Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 24 : Hunter Baru


__ADS_3

Pusat asosiasi Hunter kota Yogya.


Pagi itu keadaan asosiasi begitu sibuk, banyak Hunter yang datang pagi-pagi untuk mengambil misi dari asosiasi.


Di tengah keramaian terdapat seorang wanita berambut putih dan mengenakan gaun hitam bersama seorang anak lelaki dengan ciri-ciri yang sama, keduanya mengenakan penutup mata yang begitu mencolok.


Beberapa Hunter melirik keduanya terutama pada si wanita yang terlihat begitu seksi. Tapi karena pagi itu begitu sibuk membuat perhatian semua orang teralihkan pada pekerjaan mereka sendiri.


“Para manusia di dalam gedung ini rata-rata hanya memiliki level 5 hingga 15, sementara yang terkuat hanya di level 30.” pemuda berambut putih itu menatap sekeliling hingga ke langit langit seolah dia dapat melihat ada apa di lantai atas. “Sangat lemah.” lanjutnya.


“Itu normal karena dimensi ini masih dalam fase pertama penyebaran mana.” bala rekannya, si wanita memperingati anak lelaki itu untuk bersikap sopan pada semu orang agar tidak mencemarkan nama baik organisasi.


Keduanya kemudian menghampiri konter pendaftaran Hunter. Konter itu kosong tanpa satupun Hunter yang mengantri, berbeda dengan konter penerimaan misi disampingnya yang memiliki antrian begitu panjang.


“Anda hanya perlu mengisi formulir ini setelah itu kalian kembali kemari, jangan lupa untuk biaya pendaftaran sebesar satu setengah juta.”


Resepsionis itu terlihat begitu sibuk melayani para Hunter, sehingga dia hanya menyerahkan formulir pendaftaran lalu kembali ke konter sebelah.


“Sungguh manusia yang bekerja keras.” wanita berambut putih itu sana sekali tidak marah dengan pelayanan yang ditunjukkan oleh resepsionis barusan. Justru dia merasa kagum saat melihat resepsionis masih dapat melayani keduanya dengan senyuman walaupun dia saat ini begitu kerepotan.


Ada total sebelas konter, yang satu khusus digunakan untuk melayani pendaftaran Hunter baru sementara sisanya untuk melayani Hunter yang ingin menjual material atau mengambil misi (quest).


Di kedai yang masih terletak di dalam gedung asosiasi Hunter, keduanya tengah duduk di salah satu meja untuk mengisi formulir pendaftaran Hunter baru.


“Nama… ns1000.” pemuda itu memberi kolom nama dengan nama yang aneh, begitu juga si wanita yang memasukkan namanya dengan ‘2b1’.


“Apa kita benar-benar akan menggunakan nama seri kita dan terus mengenakan penutup mata, Bukankah ini terlalu mencurigakan?.” pemuda berambut putih merasa aneh dengan nama yang dia gunakan.


“Aku pikir itu wajar karena banyak juga Hunter menggunakan nama dan kostum aneh dengan tujuan menarik perhatian atau sekedar menyamarkan identitas.” balas rekannya.


Faktanya di dalam gedung asosiasi Hunter saat ini lebih seperti sedang diadakan festival Cosplay, dimana banyak orang mengenakan kostum aneh seperti pahlawan Super Sentai yang mengenakan kostum warna warni, ada juga Hunter berkostum manusia bertopeng seperti atlet gulat.


Mereka melakukan itu untuk menarik perhatian masyarakat agar dikenal dan mendapatkan sponsor. Dari sekian banyak Hunter berkostum, penutup mata yang dikenakan oleh keduanya tidak ada apa-apanya dengan keanehan mereka.


“Tapi tetap aku merasa aneh menggunakan nomor seri sebagai namaku.” pemuda itu hanya menatap kolom nama 0ada formulir, dia seolah ingin menghapus nama yang telah dia tulis.


“Haaah… bukankah Master sudah mengijinkan kita untuk buat apapun yang kita inginkan selama tidak menyebabkan masalah?.”


Mendengar perkataan rekannya membuat pemuda itu tersenyum lebar. Dia segera menghapus nama yang telah dia tulis lalu menuliskan nama baru.


“Nins thousand?”


“yeah… bagaimana menurutmu.”


“Itu lebih.… Lebih manusiawi.”


Meniru rekannya, wanita itu pun mengganti nama pada formulir menjadi ‘Towby one’.


“Hehe… not bad.” komentar Nins melihat rekannya akhirnya mengganti namanya.


Nins dan Towby terus mengisi formulir, mereka sempat bingung saat menuliskan tentang umur.


“Terakhir yang aku ingat telah melayani Commander selama empat ratus tahun.” ucap Towby.


“Kalau aku baru tiga ratus tahun sebelum akhirnya manusia saling berperang.” balas Nins.

__ADS_1


Mereka tentu tidak bisa memasukkan angka-angka itu kedalam formulir karena tentu hanya akan dianggap sebagai lelucon, hasil terburuknya mereka tindak akan lulus menjadi seorang Hunter.


“Well aku pikir tinggi badanku tidak berbeda jauh dengan wujud master di dimensi ini, benar bukan? Jadi kupikir akan memasukkan umurku 16 tahun.” merasa seperti seorang jenius, Nins terus mengisi formulir dengan senyum yang lebar.


Sementara Towby masih kebingungan dengan usia yang akan dia masukkan. Perhatian keduanya teralihkan saat pelayan kedai mengantarkan pesanan.


Keduanya tidak benar-benar lapar atau haus karena dengan bernafas saja sudah cukup untuk mengisi ulang energi. Tapi keduanya tetap memesan hanya untuk diperbolehkan duduk di kursi itu.


Ketika pelayan perempuan meletakkan pesanan di atas meja, Towby melihat jika tinggi badannya dengan si pelayan tidak jauh berbeda. Towby kemudian segera meraih tangan pelayan itu yang membuat si pelayan terkejut, tapi semakin lama tatapan mata si pelayan menjadi kosong seperti seorang yang terkena hipnotis.


“Berapa umurmu?.” tanya Towby yang dijawab dengan datar oleh si pelayan, “21 tahun”.


Setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan Towby segera melepas tangan si pelayan. Saat hipnotis telah terlepas si pelayan terlihat kebingungan, dia tidak ingat apa yang beru saja terjadi.


Si pelayan masih kebingungan hingga seseorang yang terlihat seperti koki memarahinya untuk kembali berkerja.


“Done…” gumam Towby saat menulis angka '21' pada kolom usia.


Formulir keduanya hampir selesai hanya tersisa pertanyaan tentang tujuan mereka menjadi seorang Hunter dan afiliasi dengan Guild.


“Untuk melayani master.” Towby menuliskan alasannya.


“Tujuan, kah? Hemm.... aku pikir untuk menjalani kehidupan seperti yang aku mau selama master mengizinkan. Dan yang lebih penting aku ingin melihat dunia ini.” tulis Nines.


Pemuda itu berbeda dengan rekannya Towby. Dia ingin melihat dunia ini karena saat dia diciptakan dunia sudah hancur, Nines hanya dapat melihat kemegahan dunia lama lewat data yang masih tersisa di pesawat Big Bro.


Setelah mengisi alasan menjadi Hunter, hanya tersisa satu pertanyaan sebelum formulir itu mereka selesaikan.


‘Afiliasi guild.’


““BlackBone””


***


Kediaman Kirana.


Leona berdiri di depan pintu masuk. Pakaian yang dia kenakan hanya daster putih dengan topi jerami besar di kepalanya, membawa sebuah tas jinjing dan memakai sendal jepit. Gadis itu sudah bersiap untuk menghabiskan hari terakhir liburan di pantai bersama temannya.


“Aku tidak tahu jika Cecilia tinggal disini.” gumam Leona.


Sempat merasa jika dia salah alamat, Leon kembali mengecek pesan chat dari Cecilia. Dan ternyata memang benar alamat yang diberi oleh temannya memang tidak lain rumah yang saat ini dia tatap.


Merasa yakin Leona pun menekan tombol bel. Tidak lama setelah itu pintu terbuka namun gadis yang keluar bukanlah temannya Cecilia, melainkan…


“Kirana?.” Leona menjadi kebingungan.


“Oh kau sudah datang! Mari masuk.”


Kirana mempersilahkan temannya yang masih kebingungan untuk masuk kedalam rumahnya.


“Tapi Cecilia memberi tahuku dia ada di sini.”


“Hemn… Cecilia? Ya dia ada dilantai atas menunggumu.”.


Kirana mengantar Leona ke kamarnya di mana Cecilia tengah duduk di atas tempat tidur sambil memeluk bantal seolah sedang memikirkan sesuatu. Saat dia melihat Leona, Cecilia terlihat khawatir.

__ADS_1


“Well, kalian berbicara saja dulu. Aku akan mengambil teh dan cemilan.” ucap Kirana yang segera meninggalkan keduanya di kamarnya.


“Cecil ada apa, kenapa kau berada di rumah Kirana? Aku pikir kalian baru bertemu dua hari lalu.” Leona terus melempar pertanyaan pada Cecilia. Dia merasa heran karena kedua temannya yang terlihat tidak terlalu dekat tiba-tiba sudah satu rumah.


“Itu terjadi begitu saja. Ada masalah di tempat kakak perempuan ku tinggal hingga membuat kami terpaksa pindah. Beruntung kakak memiliki sahabat di daerah ini dan secara kebetulan itu adalah bibi dari Kirana. Jadi begitulah kenapa saat ini aku berada dirumahnya.”


Cecilia bercerita panjang lebar. Tidak semua dari cerita yang Cecilia katakan adalah kebohongan.


Mereka memiliki masalah dengan Guild Wongasu dimana guild itu menguasai tempat keduanya tinggal. Karena merasa bertanggung jawab Kirana melindungi Cecilia dan Regina di dalam rumahnya. Sementara tentang pertemanan Regin dan Commander yang merupakan keluarga bagi Kirana, anggap saja itu sebagi bumbu penyedap.


“Okeyyyy.” Leona masih tidak sepenuhnya percaya, tapi selama kedua temannya saling berteman baik itu bagus menurutnya.


Mungkin.


“Jadi kenapa kau bertingkah aneh?.” tanya Leona.


“Apa maksudmu?.” Cecilia mencoba menghindari kontak mata dengan temannya, tapi itu justru membuat Leona yakin jika ada sesuatu yang Cecilia sembunyikan.


Karena terus ditatap dengan tajam oleh Leon membuat Cecilia akhirnya menyerah.


“Leona, kita sudah berteman lama bukan?.”


“Yah itu sejak kita masih SMP. Apa yang salah Cecil, kau membuatku sangat khawatir.”


Dengan wajah yang penuh kekhawatiran Cecilia mulai bangkit dari tempat tidur. Dia berdiri di depan Leona dengan posisi agak berjauhan.


Leona begitu terkejut saat melihat sebuah ekor berada di belakang Cecilia.


“Cecil… ekor itu.”


“Maaf Len... aku menyembunyikan fakta jika aku seorang mutan selama ini karena takut kau akan menganggap aku aneh dan berhenti berteman den ku… yhaaaa!.”


Perkataan Cecilia terputus saat tiba-tiba Leona mendekat lalu bermain-main dengan ekor Succubus milik Cecilia.


“Huwaa… ini bergerak-gerak seperti ekor kucing.” seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru, Leona terus bermain dengan ekor itu.


“Len, hentikan.. itu … sangat…. Ugh.” sementara Cecilia terus menahan dirinya karena merasa sensasi aneh dari ekornya yang merupakan bagian paling sensitif.


“Aku ingin lihat ujungnya.” dengan cepat Leona menurunkan celana shot pendek yang Cecilia kenakan. Cecilia tidak dapat menghentikan temannya karena tubuhnya terus mendapatkan r4ngsang4n di ekor.


Saat Leona yang terus bermain ekor sementara Cecilia berusaha menjaga mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara aneh.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kirana terdiam melihat kedua temannya yang sedang dalam posisi aneh.


Cecilia berdiri dengan pakaian bawah diturunkan, sementara Leona jongkok didepannya begitu dekat.


Sangat canggung hingga tidak ada seorangpun yang bergerak.


Hingga akhirnya Kirana mengambil salah satu cangkir teh yang dia bawa untuk dia minum sendri lalu.….


Berrrrr...


Haya untuk dia semburkan.


***

__ADS_1


Chapter 24 Hunter Baru


END.


__ADS_2