
Sinyal dari Du Huan sampai ke tempat gurunya dan ketiga teman-temannya. Tidak lama berselang setelah Du Huan menyalakan suar, Cheng Lei akhirnya sampai ke lokasinya lalu melihat pemandangan yang menyeramkan.
Di hadapan Cheng Lei sekarang, tampak seekor monster sedang menenggelamkan gigi-giginya yang tajam ke dalam perut Du Huan. Du Huan telah tewas dan kini sedang disantap oleh monster tersebut.
Tubuh Cheng Lei bergetar marah, ia marah karena murid kesayangan telah mati dengan cara yang sangat mengerikan. Makhluk itu segera menyadari kehadiran Cheng Lei lalu menyudahi makan malamnya.
Cheng Lei tanpa aba-aba menerjang ke depan lalu memukul tubuh makhluk tersebut dengan tekniknya.
[Seni Laut Putih - Pukulan Menghempas Awan]
Pukulan itu menghantam telak tubuh makhluk tersebut. Makhluk itu tercampak jauh ke depan, menghantam dan menghancurkan pohon-pohon yang ditabrak oleh tubuhnya.
Angin kencang dan perusak timbul dari pukulan Cheng Lei yang sangat kuat. Pepohonan dan tanah di depan matanya kini hancur dan berhamburan, sampai membuat ceruk yang cukup lebar.
Cheng Lei tidak berhenti. Dalam waktu yang sangat singkat, ia sudah berada di depan makhluk yang mengenaskan itu. Luka pada tubuh makhluk tersebut sangat parah.
Tulang punggung dan dadanya patah, perutnya berlubang, darah berwarna merah kehitaman keluar dari luka yang menghinggapi sekujur tubuhnya. Sekarang makhluk yang menyeramkan itu terlihat sangat lemah.
Cheng mendekati makhluk tersebut lalu memerhatikannya dengan lebih saksama. Makhluk itu memikiki badan, tangan, kaki, dan kepala layaknya manusia pada umumnya.
Mata makhluk itu merah menyala, Cheng Lei tidak melihat sedikit pun kewarasan di dalam sana. Kulit makhluk tersebut berwarna hitam, kering, dan terkelupas.
Terlihat sangat menjijikkan.
Kulit makhluk itu juga di tumbuhi bulu layaknya binatang. Saat memandang rupa makhluk yang menjijikkan itu, Cheng Lei kembali dikuasai oleh kemarahannya.
Tangan kiri Cheng Lei segera mencekik leher makhluk tersebut, sedangkan tangan kanannya bersiap untuk memukul. Pukulan demi pukulan Cheng Lei hantamkan ke wajah, dada, dan perut makhluk tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu tahu alasan kepalaku botak? Itu karena aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku!" ujar Cheng Lei penuh emosi, di tengah saat ia melayangkan pukulannya bertubi-tubi.
Ketiga murid Cheng Lei muncul lalu memerhatikan dari jauh, mereka tidak berani mendekat sebab gurunya sedang marah besar.
Makhluk itu meraung, berusaha melawan balik namun Cheng Lei dapat mengatasinya. Lewat 5 menit, kepala makhluk tersebut telah remuk.
Setelah memastikan bahwa makhluk itu sudah tidak bernyawa, Cheng berbalik lalu berjalan menjauh dari tubuh makhluk tersebut.
Satu muridnya tewas ketika menjalankan misi bersamanya, Cheng Lei bisa membayangkan bila Tetua Biara yang lain menertawakannya. Itu adalah alasan lain dibalik kemarahannya.
Seketika makhluk itu bangkit kembali lalu mencakar punggung Cheng Lei dengan jarinya. Serangan itu sangat tidak terduga, Cheng Lei tidak sempat menghindarinya.
Lima luka sayatan panjang muncul di punggung Cheng Lei, serangan makhluk tersebut mirib dengan cakaran binatang buas. Makhluk itu kembali menyerang, Cheng Lei berusaha menghindar namun agak terlambat. Cakaran monster itu berhasil mengenai lengan Cheng Lei.
Cheng Lei melirik makhluk tersebut lalu menyadari bila luka di tubuhnya telah menutup. Tidak terkecuali dengan kepalanya, kepala makhluk yang remuk itu perlahan mulai kembali seperti sediakala.
Waktu makhluk itu melayangkan serangan lainnya, Cheng Lei berhasil menghindarinya lalu memukul perut makhluk tersebut sampai berlubang. Makhluk itu meraung marah, ia tiba-tiba mencengkeram erat tangan Cheng Lei agar tidak keluar dari lubang di perutnya.
[Teknik Penyucian - Laut Putih Suci]
Cheng Lei agak terkejut melihat tindakan makhluk tersebut, tapi ia langsung menggunakan teknik khas Biara Laut Putih. Tangan Cheng Lei yang berada di dalam perut makhluk itu tiba-tiba bercahaya.
Di mulai dari tangan Cheng Lei, cahaya itu menjalar masuk ke dalam tubuh makhluk tersebut. Tidak butuh waktu lama cahaya itu menyebar ke seluruh tubuhnya, makhluk tersebut lekas menjerit dan meronta-ronta.
Walau demikian, makhluk itu tetap tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Cheng Lei. Hal tersebut membuat Cheng Lei agak bingung.
Waktu Cheng Lei berpikir bila dirinya telah memenangkan pertempuran, makhluk itu tiba-tiba memuntahkan cairan hitam dari mulutnya ke kepala Cheng Lei.
__ADS_1
Teknik penyucian Cheng Lei terhenti. Cheng Lei merasakan sakit yang luar biasa pada kepala, wajah, dan bagian tubuhnya yang terkena cipratan cairan hitam. Cairan hitam itu panas membakar, baunya juga sangat menjijikkan.
Cheng Lei tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menjerit kesakitan, bahkan tubuh seorang pendekar langit yang sudah melalui cobaan surgawi tetap terluka karena cairan hitam tersebut.
Qi di dalam tubuh Cheng Lei mendadak menjadi kacau, begitu juga dengan pikirannya. Kesempatan itu segera diambil oleh makhluk tersebut untuk melayangkan serangan.
Tubuh Cheng Lei refreks menjauh dari serangan makhluk tersebut. Akibatnya, serangan makhluk itu gagal mendarat sempurna di tubuh Cheng Lei.
Makhluk tersebut tidak kecewa dengan kegagalan barusan, ia terus menyerang Cheng Lei yang sedang bergerak mundur dalam posisi bertahan.
Kemarahan Cheng Lei redup, ia bisa merasakan hawa kematian perlahan mendekatinya. Sekarang kesempatannya untuk mengalahkan makhluk tersebut telah lenyap. Cairan hitam itu benar-benar mengacaukannya.
Cheng Lei memaksa matanya untuk terbuka, matanya juga terciprat cairan hitam tersebut. Jika ia tidak menggunakan Qi untuk melindungi matanya, bisa dipastikan matanya akan langsung buta.
Tubuh Cheng Lei kini dipenuhi dengan banyak luka sayatan dan goresan. Makhluk itu tidak pernah memberikan jeda yang cukup untuk Cheng Lei mengambil napas. Pada akhirnya pukulan makhluk tersebut berhasil mengenai Cheng Lei dengan telak.
Pukulan makhluk itu menghantam pinggang Cheng Lei, menyebabkan tubuh Cheng Lei tercampak jauh lalu merobohkan beberapa pohon. Cheng Lei segera sadar lalu memerhatikan sekelilingnya.
Berada tidak terlalu jauh dari lokasinya, ia bisa melihat ketiga muridnya sedang diam menonton pertarungannya. Sebuah pemikiran terlintas di dalam kepala Cheng Lei, ia lantas melihat makhluk menjijikkan yang sedang berlari mendekatinya.
Merasa tidak punya pilihan lain, Cheng Lei berlari menuju ke arah tiga muridnya yang sedang berkumpul. Ketiga pemuda botak itu segera sadar dengan niat guru mereka, namun terlambat.
Kultivasi gurunya dengan kekuatan makhluk tersebut hampir setara. Ketiga pemuda itu ingin melarikan diri, akan tetapi sosok Cheng Lei dalam sekejap sudah berada tepat di hadapan mereka.
"Guru, apa kamu berniat... "
Sebelum salah satu muridnya menyelesaikan kata-katanya, Cheng Lei sudah lebih dulu berlari membelakangi murid-muridnya. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka bertiga.
__ADS_1
Mereka ingin melarikan diri, tapi tak bisa. Makhluk tersebut dalam hitungan detik sudah berada persis di depan mereka. Apa yang sebentar lagi akan menimpa mereka bertiga? Mereka sadar akan hal itu.