Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 29 : Perlombaan part 2


__ADS_3

Sorakan penonton membuat stadion begitu ramai. Para senior dan guru, mereka begitu antusias menyaksikan para siswa baru saling bertarung.


“Inikah wajah sekolah terbaik di negeri ini?.” aku yang berada ditengah perkelahian antara para siswa baru, menatap sekitar dengan hampa.


“Tapi tetap saja aku berharap menikmati masa SMA ku.”


***


Kirana masih diam ditengah perkelahian siswa baru. Hingga senyuman mengembang saat dia merasa seseorang sedang mengincarnya.


“Mati!.”


Wusss...


Tiba-tiba pemuda yang Kirana temu saat di depan gerbang sekolah, muncul dari kerumunan lalu berniat menerkam gadis itu.


Tapi Kirana yang melihat sebuah koin emas di kakinya segera menunduk untuk mengambil koin tersebut, sehingga serangan pemuda itu pun meleset.


“Wat d fak.…” pemuda itu sangat terkejut saat Kirana berhasil menghindari serangannya. Karena dia melompat dengan kecepatan tinggi membuat pemuda itu melewati Kirana yang merunduk, hasilnya pemuda itu menabrak peserta lain.


Gbraaak!


“Mamak!.”


Siswa itu menjerit keras karena terkejut tubuhnya ditabrak dari belakang.


“Kau pikir bisa mengambil poinku dengan menyerang dari belakang, hah!.” dia salah paham dengan tabrakan tadi. Bersama dengan dua temannya, siswa yang tertabrak berusaha mengeroyoknya.


“Tck, mutan sialan. Kau pikir Gilang Lasmana ini akan kalah oleh manusi siluman seperti kalian!.” pemuda yang akhirnya di beri nama Gilang oleh author, bersiap untuk melawan tiga mutan sekaligus.


Siswa pertama, dia adalah orang yang tidak sengaja Gilang tabrak. Memiliki ciri-ciri tubuh besar dan sebuah tanduk di tengah jidatnya.


“Apa kau unicorn? Lucu sekali.” tanya Gilang dengan nada mengejek.


“Brengs3k! Aku mutan badak.” dengan marah siswa itu mengayunkan pukulan keras, Gilang merasa pukulan itu akan menerbangkan tubuhnya beberapa meter jika terkena. Tapi tentu pemuda itu tidak akan membiarkan itu terjadi.


Gilang menghindar pukulan ke samping, lalu dia menendang kaki siswa badak hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya terguling di rumput stadion.


“Arg...” siswa badak merasakan sakit luar biasa di kakinya yang terkena tendangan Gilang. Beberapa koin terjatuh saat siswa itu mendapatkan serangan.


“Kau lubang tikus...” melihat temannya terluka, anggota Genk tiga Mutan segera menyerang Gilang.


Yang pertama siswa dengan kulit licin, Gilang sangat kesulitan ketika berusaha menghajarnya. Lalu yang terakhir siswa dengan mata cembung milik serangga, tangannya begitu cepat seolah dia seorang petinju profesional.


“Belut sialan.” Gilang memaki karena semua serangannya dihindari oleh siswa berkulit licin.


Tubuh Gilang sekarang sudah babak belur di keroyok kedua siswa itu, tapi itu belum cukup untuk membuat Gilang tumbang, kemudian dari belakang si badak yang sudah tidak merasa sakit di kakinya segera membalas Gilang.


“Kau membuat kesalahan besar karena telah berurusan dengan kami, pecundang!.” Badak memeluk Gilang dari belakang lalu segera melakukan suplex Jerman.

__ADS_1


Braaak...! Gilang merasa sakit luar biasa dari kepala hingga punggungnya, bahkan tanah tempatnya mendarat pun mengalami retak karena benturan yang terlalu keras.


“Cih, si br3ngsek ini berani melawan kita sementara dia tidak memiliki satupun poin!.” Badak terlihat kecewa karena merasa menang tapi tidak mendapatkan poin.


“Ini hanya membuang-buang waktu, kita harus memilki cukup banyak poin agar kita semua masuk ke klas A.” giliran Mantis (siswa dengan mata cembung) yang berbicara.


Ketiganya pun meninggalkan Gilang yang masih terkapar di tanah dengan darah yang mengalir di kepalanya. Melihat ada seorang siswa yang terluka, petugas medis yang sudah dipersiapkan segera menghampiri Gilang untuk di bawa ke ruang rawat, jika itu terjadi maka otomatis Gilang akan di diskualifikasi dan akan masuk ke kelas terburuk yaitu kelas E.


Tapi sebelum para petugas medis sampai di tempat Gilang terkapar, tiba-tiba pemuda itu bangkit.


“Kalian bertiga mutan sial mengira sudah menang melawanku?.” Gilang berlahan menghampiri ketiganya.


“Heeh… si bodoh ini belum puas dihajar rupanya.” Belut.


“Mungkin kepalanya terbentur terlalu keras hingga otaknya bermasalah.” Cengcorang.


“Cih, kita tidak punya banyak waktu. Supra cepat habisi dia!.” Badak.


Merasa telah mengetahui seluruh kekutan Gilang, ketiganya mengaggap pemuda itu dapat dijalankan dengan mudah. Supra nama moto... Nama siswa dengan kemampuan mengeluarkan cairan licin di sekujur tubuhnya akan menghadapi Gilang.


Wajah Gilang yang tertutupi darah membuat Supra sedikit takut, tapi mengingat ketika dia bisa menghindar dari seluruh serangan Gilang membuatnya sangat percaya diri dapat mengalahkan Gilang untuk kedua kalinya.


“Seharusnya kau tidur saja dan nikmati kedamaian di kelas E.” Supra melakukan serangan pada Gilang yang dengan mudah dihindari. Serangan Supra memang mudah ditebak karena dia lebih mengandalkan pertahanan tubuh dengan cairan licin.


“Selama kau tidak bisa mengenai tubuhku maka pemenangnya sudah pasti aku.” Supra sangat percaya diri dengan kemampuannya.


Tapi sayang untuk Supra, Gilang bukanlah anak bodoh yang tidak belajar dari pengalaman.


“Gyaaa…” Supra merasakan sakit saat kulitnya dicubit menggunakan jari telunjuk dan jari tengah yang tertekuk.


“….aku pernah diajak ke sawah pagi-pagi buta oleh ayahku untuk berburu belut sepertimu.” lanjut Gilang yang terus mencubit keras kulit Supra yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa karena rasa sakit yang dia alami.


Mengakhiri pertarungannya dengan Supra, Gilang menendang dada pemuda itu, tapi saat tubuh Supra terpental ke belakang, Gilang dengan cepat segera menarik hidung Supra dengan teknik yang sama seperti dua mencubit kulit Supra.


Gilang menarik hidung itu untuk kemudian dibenturkan dengan lututnya.


Braaak!


Benturan yang begitu keras hingga darah mengalir dari hidung dan mulut Supra, dia pun terkapar dan tidak sadarkan diri di tanah.


Semua poin yang Supra miliki bertebaran menandakan pemuda itu tidak akan sanggup bangkit kembali.


“Selanjutnya?.” seperti seekor harimau yang mengamuk, Gilang menatap Badak dan Mantis dengan penuh nafsu membunuh.


“Kau matiiii!.” Rendi nama si badak, dia bersama Jhon melawan Gilang tanpa rasa takut. Walaupun dalam hati mereka mungkin akan kalah setelah merasakan hawa pembunuh yang Gilang keluarkan. Itu semua untuk membalas kekalahan Supra.


“Kami tidak akan membiarkan kawan kami menderita kekalahan seorang diri.” teriak Rendi.


Tubuh Rendi yang ukurannya dua kali lebih besar dari anak seusianya, dia gunakan untuk menyergap Gilang. Tapi Gilang dengan mudah menghindar dengan melompat tinggi lalu menendang kepala Badak itu jurus kapak.

__ADS_1


Braaak!


Tapi sayangnya kepala Rendi merupakan bagian terkeras dan terkuat Mutan itu.


“Gatling!.” giliran Jhon yang melancarkan serangan. Pukulan Jhon yang begitu cepat sulit untuk Gilang hindari, namun Gilang tidak menyerah. Menggunakan teknik mengeraskan otot membuat tubuh pemuda itu sekeras baja.


Braak!.


“Aragh!.”


Jhon meringis kesakitan saat tinjunya memukul tubuh Gilang, dia merasa seolah tengahnya mengenai tiang besi. Hanya beberapa pukulan saja Jhon menyerah, dia merasa tulang tangannya retak.


Wusss..


Braak!


“Khoookk…”


Hantaman keras seperti tertabrak truk mengenai perut Jhon yang seketika membunuhnya tidak sadarkan diri lalu terjatuh ke tanah.


“Hanya tersisa kau Badak!.” Gilang menatap Rendi dengan intimidasi yang semakin kuat, hingga membuat pemuda besar itu melangkah mundur. Melihat lawan terakhirnya akan melarikan diri, senyum gila mengembang di bibir Gilang.


Tapi...


“Kau pikir aku takut sialan!.” Rendi berteriak keras sambil bersiap melakukan serangan.


“Cih, tidak meninggalkan teman, huh. Sangat konyol.” Gilang merendahkan tekad Rendi.


“Graaaaa….” Rendi menggunakan jurus terkuatnya, serudukan.


“Buahaha…. Sangan konyol.” Gilang tidak berniat menghidar serangan yang mudah ditebak itu, melainkan dia justru berniat mengadu kepalanya dengan Rendi.


“Akan aku perlihatkan kekuatan sesungguhnya yang lebih kuat dari kekutan mutan tidak berguna!.” Gilang berlari kearah Rendi yang sedang menuju kearahnya. Lalu.…


BLAAARRRR...


Ledakan terjadi saat kedua kepala mereka saling berbenturan, asap debu berterbangan sehingga semua orang tidak dapat melihat siapa yang menjadi pemenang bentrokan tersebut.


Tidak lama kemudian siluet tubuh besar terlihat, itu adalah siluet Rendi yang masih berdiri tegak. Melihat itu semua orang berpikir Rendi lah pemenangnya, hingga tubuh besar itu jatuh ke tanah.


“Buahahahaha… itu cukup keras hahaha.”


Dengan luka kepala yang mengalirkan darah ke wajahnya, Gilang terus tertawa seperti orang gila.


***


Suplex Jerman.


__ADS_1


[Adegan hanya dilakukan oleh profesional, tidak untuk di tiru]


Chapter 29 : Madbuldog.


__ADS_2