
Tantangan Li Yao dianggap angin lalu oleh mereka. Mereka berempat sama sekali tidak tertarik dengan Li Yao, apalagi untuk bertarung dengannya. Tujuan mereka adalah Tao Yuhan, gadis kecil yang telah mempermalukan guru mereka.
"Hey, berapa umurmu?" tanya Du Huan penasaran, ia adalah murid Cheng Lei yang paling kuat di sini.
"16 tahun!" jawab Tao Yuhan jujur.
Li Yao memang merasa kesal karena telah diabaikan. Akan tetapi, jawaban yang di ucapkan oleh Tao Yuhan berhasil membuat Li Yao terkejut. Pasalnya Li Yao pikir umur Tao Yuhan adalah 13 tahun, bukan 2 kali lipat umurnya sendiri.
Penampilan seorang pendekar sering kali memang menipu. Ada pendekar yang sudah berumur ratusan tahun, namun penampilannya masih terlihat seperti seseorang berusia 20 tahunan.
Tao Yuhan adalah sebuah anomali.
Biasanya Li Yao tak pernah tertipu dengan penampilan luar seseorang. Ia bisa mengetahui tingkat kultivasi dan umur seseorang hanya dengan melihat langsung rupa orang tersebut.
Namun Tao Yuhan berbeda, Li Yao bahkan tidak bisa melihat kultivasinya. Jadi tak heran Li Yao juga tidak bisa melihat umur Tao Yuhan yang sesungguhnya.
"Jadi begitu," gumam Du Huan kesal.
Du Huan tidak terima ada murid dari sekte tingkat rendah yang lebih kuat dari dirinya, terlebih umur murid itu beberapa tahun lebih muda dari umurnya.
"Namaku Du Huan dari Biara Laut Putih, aku menentangmu untuk latih tanding!" seru Du Huan kemudian mengambil kuda-kuda bertarung menggunakan tangan kosong.
"Jangan mengabaikanku! Lawan kalian adalah aku," ungkap Li Yao, ia merasa jengkel karena diabaikan.
Tatapan Du Huan dan ketiga temannya mendarat malas ke arah Li Yao. Mendadak Li Yao menerjang maju lalu menyerang Du Huan. Pemuda botak itu sempat terkekeh ketika melihat Li Yao hendak menyerang dirinya.
Suatu ketika Du Huan ingin menangkis lalu menyerang Li Yao menggunakan pukulannya, serangan Li Yao dalam sekejap berubah dari pukulan menjadi tendangan.
Pukulan Du Huan melesat ke depan, menyasar wajah Li Yao. Dalam waktu yang sangat singkat, Li Yao menghentikan niatnya untuk memukul lalu menghindari serangan Du Huan dengan sangat mudah.
Kaki kanan Li Yao menekuk lalu lututnya menerjang ke perut Du Huan. Tendangan Li Yao mendarat di perut Du Huan yang rapuh tanpa pertahanan. Du Huan ambruk lalu kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Kejadian itu berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik.
Ketiga pemuda botak lainnya terkejut, mereka tidak percaya orang terkuat diantara mereka kini jatuh pingsan karena anak kecil seperti Li Yao. Tingkat kultivasi mereka berempat berada pada tahap membentuk inti Qi, satu tingkat di atas kultivasi Li Yao.
Walau begitu Du Huan jauh lebih kuat dari ketiga pemuda lainnya. Alasannya cukup sederhana, Du Huan cukup berbakat dalam seni beladiri Biara Laut Putih. Di tambah lagi kultivasinya hampir mencapai tahap membangun pondasi.
Sebab itulah mereka bertiga tidak terima Du Huan kalah oleh Li Yao.
"Bocah si***n! Berani sekali kamu diam-diam menyerang teman kami."
"Apa kamu tidak punya kehormatan?"
"Jangan marah kepada kami, jika kami menghajarmu sampai babak belur! Bocah kurang ajar sepertimu memang harus diberi pelajaran!"
Ancaman klise yang diucapkan oleh ketiga pemuda itu sudah sering Li Yao dengar, jadi Li Yao hanya menanggapinya dengan sangat santai. Ketiga pemuda botak itu malah tambah kesal ketika melihat reaksi Li Yao yang tetap tenang.
Li Yao mengangkat bahu lalu berbicara.
***
Cheng Lei menyewa kamar untuk dirinya dan muridnya di penginapan Rongrong. Selepas keluar dari kantor pengurus kota, ia langsung berjalan menuju ke penginapan tersebut.
Penginapan Rongrong adalah penginapan terbaik yang ada di wilayah selatan Kota Awan Biru, itulah alasan Ceng Lei memutuskan untuk menginap di penginapan tersebut.
Menurut rumor yang beredar, monster yang ingin Cheng Lei buru sering terlihat di wilayah selatan kota. Kota Awan Biru bagian selatan memang sangat dekat dengan Hutan Timur, hutan paling luas di Kekaisaran Timur.
Monster itu pasti bersembunyi di Hutan Timur. Cheng Lei sangat yakin dengan pemikirannya tersebut. Sebenarnya Cheng Lei sudah tahu monster apa yang hendak diburunya, karenanya ia tidak perlu menjumpai orang bernama Deng Xue.
Deng Xue, mendengar nama itu membuat Cheng Lei berang. Ia tidak suka nama itu karena mengingatkannya dengan seseorang.
Sesampainya di depan Penginapan Rongrong, seorang anak kecil berpakaian kumuh tiba-tiba menabrak Cheng Lei. Cheng Lei dengan marah menatap anak tersebut lalu mengusirnya.
__ADS_1
Anak itu meminta maaf sambil menundukkan kepalanya, lalu pergi dari hadapan Cheng Lei. Mendadak Cheng Lei menangkap pengelangan tangan anak tersebut, karena menyadari barangnya ada yang hilang.
Anak laki-laki berusia 10 tahun itu panik.
Kepanikan itu dapat dilihat Cheng Lei dengan sangat jelas, Cheng Lei memeriksa pakaiannya lalu menyadari bila kantongnya telah hilang.
Hari ini Cheng Lei sangat kesal karena telah dipermalukan oleh anak kecil. Ia ingin pergi ke penginapan lalu beristirahat, menenangkan dirinya. Kali ini ia malah bertemu dengan anak kecil yang berupaya mencuri barangnya.
Amarah Cheng Lei yang sejak tadi di tahan-tahan akhirnya ia limpahkan kepada bocah kumuh yang sial itu.
"Dasar Pencuri Menjijikkan!" ujar Cheng Lei marah, ia lekas mengangkat tubuh anak tersebut yang sangat ringan.
Tangan Cheng Lei semakin dan semakin erat menggenggam tangan anak kecil tersebut. Anak itu meronta-ronta, mencoba melepaskan genggaman Cheng Lei namun gagal.
Kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan Pendekar dari Biara Laut Putih.
Layaknya boneka, tubuh anak kecil itu hanya bisa pasrah berayun-ayun. Suatu ketika genggaman Cheng Lei bertambah erat, anak tersebut langsung menjerit kesakitan.
Banyak orang di sekitar tempat itu langsung memerhatikan perbuatan Cheng Lei kepada anak tersebut. Merasakan tatapan dari orang-orang di sekelilingnya, Cheng Lei mengeluarkan sebuah pernyataan yang akan menjelaskan alasan perbuatannya.
"Pencuri kecil, cepat serahkan barangku yang kamu curi!" ucap Cheng Lei lumayan lantang, ia semakin mengeraskan genggaman tangannya.
Anak kecil tersebut menjerit dengan lebih keras, ia bisa merasakan tulang tangan kanannya mulai retak. Tidak punya pilihan, anak itu langsung memberikan barang curiannya kembali.
Kantong itu jatuh dari tangan kiri anak tersebut, sebab Cheng Lei tidak berhenti menguatkan genggaman tangannya. Cheng Lei masih marah dan dikuasai oleh emosi buruk, ia ingin menghukum anak itu dengan lebih keras.
Sebuah tangan kekar tiba-tiba mendarat di bahu Cheng Lei. Cheng Lei menoleh lalu melihat sosok pria besar yang sedang membawa belanjaan. Sosok itu tidak lain adalah Deng Xue.
Mata Cheng Lei dalam sekejap langsung membola, genggaman tangannya juga melemah lalu anak kecil itu jatuh menyentuh tanah. Cheng Lei tidak menyangka akan bertemu dengan mantan rekannya yang sangat dibencinya.
"Deng Xue, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Bagaimana kabarmu setelah Ketua Sekte melumpuhkan kultivasimu?" ejek Cheng Lei sarkas.
__ADS_1