
Tatapan mata Li Yao menajam menatap mata gadis tersebut, begitu juga sebaliknya. Satu menit hening hanya diisi oleh mereka berdua yang saling bertatapan. Li Yao bisa melihat cerminan dirinya di dalam mata gadis misterius itu, sama halnya dengan gadis tersebut.
"Darimana kamu pelajari seni beladiri barusan?" tanya Li Yao, sangat penasaran.
Mata gadis itu semakin menyipit, mendadak darah yang sangat banyak naik ke atas tenggorokan menuju mulutnya. Gadis misterius itu tidak tahan lalu memuntahkannya.
Wajah Li Yao menjadi gelap, sepertinya ia terlalu berlebihan menyerang gadis kecil tersebut. Li Yao mendesah lalu berjalan mendekati anak perempuan yang sekarang terlihat sangat menyedihkan.
Mengeluarkan pil yang dapat menyembuhkan luka dalam melalui cincin spasialnya, Li Yao memberikan pil tersebut kepada gadis misterius itu. Tangan gadis tersebut menerimanya, tanpa berpikir dua kali ia langsung menelan pil pemberian Li Yao.
"Hey, kenapa kamu langsung menelannya? Apa kamu tidak curiga? Bagaimana jika itu adalah racun?" tanya Li Yao setelah melihat kondisi gadis misterius mulai membaik.
"Itu bukan racun, kan?" ucap gadis tersebut dengan wajah datarnya.
"Tentu saja, bukan!" jawab Li Yao.
"Ya sudah kalau begitu," balas gadis misterius itu, ringan sekali.
"Sekarang jawab pertanyaanku! Darimana kamu pelajari seni beladiri barusan?" Li Yao mengulang pertanyaannya beberapa saat lalu.
"Seni beladiri apa? Aku tak mengerti kata-katamu," tutur gadis tersebut, bohong.
"Hey, jan-"
Seketika gadis misterius memukul kepala Li Yao. Ucapan Li Yao terhenti, ia mengelus kepalanya yang barusan di pukul oleh gadis tersebut.
"Aku lebih tua darimu, panggil aku kakak!" ujar gadis misterius itu.
Li Yao naik pitam, sepertinya gadis tersebut sengaja menghindari pertanyaannya. Kepala Li Yao menggeleng, hampir saja ia menghajar gadis kecil yang imut itu.
"Ingat! Ia hanyalah seorang gadis kecil," ucap Li Yao di dalam hati, sembari menarik lalu menghembuskan napas panjang dan dalam.
"Seni beladiri yang barusan Kakak gunakan itu, bukankah Seni Jalan Surgawi?" tanya Li Yao seraya mengukir senyum.
"Seni Jalan Surgawi? Apa itu?" Gadis tersebut pura-pura bodoh, atau ia memang benar-benar bodoh.
__ADS_1
Lenggang.
Li Yao menepuk dahinya, menyerah menginterogasi gadis kecil misterius itu. Kelihatannya gadis tersebut tak akan menjawab pertanyaannya, tidak peduli apa pun yang akan dikatakan oleh Li Yao.
"Baiklah, lupakan pertanyaanku barusan! Bisakah... Um, Siapa nama Kakak?" tanya Li Yao, entah untuk kesekian kalinya.
"Tao Yuhan!" Gadis kecil misterius itu memperkenalkan namanya.
Ternyata gadis tersebut adalah Tao Yuhan, anak perempuan Ketua Tao Zhen yang kabarnya lemah dan sakit-sakitan.
"Jadi, apa ayah Kakak adalah Ketua Tao Zhen?" Li Yao memastikan.
"Bukan," jawab Tao Yuhan dengan sangat sigap.
Seharusnya Li Yao sudah bisa mengantisipasi jawaban itu. Walau begitu, Li Yao tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghela napas.
"Apa Kakak memberitahukan kedatanganku ke hutan ini kepada ayah kakak yang umurnya tinggal sedikit itu?"
"Tidak!" ungkap Tao Yuhan.
"Aku tidak akan memberitahukan ayahku, jika kamu menginjungiku setiap minggu!" seru Tao Yuhan, ketika punggung Li Yao mulai menghilang di telan jarak
Langkah Li Yao berhenti sesaat, sebelum akhirnya melangkah lagi. Tidak lama kemudian sosok Li Yao menghilang. Tao Yuhan diam memandangi arah hilangnya Li Yao dalam keheningan.
"Aku lupa menanyakan namanya," gumam Tao Yuhan.
"Apa seharusnya, aku mengatakan bila ia harus mengunjungiku setiap hari?"
Di dalam hutan yang sunyi itu, Tao Yuhan lekas melanjutkan latihannya yang sempat berhenti. Tubuhnya sudah baikan akibat memakan pil pemberian Li Yao.
Kini gadis kecil itu kembali sendirian di tengah gelapnya hutan.
***
Selepas meletakkan kotak berisikan perkamen dan berkas-berkas penting ke depan ruangan ketua sekte, Li Yao langsung bergegas masuk ke dalam asrama.
__ADS_1
Langkah Li Yao ringan, ia berjalan mengendap-ngendap supaya tidak ada seorang pun yang menyadari kepergiannya. Sesampainya di dalam kamar, Li Yao lantas membaringkan tubuhnya yang sakit dan kelelahan ke atas kasur.
Qi Li Yao habis saat membuka pintu rahasia di tengah hutan beberapa saat lalu, tubuhnya juga terluka akibat bertarung dengan Tao Yuhan. Li Yao tidak menyangka Tao Yuhan bisa memaksanya sampai seperti ini.
Bagaimana bisa gadis itu menggunakan Seni Jalan Surgawi? Li Yao punya satu dugaan kuat. Apa pun sebabnya, di masa depan nanti Li Yao pasti bisa menemukan jawabannya.
Li Yao segera menelan beberapa pil yang berkhasiat untuk memulihkan kondisi tubuh dan Qi miliknya. Jiwa Li Yao masih terluka akibat terkena serangan Tao Yuhan. Walau sudah memakan pil dan sumber daya, jiwa Li Yao pasti memerlukan waktu untuk sembuh sepenuhnya.
Atribut api phoenix yang bersatu dengan jiwa Li Yao mulai menunjukkan kemampuannya. Perlahan namun pasti, percikan-percikan api tersebut bergerak menyembuhkan luka di sekujur jiwa Li Yao.
Mata Li Yao berkabut, ia kemudian memejamkan matanya lalu tertidur.
***
Hari berjalan seperti biasa.
Satu hal yang berbeda hanyalah wajah pelatih Gao Ming yang biasanya suram kini berseri-seri. Li Yao tahu persis apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ketua sekte dan para tetua pasti merasa sangat lega setelah mendapatkan kotak dari seseorang yang misterius. Kotak itu adalah kotak yang dapat menyelamatkan sekte dari kehancuran.
Beberapa hari berlalu, hari yang dijanjikan untuk membayar utang akhirnya tiba. Gerombolan pria tak tahu diri tersebut kembali datang mengunjungi Sekte Jalan Pegunungan.
Ketua Sekte Tao Zhen bersama keempat tetua sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Keempat tetua itu adalah Pelatih Gao Ming, Bendahara Ma Heng, Pelatih Gong Yu, dan Tangan Kanan Ketua Sekte Fu Liu.
Li Yao mengawasi pertemuan itu dari atap bangunan secara diam-diam.
Seluruh gerombolan tersebut terengah-engah kelelahan, capek mendaki gunung untuk sampai ke tempat ini. Meski demikian senyum tidak hilang dari wajah mereka. Hari ini adalah hari terakhir mereka mendaki gunung seperti ini.
Setelah menyita Sekte Jalan Pegunungan, mereka akan menjualnya kepada orang itu dengan bayaran yang sangat fantastis. Memikirkan hal tersebut membuat mereka sangat bahagia.
Mereka tidak tahu bahwa yang menanti hanyalah kesialan.
"Ketua Sekte, apa kalian sudah bersiap untuk pergi meninggalkan Sekte Jalan Pegunungan?" ujar pria gemuk itu sambil tersenyum sinis, ia adalah pemimpin gerombolan tersebut.
Tao Zhen bersama keempat tetua lainnya tersenyum, Gao Ming bahkan tertawa pelan usai mendengar ucapan pria yang gemuk itu. Sikap dan raut wajah mereka sangat jauh dari yang di bayangkan oleh gerombolan tersebut.
__ADS_1
Seluruh pria di dalam gerombolan itu bingung. Apakah Ketua Sekte dan para Tetua dari Sekte Jalan Pegunungan sudah menjadi gila karena tidak mampu membayar utang?