Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 65 ~ Satu Pukulan


__ADS_3

Ketika Song Hao mendengar nama Li Yao keluar dari mulut bocah di hadapannya, awalnya ia terkejut. Seseorang yang selama ini dicari oleh gurunya sekarang berada sangat dekat dari dirinya. Song Hao tertawa pelan lalu menilai kultivasi Li Yao, murid yang disebut-sebut sebagai genius baru Sekte Jalan Pegunungan.


"Jadi kamu adalah Li Yao," ucap Song Hao meremehkan, ia bisa melihat bahwa kultivasi Li Yao baru mencapai Alam Mengumpulkan Qi.


"Oh, kamu mengenali namaku? Apakah aku harus tersanjung mengetahuinya? Jadi sampah sepertimu adalah siapa? Kamu belum mengenalkan dirimu kepadaku," balas Li Yao tidak kalah meremehkannya.


Seakan harga dirinya tengah di sentil, Song Hao tiba-tiba memasang wajah yang sangat murka.


"Jaga ucapanmu, bocah s*****!" bentak Song Hao marah.


"Oke, baiklah! Jadi siapa namamu?" ucap Li Yao lebih sopan, tapi dengan nada yang merendahkan.


"Aku bilang-"


Sebelum Song Hao menyelesaikan kata-katanya, Li Yao seketika bergerak lalu memukul mulut Song Hao dengan kecepatan yang sulit diikuti mata.


Pukulan itu berhasil menerbangkan tubuh Song Hao. Pemuda botak itu sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan di serang mendadak oleh bocah tersebut.


Tubuh Song Hao lekas jatuh kemudian tergeletak di atas lantai. Pandangan Song Hao memudar, ia perlahan kehilangan kesadarannya. Bagaimana mungkin jenius dari Biara Laut Putih seperti dirinya menderita kekalahan seperti ini?


Semua murid di sekitar reruntuhan tersebut membelalakkan matanya, tidak terkecuali dengan Yin Min yang biasanya tenang. Seseorang dari mereka baru saja mengalahkan jenius nomor satu dari Biara Laut Putih yang sangat tersohor.


Murid yang paling terkejut saat melihat pemandangan itu tidak lain adalah Shao Yahui. Mata Shao Yahui melotot lebar, rahangnya jatuh lalu membuka gua yang sangat besar.


Pemuda tampan itu hampir tidak percaya bila dirinya masih berada di kenyataan, ia masih belum pingsan.


Li Yao bergegas memeriksa kondisi di dalam tubuhnya sendiri. Tidak ada luka yang muncul dari lukanya yang sebelumnya. Li Yao menghela napas, rupanya tubuhnya baik-baik saja setelah menggunakan sedikit Qi untuk menghajar Song Hao.


Saat ini tubuh Li Yao masih harus beristirahat, ia seharusnya tidak boleh menggunakan Qi untuk bertarung.

__ADS_1


Tatapan Li Yao segera mendarat ke arah Song Hao yang sedang pingsan. Sejak awal, Li Yao memang ingin memukul mulut pemuda botak tersebut sampai hancur. Setiap kata yang diucapkan oleh mulut Song Hao berhasil membuat Li Yao naik pitam.


Untung saja pemuda botak itu lengah dan meremehkannya. Seandainya tidak, maka Li Yao tidak mungkin bisa menyelesaikannya dalam sekali pukulan.


Beberapa saat kemudian, para Tetua dan Ketua Sekte muncul lalu melihat kekacauan di tempat tersebut. Wajah mereka kelihatan sakit, bukan karena mencemaskan keadaan para murid, lebih karena memikirkan biaya pembangunan ulang bangunan yang hancur itu.


Setelah mendapatkan bisnis-bisnis di Kota Awan Biru, Sekte Jalan Pegunungan baru saja memulai untuk memulihkan diri. Akibat itulah, mereka harus menggunakan dana sekte dengan sebaik mungkin.


"Li Yao, apa yang sebenarnya telah terjadi ditempat ini?" tanya Tao Zhen cemas, setelah ia memanggil Li Yao untuk datang menghampirinya.


"Pemuda botak yang pingsan itu menggila lalu menghancurkan bangunan ini," jelas Li Yao sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah Song Hao yang tengah pingsan.


"Ketiga senior di sana berusaha menghadapinya namun sia-sia. Si botak itu terlalu kuat," sambung Li Yao, ia sesaat melirik Tao Yuhan yang sedang berdiri di belakang punggung Tao Zhen.


"Oh, begitu?" gumam Tao Zhen, ia lekas menatap sosok Song Hao yang sedang pingsan lalu sebuah pertanyaan timbul di dalam kepalanya.


"Jadi, siapa yang berhasil mengalahkan pemuda itu? Itu tidak mungkin kamu, bukan?" tanya Tao Zhen penasaran.


Dulu saat pemuda itu masih berada pada alam Membentuk Inti Qi, ia sudah memiliki kemampuan untuk bertarung melawan pendekar di alam menghancurkan kehidupan tahap satu.


Itu merupakan pencapaian yang sangat luar biasa. Apalagi hari ini Song Hao baru saja menerobos ke Alam Membangun Pondasi. Fakta bahwa Song Hao kalah melawan murid dari Sekte Jalan Pegunungan, bagi Tao Zhen itu terdengar sangat mustahil.


Meskipun sesungguhnya Tao Zhen masih memiliki pengharapan di dalam hatinya.


"Aku me-"


"APA YANG KALIAN LAKUKAN KEPADA MURIDKU?!" teriak Peng Mu, memotong kalimat yang hendak di ucapkan Li Yao.


Tetua dari Biara Laut Putih itu baru saja muncul untuk melihat keadaan muridnya. Pada awalnya, Peng Mu berpikir bahwa Song Hao terlalu lama bermain-main dengan murid Sekte Jalan Pegunungan.

__ADS_1


Song Hao memang tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat perkembangan kultivasinya. Sebagai gurunya, Peng Mu menyadari dan memakluminya. Hanya saja begitu ia melihat keadaan muridnya yang sesungguhnya, ia langsung tidak bisa mempercayainya.


Tidak mungkin murid-murid Sekte Jalan Pegunungan mampu mengalahkan Song Hao, begitulah yang dipikirkan oleh Peng Mu. Jadi pria tua tersebut menyalahkan pihak lainnya.


"Tenanglah!" ucap Tao Zhen lembut.


"Bagaimana bisa para tetua seperti kalian mengeroyok muridku?!" ujar Peng Mu murka.


Gao Ming, Ma Heng, Fu Liu, dan Gong Yu saling berpandangan dengan raut wajah yang kebingungan. Tidak lama sebelum kedatangan Peng Mu, mereka saja baru tiba di tempat ini.


"Tetua Peng, apa maksud perkataanmu barusan? Apakah kamu menuduh kami menyerang muridmu?" ucap Tao Zhen dingin, kesabarannya sudah habis untuk meladeninya.


"Apa aku salah? Siapa lagi selain kalian yang mampu mengalahkan muridku?" balas Peng Mu kasar.


"Walau kami hanya sekte tingkat rendah, kami masih punya harga diri yang harus dijaga." Tao Zhen menatap tajam ke arah Peng Mu.


"Tidak sepertimu yang berpikiran pendek karena dibutakan oleh kekuatan. Aku sudah mencoba untuk menghormatimu sebagai Tetua. Aku juga sudah mempertemukanmu dengan anak perempuanku, apakah Tao Yuhan berhubungan dengan rekanmu yang telah hilang? Tidak ada."


"Kami juga sudah melayanimu sebagai tamu yang terhormat. Apa begini caramu membalas perlakuan kami?!" ujar Tao Zhen benar-benar marah.


Peng Mu diam.


"Jika kamu masih berpikir bila kami adalah orang yang menyerang muridmu, coba saja tanyakan sendiri kepada muridmu itu!" sambung Tao Zhen sinis.


Tidak butuh waktu lama, Peng Mu sudah duduk di samping Song Hao yang sedang pingsan. Keadaan wajah muridnya pada saat itu sangat menyedihkan. Bibir dan hidungnya hancur, beberapa gigi muridnya juga putus.


Pria tua itu lekas menyentuh tangan Song Hao, kemudian memasukkan Qi miliknya ke dalam tubuh pemuda tersebut. Alhasil Song Hao perlahan mendapatkan kesadarannya.


Waktu Song Hao masih setengah sadar, ia bangun lalu menoleh ke segala arah. Mata pemuda itu tiba-tiba melotot, lensa di matanya mencerminkan sesosok gadis manis yang sedang berdiri di sebelah Ketua Sekte Jalan Pegunungan.

__ADS_1


"Ka-kamu?" ucap Song Hao, wajahnya masih kelihatan linglung. Ketika kesadarannya pulih, pemuda botak itu seketika menunjukkan wajah yang menyeramkan.


__ADS_2