
Kepala Li Yao otomatis menoleh ke arah belakang. Persis di balik punggungnya sesosok gadis kecil tiba-tiba muncul entah darimana. Siapa lagi gadis kecil tersebut jika bukan Tao Yuhan.
Agak aneh melihat Tao Yuhan di dalam sekte. Selama ini Li Yao hanya melihatnya saat malam hari di hutan belakang sekte.
Pancaran matahari sore menerpa sosoknya yang manis. Kini Li Yao bisa melihat rupa Tao Yuhan dengan lebih seksama. Gadis kecil itu memiliki rambut berwarna hitam yang mengalir lembut sampai punggungnya. Kulitnya putih pucat, seolah ia sedang sakit.
Wajahnya yang kecil itu sangat imut dan mengemaskan, sangat tidak cocok dengan ekspresinya yang datar. Bola matanya berwarna hitam pekat, namun terkadang Li Yao bisa melihat segaris vertikal tipis berwarna ungu di dalam sana.
Hawa kehadiran Tao Yuhan sampai sekarang tetap tidak bisa dirasakan oleh Li Yao. Itulah alasan Li Yao selalu terkejut dengan kehadirannya yang sering mendadak muncul.
"Apa yang Kakak lakukan di sini?" tanya Li Yao menginterogasi, ia penasaran jawaban macam apa yang akan diberikan oleh Tao Yuhan.
"Aku dipanggil ke sini oleh ayahku," jawab Tao Yuhan.
"Oh, jadi siapa ayahmu?" Li Yao lanjut bertanya.
"Ketua Sekte, Tao Zhen!" ungkap Tao Yuhan tanpa basa basi.
Alis Li Yao agak terangkat, jelas ia tercengang dengan jawaban jujur dari Tao Yuhan.
"Jadi waktu itu Kakak bohong! Kakak bilang Ketua Sekte bukan Ayah Kakak."
"Barusan dia mengangkatku menjadi anak," jawab Tao Yuhan tak tahu malu.
Li Yao hanya bisa memutar bola matanya, tidak marah sama sekali dengan kebohongan konyol yang diucapkan oleh Tao Yuhan. Setidaknya Li Yao tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Tak lama berselang, Li Yao dan Tao Yuhan sudah masuk ke dalam ruangan Ketua Sekte. Persis di hadapan mereka berdua, Tao Zhen bersama keempat para tetua sedang duduk menunggu kedatangan dirinya dan Tao Yuhan.
Mereka berlima lekas memberitahu dan menjelaskan isi surat yang dibawa oleh Gao Ming. Setelah mendengarkannya, kurang lebih Li Yao paham dengan situasi yang sedang dihadapi oleh mereka.
Surat tersebut berisikan permintaan penduduk Kota Awan Biru, agar Sekte Jalan Pegunungan mengirim seseorang ke wilayah selatan kota, kemudian memburu monster berbahaya yang berkeliaran di sekitar sana.
Tentu saja ada imbalannya, namun Li Yao sama sekali tidak tertarik. Imbalan itu hanya remah-remah dibandingkan harta kekayaannya.
__ADS_1
Untuk menyelesaikan permintaan yang berbahaya itu, Ketua Sekte dan Para Tetua pasti tidak punya pilihan selain menggunakan Tao Yuhan. Li Yao sangat paham akan hal tersebut, pasalnya Tao Yuhan mungkin adalah orang terkuat di sekte yang bobrok ini.
Mengabaikan gelar mereka, Tao Zhen dan keempat tetua adalah pendekar yang tergolong lemah. Tingkat kultivasi mereka hanya mencapai tahap membentuk inti Qi, sedangkan Tao Zhen berada pada tahap membangun pondasi.
Di bandingkan itu, sampai sekarang Li Yao belum bisa melihat kultivasi Tao Yuhan yang sesungguhnya.
Gadis kecil tersebut masih penuh dengan misteri.
Jadi begitulah penjelasan misi pertama yang diterima oleh Li Yao. Ia akan memburu monster yang meresahkan warga, bersama dengan Tao Yuhan. Besok pagi adalah hari keberangkatannya. Malam ini Li Yao diperintahkan untuk beristirahat dengan maksimal.
Keesokan harinya, Li Yao dan Tao Yuhan segera meninggalkan gerbang sekte lalu berjalan menuruni gunung. Di balik punggung mereka berdua, Ketua Sekte dan Para Tetua dengan gelisah melihat kepergian mereka.
Kelihatannya kelima pria tua itu sangat mencemaskan keselamatan Li Yao dan Tao Yuhan.
Tidak butuh waktu lama, sosok Li Yao dan Tao Yuhan lenyap di telan turunan tangga. Kelima pria tua itu lekas menghela napas.
Walau sosok kedua murid kecilnya sudah tidak terlihat, mereka tetap berdiri menatap sisa sisa kepergian dua anak kecil itu sambil berharap, semoga anak-anak tersebut selamat menjalani misi.
Turunan tangga yang panjang itu sepi, tidak tampak orang lain selain mereka. Li Yao hanya ingin memecahkan suasana hening diantara dirinya dan Tao Yuhan.
"Kenapa hubunganku dengan ayah tidak baik?" Tao Yuhan bertanya balik.
"Kelihatannya memang memang seperti itu," jawab Li Yao, ia ingat saat mereka berhadapan dengan Ketua Sekte.
Waktu itu Tao Yuhan hanya berdiri dengan wajah datarnya seperti biasa. Tidak ada riak apa pun di wajah gadis tersebut ketika bertemu dengan ayahnya.
Tao Yuhan hanya berbicara ketika menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepada dirinya
Gadis kecil berumur 13 tahun mana yang bersikap begitu ke orang tuanya? Mengingat Tao Yuhan tinggal sendirian di dalam hutan, mungkin itu alasan ia membenci ayahnya.
"Apa aku aneh? Seharusnya bagaimana sikapku ketika bertemu dengan ayahku?" tanya Tao Yuhan, seraya melirik anak laki-laki di sebelah kanannya.
"Apa Kakak tidak sadar? Sikap Kakak jauh dari kata anak normal." Li Yao tidak menyangka, bila gadis kecil itu tidak sadar dengan sikapnya sendiri.
__ADS_1
"Anak normal akan antusias ketika bertemu dengan ayahnya."
"Oh, begitu."
Tao Yuhan diam sejenak sebelum bertanya lagi.
"Bagaimana caranya antusias?"
Mata Li Yao melebar, tercengang dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Tao Yuhan. Pertanyaan macam apa itu? Li Yao mendesah lalu menepuk dahi.
"Kakak memang aneh. Kali ini aku percaya kalau hubungan Kakak dengan Ketua Sekte baik-baik saja." Li Yao langsung menyimpulkan.
"Kamu kelihatannya sangat pintar dan sering berpikir," ucap Tao Yuhan mendadak.
"Bukan kelihatannya, aku memang sangat jenius hampir di semua bidang." Li Yao menyombongkan diri.
Sehabis mendengar pernyataan sombong Li Yao, Tao Yuhan langsung menggeleng. Segaris senyum tipis yang sinis terbit di wajah manisnya, baru kali ini Li Yao melihat gadis kecil itu tersenyum.
"Kamu seharusnya jangan banyak berpikir, berpikir hanya akan membuatmu lebih menderita."
Jujur saja, Li Yao agak terkejut melihat senyuman tersebut. Apalagi setelah ia mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh Tao Yuhan. Li Yao bisa merasakan emosi yang sangat kuat di dalam ucapan itu.
Hening, lalu sesekali berbincang-bincang. Begitulah mereka terus menuruni anak tangga.
***
Sebelum menjalani misi, Li Yao dan Tao Yuhan harus mampir ke kantor pengurus kota. Mereka perlu melaporkan, bahwa mereka menerima permintaan untuk memburu monster.
Kantor pengurus kota adalah bangunan berlantai dua yang cukup besar dan luas. Di depan pintu kantor tersebut, Li Yao dan Tao Yuhan melihat sekelompok pria masuk ke dalam kantor mendahului mereka.
Penampilan sekelompok pria itu sangat mencolok. Mereka semua botak, dan berpakaian menggunakan kain tipis berwarna putih polos layaknya pertapa. Mereka kelihatannya berasal dari Biara Laut Putih.
"Hey, botak! Kenapa kalian menyerobot masuk dan tidak antre di belakang kami?" ujar Tao Yuhan kesal.
__ADS_1