Kembalinya Ketua Sekte Terhebat

Kembalinya Ketua Sekte Terhebat
Chapter 68 ~ Pantas Dihajar


__ADS_3

Mendadak mereka berdua menjadi pusat perhatian di jalan tersebut. Song Hao bisa merasakan banyak tatapan yang sedang memandangnya jijik. Kenapa jadi seperti ini? Ia bahkan belum melakukan apa-apa kepada gadis kecil tersebut.


Song Hao agak panik melihat perkembangan situasinya. Tidak lama kemudian, Huli lantas pergi melarikan diri secepat yang ia bisa. Saat Song Hao ingin bergerak mengejar gadis tersebut, beberapa orang tiba-tiba menghalangi jalan di hadapannya.


"Anak muda, apakah benar jika kamu ingin menculik gadis barusan?"


"Dasar mesum! Kamu bahkan ingin mengejarnya."


"Tunggu sebentar! Bukankah pakaiannya terlihat seperti pakaian murid Biara Laut Putih?"


"Penampilannya bahkan mirip dengan Song Hao yang terkenal itu."


"Orang ini pasti sedang menyamar."


"Sepertinya dia adalah seorang kakek-kakek mesum."


"... "


Seluruh ocehan itu membuat telinga Song Hao panas. Pemuda botak itu ingin berteriak dan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, namun ia tidak punya waktu. Siluman kecil itu akan lepas dari penglihatan matanya jika ia meladeni ocehan mereka.


Tangan Song Hao mengepal erat kemudian memukul orang-orang yang menghalangi jalannya. Satu pukulan dan semua orang yang menghalangi jalannya tercampak tidak berdaya. Seperkian detik berikutnya, Song Hao sudah menghilang dari lokasi tersebut.


"PAMAN!" panggil Huli ketika dirinya sudah masuk ke kedai Deng Xue.


Kali ini kedai Deng Xue di isi oleh dua pelanggan. Kedua pelanggan itu adalah sepasang paruh baya yang terlihat seperti penduduk sekitar. Saat mereka melihat Huli buru-buru masuk dan berteriak, mereka tersenyum lalu berusaha menenangkannya.


"Nak, ada apa? Kenapa kamu berteriak seperti itu?"


Sebelum Huli sempat menjawab pertanyaan mereka, Song Hao tiba-tiba muncul di balik punggungnya. Seketika Song Hao menyambar pergelangan tangan gadis kecil tersebut. Ia kesal karena gadis itu telah menimbulkan kesalahpahaman barusan.


Saat tangan Song Hao bersentuhan dengan pengelangan tangan gadis kecil tersebut, ia bisa merasakan aliran Qi berwarna emas yang tidak asing. Qi milik siluman kecil itu sama dengan Qi milik rubah berekor tujuh yang mereka buru.


Di tambah fakta bahwa rubah emas berekor tujuh itu baru saja melahirkan, Song Hao langsung dapat mengambil sebuah kesimpulan yang benar. Siluman kecil ini tidak lain adalah anak rubah emas berekor tujuh yang mereka cari selama ini.


"Aku sepertinya beruntung," gumam Song Hao seraya tersenyum tipis.


Hilangnya Tetua Cheng Lei pasti ada hubungan dengan gadis kecil tersebut. Apakah Tetua Cheng Lei dan murid-muridnya tewas saat melawan rubah emas berekor tujuh? Song Hao merasa sebentar lagi akan mengetahuinya.


"PAMAN!" teriak Huli panik.


"Hey, anak muda! Apa yang sedang kamu lakukan?!"

__ADS_1


Kedua pelanggan itu berdiri lalu membentak pemuda botak tersebut. Song Hao mengabaikan tindakan kedua orang yang biasa itu. Ia berniat membawa siluman kecil tersebut ke hadapan gurunya.


Sosok Deng Xue yang besar muncul sambil membawa pisau pemotong daging. Dalam sekali pandang, Deng Xue langsung mengetahui bila pemuda yang sedang mencengkeram pergelangan tangan Huli berasal dari Biara Laut Putih.


Kelihatannya Biara Laut Putih memang mengincar gadis kecil tersebut. Entah apa alasannya, Deng Xue sama sekali tidak tertarik untuk mengetahuinya.


"Hey, cepat lepaskan tanganmu dari tangan pegawai baruku!" ancam Deng Xue, suasana di ruangan itu dalam sekejap langsung berubah.


Jujur saja, Song Hao agak terkejut kala melihat penampilan Deng Xue yang sangat sangar. Pemuda botak itu ingin secepatnya pergi membawa Huli, namun aura dari pemilik kedai ini membuat dirinya sulit untuk tidak mengabaikannya.


"Pegawai barumu? Maksudmu siluman kecil ini?" ungkap Song Hao dengan nada yang merendahkan.


"PAMAN!" panggil Huli sekali lagi, ia agak lega saat melihat kedatangan pria besar tersebut.


"Tolong aku! Cepat habisi orang ini seperti Paman menghabisi orang botak yang waktu itu!"


Deng Xue agak panik saat melihat Huli membeberkan rahasianya. Di sisi lain, sebuah pemikiran yang mengejutkan timbul di dalam kepala Song Hao.


"Apa maksudmu?" bentak Song Hao kepada gadis kecil tersebut.


"Huli, kenapa kamu membahas pria botak pemabuk yang semalam mengganggumu?!" ujar Deng Xue, ia masih ingin menyembunyikan identitas dan kekuatannya.


Song Hao terkejut mendengar fakta tersebut. Seketika pemuda botak itu memasang kuda-kuda bertarung, ia siap bertarung melawan Deng Xue. Wajah Deng Xue menggelap, kelihatannya ia tidak punya pilihan selain membongkar identitasnya.


"Katakan! Siapa sebenarnya identitasmu?" ujar Song Hao serius.


Tatapan Deng Xue mengarah kepada dua pelanggan barunya. Sejak kehadiran Huli, kedai miliknya mulai mendapatkan pelanggan yang signifikan.


"Aku minta maaf atas keributan ini! Kalian tidak perlu membayar semua makanan yang sudah kalian pesan!" ucap Deng Xue sambil menundukkan kepalanya.


"Sepertinya kedaiku akan tutup pagi ini!"


"Kami mengerti!" ucap pria paruh baya itu, ia lekas mengajak istrinya untuk pergi meninggalkan kedai tersebut. Sebelum pergi, wanita paruh baya itu meninggalkan sebuah pesan kepada Deng Xue.


"Cincang dia!"


Kepala Deng Xue menggeleng pelan.


"Jangan abaikan aku, s*****!" bentak Song Hao kesal.


Tanpa Song Hao antisipasi, pria besar itu tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Song Hao tercengang, pukulannya siap melesat namun dalam sekejap tangan kekar Deng Xue sudah mencekik lehernya kuat.

__ADS_1


Tubuh Song Hao melemas, ia terpaksa melepaskan gadis kecil tersebut dari cengkeraman tangannya. Setelah Huli lepas, gadis kecil itu langsung pergi menjauh lalu menonton dari tempat yang menurutnya aman.


"Ka-kamu sebenarnya siapa? Apa kamu tidak tahu identitasku?" ucap Song Hao dengan susah payah, ia menyesal telah memilih untuk bertarung melawannya daripada melarikan diri.


"Oh, jadi kamu orang penting?" balas Deng Xue sinis.


"Aku adalah jenius nomor satu dari Biara Laut Putih, namaku Song Hao!" ungkap Song Hao.


Deng Xue seketika melepaskan cekikannya di leher Song Hao. Waktu Song Hao berpikir bila statusnya dapat mengintimidasi Deng Xue, pipinya tiba-tiba mendapatkan sebuah tamparan yang sangat keras.


"Apa kamu pikir aku peduli?" ucap Deng Xue datar.


Tamparan lainnya mulai mendarat di pipi Song Hao. Deng Xue bertubi-tubi mulai menampar pipi kiri dan kanan pemuda di depan matanya. Pemuda botak itu tidak sempat menghindar, ia juga tidak bisa melawan. Waktu itu Song Hao hanya bisa pasrah.


Plak!


"Apa kamu tidak punya tata krama dan sopan santun? Sejak tadi aku sudah memperhatikan sikapmu yang tidak sopan."


"Plak!


"Apa gurumu tidak pernah mengajarimu untuk menjaga sikap? Kamu pasti belum pernah dihajar."


Plak!


"Apa sikapmu seperti ini karena kamu adalah murid nomor satu dari Biara Laut Putih? Begitu ya, aku jadi semakin kesal. Tidak peduli status apa yang kamu miliki, kamu harus selalu menjaga perilakumu, terutama saat kamu berada di dalam rumah orang lain atau di depan orang yang lebih tua."


Plak!


Saat tamparan itu berhenti, pipi Song Hao telah bonyok dan membengkak seperti b**i. Song Hao menatap tajam penuh kebencian kepada Deng Xue. Di dalam hatinya, pemuda itu bersumpah akan membalas penghinaan ini.


"Guruku pasti akan menghabisimu!" ancam Song Hao.


"Oh, benarkah? Siapa nama gurumu?" tanya Deng Xue penasaran.


"Guruku adalah Tetua Peng Mu," jawab Song Hao.


"Orang tua yang picik itu? Pantas saja sikapmu begini."


"Apa kata-"


"Hey, bawa gurumu ke sini sekarang!" potong Deng Xue dengan nada suara yang sangat dingin. Ia ingin menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan Huli sampai tuntas dan tidak bersisa.

__ADS_1


__ADS_2