Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 39 : Papan Pengumuman


__ADS_3

Adriana seorang murid sekolah Archata yang saat ini merupakan seorang influencer media sosial dengan 1,5 juta pengikut.


Dia gadis yang mudah bergaul dan rajin menabung... Nggak juga sih.


Well masih menjadi sebuah perdebatan apakah dia memang rajin menabung atau tidak, yang pasti Adrian begitu mudah bergaul. Seperti kemarin ketika dia baru pertama kali masuk sekolah Adrian sudah mendapatkan banyak teman entah itu dengan para murid seangkatan atau para senior.


Banyak yang beranggapan jika gadis itu sangat menakjubkan. Namun berbeda dengan dua gadis yang saat ini berjalan di belakang Adrian.


“Cantik dikit.”


Cekrek!


“Cantik banyak.”


Cekrek!


“Cantik bangeeet!”


Cekrek! cekrek! cekrek!


“Upload!.”


Kirana dan Cecilia menatap Adrian seperti ikan mati. Keduanya benar-benar tidak habis pikir dengan gadis itu yang terus memfoto dirinya sendiri setiap lima menit sekali.


“Seberapa narsisnya dia?.”


“Apa dia tidak takut ketinggalan kelas?.”


Pertanyaan seperti itu terlintas dipikiran Kirana dan Cecilia. Karena takut terlambat dan pintu gerbang sekolah di tutup, keduanya pun melewati Adrian yang masih berselfi ria. Tapi tiba-tiba…


“AAAAAAAAA…..”


Adrian berteriak histeris membuat keduanya dan beberapa murid sekolah Archata yang melewati jalan sama mengarahkan perhatian mereka ke Adrian. Gadis berambut pink itu menatap marah keraah Kirana dan Cecilia.


“Kau apa yang sudah kau lakukan!.” Adrian menunjuk ke arah Kirana?.


“Heh, memangnya apa?.” Kirana kebingungan karena merasa tidak melakukan apapun pada Adriana.


“Kau… iiihhh!.” karena begitu marah gadis itu pun kesulitan berbicara, “Lihat ini , LIHAT BAIK-BAIK!.”


Adrian menunjuk latar ponsel yang menunjukkan foto gadis itu sedang Selfi.


“Wow, terlihat luar biasa. Apa itu filter?.” perkataan Kirana membuat Adriana semakin marah.

__ADS_1


“Bukan bodoh! Apa kau tidak melihat jika aku asli bahkan lebih cantik dari yang ada difoto!.” gadis itu dengan elegan mengibaskan rambut merah muda nya.


“Oh…” ucap Kirana yang kemudian mulai berbalik menuju sekolah. Sekali lagi tindakan itu membuat Adriana semakin kesal pada Kirana.


“Choto….” Adriana menarik tangan Kirana. “Apa kau tidak melihat kesalahan yang telah kau lakukan?.” gadis itu memperkenalkan foto tadi. Kirana dan Cecilia yang melihatnya tidak melihat sesuatu yang aneh.


“Lihat lebih teliti, disebelah sana!.” mengikuti arahan Adriana, keduanya menemukan Kirana di sudut foto yang terlihat sedang mengupil.


“Pffft…” Cecilia yang melihat itu berusaha keras untuk menahan tawanya, sementara Kirana sendiri wajahnya mulai memerah.


“Ini sangat tidak lucu, kau baru saja merusak foto sempurnaku!.” Adriana begitu marah karena Kirana tertangkap kamera saat dua sedang Selfi.


“Itu bukan salahku, kau sendiri yang tidak melihat tempat dan kondisi.” Kirana berusaha membela diri.


“Apah!.” bentak Adriana dengan suara yang keras hingga beberapa ludahnya terciprat ke kacamata Kirana. Melihat itu Cecilia seketika dipenuhi kemarahan, tapi Kirana meminta untuk tetap tenang.


“Heng!.” Kirana menunjukkan senyum merendahkan pada Adriana,“Bagaimana kau merasa dirimu sangat sempurna jika kau selalu mengenakan topeng?.”


“What?.” Adriana begitu bingung dengan perkataan Kirana.


“Well, Cecil mungkin bisa membantumu mengingat siapa dirimu yang sebenarnya.” Kirana meminta Cecilia untuk menunjukkan foto Adriana yang dia ambil ketika di setasiun.


“!!!!”


Melihat foto dirinya yang begitu berbeda dari wajahnya saat ini membuat Adriana diam. Raut wajah ketakutan terlihat jelas pada gadis itu, dengan panik Adriana berusaha merebut ponsel Cecilia.


“Kau harus melakukannya dengan lebih baik.” perkataan Cecilia membuat Adriana semakin emosi, semakin lama ajang saling rebut ponsel menjadi semakin cepat hingga keduanya pun berakhir dengan perkelahian.


Tap!


Cecilia menahan pukul Adriana yang membuatnya sangat terkejut. Adriana tidak mengira Cecilia dapat menangkap pukulannya, kemudian ketika Adriana melancarkan tendangan pun dapat dengan mudah dihindari oleh Cecilia.


“Sudah aku bilang kau harus melakukannya dengan lebih baik.” ucap Cecilia dengan senyum merendahkan. Mendengar itu membuat Adriana semakin marah, gadis itu pun mengeluarkan semua yang dia miliki untuk mengalahkan Cecilia, Adriana tidak peduli lagi dengan foto wajah aslinya yang berada ponsel Cecilia. Kemarahan gadis itu sudah tidak dapat diredam.


“Haah…. Cecilia 15 menit lagi gerbang ditutup.” Kirana memperingatkan temannya.


“Yeah, aku akan menyusul sebentar lagi.” jawab Cecilia sambil menghindar kemudian melancarkan serangannya kearah perut Adriana.


Bam! Bam!


Dua puluh mendarat mulus ke perut Adriana membuatnya mundur beberapa langkah.


“Apa kau sudah selesai?.” tanya Cecilia dengan nada meremehkan.

__ADS_1


“Belum, aku pasti akan mengalahkan mu lalu memfoto tubuh mu yang penuh luka dan menyebarkannya di media sosial. Hidupmu akan berakhir dengan itu!.” ancam Adriana.


“Yeah, tapi kau harus mengalahkan ku lebih dulu untuk melakukan itu.” Cecilia masih bersikap sombong di depan lawannya.


Perkelahian antara dua gadis itu pun kembali terjadi, sementara Kirana sudah dari tadi berjalan menuju sekolah.


***


Setelah sampai di gerbang sekolah Kirana mendapati para siswa tengah berkerumun, mereka sedang melihat sebuah papan besar yang menunjukkan pembagian kelas para murid baru.


“Kenapa pihak sekolah menggunakan cara kuno seperti papan pengumuman, kenapa mereka tidak mengirim pesan singkat lewat email pada setiap murid, bukankah itu lebih praktis?.”


Kirana mempertahankan kebijakan sekolah, dia terus memperhatikan kerumunan murid yang terus bertambah hingga tidak menyadari jika disampingnya telah berdiri seorang anak lelaki yang ingin membunuhnya.


“Uwaaaaaa…” Kirana berteriak keras saat melihat Gilang yang sudah berdiri disampingnya dengan tatapan kesal.


“Tsk, jika saja aku bertemu denganmu di luar wilayah sekolah kau sudah pasti akan mati.” ucap Gilang yang kemudian berjalan kearah papan pengumuman meninggalkan Kirana begitu saja.


“Hey kalian para pecundang minggir kalian menghalangiku.” teriak Gilang pada semua murid yang tengah mengelilingi papan. Merasakan nafsu membunuh yang begitu besar membuat semua murid menyingkir untuk memberikan jalan pada preman sekolah baru.


“Sampah, aku masuk ke kelas B.” mendengar makian Gilang membuat beberapa siswa yang masuk ke kelas yang sama dengan pemuda itu menangis.


“Humu… aku di kelas C rupanya.”


“!!!!”


Gilang begitu terkejut saat mendapati Kirana telah berdiri di sampingnya, begitu juga anak-anak lain yang merasa kagum karena Kirana seolah tidak merasakan nafsu membunuh yang dikeluarkan oleh Gilang.


“Kira…”


Bruk!


“Hoek!.”


Kirana sangat terkejut ketika dari belakang tiba-tiba seseorang memeluknya. Dari suara dan besarnya dua buah yang menabraknya, Kirana dapat menyimpulkan jika itu adalah temannya.


“Len kau hampir membuatku terkena serangan jantung!.” protes Kirana pada Leona, dia memarahi Leona karena mengejutkan dirinya walaupun hampir semua pria yang melih kejadian itu bersedia melakukan apapun untuk berada di posisi Kirana.


Ditabrak oleh dua gunung besar, yeah itu impian setiap anak muda.


***


Chapter 39 Papan Pengumuman

__ADS_1


END.



__ADS_2