Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 42 ~ Siluman Terkutuk


__ADS_3

Di salah satu kamar Penginapan Rongrong, Cheng Lei akhirnya sadar setelah pingsan selama lebih dari 5 jam. Perasaan dan tekanan sebelum dirinya pingsan, terekam jelas di dalam benak Cheng Lei.


Cheng Lei sadar bahwa ia telah mencari masalah dengan orang yang salah.


Selepas bangkit dari atas kasur, ia langsung pergi ke kamar sebelah untuk melihat keadaan keempat muridnya. Apakah mereka menghajar dua bocah kurang ajar tersebut terlalu parah? Cheng Lei agak penasaran mengenai hal itu.


Betapa terkejutnya Cheng Lei, tatkala melihat ketiga muridnya dalam keadaan babak belur. Mereka bertiga sedang duduk bersila berusaha menyembuhkan diri. Pil penyembuh telah mereka konsumsi, jadi luka luar mereka kebanyakan sudah menghilang.


Hanya Du Huan yang kelihatan baik-baik saja. Pasalnya Du Huan langsung pingsan karena terkena satu serangan Li Yao. Du Huan berjalan mendekati gurunya lalu menyapa, ia juga tidak lupa menanyakan keadaan gurunya.


"Guru, kenapa anda tiba-tiba pingsan di depan resepsionis?" tanya Du Huan penasaran.


"Guru sangat kelelahan dan tidak pernah sempat beristirahat," jawab Ceng Lei berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya, bisa jatuh harga dirinya sebagai guru di hadapan murid-muridnya.


"Kenapa mereka kelihatan seperti habis dihajar?" Cheng Lei mengalihkan pembicaraanan, kali ini ia bertanya dengan bingung bercampur khawatir.


"Apakah mungkin mereka bertiga dihajar oleh dua anak kecil itu?"


"Apa guru bercanda? Itu jelas sangat tidak mungkin," jawab Du Huan, juga berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan, bila dirinya dan teman-temannya dikalahkan oleh satu anak kecil yang berasal dari sekte bobrok.


Itu terlalu memalukan.


"Setelah menghajar dua anak kecil yang menyebalkan itu, kami bertemu dengan pendekar misterius lalu bertarung melawannya. Pertarungan sengit, walau begitu pada akhirnya kami berhasil menang melawannya." Du Huan mengarang sebuah cerita.


"Oh, jadi begitu." Cheng Lei percaya.


Mereka berbincang-bincang ringan, pembicaraan diantara guru dan murid yang saling berbohong untuk menjaga harga diri mereka.


"Guru, sebenarnya seberapa kuat siluman yang ingin kita buru?" tanya Du Huan serius, ia agak cemas bila siluman yang hendak mereka buru ternyata lemah. Takutnya siluman tersebut bisa dihabisi oleh dua bocah dari Sekte Jalan Pegunungan.


"Sekuat Raja Pendekar," ungkap Cheng Lei, sukses membuat Du Huan terkejut.


"Maksud Guru, siluman yang kita buru adalah Siluman Terkutuk tingkat atas?"


"Ya, siluman itu bahkan punya kesempatan untuk menjadi Siluman Neraka."

__ADS_1


Siluman adalah tahap lanjutan setelah binatang buas berevolusi. Tingkatan Siluman dari yang terendah sampai yang terkuat di mulai dari : Siluman Liar, Siluman Terbangkit, Siluman Terkutuk, dan Siluman Neraka.


Siluman Neraka memiliki kekuatan yang setara dengan Penguasa Surga. Andai Li Yao tahu tentang monster yang sedang di incarnya, ia pasti tidak akan mau mengambil risiko untuk bertemu makhluk surgawi tersebut.


"Kenapa Ketua Biara memerintahkan kita untuk menghadapi siluman sekuat itu? Bukankah kita cuma cari mati jika menghadapinya?" ucap Du Huan heran.


"Percayakan saja dengan Guru! Guru punya cara untuk membunuhnya."


***


Masa kini.


Li Yao memandang lurus ke depan. Qi iblis yang menerpa kulitnya dalam sekejap langsung menghilang. Tanpa membuang waktu, Li Yao bergerak ke depan dengan sangat cepat dan ringan layaknya angin.


Tidak butuh waktu lama, Li Yao dapat melihat Tao Yuhan sedang berdiri di depan sana seolah sedang menunggu dirinya. Tempat itu sepi dan hening, tampak hanya ada mereka berdua. Li Yao segera menghampiri Tao Yuhan.


"Apa monster itu hilang?" Li Yao menanyakan sesuatu yang sudah pasti.


"Bukan hilang, tapi monster itu kabur." Tao Yuhan menoleh lalu menatap Li Yao.


"Mungkin dia takut denganku," ucap Tao Yuhan datar, Li Yao lantas memutar bola matanya.


Tidak mungkin alasannya seperti itu.


"Jadi sekarang bagaimana?"


"Kita harus memancingnya," ungkap Li Yao serius.


"Hmm... Apa umpan kita?" Tao Yuhan menanti jawaban Li Yao.


Mendadak Li Yao mengambil sebuah kalung dari dalam cincin spasialnya. Batu berwarna merah darah terpasang sebagai atribut utama pada kalung tersebut. Kalung itu adalah kalung milik Xiao Chen yang telah mati.


Li Yao melepas batu delima darah seukuran biji jagung dari kalung tersebut, kemudian memberikannya kepada Tao Yuhan. Tao Yuhan menerimanya dalam kondisi bingung, ia tidak tahu untuk apa Li Yao memberikannya benda tersebut.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Umpan kita."


"Bagaimana menggunakannya?"


"Tekan sampai hancur dengan kekuatan jarimu."


Cara menggunakannya cukup sederhana. Tao Yuhan mempratikkan ucapan Li Yao, ia menghancurkan batu delima darah itu dengan ibu jari dan jari telunjuknya.


Butuh kekuatan setingkat alam membangun pondasi, agar dapat menghancurkan batu delima darah sekecil itu. Rupanya Tao Yuhan berhasil menghancurkan batu tersebut tanpa halangan berarti, sepertinya Tao Yuhan memang menyembunyikan kekuatannya yang sebenarnya.


Batu itu hancur lalu berubah menjadi cairan kental. Kini batu delima darah benar-benar menjadi darah. Bau darah yang sangat pekat tiba-tiba tersibak lalu menjalar luas, kurang lebih sampai 3 kilometer.


Sebagai pusat dari bau darah yang ssangat memualkan, Li Yao mengamati reaksi Tao Yuhan dan sekelilingnya. Di luar ekspetasi, air muka Tao Yuhan tetap datar seperti biasa seakan tidak terganggu dengan bau tersebut.


Untuk gadis seumurannya, itu adalah hal yang sangat jarang.


"Sekarang apa?" tanya Tao Yuhan.


"Kita tunggu monster itu mendatangi kita," jawab Li Yao, ia bisa merasakan binatang buas dan siluman kecil mulai berdatangan.


***


Bau darah itu tercium sampai ke tempat Cheng Lei dan murid-muridnya. Mereka lebih awal masuk ke dalam Hutan Timur dibandingkan Li Yao dan Tao Yuhan.


Di lokasi Du Huan, ia menghentikan pencariannya lalu berlari menuju pusat berdarah di mana Li Yao dan Tao Yuhan tengah menunggu. Begitu juga dengan guru dan teman-temannya yang sedang berpencar.


Dalam perjalanan tersebut, Du Huan bertemu dengan sesosok makhluk yang di kelilingi oleh kegelapan. Makhluk itu memiliki bentuk tubuh seperti manusia, tampaknya ia juga sedang berlari menuju ke tempat Li Yao dan Tao Yuhan.


Langkah kaki Du Huan berhenti, begitu juga dengan makhluk tersebut. Keberadaan makhluk itu membuat Du Huan sangat tidak nyaman. Ia buru-buru mengeluarkan suar berbentuk kembang api lalu menggunakannya.


Sebuah kembang api meletus menggambarkan posisi tangan yang sedang berdoa, kedua tangan yang rapat dan lurus itu saling bertemu lalu meledak indah di langit malam.


Firasat Du Huan mengatakan jika makhluk di hadapannya sangat berbahaya. Du Huan ingin melarikan diri, tapi ia tak melakukannya. Sebagai seorang pendekar ia harus bertarung.


Makhluk tersebut segera berjalan menghampiri Du Huan. Tidak lama kemudian, Du Huan sangat menyesali kebodohannya itu.

__ADS_1


__ADS_2