Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 38 ~ Terdiam


__ADS_3

"Paman bersabarlah! Bukankah Biara Laut Putih mengajarkan Paman untuk selalu tenang dan damai?" ucap Li Yao, seolah berusaha menenangkan Cheng Lei.


Cheng Lei bukankah orang yang emosional. Belum pernah sekali pun seseorang menghinanya sedemikian rupa, jadi tak heran ia sampai marah lalu membentak anak kecil di hadapannya.


Apalagi orang yang menghinanya adalah anak kecil. Biasanya anak-anak kecil selalu tunduk dan menghormatinya sebagai Tetua Biara. Tidak ada satu anak pun yang berani melawan perkataannya.


Makanya pada saat Tao Yuhan dan Li Yao membalas perkataannya seakan sedang bercanda, Cheng Lei kehilangan ketenangannya.


"Bocah, katakan siapa nama kalian!" ucap Cheng Lei dingin, sesudah kemarahannya agak reda.


"Li Yao dari Sekte Jalan Pegunungan." Li Yao memperkenalkan dirinya lalu melirik Tao Yuhan, gadis kecil itu diam memperhatikan perdebatannya.


Pada awalnya Tao Yuhan adalah orang yang memulai perdebatan ini, Li Yao hanya diam karena tidak ingin bentrok dengan Tetua Biara Laut Putih. Namun sekarang, peran Li Yao dan Tao Yuhan sudah berbalik.


"Tao Yuhan," ucap Tao Yuhan datar.


Cheng Lei tidak suka dengan cara bicara Tao Yuhan yang datar, namun ia memilih mengabaikannya.


"Ikuti aku! Kita akan bertemu dengan pengurus kota."


"Tunggu sebentar! Aku belum bilang, apa yang aku inginkan jika Paman kalah dalam taruhan." Li Yao menghentikan Cheng Lei yang hampir berbalik.


Tatapan Cheng Lei menajam menatap Li Yao. Cheng Lei tidak habis pikir, rupanya Li Yao sungguh-sungguh saat menantang dirinya. Dasar idiot! Cheng Lei tidak melihat satu pun kesempatan dimana Li Yao dapat memenangkan taruhan.


"Katakan! Apa yang kamu inginkan?" tanya Cheng Lei sinis, air mukanya terlihat seakan berbicara dengan orang terbelakang.


"Jika aku menang, tulis kata 'idiot' di kepala Paman yang botak. Pakai huruf besar dan harus terlihat jelas. Paman tidak boleh menghapus tulisan itu sampai 3 hari, Paman juga tidak boleh menyembunyikannya. Bagaimana? Apa Paman menerimanya?" jelas Li Yao sambil tersenyum tipis.


Penjelasan Li Yao kembali menyulut api kemarahan Cheng Lei. Cheng Lei berusaha menahan dirinya agar tidak memukul bocah kurang ajar dihadapannya.

__ADS_1


"Baiklah!" ucap Cheng Lei juga tersenyum, ia pikir Li Yao hanya ingin mempermalukan dirinya sendiri. Bagaimanpun, Li Yao tidak mungkin bisa membunuh monster berbahaya itu.


Mereka lekas masuk ke dalam kantor. Di dalam sana Li Yao bisa mendengar bila keempat pemuda botak tersebut tidak terima dengan sikapnya.


Mereka tidak setuju Cheng Lei menerima tantangan Li Yao. Menurut mereka, bocah dari sekte kecil seperti Li Yao dan Tao Yuhan bahkan tidak setara dengan mereka.


Mereka pikir, saat ini mereka mampu mengalahkan Li Yao dan Tao Yuhan dengan sangat mudah.


Mereka semua segera bertemu dengan Pengurus Kota Awan Biru, Fan Fu. Seperti namanya, pengurus kota adalah jabatan yang diberikan oleh kekaisaran kepada seseorang untuk mengurus kota yang diperintahkan kepadanya.


Waktu Li Yao menjelaskan maksud kedatangannya bersama Tao Yuhan, Fan Fu langsung menolak memberikannya izin untuk memburu monster tersebut.


"Aku tidak setuju kalian berdua memburu monster itu!"


Mendengar ucapan Fan Fu, keempat murid Cheng Lei langsung tertawa. Mereka menertawakan nasib Li Yao dan Tao Yuhan, juga taruhan yang di usulkannya. Mereka tidak sabar melihat Li Yao mempermalukan dirinya dengan telanjang bulat.


Di sisi lain Cheng Lei hanya tersenyum tipis, ia sudah menduga situasi seperti ini pasti akan terjadi.


"Aku menghargai niat baik Sekte Jalan Pegunungan, tetapi aku tidak setuju mengirim kalian untuk memburu monster tersebut. Mengirim kalian sama saja dengan membuang-buang nyawa kalian dengan sia-sia," jelas Fan Fu, ia tidak ingin kedua anak kecil itu bertarung dengan monster yang berbahaya.


"Apa kalian tahu, sudah berapa banyak pendekar kuat yang mati karena memburu monster tersebut?" Fan Fu menyambung penjelasannya.


"Sebenarnya apa yang dipikirkan ketua dan tetua sekte kalian? Walau Sekte Jalan Pegunungan sedang krisis, bisa-bisanya mereka memerintahkan kalian untuk menghadapi mosnter itu."


"Pulanglah! Jika kalian dihukum, aku akan naik lalu berbicara dengan ketua sekte kalian!" ujar Fan Fu, ia memaksa kedua anak kecil itu untuk pulang.


"Maksud Tuan karena kami berdua masih anak-anak, jadi kami lemah dan tidak punya kemampuan untuk membunuh monster itu?" Li Yao mengambil kesimpulan dari perkataan Fan Fu.


"Ya!" ucap Fan Fu sigap.

__ADS_1


"Tuan, coba lihat ke sana! Apa kemampuan kakakku masih kurang?" Li Yao menunjuk ke arah Cheng Lei yang sedang berdiri.


Seketika semua pandangan mengarah kepada Cheng Lei, mata mereka semua terbuka lebar penuh keterkejutan.


Kini Tao Yuhan sudah berada tepat di belakang Cheng Lei. Pedangnya yang masih di dalam sarung sudah berada 1 sentimeter di sebelah leher Cheng Lei, siap menebas leher pria botak tersebut sampai putus.


Cheng Lei refleks menjauh, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Ia lengah. Ia tidak pernah menduga bila anak kecil seperti Tao Yuhan bisa mengelabuinya sampai seperti itu. Jika tadi situasi serius, Cheng Lei bahkan tidak tahu bagaimana nasibnya akan menjadi.


Sebagai seorang Pendekar Langit yang sudah mencapai alam menghancurkan kehidupan tahap kelima, bisa kecolongan sampai seperti ini adalah sebuah penghinaan bagi dirinya. Apalagi Cheng Lei kecolongan dengan anak kecil dari sekte yang hampir hancur.


Ketika Cheng Lei mencoba melihat kultivasi Tao Yuhan, ia tidak bisa mengukur terlebih merasakan kultivasi gadis kecil yang manis itu. Begitu juga ketika Cheng Lei mencoba melihat kultivasi Li Yao.


Aneh sekali.


***


Alhasil Li Yao dan Tao Yuhan berhasil memaksa Fan Fu untuk memberikan izin. Fan Fu lantas menyarankan mereka untuk pergi menemui Deng Xue, pemilik kedai kecil di pinggiran kota. Deng Xue memiliki banyak informasi penting mengenai monster yang hendak mereka buru.


Setelah keluar dari kantor pengurus kota, Li Yao dan Tao Yuhan langsung pergi menuju ke kedai Deng Xue. Di sisi lain, Cheng Lei dan keempat muridnya pergi ke arah yang berlainan.


Atau begitulah yang terlihat.


Saat ini Li Yao dan Tao Yuhan bisa merasakan keempat murid Cheng Lei tengah mengikuti mereka. Li Yao dan Tao Yuhan lekas berjalan menuju gang yang agak sunyi, kemudian berhenti lalu berbalik.


Keempat pemuda botak berpenampilan sederhana layaknya pertapa muncul. Mereka tersenyum sinis tatkala memandang Li Yao dan Tao Yuhan.


Penampilan dan ekspresi bengis di wajah mereka sangat berseberangan, konstras sekali dan tidak cocok. Sekarang entah kenapa Li Yao merasa ingin memukuli kepala botak mereka yang mengkilat terpapar sinar mentari.


"Pasti kalian mengikuti kami bukan untuk bicara baik-baik," ucap Li Yao lalu mengeluarkan pedangnya dari dalam sarung.

__ADS_1


"Aku penasaran, seperti apa kualitas murid Biara Laut Putih pada masa sekarang. Apakah lebih baik? Atau, lebih buruk?


__ADS_2