
Bersandar di depan jendela, Ren Shun khusyuk menatap langit dengan bola matanya yang buta. Walau hanya bisa melihat gelap, sejak dulu Ren Shun memang suka memandang langit.
Entah apa alasannya, tidak ada orang yang tahu. Bahkan orang terdekat dan orang yang selalu bersama dengan Ren Shun juga tidak tahu alasannya. Setiap ditanya, pemuda itu tidak pernah menjawab dengan serius.
Saat ini Ren Shun masih berada di Penginapan Rongrong. Seharusnya ia tidak berada di kota ini, niat awalnya adalah mengunjungi Kota Awan Biru lalu pergi ke ibukota. Ren Shun tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang sangat menarik di tempat ini.
"Tuan, anda sampai kapan akan berada di kota ini?" tanya seseorang, wujudnya sama sekali tidak kelihatan.
"Aku ingin mengamati kota ini sebentar lagi," balas Ren Shun santai.
"Kalau boleh tahu, kenapa anda datang mengunjungi kota ini? Aku tak melihat satu pun hal yang istimewa di tempat ini selain keruntuhan Sekte Jalan Surgawi."
"Ada peninggalan seseorang yang ingin aku lihat," beritahu Ren Shun.
"Tapi ternyata aku bertemu dengan orangnya langsung."
***
Jeritan anak laki-laki itu membangunkan seorang wanita tua dari tidurnya. Wanita tersebut lekas bangkit lalu berjalan menuju arah tangisan. Pintu kamar dibuka, wanita tua itu lantas melihat seorang anak laki-laki sedang menangis.
Perlahan wanita tua itu menghampiri anak tersebut, kemudian duduk di atas kasur tepat di sebelahnya. Anak laki-laki itu terus menangis, sepertinya ia tidak peduli dengan kehadiran wanita tua tersebut.
Wanita tua itu dalam diam menemani anak tersebut. Sesekali ia mengelus rambut sang anak, supaya anak laki-laki itu bisa merasakan ketenangan.
Air muka wanita tua itu lembut. Ia tidak merasa terganggu dengan tangis anak tersebut, meski anak itu telah mengganggu waktu istirahatnya.
Lima menit kemudian anak laki-laki itu sudah agak tenang. Tangisannya sudah berhenti, anak laki-laki itu hanya diam tanpa niat untuk memulai pembicaraan.
Sekarang adalah saat yang tepat untuk berbicara dengan anak tersebut.
__ADS_1
"Nak, apa kamu ingin mendengar sebuah dongeng?" tanya wanita tua itu lembut.
Anak laki-laki itu menoleh, lalu menatap wanita tua yang sudah mengurusnya selama ini. Sejak kedua orang tuanya tewas di bantai monster, anak laki-laki itu telah di urus oleh wanita tua tersebut.
Hampir setiap malam anak itu bermimpi buruk. Walau demikian, wanita tua tersebut tidak pernah kesal atau bahkan memarahinya. Seperti saat ini, wanita tua itu hanya diam menemaninya.
Ketika anak tersebut sudah lumayan tenang, wanita itu akan mulai menceritakan sebuah dongeng. Itu dilakukannya berulang kali, agar anak tersebut bisa tidur dengan nyenyak.
Kenapa wanita tua itu begitu baik kepada anak tersebut? Mungkin karena wanita tua itu hidup sebatang kara. Ia punya seorang anak laki-laki yang adalah seorang pendekar, namun anaknya itu tidak pernah pulang mengunjunginya.
Saat anak laki-laki itu mengangguk, wanita tua tersebut lantas memulai cerita dongengnya.
"Pada zaman dahulu, hidup seorang pria sederhana yang sangat baik hati... "
Anak laki-laki itu mengusap sisa air matanya lalu mendengarkan isi cerita dengan saksama. Berselang 5 menit, sejenak wanita itu mengatur pernapasannya lalu lanjut bercerita.
"Walau begitu, dewi yang sangat cantik itu memilih seorang manusia biasa. Bukan dewa atau pendekar yang sangat luar biasa, tapi seorang pria sederhana yang baik hati. Dewi yang sangat cantik itu turun dari surga lalu bertemu dengan pria tersebut."
"Mereka hidup bersama. Tentu saja para dewa tidak bisa menerima kenyataan itu, harga diri mereka sebagai dewa seakan diinjak-injak."
"Tidak butuh waktu lama pria baik hati itu juga jatuh cinta dengan sang dewi. Pernikahan mereka sudah di depan mata, namun para dewa dan dewi tiba-tiba sepakat untuk mengutuk mereka. Jatuhlah kutukan dari langit."
"Tepat pada hari pernikahan mereka, para dewa dan dewi datang lalu membunuh pria tersebut. Dewi yang sangat cantik itu merasa tidak berdaya, ia hanya bisa melihat kekasihnya di bunuh tepat di depan matanya."
Selepas melihat raut wajah anak tersebut, wanita tua itu tiba-tiba menghentikan ceritanya. Tampaknya cerita itu membuat anak tersebut mengingat kenangan buruk.
"Kenapa berhenti? Apa yang terjadi setelah itu?" ucap anak laki-laki itu sedih, ia penasaran dengan nasib sang dewi yang telah ditinggalkan.
"Para dewa dan dewi pergi meninggalkan dewi yang sangat cantik itu bersama mayat kekasihnya. Di tengah kesedihannya, dewi yang sangat cantik itu berusaha menghidupkan kembali pria tersebut."
__ADS_1
"Apakah dewi itu berhasil?" tanya anak tersebut sangat penasaran.
"Tentu saja usahanya gagal. Orang yang sudah mati tidak mungkin hidup kembal," jelas wanita itu pelan, anak laki-laki tersebut langsung kecewa berat.
"Sebuah bunga berwarna merah muda yang sangat indah tumbuh dari darah mayat kekasihnya. Sejak saat itu, sang dewi terus menunggu kedatangan kekasihnya sambil merawat bunga tersebut." Wanita tua itu melanjutkan ceritanya.
"Menunggu dan menunggu, terus menunggu. Dewi yang sangat cantik itu tidak pernah berhenti menunggu kedatangan pria tersebut. Makanya dongeng ini dinamakan Sang Penunggu Bunga."
"Apakah dia tidak kesepian?" tanya anak laki-laki itu merasa sedih.
"Tentu saja," jawab wanita tersebut.
"Nak, jangan jadi seperti seperti sang dewi! Dia tidak bisa menerima kenyataan dan tidak pernah melangkah pergi. Pahahal dia bebas, tapi dia mengurung dirinya sendiri di tempat itu selama-selamanya. Apa yang sudah terjadi, itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita ubah." Wanita tua itu memperingatkan, pandangan matanya kosong saat menatap langit-langit kamar.
Sunyi sesaat.
"Jadi, apa kutukan yang diberikan dewa kepada mereka?" tanya anak laki-laki itu setelah diam selama beberapa saat. Ia ingat para dewa dan dewi mengutuk pasangan itu, tapi tidak disebutkan apa kutukan yang menimpa mereka.
Wanita tua itu tidak langsung menjawab, kepalanya berpikir mencari jawaban atas pertanyaan anak tersebut. Setelah pria baik hati itu dibunuh oleh para dewa, kutukan yang menimpa mereka memang tidak pernah di sebutkan lagi.
"Mungkin kutukan itu adalah hati sang dewi yang sudah hancur, menyebabkannya tidak pernah pergi dari tempat itu," jawab wanita tua itu setelah berpikir sejenak.
Suara lonceng berdentang tiba-tiba terdengar, menandakan ada orang yang sedang memasuki penginapannya. Wanita tua itu memang menjalankan bisnis penginapan kecil di wilayah pinggiran Kota Awan Biru.
Berhubung ada monster berbahaya yang berkeliaran di wilayahnya, selama beberapa bulan terakhir ia sangat kesulitan mendapatkan penghasilan. Itulah alasan anak laki-laki tersebut mencuri di tengah kota.
Setelah menyuruh anak laki-laki itu untuk beristirahat, wanita tua itu lantas datang ke ruang depan untuk menyambut tamunya. Betapa terkejutnya wanita tersebut, ketika melihat tamunya merupakan tiga anak kecil yang kelihatan sangat mencurigakan.
Siapa lagi mereka jika bukan Li Yao, Tao Yuhan, dan Huli.
__ADS_1