
Tepat satu meter di depan mata Li Yao, terdapat sesosok jiwa berwarna hitam yang sedang dirantai kejam. Tatapan jiwa hitam itu kosong, wajahnya menunduk menatap lantai obsidian dingin yang sedang di dudukinya.
Sembilan rantai yang menempel masuk ke dalam inti jiwanya berasal dari lantai tersebut. Jiwa hitam itu menyadari keberadaan Li Yao yang berpendar lalu mengamatinya tanpa minat sama sekali.
Akhirnya Li Yao berhasil menemukan jiwa sang monster yang ingin dihabisinya.
[Seni Jalan Surgawi Chapter Kelima - Jalan Cahaya]
Sebuah pedang cahaya tiba-tiba tercipta di tangan Li Yao. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, secepat mungkin ia berniat memusnahkan jiwa dihadapannya.
Li Yao lekas menebas jiwa sang monster dengan pedang cahaya di tangan kanannya. Mendadak kepala Li Yao terasa pening, dalam sekejap berbagai gambaran masa lalu jiwa tersebut samar-samar masuk ke dalam benak Li Yao.
Ada gambaran seorang anak kecil sedang berlatih di sebuah halaman, tampak seorang wanita sedang mengamatinya dari jendela penginapan. Berbagai macam gambar masa lalu monster tersebut terus berputar di dalam kepala Li Yao.
Gambar saat monster itu masih menjadi seorang manusia.
Anak kecil itu terus tumbuh menjadi pemuda yang sehat. Suatu ketika pemuda itu berpamitan dengan ibunya lalu bergabung ke dalam sekte kecil. Sekte itu diberi nama Sekte Bunga Terpencil.
Rupanya sekte tersebut adalah sekte iblis yang sedang berkamuflase. Pemuda itu telah tertipu. Saat pemuda itu menyadarinya, ia telah ditangkap lalu di masukkan ke dalam ruangan aneh.
Ruangan itu tidak memiliki pencahayaan, walau demikian pemuda tersebut masih dapat melihat sekelilingnya dengan jelas.
Merah.
Dinding ruangan itu mengeluarkan cahaya berwarna merah yang sangat memuakkan. Berada di dalam ruangan tersebut membuat pikirannya terganggu dan tidak bisa berpikir jernih.
Pemuda itu ingin pergi melarikan diri, akan tetapi akar-akar yang membalut tubuhnya menyerap seluruh tenaga yang ia punya. Pemuda tersebut akhirnya gila.
Semua gambaran setelah itu menjadi sangat tidak jelas. Meski begitu, Li Yao masih bisa menyimpulkan sesuatu dari gambar-gambar yang telah rusak.
Selama puluhan tahun pemuda itu dijadikan subjek eksperimen yang sangat tidak manusiawi. Ia akhirnya cukup kuat untuk pergi melarikan diri. Waktu itu keadaannya sudah menjadi menjadi monster yang sangat menjijikkan, persis seperti sekarang.
Satu hal yang berbeda, pada awalnya monster itu masih memiliki sedikit kesadaran sebagai manusia. Ia pergi menemui ibunya yang sudah tua dan hidup seorang diri. Saat monster itu ingin pergi, ibunya lari mendatanginya.
Mendadak wanita tersebut memeluk tubuh sang monster yang menjijikkan.
"Chen'er, apakah ini benar-benar kamu? Kenapa kamu baru pulang sekarang? Ibu terus, terus, terus menunggumu."
__ADS_1
Rasanya berat meninggalkan sosok wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya. Monster itu tak bisa pergi, ia memilih tinggal kembali bersama ibunya.
Keputusan bodoh.
Sedikit kesadarannya yang masih tersisa sebagai manusia lenyap, monster itu telah sepenuhnya menjadi monster.
"Aku tak ingin menjadi monster seperti ini. Aku tahu makhluk sepertiku semestinya tidak ada di dunia ini. Lebih baik aku mati daripada menjalani kehidupan yang menjijikkan. Begitulah yang aku inginkan."
Belenggu jiwa hitam tersebut satu persatu mulai putus, kesadarannya sebagai manusia yang sudah lama terkubur kini muncul kembali. Li Yao mengamati jiwa hitam tersebut, mendengarkan kata-kata yang diucapkannya dengan saksama.
"Seharusnya aku tak pergi menemui ibuku. Itu adalah keputusan yang selalu aku sesali. Aku seharusnya mati, tapi saat aku melihat ibuku yang hampir hancur, hatiku tidak bisa pergi meninggalkanya."
Sembilan rantai yang menjerat jiwa kotor itu akhirnya putus. Dimulai dari kepala, warna hitam pada jiwa tersebut sedikit demi sedikit meluluh luntur.
Wujud sesungguhnya dari jiwa tersebut adalah seorang pria berusia 40 tahunan. Li Yao dapat melihat sosoknya dengan sangat jelas, sosok yang sedang mengeluarkan air mata.
"Ibuku hidup sebatang kara, di dunia ini hanya akulah satu-satunya yang dimilikinya. Jika aku mati maka ibuku pasti akan mengikutiku. Aku tak ingin itu terjadi," ucap pria itu dengan suara lemah.
"Jadi apa inti pembicaraanmu?" tanya Li Yao datar.
"Aku tak mau! Baik kamu maupun ibumu, di mataku sama-sama bersalah!" balas Li Yao dengan sangat tegas.
Pria itu meringis sedih, kedua tangannya lantas bergerak menutupi wajahnya yang sedang menangis.
Mata Li Yao membelalak lebar, ia dalam sekejap langsung menghilang dari hadapan pria tersebut. Kontak Li Yao dengan dunia jiwa yang kacau itu tiba-tiba telah terputus.
Di dunia luar, sang monster tengah memuntahkan cairan hitam yang terlihat sangat berbahaya. Benang Tao Yuhan putus, gadis itu lekas memegang tangan Li Yao lalu mundur menjauh.
Kini monster itu telah bebas.
Butuh waktu untuk pulih setelah keluar paksa dari dunia jiwa seseorang. Setelah kesadarannya pulih, Li Yao melihat monster itu menyembuhkan diri lalu bangkit kembali.
Kejadian tersebut sungguh tidak terduga, saat itu Li Yao hanya bisa mengumpat di dalam hati.
"Apakah monster itu masih bisa pulih setelah jiwa aslinya aku hancurkan?" Li Yao bertanya-tanya di dalam hati.
Kepala Li Yao pusing, pandangan matanya juga samar-samar, ditambah lagi dengan badannya yang lemas dan tak bertenaga, saat ini Li Yao hanya bisa pasrah pada nasib dan keberuntungan.
__ADS_1
Begitu pula dengan Tao Yuhan.
Saat monster itu telah berdiri, seluruh bagian tubuhnya yang menjijikkan tiba-tiba meledak menjadi cairan hitam. Li Yao memandang Tao Yuhan, Tao Yuhan juga balas memandangnya. Mereka agak bingung dengan perkembangan yang aneh ini.
Monster itu telah mati, mati karena bunuh diri. Apakah monster tersebut berniat membawa Li Yao dan Tao Yuhan bersamanya? Hanya itu jawaban yang masuk akal, apalagi Li Yao telah memurnikan jiwanya.
Wanita tua pemilik penginapan itu berlari sekonyong-konyong mendekati lokasi kematian anaknya. Tubuh monster tersebut telah berubah menjadi cairan hitam, tidak ada apa pun yang tersisa dari kematiannya.
Di atas cairan hitam yang telah di hisap tanah, wanita tua itu terduduk lemas. Ia bisa merasakan bila kakinya tengah melepuh, namun ia mengabaikannya.
Tatapan wanita itu kosong seolah tak bernyawa. Ia memandang tanah sekitarnya sebentar, lalu beralih memandang Li Yao dan Tao Yuhan. Kedua anak itulah yang telah menyebabkan kematian anaknya.
"Bunuh aku!" ucap wanita tua tersebut, lemah sekali. Tidak ada kemarahan di dalam matanya ketika memandang mereka, yang ada hanyalah keputus-asaan.
Li Yao melangkah mendekati wanita tua tersebut, diikuti Tao Yuhan dari belakang. Saat Li Yao dan Tao Yuhan sudah berada sangat dekat di hadapannya, wanita tua itu kembali mengulang kata-katanya.
"Aku mohon, bunuh aku!"
Li Yao dan Tao Yuhan hanya diam mengamatinya.
"Bunuh aku! Aku sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini."
Mereka berdua masih diam.
"Tolong, bunuh saja aku! Aku sudah membunuh banyak orang, beberapanya anak-anak seperti kalian. Apa kalian akan membiarkan hidup?" ujar wanita tua itu sangat emosional.
Tetap saja, Li Yao dan Tao Yuhan masih tidak tergerak.
"Hey, gadis s*****! Apa kamu tahu daging apa yang telah masuk ke dalam perutmu? Itu adalah daging manusia! Kamu telah memakan manusia karena aku!" ungkap wanita tua tersebut, mencoba memprovokasi Tao Yuhan.
Kebenaran barusan sangat menjijikkan. Li Yao melirik Tao Yuhan lewat sela matanya. Sayangnya ekspresi gadis itu masih belum berubah, ia masih dingin dengan mata ungunya.
"BUNUH AKU! ANAK *******! *******! *******!" bentak wanita tua itu, tak tahan lagi.
Sebuah pisau muncul di tangan Li Yao. Li Yao lekas menjatuhkan pisau itu ke atas tanah, tepat di depan seorang wanita tua yang sedang minta dibunuh.
"Bunuh dirimu sendiri, dasar menjijikkan! Aku bahkan ingin mengotori tanganku dengan membunuhmu!"
__ADS_1