Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 8 : Bus Malam


__ADS_3

Jam menunjukkan lewat tengah malam membuat ketiganya memutuskan untuk pulang. Olivia yang mabuk berat karena memaksa minum 5 gelas, akhirnya dia digendong oleh kekasihnya.


“Aku dapat melihat kekuatan yang misterius Dimata anda nona Kira. Takdir pasti akan mempertemukan kita lagi.” ucap Brayen yang masih penasaran dengan kekuatan Kirana.


[Note : untuk menyembunyikan identitasnya, Kirana menggunakan nama Kira sebagai nama samaran. Terdengar bodoh sebenarnya karena menggunakan nama samaran yang sangat mirip dengan nama aslinya]


“Oh, apakah anda mengatakan itu pada setiap wanita yang anda temui?.” balas Kirana dengan senyum lebar.


“Bu…bukan anda salah paham, maksudku…. Aaw aw.” Brayen mencoba menghindari kesalahpahaman, namun tiba-tiba wanita yang dia gendong menarik kupingnya.


“Brayen jangan menggoda teman baruku, dasar kau lelaki playboy.”


“Tidak Oliv kau salah paham.”


“Hihihi…” Kirana hanya bisa tertawa cekikikan melihat tingkah pasangan itu.


Di depan bengkel Bloody Gear, ketiganya berpisah. Brayen sempat menawarkan untuk memberikan perlindungan dengan mengutus salah satu anak buahnya pada Kirana, tapi wanita itu menolak.


Saat berjalan seorang diri meninggalkan daerah kumuh, Kirana merasa sedang diikuti. Dengan sihir deteksi dia mendapati sejumlah besar orang tengah mengintai dirinya.


“Kalian beruntung karena aku sudah sangat mengantuk.” gumam Kirana.


Wanita itu kemudian berjalan menuju gang sempit yang merupakan jalan buntu. Melihat itu para perampok yang berniat mengambil semua uang yang Kirana dapatkan merasa sangat beruntung.


“Hahaha… wanita bodoh kau malah masuk ke jalan buntu. Kau membuat ini menjadi semakin mudah” ucap salah satu perampok.


Tapi saat mereka sampai di gang sempit itu, Kirana telah menghilang.


“Sial dimana wanita itu? Cari dia pasti tidak jauh dari tempat ini.” dengan panik semua perampok mencari disekitar, sementara Kirana yang mereka cari tengah berjalan di udara seolah tengah menginjak kaca transparan.


“Hoam… aku harus secepatnya meningkatkan jumlah mana agar bisa menggunakan teleportasi instan.” Kirana terus berjalan dengan mata yang tertutup karena terlalu mengantuk.


Dia tidak ingin menggunakan kemampuan terbang karena taku justru resiko kecelakaan akan lebih besar.


“Aku pikir menggunakan taksi atau bus akan lebih aman, tapi taksi tidak mungkin mau masuk daerah ini. Kalau begitu satu-satunya pilihan anda bus.”


Menurut ingatannya ada sebuah halte bus yang tidak jauh dari Bloody Gear, Kirana pun melangkahkan kakinya ke arah halte itu. Tapi sebelum dia sampai di halte bus, Kirana kembali merubah wujudnya sebagai gadis 15 tahu agar tidak dikenali para perampok yang sedang mencarinya.


***


Di sebuah halte yang sepi sekali bocah lelaki berusia 14 tahun tengah menunggu bus. Waktu telah menunjukkan lewat tengah malam sehingga mustahil ada bus yang akan datang.


Tapi itu itu dulu sebelum manusia menemukan cara untuk berkomunikasi dengan HANTU!.

__ADS_1


Deeeeeng!


Bocah itu bernama Akira, bocah lelaki dengan ransel yang telah mengalahkan raksasa bertangan empat di Colosseum.


Akira mengikuti pertarungan di Colosseum karena dia sedang membutuhkan uang tambahan untuk penelitiannya, sekaligus dia juga menguji coba beragam alat baru yang dia buat sendiri.


“Hemmm… sayang sekali aku tidak memenangkan banyak taruhan.” ucap Akira sambil menatap Mastercard tembaga yang berisi uang hasil pertarungan.


“Aku mendengar ada dua wanita yang berhasil memenangkan banyak taruhan, aku sangat iri pada mereka.” Akira berpikir apa yang bisa dia ciptakan seandainya mendapatkan uang yang para wanita itu dapatkan.


“Haaah… mungkin aku bisa menciptakan power gear lebih baik dari yang saat ini ada dipasaran.” pikir Akira sambil mengayunkan kedua kakinya, tindakan yang wajar bagi anak seusianya.


[Akira : aku bukan anak kecil paman!]


[Author : Ya, dan aku bukan pamanmu.]


Akira melihat jam tangan di lengannya dan menyadari jika sebentar lagi bus akan tiba. Namun bocah itu tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis yang berjalan sambil tertidur.


Tapi bukan itu yang membuat Akira terkejut.


“Kenapa dia berjalan di udara, apa dia hantu?.” pikir Akira yang kembali teringat jika saat ini sudah hampir jam satu pagi.


Datang dari langit, gadis itu perlahan turun hingga akhirnya tiba di halte bus. Dia duduk di kursi kosong yang letaknya tidak jauh dari Akira.


“Dia manusia biasa,” kata Akira setelah melihat gadis itu lebih dekat.


“Tapi bagaimana dia bisa berjalan di udara? Apa itu kemampuan khusus atau sebuah sihir yang belum ada sebelumnya?.”


Akira menjadi sangat tertarik dengan kemampuan gadis itu, dia berniat untuk berbicara dengannya namun melihat jika gadis itu sedang tertidur membuat Akira mengurungkan niatnya.


Tidak lama kemudian sebuah bus yang dikendarai oleh pocong tiba di halte.


Jika di masa lalu setiap orang pasti akan lari terbirit-birit melihat sebuah bis yang dikendarai oleh makhluk astral seperti hantu.


Namun di masa sekarang itu sudah menjadi hal biasa. Banyak perusahaan jasa angkutan umum yang melakukan kontrak dengan para hantu untuk bekerja sebagai supir malam.


Bus berhenti kemudian pintu masuk terbuka, gadis itu masih tertidur saat dia mulai berjalan menaiki bus lalu Akira mengikutinya dari belakang.


Di dalam bus sudah ada beberapa penumpang, namun tidak ada satupun manusia di sana.


Akira mengambil tempat duduk tepat di depan gadis itu, keduanya saling berhadap-hadapan sekarang.


Dia kebingungan dengan apa yang harus dilakukan, membiarkan gadis itu pergi atau terpaksa membangunkannya agar dia bisa mengajaknya berdiskusi tentang sihir dan teknologi.

__ADS_1


“……”


Wajah Akira menjadi sulit saat dia mengingat reaksi orang-orang ketika bocah itu berbicara tentang yang dia suka.


“Mereka selalu tidur saat aku berbicara.”


Akira memandang wajah gadis yang duduk tepat di depannya, dia pikir gadis itu lebih tua satu tahun darinya.


“Mungkin dia masih kelas satu SMA, mungkinkah dia satu sekolah yang sama dengan ku. Jika itu benar maka bisa jadi dia akan menjadi Junior nanti.”


Akira memutuskan untuk mengambil foto gadis yang tengah tidur didepannya agar nanti bisa dilacak. Akira tidak ingin melepaskan gadis didepannya karena telah menggunakan sihir yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Tapi sesuatu yang aneh terjadi, setiap kali Akira mengambil foto hasilnya selalu buram.


“Tidak mungkin apa alat ini rusak?.” dia mencoba mencari tahu apa yang salah, beberapa kali kamera yang dia ciptakan sendiri coba dia perbaiki namun Akira tidak menemukan kesalahan apapun.


“Baiklah mari kita coba sekali lagi,” Akira kembali mengarahkan kamera ke depan namun...


“Eh… kemana gadis itu pergi?.” gadis yang ingin Akira foto telah lenyap, “Apa mungkin dia benar-benar hantu?.” pikirnya.


“Dasar bocah mesum, apa kau tahu mengambil foto orang lain secara diam-diam adalah tindakan ilegal?.”


‘Apa… kapan dia pindah ke sebelahku?.’


Akira begitu terkejut saat mendapati gadis yang ingin dia foto tiba-tiba berada tepat disampingnya.


Sebelum Akira mengatakan apapun, gadis Itu lebih dulu menyandarkan kepalanya ke bahu Akira, membuat bocah tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


“Ne.. neesan…”


“Hemm… halte biawak.. tolong bangunkan aku jika sudah sampai.”


Tanpa bisa melakukan apapun Akira hanya bisa pasrah bahunya dijadikan sebagai bantal gadis itu.


Bocah itu memang memiliki beberapa kondisi aneh saat berhadapan dengan para gadis.


***



Chapter 8 Bus Malam.


END.

__ADS_1


__ADS_2