Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 49 : Sebuah Tinju Penuh Ledakan


__ADS_3

Ruang kebugaran rumah Leona begitu besar, banyak alat kebugaran yang terdapat di ruangan itu menjadikannya seperti gym besar. Ditengah ruangan terdapat arena tanding di mana Leona dan Alexander saat ini saling berhadapan.


Leona mengenakan sarung tinju yang selalu dia gunakan untuk berlatih, melihat itu Alexander menertawainya karena dia berpikir kekuatan Leona tidak akan bisa menyentuhnya yang merupakan seorang Spearman (pengguna tombak).


“Adik ku tercinta, aku menyarankan mu untuk turun dari panggung dan mengikuti semua nasehat yang aku katakan sebelumnya untuk kebaikanmu. Sebelum kau ter...”


“Kau siap?.”


Leona memotong perkataan Alexander karena bosan dengan semua perkataan kakaknya. Tapi itu tentu membuat Hunter rank A tersebut murka.


“Kau yang meminta!.” Alexander segera menerjang kearah Leona yang berjarak 10 meter, menggunakan tombak untuk berlatih yang hanya terbuat dari kayu serta tanpa sisi tajam, Alexander mengarah tombak itu ke perut Leona.


Leona menggunakan tendangan untuk menangkis tombak, lalu melompat dengan satu kaki untuk lebih dekat pada kakaknya. Jarak Leona dan Alexander semakin menipis sehingga gadis itu dapat melancarkan serangannya, tapi tentu Alexander yang telah memiliki banyak pengalaman dapat menghindar dari pukulan adiknya.


“Kekuatan seperti ini kau gunakan untuk melawanku?.” Alexander tersenyum lebar “Berhenti bermimpi gadis kecil.”


Wusss...


Braak!


Ayunan cepat hingga tombak kayu itu memukul pinggul Leona, membuat wajah gadis itu terpelintir menahan sakit. Tapi itu bukan sebuah pukulan sempurna karena kaki Leona berhasil menendang perut Alexander.


Bam!


“Gahak…”


Alexandre mundur beberapa langkah terdorong oleh tendangan adiknya, perut lelaki itu terasa mual hingga dia hampir memuntahkan sarapannya. Begitu juga dengan Leona yang merasakan sakit di punggung.


“Ugh... boleh juga kau.” ucap Alexander sambil mengelus dada, “Tapi permainan baru saja dimulai.” Alexandre bersiap untuk menggunakan skill yang dia kuasai.


“Peningkatan kecepatan, [Thorns Strom]!.”


Kecepatan serangan tombak Alexander semakin ditingkatkan berkat sihir penguat, lalu skill serangan tombak berbasis elemen angin membuatnya bagaikan badai penuh duri.


Menghadapi serangan kakaknya Leona hanya bisa bertahan. Jarak serangan antara tombak dan tangan kosong tidakkah sebanding membuat Leona tidak bisa melakukan serangan. Tapi itu tidak berarti Leona hanya membiarkan tubuhnya menerima pukulan begitu saja, dia hanya sedang menunggu kesempatan.


“Hahaha…. Sudah aku bilang percuma saja kau melawan!.” Alexander begitu senang saat melihat adiknya hanya bisa bertahan dengan menutupi wajahnya sementara dia terus memukuli tubuhnya.


Alexandre berniat melampiaskan kemarahannya pada Leona karena usaha untuk menjadi petinggi guild Mahakam gagal. Dia terus menyerang dengan membabi buta hingga tidak menyadari jika telah melakukan serangan fatal.


Serangan Alexander semakin melebar saat tangannya mulai kelelahan karena terus mengayunkan tombak, Leona yang telah menunggu kesempatan pun akhirnya mendapatkannya.


Leona berhenti bertahan, dengan lembut dan tenang gadis itu menghindari satu persatu serangan Alexander yang mulai turun kecepatannya, lalu dengan sekuat tenaga Leona melayangkan pukulannya.


Praaang!


“!!!”


Sebuah pelindung dihantam oleh tinju Leona, dua sama sekali tidak menyadari jika kakaknya begitu waspada hingga menggunakan sihir perlindungan yang entah kapan dibuat. Leona merasa jika Alexander seolah dapat membaca pikirannya hingga tahu kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan.

__ADS_1


“Hahaha… kau pikir dapat semudah itu melakukan serangan dadakan, hah!.” Alexander mundur satu langkah menjauh dari Leona agar tetap aman.


Walaupun dia terlihat begitu gembira karena tidak terkena serangan Leona, tapi dalam hati Alexander mengutuk.


‘Gila apa-apaan pukulan itu, dia mampu menghancurkan perisai dari kalung perlindungan dengan satu pukulan.’ Alexandre tidak mengira jika Leona bisa menghancurkan perisai dari aksesoris yang dia gunakan begitu mudah.


Kalung perlindungan adalah sebuah item tingkat B yang Alexander dapatkan dari pelelangan setelah menghabiskan ratusan ribu koin emas. Item itu memiliki kemampuan menciptakan sebuah perisai yang dapat menahan hingga 1000 kerusakan dan hanya akan aktif enam jam sekali.


Sebuah kecurangan karena Alexander menggunakan item pendukung, tapi pemuda itu tidak peduli karena ayahnya yang merupakan wasit pertandingan pun tidak hanya diam walaupun sudah mengira ini akan terjadi.


‘Tentu saja ayah hanya akan tetap diam, itu karena dia sebenarnya hanya mengaggap pertarungan ini sebagai sebuah lelucon. Mana mungkin dia akan menyerahkan perusahaan Wildroar yang ditakdirkan untuk menjadi milikku pada putrinya yang tidak tahu apapun tentang bisnis keluarga.’


Alexandre berpikir begitu percaya diri walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa yang sebenarnya ayahnya pikirkan.


Serangan Alexander terus mengenai tubuh Leon, walaupun gadis itu sesekali menghindar tapi kecepatan Alexander lebih besar darinya membuat tubuhnya terus kena pukulan.


‘Jika saja Cecilia di sini untuk membantuku dengan sihir pendukung miliknya pasti aku dapat menyamai kecepatan kakak dan pertarungan ini akan sepadan, tapi.…’


Leona teringat dengan pertaruhan yang dia lakukan. Jika dia kalah dari kakaknya maka Leona harus berhenti berteman dengan Cecilia dan Kirana.


Ketika pikirannya teralihkan dengan teman-temannya, Alexander mengambil kesempatan itu untuk melancarkan serangan pamungkas. Lelaki itu segera mundur satu langkah lalu mengambil kuda-kuda dan kemudian dengan hentakan kerah dia menyodok kuat tombaknya kearah Leona.


“[Wind drill Spear]!.” sebuah skill dengan tingkat kerusakan tinggi menghantam tubuh Leona dan mendorongnya hingga belasan meter ke ujung arena.


“Gahhak…” darah segar keluar dari mulut gadis itu saat tubuhnya terkapar di lantai.


“Itu sakit…” gumam Leona.


***


......


***


Di dalam rumah mewah nan luas, seorang gadis cantik hidup seorang diri.


Setiap pagi dia bangun pagi bukan dibangunkan oleh ibu atau ayah maupun saudaranya, melainkan pembantu yang melakukan semua pekerjaan hanya untuk melaksanakan tugasnya.


Si gadis tidak pernah berbicara saat di dalam istana yang orangtuanya bangun. Bukan karena gadis itu adalah seorang pemalu, namun menang karena tidak ada yang bisa dua ajak bicara. Ayah dan kakaknya selalu sibuk tentang pekerjaan sementara ibunya yang merupakan seorang anggota militer jarang pulang menemuinya.


Dia pernah beberapa kali mencoba mengobrol dengan para pembantu namun mereka hanya mengaggap gadis itu sebagai pengganggu.


Dunia begitu terasa sunyi untuknya.


Hingga akhirnya rumah gadis itu dipindahkan ke tempat di mana ayahnya dilahirkan. Rumah itu tidak sebesar istana yang dulu dia tempati, namun bagi si gadis besar ataupun kecil semuanya terasa sepi saat tidak ada seseorang yang mengajak dia berbicara.


Terasa menyakitkan saat kau bangun pagi dan tidak ada seorangpun yang menyambut mu di meja makan, begitu menyakitkan saat pulang dari sekolah dan tidak ada seorangpun yang menyapamu.


“Tapi… karena dia... teman ku.. aku...” dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, Leona berusaha untuk bangkit. Aleksander berdecak lidah saat melihat adiknya kembali bangkit.

__ADS_1


“Kau melakukan semua ini hanya untuk bersama para mutan menjijikkan itu? Dasar anak bodoh, tidak berguna.”


Alexandre kembali melakukan serangan, karena terlalu lemas Leona tidak dapat bertahan maupun menghindar yang berakibat sekujur tubuhnya hanya menjadi samsak tinju untuk serangan Alexander.


Rasa sakit yang tubuhnya alami sungguh pedih, namun dia masih dapat menahannya. Walaupun harus jatuh dia dapat bangkit lagi, Leona dapat melakukan itu untuk berkali-kali hingga tubuhnya hancur.


Tapi jika gadis itu dihadapkan kembali pada sakitnya kesendirian, di mana dirinya harus meninggalkan kedua temannya yang selama ini menemaninya hingga tidak lagi merasa sepi.


Gadis itu akan benar-benar hancur.


“Menyerah sudah, brengsek!.”


Braaak!


Alexandre memukul keras tubuh Leona hingga tombak kayu yang diagungkan telah patah. Namun dengan tubuh yang dipenuhi luka gadis itu masih dapat berdiri, sementara tangan Alexandre bahkan tidak dapat menggenggam karena kulitnya sedikit mengelupas.


‘Si brengsek ini mempermainkan aku!.’


Dengan penuh amarah karena tidak kunjung menenangkan pertandingan, Alexander berniat menghajar adik perempuannya dengan tangan kosong. Ayah mereka yang sejak tadi melihat, sekarang mulai turun tangan karena mengaggap Alexander akan melampaui batas karena emosinya.


Tapi sebelum Nagasra bahkan bangkit dari kursinya, sebuah ledakan besar terjadi di tempat Leona berdiri.


Blaaar!


Sejumlah besar energi keluar dari tubuh gadis yang rambutnya mulai memancarkan cahaya keemasan, tapi cahaya itu perlahan berubah menjadi merah saat tatapan Leona terarah pada Alexander.


“Beraninya serangga sepertimu menghina teman-temanku!.” suara penuh intimidasi hingga di setiap kalimat membuat getaran di ruang latihan.


“Wat d ….”


Alexandre begitu terkejut saat melihat perubahan yang terjadi pada adiknya. Tapi dia tidak diberikan kesempatan untuk terkejut karena hantaman dari Leona memukul wajahnya.


BAM!


Ledakan api tercipta saat pukulan Leona mengenai wajah Alexander.


Pukulan yang begitu keras hingga Alexander terpental begitu kuat, dinding rumah mereka jebol hingga tubuh Alexander terbang keluar kompleks perumahan.


Setelah melakukan K.O pada Alexander, tubuh Leona yang tidak dapat bertahan lebih lama akhirnya terjatuh di atas ring. Sekarang hanya tersisa Nagasra yang masih tercengang dengan apa yang baru saja dia lihat.


“Ba… ba... bangkit! Anak ku terbangkitkan!.” pria setengah baya itu begitu histeris saat menyadari kekuatan Leona yang tiba-tiba meledak adalah hasil dari kebangkitan.


***


Konsep Leona Wildroar, Yang Ruby.



Chapter 49 : Sebuah Tinju Penuh Ledakan

__ADS_1


END.


__ADS_2