Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 31 ~ Turun Gunung


__ADS_3

Kedatangan pria berseragam serba putih dari Aliansi Surgawi memang sudah di rencanakan. Sejak Tao Zhen menemukan kotak kayu misterius di depan ruangannya, ia langsung mengundang seseorang dari Aliansi Surgawi untuk memeriksa berkas-berkas di dalam kotak.


Betapa beruntungnya Sekte Jalan Pegunungan, rupanya berkas-berkas di dalam kotak tersebut memang asli dan bisa dibuktikan kebenarannya.


Tao Zhen dan para tetua tentu bahagia mengetahui kenyataan itu. Tidak ada yang mengetahui seberapa bahagianya mereka selain Li Yao, orang yang memberikan kotak kayu tersebut kepada mereka.


Setelah gerombolan orang tak tahu diri itu diusir, pria berseragam putih tersebut lekas pamit undur diri kepada Ketua Tao Zhen. Urusan pria itu di Sekte Jalan Pegunungan sudah selesai, ia perlu melaporkan kegiatan yang dilakukannya ke Pusat Aliansi Surgawi.


Menjelang malam, segala urusan yang merepotkan itu akhirnya berakhir juga. Tidak lama kemudian, sesi latihan para murid tingkat ketiga juga mengikutinya.


Sebelum latihan benar-benar berakhir, Li Yao sudah kembali tanpa ada yang mencurigai keberadaannya. Tentu saja, kecuali para murid-murid tingkat ketiga. Mereka tidak mungkin berani melaporkan gerak-gerik mencurigakan Li Yao kepada para tetua.


Sebagaimana sekarang, Li Yao sudah mengenakan jubah peri daun untuk pergi menuruni gunung. Chang Fen dan Song Chao hanya bisa pasrah, terlebih ketika Li Yao memerintahkan mereka untuk mengarang alasan tentang kepergiannya jikalau tetua mencari-cari keberadaannya.


Turun gunung tanpa izin kepada tetua bisa dihukum berat, itu adalah peraturan umum yang dimiliki oleh sebuah sekte. Namun jika Li Yao meminta izin, para tetua pasti akan banyak bertanya dan belum tentu mengizinkannya.


Li Yao lantas mengendap-ngendap pergi ke lereng gunung, penampilan dan tindak tanduknya terlihat seperti pencuri yang profesional. Sesampainya di lereng gunung yang sangat terjal, anak berusia 8 tahun itu langsung melompat.


Malam dan udara dingin saling menyapa. Tubuh Li Yao sudah beradaptasi dengan sangat baik, setelah menjalani latihan yang cukup berat di atas gunung. Kini udara malam terasa sangat menyegarkan, saat menerpa kulitnya yang putih sedikit gelap.


Kurang dari 5 menit Li Yao sudah tiba di Kota Awan Biru, lebih tepatnya ia mendarat di atas suatu bangunan yang tampaknya lumayan tinggi. Berlari dengan langkah kaki yang sangat ringan, Li Yao mengamati keadaan kota dan orang-orang di sekitarnya.


Kota Awan Biru pada malam hari tampak cukup ramai. Banyak toko, restoran, dan tempat hiburan dengan pintu terbuka lebar sedang menunggu kedatangan para pelanggan.


Berbagai jenis orang berjalan melintasi jalan, banyak diantara mereka hanya ingin melangkahkan kakinya tanpa tujuan, menikmati dan memandangi keramaian yang di tawarkan oleh Kota Awan Biru.


Ketika Li Yao melintasi restoran dan warung kecil, sering terbesit di dalam pikirannya untuk mampir lalu memesan arak. Li Yao menggeleng, segera mengeyahkan pikiran menyenangkan itu dari dalam kepalanya.

__ADS_1


Sekarang ada hal penting yang harus ia lakukan. Butuh waktu 15 menit, Li Yao akhirnya berhasil menemukan satu wajah yang tidak asing.


Itu adalah wajah pria berseragam serba putih yang berasal dari Aliansi Surgawi.


Sebetulnya Tao Zhen dan para tetua sudah menyiapkan kamar menginap untuk pria tersebut, namun ia menolak. Alasannya sederhana, pria berseragam putih itu ingin secepatnya memberikan laporan ke pusat Aliansi Surgawi.


Li Yao membuntuti langkah pria tersebut melalui atap-atap bangunan, menunggunya pergi meninggalkan Kota Awan Biru. Sesekali orang-orang melihat sosok Li Yao yang mencurigakan, untung saja ia bisa merespon dengan cepat lalu bersembunyi.


Bisa gawat jiwa seseorang melihatnya lalu meneriakkan kata pencuri.


Tujuh menit berselang sejak Li Yao mengikuti pria berseragam putih, pria itu ternyata masuk ke dalam sebuah penginapan yang tampak mewah dan megah.


Penginapan Rongrong.


Mungkin pria tersebut ingin mengambil barangnya yang ketinggalan, dengan pemikiran itu Li Yao memilih untuk menunggu.


Setengah jam berlalu namun sosok pria berseragam serba putih belum kunjung keluar. Li Yao mendesah malas, sepertinya ia harus memeriksa ke dalam penginapan tersebut.


Pintu penginapan itu dijaga oleh dua pria bertampang garang. Kedua pria tersebut berdiri tegak dan gagah, seolah mereka adalah patung. Tingkat kultivasi mereka berada pada tahap membentuk inti Qi.


"Lemah!" ucap Li Yao di dalam hati. Sejenak ia lupa, kalau kultivasinya masih berada pada tahap mengumpulkan Qi.


Li Yao berjalan santai memasuki pintu penginapan yang terbuka lebar. Sekilas Li Yao bisa merasakan, bila kedua pria itu melirik dirinya. Apakah Li Yao adalah pendekar yang sangat kuat? Tentu saja mereka tidak bisa merasakannya.


Sekarang Li Yao tampak seperti kakek tua biasa.


Berjalan ke depan meja resepsionis, Li Yao segera di sambut ramah oleh seorang wanita cantik. Senyum terbit di wajah Li Yao. Wanita cantik itu tampak berusia 30 tahun, namun Li Yao tahu bila wanita tersebut adalah seseorang yang sudah berumur.

__ADS_1


Wanita itu telah mencapai tingkat kultivasi yang lumayan, tahap menghancurkan kehidupan alam ketiga. Ia terlihat mencoba menyembunyikan tingkat kultivasinya, namun gagal.


Tidak ada yang bisa luput dari mata Li Yao.


Tidak mungkin wanita tersebut adalah resepsionis. Pemilik sebenarnya dari penginapan mewah yang sekarang sedang dikunjungi oleh Li Yao, pastinya adalah wanita itu.


Seandainya tebakan Li Yao benar, pantas saja wanita tersebut bisa mengelola bisnis penginapan yang sangat besar di Kota Awan Biru. Selain uang, butuh kekuatan untuk menjalankan bisnis. Terutama untuk penginapan besar dan mewah seperti ini.


"Aku mencari seorang pria berseragam putih yang masuk setengah jam lalu. Dimana kamarnya?" tanya Li Yao tanpa basa-basi.


"Sebelum itu, apa kakek kerabat atau kenalannya? Kami tak bisa memberitahukan informasi ini kepada seseorang tak dikenal!" ucap Mu Rong dengan sedikit penekanan, tidak ingin membuat pelanggan di depannya tersinggung.


Mu Rong merupakan nama wanita itu, terlihat dari plakat nama yang tergantung persis diantara kedua gunung kembarnya. Penuh, besar, dan sesak. Li Yao penasaran, berapa berat kedua aset wanita tersebut bila ditimbang.


Tidak heran Mu Rong menyamar menjadi resepsionis, penampilannya pasti banyak menarik pelanggan untuk menginap.


Rambut berwarna hitam keunguan sepanjang bahu, kulit seputih porselen, wajah cantik yang dewasa, dan tubuh S terbalik yang bisa mengakibatkan banyak pria langsung berpikiran kotor.


Semua kombinasi itu menambah pesona seorang Mu Rong.


Li Yao meletakkan sekantong koin emas ke atas meja, jumlahnya ada 100. Mu Rong terkejut begitu memeriksanya. Jumlahnya tidak fantastis, tapi itu tetap uang yang lumayan banyak.


Mengingat biaya menginap sehari di ruangan VIP adalah 5 koin emas.


"Tuan, apa anda pikir saya akan melanggar peraturan penginapan ini demi uang? Saya tidak serendah itu sampai melanggar privasi pelanggan yang telah di amanahkan kepada penginapan kami!" tolak Mu Rong mentah-mentah.


Li Yao memutar bola matanya, kemudian meletakkan dua kantong koin emas ke atas meja. Masing-masing kantong berisi 100 koin emas, kini total uang yang diberikan oleh Li Yao adalah 300 koin emas.

__ADS_1


Mata Mu Rong membelalak, tidak menduga bahwa Li Yao bakal memberikan uang sebanyak itu.


"Uhuk... Lupakan Perkataanku barusan! Pria berseragam putih itu sekarang menempati ruangan nomor 29 di lantai dua. Mohon jangan ribut dan mengganggu orang-orang disana!"


__ADS_2