
"Cheng Lei, sikapmu masih belum berubah." Deng Xue kelihatan tidak senang bertemu dengan teman lamanya.
Selepas anak itu jatuh karena Cheng Lei melemaskan genggaman tangannya, anak tersebut hendak pergi melarikan diri namun Cheng Lei dengan sangat cepat menangkapnya kembali.
"Cheng Lei, cepat lepaskan anak itu!!" ujar Deng Xue marah, Cheng Lei mengabaikan ucapannya lalu menepis tangan Dengan Xue dari pundaknya.
"Kenapa aku harus melepasnya? Pencuri sepertinya harus dihukum agar dia tidak mencuri lagi," balas Cheng Lei.
"Anak itu sudah mengembalikan barangmu!" seru Deng Xue, ia mencoba mengingatkan Cheng Lei.
"Cheng Lei, jangan bertindak berlebihan! Jika kamu masih ingat dengan ajaran Biara Laut Putih, lepaskan dia!"
"Ajaran Biara Laut Putih? Kamu yang sudah di usir tidak berhak mengatakannya!"
Kalimat Cheng Lei barusan menyebabkan Deng Xue terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa agar Cheng Lei melepaskan anak kecil yang malang itu.
Melihat Deng Xue tak berdaya membuat Ceng Lei senang. Keadaannya sekarang terbalik dengan dahulu.
"Pengurus Kota Awan Biru tadi bilang agar aku menemui seseorang bernama Deng Xue. Aku pikir itu orang lain, tapi rupanya itu benar-benar kamu. Ini pertemuan yang menyenangkan, bukan begitu?"
"Cheng Lei, Apa yang kamu inginkan?" tanya Deng Xue seraya menggertakkan giginya.
Aneh melihat pria kekar seperti Deng Xue sedang ditindas.
"Kenapa kamu sangat peduli dengan pencuri tidak jelas seperti dia?" Cheng Lei mencibir.
"Oh, sejak dulu kamu memang seperti ini."
Meski diam, Deng Xue tetap tenang.
"Berlututlah! Mungkin aku akan melepaskan pencuri ini jika kamu berlutut kepadaku," ucap Cheng Lei sinis.
Mata Deng Xue menatap lekat ke dalam bola mata Cheng Lei yang penuh dengan kehinaan, ia tidak bisa melihat ruang kompromi di dalam sana.
Cheng Lei sambil tersenyum sinis menunggu Deng Xue untuk berlutut kepala dirinya. Merasa tidak punya pilihan, Deng Xue lantas berlutut di hadapan Cheng Lei.
__ADS_1
"Wow, kamu benar-benar sudah kehilangan harga dirimu!" seru Cheng Lei, masih tercengang melihat orang seperti Deng Xue berlutut kepadanya.
"Sekarang potong semua rambutmu!" titah Cheng Lei tanpa ampun.
Deng Xue menatap Cheng Lei dengan raut wajah tidak percaya.
"Apa kamu iri dengan rambutku? Jangan bilang tujuanmu-"
"Diam!" bentak Cheng Lei dengan wajah memerah.
"Semua murid seangkatan kita tahu, kalau kamu bergabung dengan Biara Laut Putih karena kepalamu mengalami kebotakan sejak dini," jelas Deng Xue.
Rahasia Cheng Lei rupanya sudah lama terkuak, fakta itu membuat kemarahan Cheng Lei semakin membesar. Cheng Lei tanpa sadar melepaskan tangan anak tersebut lalu berniat memukul Deng Xue.
Anak itu pergi, setelah melihat tatapan Deng Xue yang menyiratkan agar dirinya lekas melarikan diri. Deng Xue lega karena anak tersebut telah menjauh, tampaknya Cheng Lei sudah tidak peduli dengan anak kecil itu.
Waktu Cheng Lei mengepalkan tangannya lalu berniat memukul Deng Xue, mendadak terdengar suara lembut dari lantai 2 Penginapan Rongrong. Suara itu berasal dari Ren Shun, ia sedang berdiri di balkon depan penginapan mengamati keadaan di jalan.
"Tolong jangan buat keributan di jalan ini!"
Kepala Deng Xue langsung menunduk, ia menyapa dengan hormat usai mendapati sosok Ren Shun berada di hadapannya.
"Langit memberkati anda!"
Berbeda dengan Deng Xue, Cheng Lei hanya kaget karena tidak percaya pemuda tersebut sedang berada di kota ini. Tidak ada hormat di wajah Cheng Lei, yang ada hanyalah ekspresi merendahkan.
"Apa yang Tuan Muda Cacat itu lakukan di kota ini?" gumam Cheng Lei.
Seketika hawa membunuh yang sangat pekat menekan tubuh dan jiwa Cheng Lei. Ia bisa merasakan setiap inci dari dirinya remuk, dihancurkan tanpa memiliki kesempatan untuk melawan.
Sekujur Cheng Lei meremang dan berkeringat dingin. Tubuhnya bergetar saking tegangnya, kakinya kehilangan tenaga lalu tertekuk, akhirnya Cheng Lei dengan lesu jatuh terduduk.
Hawa membunuh yang menakutkan itu dalam sekejap langsung menghilang. Cheng Lei dengan panik melirik ke segala arah, mencari sumber hawa membunuh barusan namun ia tak menemukannya.
"Bubarlah!" imbau Ren Shun, ia ingin agar Cheng Lei berhenti menindas Deng Xue.
__ADS_1
Cheng Lei memandang Ren Shun dengan pandangan menyelidik, apakah hawa membunuh barusan berasal dari penjaga rahasia Tuan Muda Aliansi Surgawi? Hanya itu alasan masuk akal yang dapat di temukan oleh Cheng Lei.
Kesal karena kesenangannya di ganggu, Cheng Lei menyerang Deng Xue menggunakan Qi berwarna keemasan yang keluar dari tubuhnya. Tubuh Deng Xue tercampak menabrak dinding, Cheng Lei terkekeh pelan lalu berjalan memasuki Penginapan Rongrong.
Kepala Ren Shun menggeleng, ia kasihan dengan Deng Xue Dan juga Cheng Lei. Tindakan Cheng Lei memang hina, tapi ia akan segera mendapatkan ganjarannya.
"Kamu seharusnya menjaga sikap ketika berhadapan dengan Tuan Muda!"
Suara itu seperti silet yang dipaksa masuk melalui telinganya, tipis dan tajam. Cheng Lei bisa merasakan otaknya di serang dengan rasa sakit yang luar biasa. Ketika Cheng Lei berbalik, ia bisa merasakan seseorang telah menghilang dari balik punggungnya.
Perasaan itu sungguh tak asing.
Mendadak Cheng Lei pingsan, setelah ia tidak kuat menahan rasa sakit yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
***
Bisa ditebak dengan sangat mudah, bila Li Yao berhasil mengalahkan keempat pemuda yang congkak itu. Mereka memang tidak bisa dibandingkan dengan Li Yao, bahkan jika tingkat kultivasi mereka jauh lebih tinggi.
Mereka berdua lekas meninggalkan keempat pemuda yang tengah pingsan itu. Li Yao dan Tao Yuhan melanjutkan tujuan awal mereka, yaitu mengunjungi Deng Xue - sang pemilik kedai di pinggir kota, untuk mendapatkan informasi tentang monster yang berkeliaran di pinggiran kota.
Sesampainya di depan kedai milik Deng Xue, Li Yao dan Tao Yuhan melihat sekelompok orang tengah keluar dari kedai yang tampaknya sedang tutup itu.
"Tuan, apa kedai ini tutup?" tanya Li Yao sigap.
"Ya!" jawab orang itu jujur, ia menghentikan langkah kakinya sebelum menjawab pertanyaan Li Yao.
"Apa pemiliknya sedang ada urusan?" Li Yao bertanya lagi.
"Deng Xue pergi ke pasar untuk berbelanja, namun dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan kesialan." Orang itu menjelaskan.
"Dia mencari masalah dengan seorang pendekar dari Biara Laut Putih. Pendekar itu menghajar Deng Xue sampai pingsan dan babak belur."
Orang pertama yang muncul di dalam benak Li Yao begitu mendengar penjelasan tersebut adalah Cheng Lei, paman botak yang mengesalkan itu.
Siapa lagi selain Cheng Lei, pendekar dari Biara Laut Putih yang sekarang ada di Kota Awan Biru. Li Yao sudah menghajar keempat muridnya jadi itu tak mungkin mereka.
__ADS_1
Sehabis bertanya-tanya singkat dan berterima kasih kepada orang itu, Li Yao dan Tao Yuhan memasuki kedai sekaligus rumah yang ditinggali oleh Deng Xue.