
Luka pada tubuhnya jauh lebih parah dari dugaan. Li Yao menghabiskan waktunya semalaman untuk duduk bersila, memulihkan dirinya.
Berbagai suara dan gangguan dari luar sama sekali tidak menggoyahkannya. Saat ini Li Yao benar-benar fokus dan tidak dapat di ganggu. Li Yao sadar bila dirinya yang sekarang sangatlah lemah, sebab itulah ia harus pulih secepat mungkin.
Li Yao ingin berlatih dengan lebih keras.
Rasanya kesal menjadi lemah dan tidak bisa diandalkan, apalagi menjadi beban. Sebagai seseorang yang pernah mencapai puncak, hal itu tidak dapat ia terima.
Siang berlalu, malam kembali tiba.
Sang waktu berjalan cepat tanpa Li Yao sadari. Mata Li Yao perlahan terbuka, mendadak jantungnya di remas oleh tangan tak terlihat yang sangat dingin.
Tepat dihadapannya, Li Yao melihat Tao Yuhan sedang mengamatinya. Jarak wajah Tao Yuhan dengan wajahnya sangatlah dekat, hampir tidak berjarak. Mereka bahkan bisa merasakan napas masing-masing.
Sudah berapa lama Tao Yuhan mengamati Li Yao seperti itu? Sejak kapan Tao Yuhan masuk ke dalam kamar Li Yao? Li Yao sama sekali tidak menyadarinya. Walau sudah terbiasa, hal itu tetap bisa membuat Li Yao tercengang.
Seperkian detik berikutnya, Li Yao berhasil mendapatkan ketenangannya.
"Apa yang sedang Kakak lakukan?" tanya Li Yao agak kesal.
"Aku sedang mengamatimu," jawab Tao Yuhan dengan gampangnya.
"Apa kamu tahu, kamu sudah hampir 24 jam berada dalam posisi ini?"
"Benarkah?"
"Ya!"
"Jadi apa Kakak perlu mengamati wajahku dari jarak sedekat ini?" Li Yao berbicara sambil menatap ke dalam mata Tao Yuhan.
"Aku cuma penasaran dengan ekspresi wajahmu, itu bukan ekspresi yang muncul pada wajah seorang anak-anak."
Usai mengatakan itu, Tao Yuhan segera menjauhkan wajahnya dari wajah Li Yao.
"Kakak tidak bercermin," ucap Li Yao sembari memutar bola matanya.
Lenggang.
"Kapan kamu bertemu dengan Raja Tanpa Nama?" tanya Tao Yuhan dingin, mengulang pertanyaannya pada malam itu.
__ADS_1
Waktu itu percakapan mereka tentang Raja Tanpa Nama harus di tunda, karena mereka harus mengejar Huli. Li Yao tidak mengantisipasi Tao Yuhan akan membahas hal tersebut. Apalagi setelah Tao Yuhan melupakan Huli? Rubah emas kecil yang menjadi tanggung jawabnya.
Li Yao tidak langsung menjawab, ia memerhatikan perubahan pada wajah gadis tersebut. Kelihatannya Tao Yuhan memendam kebencian yang sangat dalam terhadap Raja Tanpa Nama.
"Pilih! Apakah kamu ingin jawaban yang jujur tapi tak masuk akal? Atau, jawaban bohongan yang masuk akal?" Li Yao memberikan pilihan kepada Tao Yuhan.
Awalnya Tao Yuhan agak kebingungan mendengar pertanyaan Li Yao. Pertanyaan tersebut, bukankah itu kedengaran aneh?
"Jujur," pinta Tao Yuhan.
"Aku tak punya hubungan apapun dengan Raja Tanpa Nama, kecuali dia pernah mencoba sekali untuk membunuhku namun gagal." Li Yao mengatakan yang sesungguhnya.
"Terakhir kali aku melihatnya adalah 103 tahun yang lalu. Dia adalah pembunuh senyap terbaik, bukan begitu? Tak banyak informasi tentang dirinya. Bahkan namanya, tak ada satupun orang yang mengetahuinya."
"Apa kamu bercanda?" tanya Tao Yuhan seraya mengeluarkan niat membunuh, gadis itu sekarang benar-benar sedang serius.
"Sudah aku katakan." Li Yao mengingatkan.
"Tidak masuk akal, bukan?"
"Jadi siapa identitasmu yang sesungguhnya?" selidik Tao Yuhan.
"Apa kamu punya pilihan?"
Seketika tangan Tao Yuhan mencengkeram leher Li Yao dengan sangat erat. Li Yao tidak menghindar, ia hanya bisa pasrah mengingat keadaan tubuhnya sekarang.
"Kamu tak akan bisa mendapatkan jawaban dariku dengan cara seperti ini. Kamu tahu, kan? Apalagi aku bukan anak biasa," balas Li Yao saat gadis itu mengencangkan cekikan di lehernya.
Mencoba mendapatkan informasi dari Li Yao dengan cara kekerasan adalah hal yang sia-sia. Seperti yang ia bilang, dirinya memang bukan anak biasa. Tao Yuhan segera melepaskan cekikan tangannya dari leher Li Yao.
"Kamu memang orang yang dingin dan sederhana," ucap Li Yao sambil mengelus lehernya yang memerah.
Mendadak tinju Tao Yuhan mendarat ringan di kepala Li Yao. Li Yao mengaduh kesakitan lalu menatap gadis itu dengan tanda tanya di matanya.
"Panggil aku kakak," ungkap Tao Yuhan, ia lantas menarik seluruh niat membunuh yang dikeluarkannya.
Hening kembali menguasai mereka.
"Bagaimana dengan rubah emas kecil itu? Apa Kakak berhasil menemukannya?" tanya Li Yao tiba-tiba, mengalihkan topik pembicaraan mereka yang sangat berat.
__ADS_1
Ingatan mengenai kejadian kemarin terulang kembali di dalam kepala Tao Yuhan. Tao Yuhan lekas memberitahu Li Yao tentang apa yang ia lakukan setelah turun gunung.
***
Semalam.
Berkat permata siluman yang diberikan oleh rubah emas berekor tujuh, Tao Yuhan jadi tidak perlu mengeluarkan banyak usaha untuk mencari keberadaan Huli.
Di mana Huli berada? Permata itu bisa menuntun Tao Yuhan untuk menemukan keberadaan Huli.
Begitu sampai ke Kota Awan Biru, Tao Yuhan langsung bergegas menuju ke arah yang di tunjukkan oleh permata. Langkah Tao Yuhan berhenti tepat di depan sebuah kedai kecil, kedai yang hampir berada di wilayah pinggiran kota.
Tanpa membuang waktu, Tao Yuhan langsung memasukinya lalu bertemu dengan pemilik kedai, Deng Xue. Tao Yuhan lekas memesan makanan, ia ingat bahwa dirinya belum makan malam.
Pesanan datang, Huli adalah orang yang mengantarkannya. Seketika pesanan makanan di tangan Huli jatuh. Huli sangat terkejut melihat Tao Yuhan sedang berada dihadapannya.
Di sisi lain, Tao Yuhan sama sekali tidak peduli dengan keterkejutan di wajah Huli. Ia memandang makanan pesanannya yang telah jatuh ke lantai, ekspresi wajahnya memburuk.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Tao Yuhan dengan dinginnya, ia kesal karena makan malamnya telah jatuh ke lantai.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Huli balas bertanya, nada suaranya terdengar penuh dengan kebencian.
Tao Yuhan tiba-tiba mengingat alasan kedatangannya ke tempat ini. Lupakan tentang makan malam, ia harus membawa Huli sekarang bersamanya.
"Huli, ayo ikut denganku!" ajak Tao Yuhan tanpa basa basi.
"Aku tak mau," tolak Huli dalam sekejap.
"Aku sudah berjanji dengan ibumu untuk merawatmu. Ingatlah kata-kata terakhir ibumu!" bujuk Tao Yuhan.
"Diam!" ujar Huli marah. Setelah apa yang terjadi, tidak mungkin Huli ingin ikut bersama Tao Yuhan.
Untuk apa Tao Yuhan baru mencarinya sekarang? Sejak saat itu satu bulan telah berlalu. Mendadak Tao Yuhan menyambar tangan Huli lalu menariknya. Tao Yuhan ingin membawa Huli dengan cara paksa.
"LEPASKAN!" bentak Huli namun Tao Yuhan mengabaikannya.
"PAMAN! ADA ORANG JAHAT YANG MAU MENCULIKKU!" teriak Huli, ia sedang mencoba memanggil Deng Xue.
Seorang pria berbadan kekar yang sedang memakai celemek bermotif bunga tiba-tiba muncul. Di tangan pria tersebut, terdapat sebuah pisau besar yang biasanya digunakan untuk memotong daging.
__ADS_1