
Dua minggu hampir berlalu sejak kedatangan Li Yao ke Sekte Jalan Pegunungan. Semuanya berjalan dengan sangat lancar, bahkan terlalu lancar sampai membuat Li Yao khawatir.
Li Yao masih tidak paham kenapa Tao Zhen tidak bertanya lebih jauh soal latar belakangnya. Di tambah lagi, ketua sekte itu mempercayai semua perkataan dan saran yang diberikan oleh Li Yao.
Walau perkataan Li Yao masuk akal, tidak mungkin Tao Zhen langsung mengikutinya. Begitulah seharusnya, namun anehnya Tao Zhen langsung mengikuti sarannya. Saran seorang bocah berusia 8 tahun yang sangat mencurigakan.
Sore harinya, Li Yao bersama murid-murid lainnya sedang sejenak beristirahat. Itu adalah istirahat yang sangat singkat, sebelum mereka lanjut berlatih menggunakan Teknik Dasar Memulai Perjalanan.
"Kakak senior, ke mana murid tingkat kedua? Sejak aku datang, aku belum bertemu satu pun murid tingkat kedua?" tanya Li Yao penasaran.
Ada beberapa kedudukan di sebuah sekte. Sebuah sistem yang sudah diatur sejak zaman dahulu dan masih terpakai sampai sekarang. Hampir semua sekte di seluruh daratan menganut sistem yang sama.
Di mulai dari murid luar, murid tingkat 3, murid tingkat 2, murid tingkat 1, pembimbing/pelatih, tetua, dan ketua sekte.
Sekte Jalan Surgawi agak berbeda. Li Yao mengurangi dan menyusunnya menjadi lebih sederhana. Di mulai dari murid tingkat 3, murid tingkat 2, murid tingkat 1, tetua, dan ketua sekte.
Seharusnya tak ada posisi untuk pembimbing/pelatih di Sekte Jalan Surgawi. Setelah murid tingkat ketiga menyelesaikan pelatihannya, ia akan naik menjadi murid tingkat kedua lalu dipilih dan ajari oleh murid tingkat pertama.
Murid tingkat pertama harus menurunkan ilmu mereka kepada murid tingkat kedua yang mereka latih. Ketika murid tingkat pertama lulus, maka ia akan menjadi tetua.
Ketika murid tingkat kedua menyelesaikan pelatihannya, maka ia akan dinaikkan menjadi murid tingkat pertama dan berhak mengangkat beberapa murid dari murid tingkat kedua. Begitulah terus perputarannya.
Setelah Li Yao membawa seluruh muridnya yang terdiri dari tetua, murid tingkat pertama, dan murid tingkat kedua untuk berperang melawan suku iblis kemudian terbantai habis.
__ADS_1
Li Yao tak tahu bagaimana perputaran itu bisa bertahan dan terus berjalan. Tanpa ketua sekte, tetua, murid tingkat pertama, dan murid tingkat kedua, bagaimana murid tingkat ketiga yang tersisa bisa bertahan?
Mereka telah kehilangan segalanya pada waktu itu.
Semua Penerus Pedang Jalan Surgawi mati dan tidak sempat mewariskannya, orang-orang kuat yang melindungi mereka mati, perpustakaan seni beladiri mereka juga hangus dibakar, bangunan megah yang melambangkan kedigdayaan Sekte Jalan Surgawi hancur, bahkan nama Sekte Jalan Surgawi menghilang lalu dirubah dengan penuh penghinaan.
Aliansi Surgawi dan seluruh kelompok-kelompok yang tidak tahu cara berterima kasih, peribahasa air susu dibalas dengan air tuba sangat cocok menggambarkan perbuatan mereka.
Sekte Jalan Surgawi sudah mengorbankan diri untuk menyelamatkan dunia, namun balasan yang mereka terima hanyalah penghinaan. Li Yao segera menepis semua pemikiran itu dari dalam kepalanya, memikirkan semua itu hanya akan membuat dirinya marah.
"Oh, murid tingkat kedua sedang melakukan perjalanan. Setelah mengalami kekalahan yang sangat memalukan pada saat turnamen tahunan Kekaisaran Timur, para kakak senior memutuskan untuk berlatih di dunia luar," jawab Chang Fen.
"Apakah mereka di temani oleh murid tingkat pertama?" Li Yao bertanya lagi.
"Kita tidak punya murid tingkat pertama. Para kakak senior tingkat kedua berlatih sendiri, mereka hanya menerima sedikit bantuan dari para tetua." Chang Fen menjawab tanpa bertanya.
Li Yao menghela napas. Rupanya sektenya sekarang tidak memiliki murid tingkat pertama. Li Yao juga menyadari, bila ia tidak pernah melihat tetua lain selain Gao Ming dan Tao Zhen.
Keadaan Sekte Jalan Pegunungan benar-benar sangat mengenaskan. Jika harus di umpamakan, Sekte Jalan Pegunungan seperti daun yang tergeletak di tepi jurang, sedikit hembusan angin maka daun tersebut akan langsung jatuh ke dalam jurang.
Sekte Jalan Pegunungan sekarang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan sekte tingkat rendah seperti Sekte Hutan Bambu.
Bagaimana kondisi murid tingkat kedua? Li Yao berusaha untuk tidak memikirkannya.
__ADS_1
Tubuh Li Yao bangkit setelah tiduran di bawah pohon yang rindang. Li Yao berdiri lalu melangkahkan kakinya entah ke mana, ia hanya ingin meredakan emosi buruk dari dalam hatinya.
Tidak jauh dari lokasi Li Yao sedang berjalan, suara ketukan pintu yang sangat keras mendadak tertangkap indra pendengarannya.
Suara itu berasal dari arah gerbang pintu masuk sekte, Li Yao lantas mendekati gerbang tersebut. Seketika gerbang di gedor-gedor dengan sangat kuat lalu terbuka secara paksa.
Sejak awal gerbang kayu itu memang sudah keropos, jadi tidak heran gerbang tersebut akan hancur ketika diketuk-ketuk seperti itu.
Sekelompok pria berusia tiga puluhan ke atas bergegas memasuki sekte. Li Yao agak heran melihat sikap mereka. Mereka sama sekali tidak punya sikap hormat dan sopan santun kepada Sekte Jalan Pegunungan.
Meskipun Sekte Jalan Pegunungan adalah sekte yang menyedihkan, mereka tetap harus menghormati tempat lahirnya para pendekar.
"Hey, anak kecil! Cepat panggil Ketua Sektemu!" ucap salah satu pria yang datang secara bergerombolan. Mereka semua kelihatan sangat berkeringat dan kelelahan. Itu hal wajar, mengingat mereka mendaki gunung untuk sampai ke tempat ini.
"Kalau boleh tahu, ada urusan apa paman-paman datang ke atas sini?" ucap Li Yao dengan sangat sopan, terlalu sopan malah sampai tidak terlihat seperti dirinya.
"Itu bukan urusan anak kecil sepertimu!" balas pria itu sambil terengah-engah kehabisan napas.
"Anak kecil sepertiku juga ingin tahu, bagaimana bisa paman-paman menerobos masuk ke dalam kediaman orang tanpa sopan santun sedikit pun?" tanya Li Yao lagi, masih dengan sopan.
"Hey, anak kecil! Jaga mulutmu yang kurang itu, apa sekte bobrok ini mengajarimu berbicara seperti itu?" balas pria itu marah, seluruh orang-orang di belakangnya menatap Li Yao dengan tatapan sinis dan merendahkan.
Di setiap tempat dan zaman, pasti ada saja orang-orang seperti ini. Li Yao mendesah lalu berbicara dengan nada yang sangat dingin dan sombong.
__ADS_1
"Apa kalian tak punya cermin? Apa menurut otal kecil kalian, kalian tidak kurang ajar? Dasar orang-orang b******k! Kalian menghancurkan pintu rumah orang lain, menerobos masuk ke dalam rumah orang lain tanpa izin, dan kalian mengatakan kurang ajar kepada anak kecil yang bertanya dengan sangat sopan. Hidup kalian nyaman sekali, ya? Kalian pasti belum pernah, di gampar sama orang tua kalian! Orang-orang seperti kalian, harus dipukuli dulu baru tahu apa itu yang namanya sopan santun!"
Gerombolan pria itu tercengang, mendengar seorang anak kecil berusia 8 tahun sedang membentak dan menceramahi mereka.