
"Bagaimana bisa ada makhluk seperti itu di dunia ini?"
Satu hal pasti tentang monster tersebut, Li Yao yakin sekte iblis ada kaitannya dengan masalah ini. Ada kemungkinan bila monster itu adalah hasil eksperimen yang dilakukan oleh sekte iblis
Seandainya benar demikian, maka sekarang Li Yao harus waspada dengan sekte iblis. Mereka yang dapat menciptakan monster seperti itu tidak bisa diremehkan.
Li Yao tak habis pikir, kenapa peninggalan suku iblis masih tersisa sampai sekarang? Sebenarnya apa pekerjaan Aliansi Surgawi? Memikirkan Aliansi Surgawi kembali memacu amarah Li Yao.
Kepala monster tersebut telah tumbuh seperti sediakala. Kini monster itu sedang berusaha melepaskan diri dari ikatan Tao Yuhan. Tao Yuhan tampak kesulitan. Ekspresi di wajah gadis itu tidak datar seperti biasanya.
"Tahan dia!" ujar Li Yao kepada Tao Yuhan.
Mata Li Yao berat, ia bisa pingsan kapan saja. Kenapa Li Yao selalu berhadapan dengan sosok yang ratusan kali lebih kuat daripada dirinya? Satu serangan dari monster itu, maka nyawa Li Yao akan melayang.
Ada kata 'sial' di dalam atribut Li Yao, sejak dulu memang selalu seperti itu. Menurut tingkat kultivasinya, Li Yao adalah Pendekar Kelas 2. Walau demikian, kekuatan Li Yao setara dengan Pendekar Kelas 1.
Perbedaan satu alam tingkat kultivasi, sama dengan jarak antara langit dan bumi. Apalagi jika sudah mencapai alam menghancurkan kehidupan.
Alam menghancurkan kehidupan sangat berbeda dengan alam lain di bawahnya. Tidak berlebihan bila di ibaratkan seperti jarak antara bumi dan matahari.
Terlebih ada sembilan tahap di dalam alam menghancurkan kehidupan. Setiap tahapnya berada pada alam yang sangat berbeda. Perbedaan kekuatan pada setiap tahapnya sangat jauh gila-gilaan, layaknya perbedaan alam.
Jika Li Yao serius, Ia bisa bertarung bahkan mengalahkan Pendekar Ahli. Jika Li Yao dalam keadaan terdesak, ia bisa bertarung menghadapi Pendekar Surga yang telah mencapai alam menghancurkan kehidupan tahap satu.
Akan tetapi selain makhluk itu tak bisa mati, kekuatan makhluk tersebut setara dengan seorang pendekar alam menghancurkan kehidupan tahap empat.
Li Yao menghela napas. Kalau ia tidak bisa membunuh monster itu dari luar, maka ia harus membunuhnya dari dalam. Tangan Li Yao lantas menyentuh dahi monster tersebut. Saat ini ia harus ekstra fokus agar dirinya tidak dimakan oleh Qi iblis.
Mata Li Yao menutup, jiwanya sekarang sedang menyusup masuk ke dalam dunia jiwa milik monster tersebut. Di dalam sana wujud Li Yao kelihatan tua dan bercahaya. Begitulah wujud jiwa Li Yao yang sesungguhnya.
Di sekelilingnya gelap, merah, dan menjijikkan.
__ADS_1
Dunia jiwa milik monster itu sangat kacau, seakan melihat pemandangan neraka. Puluhan ribu jiwa menjerit dan melayang tidak karuan.
Li Yao menunduk, ia melihat bila pijakan kakinya adalah genangan air berwarna hitam tak berujung layaknya laut. Air hitam itu adalah sekumpulan Qi Iblis yang dimiliki oleh monster tersebut.
Di tengah kekacauan itu, wujud Li Yao yang bercahaya dan terlihat asing berhasil memancing seluruh jiwa dan entitas di dalam sana. Ribuan jiwa secara serentak langsung bergegas menghampiri jiwa Li Yao yang kelihatan sangat kecil.
[Seni Jalan Surgawi Chapter Ketiga - Gejolak yang Menyiksa di Perjalanan]
Jiwa Li Yao seketika memancarkan cahaya yang sangat terang, membakar setiap jiwa kotor yang menghampirinya. Pemandangan itu layaknya serangga yang mencoba menyentuh cahaya api.
Cahaya Li Yao sangat memikat jiwa-jiwa kotor tersebut, seakan menghipnotis mereka untuk mendekatinya. Sebuah pedang raksasa yang bercahaya muncul di tangan Li Yao. Li Yao lekas menebas ribuan jiwa di sekitarnya menggunakan pedang tersebut.
Sekali tebas, ratusan jiwa berhasil di murnikan. Li Yao berulang kali menebas jiwa-jiwa malang itu, sampai tiba-tiba genangan air di bawah kakinya bergerak menghisap dirinya.
Pandangan Li Yao menjadi gelap. Kini ia sedang berada di dalam lautan Qi iblis. Qi iblis bersifat korosif dan merusak jiwa. Walau demikian, Li Yao tetap baik-baik saja karena ada cahaya yang membungkus sekujur jiwanya.
Cahaya itu melindunginya. Li Yao sadar bila ia harus terus mempertahankan cahaya itu dengan segenap yang dimilikinya. Seandainya cahaya yang melindunginya menghilang, bisa dipastikan Li Yao akan langsung mati.
Li Yao sadar dengan kondisi tubuhnya di luar sana. Tubuhnya sudah lama mencapai batas. Darah telah keluar dari mulut, hidung, mata, dan telinganya. Jika ia terlambat menemukan jiwa monster tersebut, berarti tubuhnya sudah tidak dapat bertahan lagi.
Anak laki-laki itu sedang kejar-kejaran dengan kematian di jurang terjal.
***
Beberapa saat sebelumnya, Huli sudah terbangun karena keributan yang di sebabkan oleh pertarungan mereka. Pertarungan mereka menyebabkan penginapan sampai bergoyang.
Tidak mungkin Huli tidak bangun pada situasi seperti itu.
Ingatan terakhir Huli sebelum ia ketiduran adalah kematian ibunya. Rubah emas raksasa berekor tujuh itu mencabut jantungnya sendiri lalu memberikannya kepada Tao Yuhan.
Huli ingat kata-kata terakhir yang diucapkan oleh ibunya.
__ADS_1
"Huli, sekarang majikanmu adalah Tao Yuhan! Walau terlihat tidak berperasaan, Tao Yuhan pasti akan merawatmu dengan baik."
"Aku tak mau! Aku cuma ingin Ibu!" ucap Huli seraya menangis sedih.
"Bukankah kamu sedang mencari seorang majikan? Kini dia ada dihadapanmu, layanilah dia dengan baik!"
Sehabis mengucapkan kata-kata tersebut, rubah emas raksasa berekor tujuh itu membakar dirinya sendiri sampai menjadi abu. Tampaknya siluman itu tak ingin tubuhnya di temukan oleh orang-orang yang telah memburu dirinya.
Pemandangan saat ibunya mati sangat terekam jelas dalam ingatan Huli. Tidak lama kemudian, Huli memandang Tao Yuhan dengan tatapan penuh kebencian.
"Tentu saja, aku tidak mau majikanku orang tak berperasaan seperti dia," ucap Huli di dalam hati, ia baru saja mengabaikan kata-kata terakhir ibunya.
Ingatan menyenangkan saat bersama dengan Tao Yuhan, Huli menguburnya jauh-jauh di dalam lubuk hatinya. Ia saat ini hanya ingin membenci gadis berwajah dingin di hadapannya.
"Huli, ayo pergi!" ucap Tao Yuhan seraya mengulurkan tangan.
Huli menepis tangan Tao Yuhan lalu membentaknya.
"PERGI! PERGILAH!"
"Apa kamu sedih?" tanya Tao Yuhan, lagaknya seperti orang bodoh.
Pertanyaan barusan menyebabkan kebencian Huli kepada Tao Yuhan semakin besar. Seketika Tao Yuhan menarik tangan Huli lalu menggigitnya. Huli ingin melawan namun matanya menjadi kabur, tubuhnya juga kian memberat.
"Seiring waktu, kesedihanmu nantinya juga akan berkurang."
Rubah emas kecil itu akhirnya tertidur.
Saat ini Huli sudah keluar dari penginapan, ia sedang berlari menuju gua tempat dimana ibunya mengakhiri nyawanya sendiri. Masih ada sedikit harapan kosong di dalam hatinya, bila kematian ibunya hanyalah mimpi belaka.
Huli tak sadar bahwa di belakangnya, tersembunyi di balik semak-semak ada sesuatu yang mengilap terpantul cahaya bulan.
__ADS_1