah Song Hao semakin buruk. Seakan dirinya baru saja memakan makanan yang menjijikkan, ekspresi Song Hao terlihat sangat tersiksa saat menjawab pertanyaan gurunya.
__ADS_1
"Mereka menyerangku diam-diam!" Song Hao beralasan.
Walau dua bocah itu menyerang Song Hao secara diam-diam, itu tidak menutupi fakta bahwa muridnya sudah di kalahkan oleh mereka. Peng Mu geram, ia juga tidak terima bila muridnya di permalukan dengan kekalahan seperti itu.
Song Hao segera berjalan menghampiri Li Yao dan Tao Yuhan, kemudian menantang mereka untuk bertarung melawan dirinya.
"Aku Song Hao dari Biara Laut Putih, menantang kalian berdua untuk berduel melawanku!"
"Aku menolak! Aku tak punya alasan untuk meladenimu berduel!" jawab Li Yao tanpa perlu berpikir panjang.
"Baiklah! Aku men-"
"Aku tidak mengizinkan kedua muridku yang masih terluka untuk berduel melawanmu!" ucap Tao Zhen agak terburu-buru, ia baru saja memotong ucapan anak perempuannya.
"Mari kita sudahi masalah ini! Anak muda, kamu sudah menghancurkan bangunan sekte kami. Kamu juga sudah melukai banyak murid kami. Sekarang kamu ingin menantang dua murid sekteku yang masih belum pulih, apakah kamu sedikitpun tak punya rasa malu? Di mana tata krama dan sopan santunmu? Apa gurumu tak mengajarimu tentang hal itu?" ucap Tao Zhen panjang lebar.
Song Hao menggertakkan giginya yang sudah ompong. Rasa sakit tiba-tiba menyerang mulutnya, ia baru saja menyadari bahwa beberapa giginya sudah putus karena dipukul oleh Li Yao.
"Tao Zhen, kamu harus sadar diri dengan kemampuanmu! Jika aku ingin, aku sendiri bisa saja menghancurkan sektemu yang bobrok ini!" ancam Peng Mu, ia tidak terima dengan penghinaan barusan.
"Oh, aku tahu kamu memang bisa." Tao Zhen menantang Peng Mu.
"Tapi apa kamu berani melakukannya! Pikirkan semua konsekuensi yang akan terjadi jika kamu menghancurkan sekte kami!"
Jika Peng Mu menghancurkan sebuah sekte tanpa alasan yang jelas, maka dia akan menerima hukuman yang sangat berat dari Aliansi Surgawi. Bukan tidak mungkin bila Peng Mu dieksekusi.
Meski Peng Mu berasal dari Biara Laut Putih, statusnya sebagai Tetua Biara pasti tidak akan bisa menghindarkannya dari hukuman. Biara Laut Putih malah bisa saja mengusir dirinya agar mereka diberikan oleh Aliansi Surgawi.
Tentu saja Peng Mu menyadari semua konsekuensi tersebut. Pria tua itu kesal, namun di tempat ini sekarang tak ada yang bisa dilakukannya.
__ADS_1
"Hao'er, ayo kita pergi!" ucap Peng Mu kesal.
Mendadak Song Hao menerjang ke depan seraya melayangkan tendangannya ke arah Tao Yuhan. Semua orang terkejut, terkecuali Li Yao dan Tao Yuhan. Tao Yuhan melompat mundur untuk menghindarinya.
[Seni Laut Putih - Pukulan Menghempas Awan]
Sadar bahwa tendangannya gagal mengenai gadis tersebut, Song Hao lantas menggunakan seni beladiri untuk memukul udara kosong dihadapannya. Sebuah tinju raksasa keemasan muncul lalu terbang ke arah Tao Yuhan. Itu adalah bentuk sebenarnya dari pukulan menghempas awan.
[Seni Jalan Surgawi Chapter Kedua - Bayangan di Balik Cahaya]
Pukulan itu menghancurkan bayangan Tao Yuhan. Walau sempat menghindar, Tao Yuhan tetap terkena dampak dari serangan tersebut. Secepat mungkin gadis itu mengeluarkan pedangnya, kemudian ia menerjang ke arah pemuda botak tersebut.
[Seni Laut Putih - Tubuh Yang Mulia]
[Seni Jalan Surgawi Chapter Kedua - Bayangan di Balik Cahaya]
Baik Song Hao maupun Tao Yuhan sama-sama menggunakan seni beladiri mereka. Tubuh Song Hao mulai berkontraksi lalu mengecil. Di saat yang bersamaan, Tao Yuhan mulai membelah diri menjadi tiga lalu keberadaannya yang sesungguhnya langsung menghilang.
Song Hao menerjang maju, pukulan dan tendangannya melesat menghancurkan ketiga bayangan gadis tersebut. Tidak yang asli. Di tengah kebingungannya, pemuda itu tiba-tiba menemukan bahwa sekujur tubuhnya telah dipenuhi oleh luka sayatan.
"Kenapa kamu bingung?" tanya Tao Yuhan, ia tiba-tiba muncul di depan Song Hao.
Pemuda botak itu terkejut, sejak kapan Tao Yuhan berada di hadapannya? Seketika gadis itu menebas tubuh Song Hao lalu melompat ke samping kiri. Song Hao telah melayangkan tinju raksasanya ke arah gadis tersebut.
Untung saja Tao Yuhan berhasil menghindarinya.
Sejenak konfrontasi mereka berhenti. Mereka berdua saling mengamati keadaan masing-masing di dalam diam. Tao Yuhan tampak baik-baik saja, sedangkan sekujur tubuh Song Hao penuh dengan goresan.
Luka goresan di dada Song Hao terlihat cukup dalam namun tidak membahayakannya.
__ADS_1
Entah untuk kesekian kalinya, semua orang di tempat itu membelalakkan matanya. Tentu Li Yao adalah pengecualian, ia tahu kekuatan Tao Yuhan yang sesungguhnya. Li Yao hanya terkejut ketika melihat reaksi Tao Zhen yang tampak tidak masuk akal.
"Hey, kenapa kamu terkejut? Apa kamu bahkan tidak sadar dengan kekuatan anakmu sendiri? Ayah macam apa sebenarnya kamu ini?"