
Keributan tersebut tentu terlihat dari ruangan ketua sekte. Tidak lama setelah gerombolan itu menerobos masuk, Tao Zhen bersama seorang Tetua langsung bergegas menghampiri mereka.
Tetua itu bernama Ma Heng, ia adalah tetua Sekte Jalan Pegunungan yang mengurus masalah keuangan. Dengan kata lain, bendahara sekte. Ma Heng berjalan di belakang punggung Tao Zhen, mengikuti ketua sektenya.
Mereka mendengar saat seorang anak kecil berusia 8 tahun memarahi gerombolan itu. Gerombolan tersebut diam, merasa malu dan tidak tahu harus menjawab apa. Pemandangan itu membuat Tao Zhen dan Ma Heng heran.
"Ada masalah apa kalian menerobos masuk ke dalam sini?" tanya Tao Zhen begitu sampai di depan gerombolan tersebut.
"Jangan pura-pura enggak tahu, Ketua!" ucap salah satu pria di gerombolan itu. Mereka lekas mengabaikan Li Yao yang kelihatan sangat menakutkan.
"Ayo kita membicarakannya di dalam!" ucap Tao Zhen kepada mereka.
"Tidak perlu! Kita berbicara di sini saja! Lagipula kami hanya akan sebentar berada di atas sini," balas pria itu, pria gemuk berpakaian glamor yang terlihat seperti pemimpin gerombolan tersebut.
"Satu bulan lebih kami sudah memberikan waktu kepada Ketua. Kapan sebenarnya Ketua berniat membayar hutang-hutang Sekte Jalan Pegunungan?" tanya pria gemuk itu dengan sinis.
Hutang? Li Yao memiringkan kepalanya. Jangan bilang, Sekte Jalan Pegunungan yang rapuh ini memiliki banyak hutang. Itu tidak mungkin, Li Yao mencoba menyangkal apa yang baru saja ia dengar.
"Kami masih belum bisa membayarnya sekarang? Tolong berikan kami tambahan waktu!" balas Tao Zhen, merasa tidak berdaya.
"S*****!" umpat Li Yao di dalam hati seraya menepuk dahi. Ternyata memang benar, sekte bobrok ini memiliki banyak hutang.
"Itu tidak bisa kami lakukan Ketua Sekte. Hutang kalian sudah menumpuk terlalu banyak," ucap pria gemuk itu seakan ia terpaksa.
"Tetapi mengingat hubungan baik kita selama ini, kami akan memberikan tambahan waktu satu minggu kepada Ketua! Jika dalam waktu satu minggu Ketua tetap tidak bisa membayar, maka kami terpaksa harus menyita Sekte Jalan Pegunungan!"
***
__ADS_1
"Jadi begitu, mereka adalah para saudagar yang memiliki bisnis di Kota Awan Biru."
Latihan hari ini sudah selesai. Setelah mereka berada di dalam asrama, Li Yao memanggil Chang Fen untuk menjelaskan masalah hutang yang menimpa Sekte Jalan Pegunungan.
Saat ini Li Yao sedang mendengarkan penjelasan Chang Fen. Chang Fen menjelaskan keadaan Sekte Jalan Pegunungan secara keseluruhan. Ada sesuatu yang aneh di dalam penjelasannya. Li Yao yang penasaran lantas menanyakan keanehan tersebut.
"Bukankah semua bisnis itu adalah bisnis yang dimiliki oleh Sekte Jalan Pegunungan? Tidak mungkin sekte kita berutang kepada toko atau bisnis yang sejak awal memang milik sekte kita!" tanya Li Yao heran.
"Adik, darimana kamu dengar informasi bohong itu? Jika bisnis-bisnis itu memang milik sekte kita, sekte kita tidak akan kelihatan semiskin ini," balas Chang Fen, tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Li Yao.
"Apa itu mungkin?" gumam Li Yao pelan sekali. Sehabis mendengar penjelasan Chang Fen, Li Yao memiliki beberapa dugaan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ketika Sekte Jalan Surgawi hancur dan hanya diisi oleh anak-anak, orang-orang yang diperintahkan untuk mengelola bisnis-bisnis tersebut pasti akan berusaha menjadikan bisnis itu menjadi miliknya sendiri.
Sekte Jalan Surgawi sangat tidak berdaya, apalagi perkamen-perkamen yang menjadi bukti atas kepemilikan bisnis-bisnis tersebut hangus terbakar.
Sekarang orang-orang itu ingin mengambil alih Sekte Jalan Surgawi, mereka benar-benar tak tahu malu.
"Itu yang namanya pinjaman dengan bunga tinggi. Jadi kalau kamu memberikan pinjaman dengan bunga yang sangat besar, selama mereka tidak membayar maka bunganya akan terus berjalan. Bunga itu akan berkembang besar setelah beberapa kurun waktu berlalu, sampai jumlahnya jauh lebih besar daripada jumlah uang yang telah dipinjamkan," jelas Chang Fen panjang lebar.
"Dasar b*******!" umpat Li Yao, tidak dapat menahan kekesalannya. Di sisi lain, Chang Fen tiba-tiba merasa panik dan ketakutan saat mendengar Li Yao mengumpat.
***
Li Yao mengeluarkan jubah berwarna hijau tua dari dalam cincin spasial miliknya. Itu adalah jubah peri daun, pusaka bumi tingkat menengah. Meskipun di sebut jubah, sebenarnya itu adalah selembar kain berwarna hijau tua.
Saat Li Yao menyelimuti tubuhnya dengan kain tersebut, kain itu dalam sekejap langsung bergerak dan berubah menjadi jubah yang menutupi seluruh tubuh kecilnya.
__ADS_1
Ada tempat yang ingin dikunjungi oleh Li Yao, karena itulah ia memakai jubah tersebut. Jubah itu sangat ringan, hangat, tidak robek saat terkena tebasan besi biasa, dapat menyembunyikan hawa keberadaan, dan dapat melayang saat jatuh dari ketinggian.
Menyelinap keluar dari dalam asrama, Li Yao bergegas melangkahkan kakinya menuju ke belakang sekte. Di belakang Sekte Jalan Pegunungan, terdapat beberapa bukit yang sangat curam, jurang, dan hamparan hutan yang sangat luas.
Setibanya di tepi jurang, Li Yao langsung melompat. Akibat memakai jubah peri daun, Li Yao jatuh dengan sangat perlahan seolah tubuhnya sedang melayang terbang.
Perjalanan Li Yao sejauh ini berlangsung dengan sangat lancar. Tidak lama setelah Li Yao mempercepat kejatuhan tubuhnya, ia akhirnya sampai di sebuah hamparan hutan yang sangat luas.
Hutan itu tidak berubah selama seratus tahun, tetap dibiarkan begitu saja. Li Yao melanjutkan langkah kakinya. Lima menit berlalu, ia sampai di depan sebuah kolam kecil lalu melihat seorang gadis kecil sedang berandam.
Gadis manis itu terlihat berusia 13 tahun. Di belakang punggung gadis tersebut, terdapat sebuah rumah kecil yang sederhana. Rumah itu sepertinya tempat tinggal gadis tersebut.
Siapa gadis kecil itu? Kenapa ia berada di tengah hutan sendirian? Li Yao sadar bila gadis itu bukan gadis biasa. Hawa keberadaan gadis itu sama sekali tidak terasa. Bahkan setelah melihat sosoknya, Li Yao masih tidak bisa merasakan hawa keberadaannya.
Gadis kecil yang manis itu tampak seperti hantu.
Li Yao berbalik, merasa aneh karena ia cukup lama mengintip seorang gadis kecil yang sedang berendam. Siapa identitas gadis tersebut? Li Yao nanti bisa mencari tahunya. Sekarang ada hal yang harus ia lakukan.
Seketika gadis kecil itu muncul di samping Li Yao lalu melayangkan pukulan, gadis tersebut telah mengenakan handuk untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Jika bukan karena refleks tubuhnya, Li Yao pasti sudah terkena pukulan itu. Cepat sekali! Bagaimana bisa gadis tersebut mendadak berada di samping dirinya, Li Yao sama sekali tidak menyadarinya.
"Siapa kamu?" tanya Li Yao.
Gadis kecil itu tidak menggubris pertanyaan Li Yao. Ia terus menyerang dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Gerakan tubuh gadis tersebut juga luwes, Li Yao sangat kesusahan menghadapi setiap serangan yang dilancarkannya.
Li Yao sadar bila ia tidak serius, maka kemungkinan besar ia akan di kalahkan. Handuk gadis itu segera meluncur, tidak kuasa menahan setiap getakan yang dilakukan oleh tubuhnya.
__ADS_1
Tubuh telanjang gadis itu kini sepenuhnya terekspos. Li Yao tanpa sadar langsung mengalihkan wajahnya dari pemandangan tersebut. Wajah gadis kecil itu tetap tenang dan dingin, seolah tidak peduli tentang kejadian memalukan barusan.
Tinju gadis itu melayang lalu mendarat di rahang Li Yao. Tubuh Li Yao lekas terbang, berputar-putar di udara sebelum akhirnya jatuh tergelatak di tanah. Li Yao telah kehilangan kesadarannya.