
“Yok konco ning isik gembiro.”
Di dalam mobil sewaan yang dikendarai oleh Regina, ketiga gadis yang duduk di kursi belakang terlihat begitu bersemangat berlibur di pantai.
“Anglerap lerap banyune segoro
Angliak numpak prau layar
Ing dino minggu Dhek, Pariwisoto.”
Alunan lagu terdengar begitu menyejukkan saat Kirana tengah berkaraoke ria menyanyikan lagu khas dari Jawa tengah, sementara Cecilia bermain-main dengan tamborin dan Leona menggunakan marakas.
Commander yang juga ikut pergi ke pantai dan duduk di samping Regina. Wanita itu begitu bahagia saat melihat Kirana menikmati hidupnya bersama teman-temannya.
Perjalanan menuju pantai Parangtritis yang menempuh tiga puluh menit tidak begitu terasa membosankan saat semua orang terus bergiliran untuk berkaraoke.
***
“Huyaaaa… itu benar-bebar menyenangkan.” keluar dari mobil, Leona segera meregangkan dirinya yang cukup pegal setelah terus duduk di dalam mobil.
“Howaah… pantainya begitu ramai.” giliran Cecilia yang keluar, dua melihat banyak sekali wisatawan yang memenuhi pantai.
“Mereka juga pasti berpikir sama seperti kita, menikmati hari terakhir liburan.” ucap Kirana.
Mobil yang mereka gunakan tidak lagi bisa melanjutkan perjalanan dikarenakan padatnya kendaraan sehingga terjadi kemacetan.
Karena tidak ingin para gadis kehilangan waktu liburan mereka hanya untuk menunggu mobil yang entah kapan sampai ke pantai, Regina pun meminta mereka keluar dan berjalan kaki menuju pantai.
“Aku juga tidak yakin ada tempat parkir yang kosong,” Regina terlihat cukup sedih karena tidak dapat menikmati liburan dengan adiknya, Cecilia. Padahal selama ini Regina selalu mengajak Cecilia untuk pergi ke pantai, tapi karena Cecilia sangat tidak percaya diri dengan ekor miliknya membuat Regina selalu mendapatkan penolakan.
Melihat Regina yang tidak ikut bersama mereka, Cecilia kehilangan semangatnya, dia berpikir untuk tetap menunggu di mobil bersama Regina.
Merasakan suasana hening dan tidak menyenangkan, Kirana melirik pada Commander yang segera memahami apa yang diinginkan oleh gadis itu tanpa perlu bertanya.
Commander segera meminta Regina meninggalkan mobil, lalu saat memastikan semua barang di bagasi telah dikeluarkan, Commander menyentuh mobil itu dan...
Poff...
Mobil yang mereka sewa seketika lenyap. Bukan hanya Regin, Cecilia dan Leona yang terkejut, tapi semua supir yang ada disekitar pun menjadi kaget saat sebuah mobil menghilang hanya dengan satu sentuhan.
“Ke... kemana perginya mobil itu?.” Leona bertanya dengan penuh rasa penasaran.
“Aku menyimpannya di dalam item box.” jawab Commander yang kemudian memunculkan mobil itu sekali lagi.
Kembali semua orang dibuat terkejut, tapi kali ini lebih besar.
“Item box?. Bagaimana mungkin, item box hanya bisa menyimpan sedikit item dengan jumlah berat tidak mencapai 10 kilogram.” Leona mengatakan pengetahuan umum tentang efek skill item box yang biasanya dimiliki oleh para penyihir.
“Itu jika si penyihir kurang terampil,” dengan santai Commander mengambil kaca mata hitam dari item box yang akan dia gunakan untuk melindungi matanya dari matahari.
“Berbeda dengan ku yang telah melalui banyak pertempuran.” lanjut Commander.
__ADS_1
Semua orang begitu terpesona oleh penampilan Commander yang begitu menawan saat dia mengenakan kacamata.
Melihat jika rombong mereka mulai menarik perhatian banyak orang, Kirana segera meminta teman-temannya untuk segera berjalan menuju pantai.
“Yang terakhir sampai di pantai harus dihukum dengan dikubur di dalam pasir.” setelah mengatakan itu Leona berlari menuju pantai.
“Hei… itu curang.” Cecilia protes karena Leona mencuri start. Diikuti oleh Kirana di belakangnya, kedua gadis itu mencoba mengejar Leona yang sudah jauh di depan.
“Apa lomba ini juga berlaku untuk kita?.” Commander bertanya saat membawa terpal dan satu box berisi persediaan.
“Yah, aku rasa kita juga termasuk dalam pertandingan.” balas Regina yang membawa payung besar dan tas berisi pakaian ganti.
Kedua wanita itu saling tatap hingga akhirnya tertawa kecil lalu dengan kecepatan yang telah ditingkatkan menggunakan sihir mereka berlari menyusul para gadis.
Sementara itu di atas gedung dua orang tengah mengawasi Kirana dan yang lain.
Much.. much.. much..
Uara mengunyah dari mulut Nins terus terdengar saat dia sibuk memakan cumi bakar yang baru dia beli.
“Uwaaa… masakan manusia benar-benar yang terbaik.” kata Nines yang mulutnya begitu kotor seperti saus.
“Towby, kau benar-benar harus mencobanya. Makanan laut tidak kalah dari makanan kaki lima yang kemarin kita kunjungi.” Nins menunjuk minatnya pada masakan manusia.
“Kau menghabiskan seluruh uang yang kita dapatkan dari penyelesaian misi asosiasi Hunter.” Towby menatap sate ikan bakar yang Nines berikan untuknya, beberapa saat kemudian Towby memakannya dan merasakan jika ikan itu tidak terlalu buruk.
“Bukankah kau ingin berkeliling dunia?.” tanya Towby saat mengelap sisa saus di bibir Nines.
“Yah… aku percaya kau bisa melakukan itu.” mendengar perkataan Towby membuat Nins sangat senang.
Hubungan kedua pelayan Kirana itu semakin dekat seperti saudara, walaupun salah satu diantara mereka menginginkan lebih dari itu.
***
Bruk!
Cecilia menjatuhkan diri di pasir dengan nafas yang terputus-putus. Dia berusaha mengejar Leona tapi justru terkejae oleh Kirana, bahkan Regina dan Commander pun mengejarnya dengan mudah.
“Ugh… ini kesalahanku karena tidak mempelajari penguatan tubuh instan.”
Banyaknya orang di pantai membuat Cecilia sedikit tidak percaya diri untuk memperlihatkan ekornya, tapi Leona terus menyemangati. Memang banyak orang yang menghindari para mutan di pantai, tapi lebih banyak manusia yang tidak peduli dan ikut bersenang-senang dengan para mutan.
“Kau sudah bertekad untuk tidak menyembunyikan ekor itu saat di sekolah nanti bukan?.”
“Iya, tapi tidak semudah itu.”
Leona terus mendorong Cecilia, sedangkan Kirana sudah mengambang ke tengah laut dengan ban yang dia gunakan.
Hari liburan yang menyenangkan untuk ketiganya, berenang di pantai, menikmati es krim dan membuat istana pasir.
Cecilia mulai terbiasa dengan memperlihatkan ekornya, dia berpikir memang tidak akan ada hal buruk yang bisa terjadi hanya dengan menunjukkan jika dirinya adalah seorang mutan.
__ADS_1
Wussh!
Sebuah bola voli dengan cepat melayang kearah Cecilia. Gadis itu terkejut dan tidak sempat menghindar, tapi beruntung Leona dengan sigap menangkap bola yang hampir mengenai wajah temannya.
“Hey! Hati-hati dengan itu kau bisa melukai seseorang.” Leona dengan marah melempar bola tadi kearah pemiliknya.
Empat orang dewasa yang sedang bermain voli pantai, mereka melihat Cecilia dengan tatapan merendahkan sedangkan senyum mesum ditunjukkan saat melihat Leona.
Semuanya berjalan kembali seperti semula, ketiga gadis melanjutkan pembuatan istana pasir, tapi itu kembali lagi. Sebuah bola voli mengarah ke Cecilia. Tapi kalini Kirana yang menghadang bola tersebut.
Shoot!
Dengan gaya salto Kirana menendang balik bola voli kearah pemiliknya, tapi karena tendang itu terlalu keras membuat si pemilik bola tidak mampu membakar hingga bola itu memukul perutnya dengan begitu keras.
“Gofuu…” pemilik bola terjatuh hingga memuntahkan sedikit isi perutnya. Melihat temannya terkapar oleh serangan Kirana membuat ketiga pria marah.
“Bocah, kau pikir apa y yang sudah kau lakukan!.” salah satu pria berkata sambil menghampiri para gadis bersama teman-temannya. Tatapan mereka seperti anjing kelaparan saat melihat Leona dan Kirana yang hanya mengenakan bikini. Ketiganya seolah tidak mengaggap Cecilia ada.
“Hemp… mengatakan yang lain bocah tapi perilaku mu sendiri lebih seperti bayi.” balas Kirana.
“Apa kau bilang! Anak-anak sepertimu perlu diajari sopan santun saat berhadapan dengan orang yang lebih tua.” pria itu bersiap untuk menampar Kirana, tapi pergelangan tangannya segera ditangkap oleh Commander yang entah sejak kapan dia berada di belakang gadis itu.
“Hoho… kenapa kalian para pria dewasa bermain dengan gadis-gadis yang masih belum cukup umur.” Commander berkata dengan raut wajah gelap. Begitu juga dengan Regina yang menggunakan sihir ilusi untuk menghilangkan tanduk di kepalanya.
“Bagai mana jika kalian bermain dengan kami?.” ajakan Commander tentu membuat ketiganya sangat senang. Melihat dua wanita cantik dengan bikini menggoda tentu membuat tiga serigala lapar itu tidak menolak ajakan Commander.
Tapi itu sebuah kesalahan besar...
Seperti sebuah mesin pembunuh, kedua wanita itu menghajar ketiga pria bermasalah habis-habisan menggunakan bola volley. Hanya dalam dua menit ketiganya terkapar di pasir bersama temannya yang telah kehilangan kesadaran oleh serangan Kirana.
“Kau tahu jika kita tidak boleh meninggalkan sampah saat di pantai.” kata Commander sambil memperbaiki bikinnya yang kemasukan pasir.
Dengan cepat Nins dan Towby yang sejak tadi mengawasi segera menyeret keempat pria yang tidak sadarkan diri untuk dibuang ke tong sampah.
Setelah para pengganggu di singkirkan mereka pun kembali bersenang-senang. Hingga waktu begitu cepat terlewati, tidak terasa sore telah datang matahari di ufuk barat perlahan menghilang.
Setelah menikmati matahari tenggelam kelima perempuan yang telah bersenang-senang menikmati liburan bersiap untuk pulang.
“Satu lagi memori indah bersama master yang akan ku kenang selamanya.” di dalam mobil Commander menatap foto-foto yang dia ambil saat di pantai. Sementara itu di kursi belakang ketiga gadis yang kelelahan telah tertidur pulas
***
Epilog Arc 1 : Putri Tengkorak Putih
END.
Akhir kata : Arc yang terasa hambar karena sedikit adegan perkelahian, tapi jangan khawatir di Arc berikutnya bakalan lebih ngebosenin lagi karena hanya berfokus pada kehidupan Kirana yang berusaha menghindari banyak masalah di sekolahnya untuk hidup tenang.
Sebenarnya novel ini saya buat karena ingin melanjutkan novel yang udah lama saya drop, ‘Tcmae : They call my as Evil’. Karena itu di Arc berikutnya bakalan ada beberapa nama tempat dan tokoh yang sama seperti di novel itu.
Dah gitu ajah jangan lupa like, komen dan... paypay.
__ADS_1