
Pagi di Sekte Jalan Pegunungan sangat dingin dan menyegarkan. Walau kesegarannya tak bisa dibandingan dengan Biara Laut putih yang dibangun di tengah hutan, Peng Mu tetap menyukainya.
Itulah satu-satunya yang disukai oleh Peng Mu di Sekte Jalan Pegunungan.
Satu hari telah berlalu, sejak Peng Mu mengancam Tao Zhen untuk mempertemukannya dengan Li Yao dan Tao Yuhan. Sejak saat itu Tao Zhen belum memberikan kabar yang memuaskan kepada dirinya.
Saat ini Peng Mu sedang mengunjungi kamar murid terbaiknya, Song Hao. Ia ingin membahas tentang kepergian mereka dari Sekte Jalan Pegunungan nanti malam. Seandainya sore nanti Tao Zhen belum mempermukannya dengan dua murid tersebut, maka Peng Mu akan melaporkan situasi itu kepada Ketua Biara.
Mereka berdua, guru dan murid lekas saling berbincang. Setelah beberapa saat, Peng Mu akhirnya kembali membahas sesuatu yang membuat Song Hao kesal.
"Apakah kamu sudah menemukan gadis yang menyerangmu waktu itu?"
"Aku belum menemukannya, Guru!" ungkap Song Hao santai, ia sebenarnya sedang menahan gejolak amarah di dalam hatinya.
Beberapa hari yang lalu, ketika Song Hao sedang berjalan-jalan di Kota Awan Biru, ia tiba-tiba di serang oleh seorang gadis yang tidak dikenal.
Waktu itu, Song Hao dihajar habis-habisan sampai pingsan oleh gadis tersebut. Sebagai murid paling jenius dari Biara Laut Putih, kejadian itu adalah penghinaan bagi dirinya.
Selama beberapa hari terakhir, Song Hao mencari keberadaan gadis tersebut namun ia tak berhasil menemukannya. Hal itu membuat Song Hao tambah frustrasi. Ia ingin bertarung kembali dengan gadis tersebut lalu mempermalukannya.
Seandainya gadis itu tidak menyerangnya secara mendadak, dirinya tidak mungkin kalah dan dihajar sampai pingsan itu. Begitulah yang ingin dipercayai Song Hao.
"Guru, ada sesuatu yang ingin aku beritahukan kepadamu." Song Hao segera mengganti topik pembicaraan.
"Apa itu?" tanya Peng Mu penasaran.
"Sepertinya hari ini aku akan menerobos Alam Membangun Pondasi."
***
Tao Yuhan segera memberitahu murid-murid tingkat ketiga, bila dirinya adalah murid baru Sekte Jalan Pegunungan. Berita tentang seorang gadis cantik yang menjadi murid baru sungguh di luar ekspetasi mereka.
__ADS_1
Sejak dulu mereka selalu mendambakan lawan jenis. Mereka sudah bosan terus melihat laki-laki dan hanya laki-laki. Di tambah lagi mereka sangat jarang meninggalkan sekte.
Mereka semua adalah anak laki-laki remaja yang sangat penasaran tentang cinta dan lawan jenis.
Kedatangan Tao Yuhan sebagai murid baru sungguh-sungguh mengejutkan mereka. Mereka lebih terkejut setelah mengetahui, bahwa Tao Yuhan adalah anak perempuan Ketua Sekte yang dirumorkan sangat lemah dan sering sakit-sakitan.
Rumor itu membuat mereka harus lebih memperhatikan gadis cantik tersebut.
Li Yao menggelengkan kepalanya saat melihat ekspresi yang ditunjukkan murid-murid tingkat ketiga. Sebagian besar dari mereka sudah terpesona dan jatuh cinta kepada Tao Yuhan. Lihat saja sebentar lagi, mereka pasti akan mengetahui sifat Tao Yuhan yang sesungguhnya.
Saat itu terjadi, Li Yao ingin melihat bagaimana reaksi mereka.
Tidak tahan dengan tatapan sinis yang diberikan oleh murid-murid tingkat ketiga, selesai mandi Li Yao langsung kembali ke asramanya. Asrama sepi karena murid-murid sedang berada di luar. Mereka sedang beristirahat sembari menunggu kedatangan Pelatih Gao Ming.
Tao Yuhan ada di sana bersama mereka, hari ini gadis tersebut sudah mulai berlatih bersama murid-murid lain.
Asrama murid tingkat ketiga dan murid tingkat kedua di bangun agak berjauhan. Jadi Li Yao tidak perlu khawatir jika murid-murid tingkat kedua datang mengganggu dirinya. Mereka sendiri juga harus berlatih agar tidak dipermalukan di Turnamen Kekaisaran Timur mendatang.
Li Yao lekas masuk ke dalam kamarnya lalu duduk bersila dan menutup mata. Sebelum menutup mata, ia sudah menelan sebuah pil tingkat keempat yang berasal dari dalam cincin spasial-nya.
***
Waktunya makan malam, Li Yao segera keluar dari dalam kamarnya lalu pergi ke ruang makan. Di dalam hati Li Yao berharap, semoga saja murid-murid tingkat kedua sudah kapok untuk mengganggu dirinya.
Saat ini Li Yao benar-benar tidak ingin terlibat dengan perkelahian.
Sesampainya di dalam ruang makan, Li Yao melihat murid-murid tingkat kedua dan ketiga sudah makan lebih dahulu ketimbang dirinya.
Suasana di dalam ruangan itu tenang dan santai. Pandangan Li Yao segera menyapu seluruh isi ruangan tersebut, di dalam sini ia tidak berhasil menemukan sosok Tao Yuhan. Pantas saja suasananya seperti itu.
Li Yao lekas menghampiri Chang Fen lalu mengamati wajahnya, ekspresinya kelihatan lebih ceria dibandingkan sebelumnya. Begitu juga dengan murid-murid tingkat ketiga yang lain, terutama Song Chao.
__ADS_1
"Di mana Tao Yuhan?" tanya Li Yao kebingungan.
"Dia dipanggil oleh Ketua Sekte?" jawab Chang Fen, tatapan matanya masih sinis saat memandang Li Yao. Li Yao menghiraukannya.
"Bagaimana dengan latihannya, apakah dia kuat menjalani latihan bersama kalian?" tanya Li Yao tambah bingung. Setelah melihat sifat Tao Yuhan yang aneh dan terkesan dingin kepada orang-orang, seharusnya mereka semua tidak menunjukkan raut wajah seperti itu.
"Dia tidak ikut latihan bersama kami," ungkap Chang Fen.
"Pelatih Gao Ming menyuruhnya untuk berlatih seorang diri. Kami tidak bisa melihat jenis latihan seperti apa yang sedang dilakukannya."
Kini Li Yao paham alasan di balik keceriaan murid-murid tingkat ketiga. Mereka masih belum mengetahui sifat Tao Yuhan yang sesungguhnya.
Shao Yahui, Yin Min, dan Wu Wujing tiba-tiba datang menghampiri Li Yao yang sedang makan. Li Yao tetap memasukkan makanan dengan teratur ke dalam mulutnya, tatapan matanya fokus menatap makanan di atas meja.
Ketiga senior itu merasa jengkel saat melihat Li Yao mengabaikan mereka. Walau demikian mereka harus bersabar, mereka tidak ingin lagi-lagi mendapatkan hukuman dari Gao Ming.
"Junior, aku ingin minta maaf atas kejadian semalam!" ucap Wu Wujing seakan dirinya benar-benar menyesal.
"Tenang saja, aku memang sudah memaafkan senior." Li Yao menjawab setelah menelan makanan di dalam mulutnya.
"Kami tidak bisa begitu, Junior! Kami tetap merasa bersalah karena sudah merendahkanmu. Sebagai permintaan maaf, kami ingin mengajakmu ke suatu tempat!" ucap Shao Yahui sangat bersahabat.
Li Yao hampir tersedak mendengar perkataan tersebut. Apakah mereka pikir Li Yao adalah orang yang sangat bodoh? Niat mereka bertiga sangat terlihat jelas. Jika Li Yao setuju untuk mengikuti mereka, mereka pasti akan menghajarnya di tempat sepi.
"Senior tidak perlu melakukannya! Hanya dengan melihat kesungguhan Senior saja, aku sudah memaafkan Senior!" tolak Li Yao secara halus.
"Perasaan kami tidak akan tenang, jika kami cuma diam setelah melakukan itu kepada Junior. Kami mohon, demi wajah kami bertiga ikutlah bersama kami! Biarkan kami meminta maaf secara tulus kepada junior," tutur Shao Yahui tetap bersikeras.
Jika Li Yao tetap menolak untuk mengikuti mereka, maka dirinya akan dicap sebagai orang yang tidak menghormati para senior. Begitulah arti kata-kata yang diucapkan Shao Yahui.
Waktu itu Li Yao sangat ingin berkata kasar kepada mereka.
__ADS_1
Mendadak pintu ruangan itu banting oleh seseorang. Semua pandangan orang-orang di dalam ruangan tersebut lantas menoleh ke arah pintu masuk. Di sana berdiri seorang pemuda botak berwajah sombong.
Aura yang sangat kuat keluar dari tubuh pemuda tersebut. Siapa lagi pemuda botak selain murid dari Biara Laut Putih, Song Hao. Kini seorang pengacau sudah datang menghampiri mereka semua.