
...[Jangan lupa tinggalkan komentar dan like setelah membaca]...
________________________________________________
“Monsteeeeer!.”
Orang-orang disekitar dungeon berteriak histeris saat melihat monster gumpalan besar berjalan menuju pintu masuk dungeon.
“Kita harus menghentikannya agar tidak terus memakan orang-orang.” ucap Regina.
Regina dan Cecilia saat ini tengah menyamar dengan merubah rambut keduanya menjadi putih sementara pakaian yang telah disiram bensin mereka berikan pada monster slime untuk menghilangkan jejak.
“Aku meminta maaf karena hanya modal itu yang aku miliki.” balas Kirana yang seolah tidak peduli jika monster ciptaannya mulai membunuh banyak orang di sekitar dungeon.
“Aku sama sekali tidak masalah dengan pakaian yang kau berikan, jadi bisakah kau menyuruh monster itu berhenti?.” Regina terlihat tidak tahan melihat puluhan orang mulai dimakan oleh monster slime.
Sementara itu Cecilia hanya diam melihat pembantaian itu seolah tidak peduli.
‘Aku pikir itu adalah karma yang mereka dapatkan karena tidak melakukan apapun saat kami diseret untuk dibakar hidup-hidup.’ Cecilia berpikir jika kematian mereka pantas dapatkan karena ketidak pedulian yang mereka tunjukkan pada dirinya dan Regina.
Akhirnya Regina hanya diam melihat pembantaian itu dari kejauhan, dia berpikir apa yang bisa dilakukan untuk mengalahkan monster itu.
‘Tidak ada, monster itu tidak bisa dilawan.’
Regina melihat para petualang yang berniat menantang dungeon justru mati dimangsa oleh monster slime.
Hingga sekelompok Hunter datang, Cecilia dapat merasakan perubahan perasaan pada wanita bernama Kirana.
‘Dia terlihat senang saat melihat para Hunter itu.’ batin Cecilia.
Sekelompok Hunter yang baru tiba merupakan Hunter tingkat B namun ada juga tingkat A yang berjumlah dua orang. Mereka yang masih bertahan di sekitar dungeon terlihat senang saat kelompok Hunter itu datang.
“Apa kau tahu siapa mereka?.” tanya Kirana.
“Haaah? Kau terlihat senang saat melihat kedatangan mereka, aku pikir kau tahu mereka siap.” balas Regina.
“Aku tidak tahu, aku hanya merasa senang saat melihat kekuatan mereka sepertinya cukup kuat. Itu akan memberiku banyak informasi tentang sekuat apa monster yang baru aku ciptakan.”
Regina tidak bisa berkata-kata saat menyadari jika Kirana hanya menganggap semua orang yang tengah bertaruh mempertaruhkan nyawa, tidak lebih dari kelinci percobaan.
__ADS_1
“Bahkan kelompok Hunter rank A juga tidak bisa mengalahkan monster itu.” ucap Cecilia pelan.
Ketiganya masih tetap menonton, namun kali ini mereka sudah beralih ketempat yang lebih nyaman. Di atap sebuah gedung, sambil menikmati popcorn dan kacang goreng mereka menonton pertunjukan.
“Sial, ada apa dengan kota ini, kenapa tidak ada satupun pedagang yang menjual kola?.” Kirana sangat marah karena tidak ada kola yang bisa dia dapatkan.
“Beberapa hari lalu seorang ilmuwan membeli stok kola di kota ini dengan alasan dia akan menciptakan mesin dengan bahan bakar kola.” Cecilia terlihat menikmati pertunjukan, mulutnya tidak berhenti mengunyah popcorn sambil sesekali akan meminum soda lemon.
“Aku merasa telah menjadi seorang sosiopat saat melakukan ini.” Regina sudah tidak peduli dengan perasaan bersalah yang dia rasakan saat menonton pembantaian.
Kirana sudah mengatakan rencananya untuk menjadikan kekacauan saat ini sebagai ajang promosi untuk guild Marcenaries yang akan dia bangun.
“Lebih, buat keadaan menjadi lebih heboh lagi.” dengan senyum lebar Kirana terus nikmat pertunjukan.
***
Semakin lama keadaan semakin bertambah kacau. Hunter rank tinggi semakin banyak berdatangan karena panggilan darurat. Saat mereka sampai di tempat kejadian, semuanya dikejutkan oleh monster gumpalan hijau setinggi gedung empat lantai. Di dalam tubuh monster itu terlihat ada puluhan orang yang sedang tersiksa saat tubuh mereka sedang dicerna.
“Monster ini akan terus tumbuh saat semakin banyak dia makan.”
“Bukankah monster ini tipe slime? Kita bisa mengalahkannya dengan menghancurkan intinya!.”
Para Hunter mencoba mencari cara untuk mengalahkan monster slime yang semakin membesar. Para warga semakin panik melihat ukuran monster, mereka meminta agar Hunter tingkat S yang menjadi kebanggaan kota untuk segera turun tangan. Banyak juga mobil stasiun televisi yang mulai berdatangan meliputi penaklukan monster slim.
Melihat keramaian itu Kirana mengaggap jika sudah saatnya untuk dia beraksi.
“Oke, ini sudah cukup.” kata Kirana yang mulai bangkit dari tepian gedung, kedua perempuan yang bersamanya pun mengikutinya.
“Tidak ada skenario yang perlu kalian hafal, hanya perlu mengikuti ku.” kata gadis itu pada dua perempuan yang menutupi mata mereka menggunakan kain hitam. Walaupun mata keduanya tertutup kain tapi penglihatan mereka tidak sedikitpun terganggu.
Groaaaaaar...
Bagaikan sebuah banjir bandang, monster raksasa itu merubah dirinya menjadi gelombang cairan untuk menenggelamkan orang-orang yang mencoba melihat lebih dekat.
“Menjauh menjauh jangan sampai terkena cairan itu atau kau akan meleleh!.”
“Minggir-minggir salam beri aku jalan!.”
“We Gona to Die!.”
__ADS_1
Saat semua orang saling berebut untuk segera pergi menjauh dari gelombang hijau, tiga perempuan berlari di atas mobil-mobil yang terparkir.
Namun Regina teralihkan saat dia melihat anak kecil yang menangis sambil mencari orang tuanya. Anak kecil itu terjatuh akibat terdorong oleh mereka yang berlarian.
“Jangan menghalangi jalan bocah!.” bentak seorang pria yang telah menabrak anak kecil tadi hingga membuatnya terluka. Karena marah melihat kejadian itu membuat Regin segera menghajar pria tak punya empati tersebut lalu segera menolong si anak hilang.
“Hueeee... mama papa hueeee.”
“Jeesss, kenapa ada seorang anak kecil di tempat seperti ini, dan di jam segini?.” Regina menggunakan sihir penyembuh untuk mengobati lutut anak itu yang terluka.
Sementara itu Cecilia menggunakan kemampuan miliknya mengontrol emosi para Hunter agar tidak panik. Hunter yang telah tenang karena efek sihir Cecilia, mereka segera membantu menertibkan proses evakuasi. Tindakan Cecilia membuat banyak orang memperhatikannya.
Kirana yang melihat tindakan kedua perempuan itu tersenyum puas, ‘Popularitas Backbone Company akan naik tinggi.’ pikir Kirana.
“Oke sekarang giliran aku yang masuk ke panggung.” Kirana berlari kerah monster ciptaannya sendiri. Monster slime yang telah menjadi begitu besar karena telah memangsa puluhan mayat pun terlihat bahagia saat melihat Kirana.
“Kau terlihat begitu manis, tapi sayang maafkan aku untuk ini.” Kirana menjulurkan tangannya yang dengan cepat memunculkan beberapa lingkaran sihir berwarna biru.
“[Gusts of Wind from Niflheim].”
Lingkaran sihir yang terlihat luar biasa namun hanya menghasilkan hembusan angin sepoi-sepoi, tapi efek dari angin itu mampu membuat iklan di kota menjadi begitu dingin seolah kota telah berpindah ke kutub Utara.
Monster slime yang semula ingin memeluk Kirana, dalam sekejap menjadi bongkahan es. Melihat itu semua orang hanya terdiam, entah karena hawa dingin yang mereka rasakan atau pertunjukan singkat Kirana melawan monster yang sangat mempesona.
“Mungkin aku harus melakukannya dengan lebih epik.”
Kirana menyesal karena mengalahkan slime hanya dengan satu sihir. Kirana kemudian menghentikan sihir yang dia gunakan sehingga iklim kota kembali normal.
Setelah hawa dingin menghilang, dalam sekejap kota dipenuhi oleh suara kegembiraan.
***
Chapter 14 Dungeon nya Kapan?.
[Author : mungkin chapter berikutnya]
END.
__ADS_1
...[Jangan lupa tinggalkan komentar dan like setelah membaca]...