
Sebelum pergi menjalani misi, Tao Zhen sempat memperingati Li Yao tentang sifat anak perempuannya, Tao Yuhan. Ingatan itu masih segar di dalam pikiran Li Yao, bahkan sekarang ia masih bisa mengulang percakapannya dengan Tao Zhen di dalam kepalanya.
"Walau kelihatan lemah, anak perempuanku adalah pendekar yang sangat kuat. Kamu tidak perlu khawatir saat melawan monster tersebut, dia pasti bisa mengalahkan monster di bawah sana seorang diri," ucap Tao Zhen agak sombong, jelas ia sangat membanggakan putrinya.
"Jadi, aku tak perlu menghadapi monster itu? Lantas apa yang harus aku lakukan di bawah sana?" tanya Li Yao.
"Aku hanya ingin kamu menjaga putriku."
Li Yao mengangkat alis, sedikit tidak mengerti maksud ucapan Tao Zhen.
"Yuhan jarang berinteraksi dengan orang-orang. Seperti yang kamu lihat, Yuhan tidak bisa menyaring kata-katanya. Dia hanya mengatakan apa yang terlintas di dalam kepalanya tanpa berpikir."
Kepala Li Yao mengangguk, ia setuju dengan kata-kata Tao Zhen mengenai Tao Yuhan.
"Di tambah lagi Yuhan sudah lama mengurung diri. Setelah bertahun-tahun tidak pergi ke kota, aku tak tahu bagaimana reaksinya. Mengingat sifatnya yang selalu bertindak tanpa berpikir, Yuhan pasti akan menimbulkan banyak masalah untukmu," jelas Tao Zhen panjang lebar.
"Sudah-ku duga!" ucap Li Yao di dalam hati. Ia sudah menduga, bahwa Tao Zhen akan menyuruhnya untuk mengawasi Tao Yuhan agar tidak membuat masalah.
Tao Zhen menekuk kakinya dengan sengaja agar tingginya setara dengan Li Yao. Seketika Tao Zhen mengenggam kedua tangan Li Yao dengan sangat erat ke depan mukanya.
"Berjanjilah kamu akan selalu menjaga putriku! Awasi dia, jangan pernah tinggalkan dia sendirian! Putriku memang ceroboh dan tidak bisa menjaga diri, dia pasti akan merepotkanmu. Aku mohon rawat dia baik-baik!"
Kata-kata Tao Zhen membuat Li Yao Tercengang. Itu kedengaran seperti kata-kata yang diucapkan oleh seorang ayah mertua kepada seseorang yang baru menikahi putrinya.
"Pastikan putriku tidak memaksakan diri. Jangan biarkan dia melepaskan pedangnya!" sambung Tao Zhen.
***
Saat ini.
"Hey, botak! Kenapa kalian menyerobot masuk dan tidak antre di belakang kami?" ujar Tao Yuhan kesal.
Tangan Li Yao dalam sekejap langsung membungkam mulut Tao Yuhan yang asal bicara. Li Yao berharap gerombolan orang botak tersebut tidak mendengarkan perkataan Tao Yuhan.
Sayang sekali, rupanya mereka berhenti persis setelah Li Yao menutup mulut Tao Yuhan. Kelihatannya mereka semua mendengarkan ucapan Tao Yuhan dengan sangat jelas.
__ADS_1
Kelompok itu terdiri dari lima orang pria botak. Pria botak yang paling depan, dengan satu langkah kakinya melewati pintu, ia adalah yang tertua. Ia juga terlihat seperti guru bagi keempat pemuda yang mengikutinya.
Nama pria itu adalah Cheng Lei, ia merupakan salah satu tetua dari Biara Laut Putih yang terkenal. Ketika Li Yao melihat kultivasi pria tersebut, ia mendapati bila Cheng Lei sudah mencapai tahap kelima dalam menghancurkan kehidupan.
Dengan kata lain, Cheng Lei adalah seorang Pendekar Langit.
Kultivasi pria itu sangat jauh berada di atas Li Yao. Bagaimana mungkin Li Yao mencari masalah dengan orang seperti itu? Meski keterampilan dan pengalaman Li Yao jauh lebih baik dari Cheng Lei, namun kekuatan tubuh dan jumlah Qi milik pria tersebut jauh melampaui milik Li Yao.
"Hey, gadis kecil! Apa barusan kamu menghina kami?" ucap pemuda botak paling belakang dalam kelompok itu.
"Aku minta maaf, mulut dan otak kakakku memang agak bermasalah." Li Yao menjelaskan.
Mata Tao Yuhan menajam, ia menggigit tangan Li Yao lalu berbicara dengan sinis.
"Aku hanya mengatakan kebenarannya. Siapa yang menghina kalian? Jika kebotakan adalah sebuah hinaan, maka jangan botakkan kepala kalian!"
"Ap-"
Tao Yuhan memotong perkataan pemuda botak lainnya yang mulai marah.
"Kami sudah mengantre sejak tadi, tapi bisa-bisanya kalian menyerobot masuk begitu saja!"
"Kedatangan kami ke sini dikarenakan urusan penting. Tidak bisa dibandingkan dengan urusan remeh kalian!" seru pemuda lainnya.
"Urusan kami juga penting, kami harus memburu monster berbahaya yang berkeliaran di pinggiran kota!" ujar Tao Yuhan tak mau kalah.
Mendadak keempat pemuda itu tertawa lantang. Ada hina dan geli di mata mereka saat memandang Li Yao dan Tao Yuhan. Li Yao menghela napas sambil mengelus tangannya yang digigit oleh Tao Yuhan, baginya perdebatan ini tidak berguna dan hanya membuang waktu.
"Kalian berdua berasal dari sekte mana? Urusan kalian sama dengan urusan kami." Cheng Lei akhirnya berbicara setelah ia menghentikan tawa murid-muridnya.
"Sekte Jalan Surgawi," jawab Tao Yuhan bangga.
Jawaban Tao Yuhan berhasil menggerakkan hati Li Yao, sudah lama sekali Li Yao tidak mendengar seseorang mengucapkan nama sektenya dengan bangga.
"Sekte Jalan Surgawi?" gumam Cheng Lei pelan, mencoba mengingat nama sekte yang kedengaran tidak asing tersebut.
__ADS_1
"Maksudmu Sekte Jalan Pegunungan? Sekte Rendahan yang hampir hancur itu," jelas Cheng Lei penuh hinaan.
"Sekte rendahan?" Li Yao sudah tidak tahan lagi untuk membuka mulut.
"Paman Botak yang terhormat, mari bertaruh apakah Biara-mu atau sekte-ku yang akan menyelesaikan misi?"
Cheng Lei tidak pernah menduga, bila anak laki-laki berusia 8 tahun itu akan berbicara dengan dirinya. Apalagi sampai menghina lalu menentangnya sedemikian rupa.
Diikuti keempat muridnya, waktu itu Cheng Lei tertawa dengan cukup lantang.
"Aku pikir kamu bocah yang pendiam dan penurut, tetapi rupanya kamu lebih nakal dibandingkan kakakmu," ujar Cheng Lei setelah menghentikan tawanya.
"Paman Botak juga, aku pikir lebih bijaksana dan baik hati, tetapi juga sama seperti murid-muridnya, senang menghina sesuatu yang lebih lemah dibandingkan miliknya," balas Li Yao sinis.
"Jaga mulutmu bocah!"
"Berani sekali kamu menghina guru kami!"
".... "
Keempat murid Cheng Lei marah mendengar perkataan Li Yao. Li Yao mengangkat bahu, tidak peduli sama sekali dengan kemarahan kosong mereka.
"Bocah, tadi kamu menantangku bertaruh bukan?" ucap Cheng Lei sambil tersenyum. Ia marah dengan hinaan Li Yao, tetapi ia harus bisa menahan dirinya.
"Ya! Jelas aku yang menantang Paman, bukan pemilik kios di sebelah sana!" jawab Li Yao santai, seraya menunjuk ke sembarang orang.
"Baiklah, aku terima tantanganmu! Jika aku berhasil membunuh monster itu, kamu harus telanjang bulat saat kembali ke sektemu!" ungkap Cheng Lei sinis.
Pria botak tersebut semakin kesal dengan bocah di hadapannya, terlebih ketika bocah itu meremas pakaiannya dengan sangat erat.
"Paman mesum, ya!" ujar Li Yao cemas bercampur heran. Kenapa selalu ada orang yang ingin melihat dirinya telanjang bulat? Li Yao dan Tao Yuhan memandang Cheng Lei seperti memandang seorang penjahat kelamin.
Begitu juga dengan pandangan orang-orang di sekitar mereka, pandangan itu membuat Cheng Lei malu dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Jaga mulutmu!" bentak Cheng Lei, kemarahannya sudah tidak dapat ia bendung lagi.
__ADS_1
***
Selama 3-4 hari mungkin Author gak akan update chapter baru karena ada urusan. Terima kasih sudah baca karya author sampai sini!