Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 50 : Sebuah Lelucon yang Buruk


__ADS_3

“Aku pikir Leona tidak akan masuk sekolah hari ini.”


ketika mengendarai sepeda menuju stasiun, Kirana memberitahu Cecilia apa yang baru saja terjadi di rumah keluarga Wildroar, dari kejauhan mereka melihat awan debu yang tercipta dari ledakan pukulan Leona.


Cecilia merasa iri dengan temannya yang telah menjadi seorang Awakened, dia pun bertanya pada Kirana bagaimana cara untuk menjadi seorang Awakened.


“Menjadi seorang Awakened berbeda pada setiap orang.”


“Tapi waktu itu ketika aku dan kak Regina hampir dibunuh oleh anggota guild Wongasu, kau mengatakan aku akan terbangkitkan jika mereka melakukannya kan?.” Cecilia teringat kejadian malam itu sangat pertama kali di bertemu dengan Kirana.


“Ya itu benar...” Kirana menghentikan perkataannya saat sebuah ambulans melaju cepat kearah perumahan elit tempat rumah temannya berada.


“Lena bangkit karena dia tidak ingin kehilangan ikatan pertemanan dengan kita, sementara waktu itu yang aku lihat tentang dirimu yang terbangkitkan akibat kehilangan seseorang yang sangat berarti.”


Kirana mengatakan itu sebagai ‘penglihatan’ masa depan, dia tidak ingin Cecilia bertanya macam-macam jika tahu Kirana memiliki ingatan tiga ribu tahun masa depan.


“Jadi apa Awakened berhubungan dengan sebuah ikatan (keluarga, teman dan cinta).”


“Tidak, lebih tepatnya emosi seseorang yang dirasakan saat ikatan itu bermasalah.”


Cecilia masih tidak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan oleh Kirana, tapi setidaknya dia memahami konsepnya.


“Emosi, bukankah itu keahlian ku untuk memanipulasinya?.”


Kirana melirik teman yang berkendara sepeda di sampingnya, dia masih memikirkan cara untuk menjadi seorang Awakened. Kirana memikirkan lagi apa yang dulu Cecilia lakukan saat menjadi Ratu Kecemburuan.


‘Dia mampu membuat seseorang menjadi Awakened hanya dengan satu kedipan. Itu sangat gila.’


Keduanya berhenti mengobrol ketika telah sampai di setasiun. Di dalam kereta Cecilia masih membicarakan tentang Awakened, hingga diperjalanan menuju sekolah pun dia masih membicarakannya. Hingga Kirana akhirnya memberikan saran padanya.


“Coba saja kau jatuh cinta pada seseorang lalu kau putus dengannya, mungkin itu akan membuatmu terbangkitkan.”


“Serius? Mana bisa begitu, jika terbangkitkan bisa terjadi semudah itu pasti setiap hari akan ada seorang Awakened yang terlahir.”


“Itu karena perasaan mereka tidak sampai ketingkat obsesif. Well... seperti sebuah cerita manga dan anime, seseorang akan menerima ‘power up’ ketika keadaan begitu genting, seperti yang terjadi pada Leona yang hampir kalah melawan kakaknya. Mungkin kau juga bisa menjadi seorang Awakened ketika dihadapkan pada keadaan sulit seperti itu.”


Keduanya tiba di sekolah sehingga menghentikan pembicaraan apapun tentang Leona dan Awakened.


Kirana dapat merasakan banyak tatapan mata tertuju padanya begitu juga dengan Cecilia. Tatapan yang mengancam bukan hanya dari murid 1 yang selalu menganggap jika keduanya adalah sebuah parasit yang menempel pada Leona, tapi para senior pun melakukan hal yang sama.


“Kenapa mereka tidak bersama Leona? Mungkinkah murid terkuat sudah sadar jika mereka hanya benalu.”


“Hahaha… mereka pasti sudah dicampakkan.”


“Aku mendengar Alexander kakak Leona, seorang alumni sekolah ini yang dulu ketua grup Humbelman telah kembali. Aku yakin dia telah mengajari adiknya dengan benar.”


“Cih, mutan menjijikkan seperti mereka akhirnya tidak akan menempel pada murid baru paling berpotensi.”

__ADS_1


Celoteh setiap murid yang sebagian besar adalah para manusia normal yang tidak menyukai para mutant. Mendengar perkataan mereka membuat telinga Kirana sakit, dia tidak melakukan apapun karena tidak ingin menjadi pusat perhatian dengan menghajar setiap murid.


Tapi halnya jika mereka sendiri yang mencoba mencari masalah.


“Aku benar-benar merasa jika kita salah tempat Cecil.” Kirana berkata dengan suara yang diperkuat menggunakan sihir sehingga walaupun ucapannya tidak keras tapi setiap orang dalam jarak 50 meter dapat mendengarnya dengan jelas.


“Kau juga! Berpikir hanya aku yang merasa jika tempat ini sudah begitu berbeda dari hari kemarin.”


“Yeah, mungkin kita memang salah belok tadi. Bukannya sampai di sekolah, kita malah tersesat ke pusat rehabilitasi para pengGhibah.”


“Oh aku pikir kita tersesat di penangkaran anjing liar. Ternyata kita tersesat di tempat yang lebih berbahaya dari yang aku kira.”


Keduanya terus berjalan sambil cekikikan sementara suara-suara yang tadi terdengar telah sepenuhnya menghilang tergantikan oleh tatapan permusuhan. Sementara itu di gedung OSIS beberapa pasang mata para senior menatap Keduanya dengan dingin.


***



***


Ketika sampai di kelasnya Kirana menyadari tatapan setiap murid kelas tersebut terarah padanya. Melihat tatapan itu seketika Kirana memikirkan beberapa hal yang bisa terjadi jika seseorang sedang mengalami bullying.


“Jika bukan surat ancaman maka ada sesuatu di mejaku.” pemikiran Kirana benar adanya, ketika dia sampai di mejanya yang sangat kotor penuh coretan dan cairan aneh dengan bau menyengat.


“Semoga Cecilia tidak mendapatkan perlakuan yang sama.” Kirana kemudian menggunakan sihir pendeteksi untuk mengetahui pelakunya.


“So… bisakah kau bicara sekarang?.”


“Apa?.”


Adriana terlihat bingung dengan perkataan Kirana.


“Jika kau terus bertingkah bodoh seperti ini maka mungkin aku akan menunjukkan padamu foto yang temanku kirimkan.”


Kirana memperlihatkan smartphone pada Adriana, dalam sekejap gadis berambut pink itu begitu panik dan berusaha mengambil smartphone Kirana tapi itu tidak berhasil.


“Apa ini! Apa gadis kutu buku ini mengganggu mu Adriana?.” seorang murid yang merupakan kelompok Adriana mencoba mengintimidasi Kirana.


“Oh apa aku mengganggumu Adriana?.” Kirana bertanya dengan senyum lebar. Melihat itu Adriana berusaha menyembunyikan kepanikannya.


“Ti... tidak sama sekali tidak seperti itu!.” Adriana berusaha sebaik mungkin agar teman-temannya tidak penasaran dengan foto yang dimaksud oleh Kirana.


“Jadi bisakah kau mulai ‘Bernyanyi’ sekarang?.” Kirana kembali mendesak.


“Bukan aku yang melakukan itu pada menjamu.”


“Ya, aku sudah tahu itu karena aku adalah seorang scanner. Aku pun tahu siapa pelakunya.”

__ADS_1


Perkataan Kirana membuat semua orang terkejut. Scanner adalah sebuah job dimana memungkinkan seseorang untuk mendeteksinya sesuatu, sangat buruk dalam pertempuran tapi begitu membantu dalam pencarian dan penyelidikan.


“Jadi kenapa kau bertanya padaku jika kau sudah pelakunya bukan aku?.” Adriana begitu marah karena hampir saja rahasia besarnya terbongkar oleh kesalahan yang tidak dua lakukan.


“Aku hanya ingin memcari bukti, kau tahu bukan jika aku tidak bisa menuduh seseorang tanpa adanya bukti?.”


Kirana sadar jika bukan hanya satu orang yang melakukan pembullyan pada dirinya. Jika dia ingin menangkap pelaku tanpa adanya bukti maka yang terjadi justru Kirana akan di tuduh melakukan fitnah, jika itu terjadi maka perkataan apapun yang dia ucapkan tidak akan lagi memiliki kekuatan.


Menyadari apa yang Kirana inginkan, “Okey, aku akan menjadi saksi untukmu, tapi jika kau menghapus foto itu beserta kopiannya.”


“Maaf itu tidak mungkin.” ucap Kirana sambil berjalan menjauhi Adriana.


“Kslau begitu tidak ada kesepakatan, aku akan tetap diam.” Adriana begitu marah karena Kirana tidak mau menghapus fotonya.


“Tidak, kau akan membacakan khotbah nanti.”


Kirana berhenti di depan bangku Ilham, anak yang sama pelaku pelaku rune sihir di hari kedua. Kirana menatap pemuda itu dengan malas, sementara Ilham terlihat kebingungan.


Semu murid hanya menatap Kirana, beberapa diantara mereka mul6 khawatir karena salah satu dari rekan pembullyan mereka telah ketahuan.


“Kau mengaggap dirimu jenius bukan?.” tanya Kirana pada Ilham.


“Heh?.” pemuda itu masih kebingungan.


“Apa aku terlihat seperti lelucon untuk mu?.”


“Apa yang kau bicarakan?.”


“Dasar aneh.”


“!!!!.”


Ilham terkejut saat menyadari jika saat ini Kirana dapat mengetahui apa yang dia pikirkan.


Kirana segera mencengkeram kerah baju Ilham lalu menariknya mendekat, sementara dirinya menarik kepala ke belakang lalu...


Braak!


Dengan keras Kirana membenturkan kepalanya dengan kepala Ilham.


“Aku bilang, apa aku seperti lulucon bagimu!.” perkataan yang penuh intimidasi hingga setiap murid dapat merasakan tekanan kuat membuat setiap orang kesulitan untuk bernafas. Bahkan Ilham yang ditatap oleh Kirana sampai membasahi celananya karena terlalu takut.


***


Chapter 50 : Sebuah Lelucon yang Buruk


END.

__ADS_1


__ADS_2