Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 42 : Trik Sulap Kirana


__ADS_3

[kelas 1C]


“Adriana begitu cantik!.”


“Adriana begitu luar biasa!.”


“Aaaaaaa…. Adriana!.”


Sebagian murid terus mengelu-elukan gadis berambut pink saat dia maju ke depan untuk memperkenalkan diri. Bu Dean yang merupakan wali kelas 1C hanya melihat pemandangan itu dengan diam. Kemudian kelas yang ramai mulai tenang saat Adriana kembali ketempat duduknya.


Beberapa siswa maju untuk memperkenalkan diri, hingga akhirnya giliran seorang pemuda berambut keemasan yang sebelumnya terkena lemparkan kertas oleh Kirana.


“Namaku Ilham, keahlian ku adalah bela diri dan sihir. Khususnya beladiri karena sihir yang aku miliki masih tingkat dasar.”


Pemuda itu memperlihatkan kemampuan sihirnya dengan mengeluarkan bola api kecil, tidak ada yang spesial sehingga seluruh kelas tidak ada yang tertarik padanya.


‘Haaa… dasar para kera.’ dalam hatinya Ilham menganggap semu murid di kelas 1C tidak lebih baik darinya dan mengaggap mereka semua seperti kera.


Sebenarnya dia bisa saja memasuki kelas 1A atau 1B jika dia mau, tapi melihat kekuatan Leona dan Cecilia serta kegilaan Gilang membuat pemuda itu memilih untuk masuk kelas 1C.


‘Akan aku buat mereka semua bergerak sesuai keinginan ku.’ senyum lebar Ilham mulai terlihat membuat seisi kelas kening.


“Napa dia senyum-senyum?.”


“Tau, udah gila kali.”


“Mungkin mana nya habis setelah mengeluarkan api kecil tadi, jadi otaknya bermasalah.”


“Pffft… payah banget.”


Ilham tidak peduli dengan semua kebisingan semua kera di depannya, hingga senyuman itu menghilang saat dia menatap seorang gadis bertanduk di barisan paling belakang yang menatapnya dengan bosan.


‘Dia yang mematahkan rune buatan ku. Gadis aneh itu berani mengganggu kesenanganku…’


Setelah Ilham, giliran murid lainnya maju memperkenalkan diri. Kali ini tiga gadis bergantian maju, mereka memiliki penampilan nyentrik, warna rambut ketiganya diwarnai dengan begitu mencolok sementara beragam aksesoris dan tato menghiasi tubuh mereka.


Ketiganya seolah ingin menunjukkan jika mereka adalah anak nakal. Tidak ada yang mereka tampilkan, hanya memperkenalkan diri lalu kembali ke tempat duduk yang semuanya berada di barisan belakang seperti Kirana.


Kemudian giliran gadis yang duduk di samping Kirana maju untuk memperkenalkan diri. Dia terlihat mengantuk karena memang baru saja bangun dari tidurnya, memperkenalkan diri sebagai nama Prupler setelah itu dia kembali ke tempat duduknya.


Sama seperti tiga gadis sebelumnya, Prupler memiliki penampilan yang ‘unik’. Terlihat mendung, kurang tidur, ada sebuah kalung coker spiker yang melilit lehernya, dengan rambut berwarna ungu dia terlihat seperti seorang fans musik death metal fanatik.


***

__ADS_1


......


***


“Oke terakhir giliran ku…” Kirana bersiap untuk maju ke depan. Tapi...


“Baiklah, setelah semua murid memperkenalkan diri. Ibu akan menulis jadwal pelajaran dan piket.” Bu Dean tidak menyadari jika Kirana belum memperkenalkan diri.


“Bu, maaf Bu guru…” Kirana angkat tangan dengan air mata yang terus mengalir.


“Em iya ada apa?….!.”bu dengan bingung dengan Kirana hingga beberapa saat kemudian dia menyadari kesalahannya.


“Serius ada gadis seperti itu di kelas kita?.”


“Aku tidak sadar, kehadirannya begitu tipis.”


“Jangankan Bu dean. Aku yang duduk di depannya saja tidak sadar.”


Para murid membicarakan Kirana yang dilupakan begitu saja oleh semua orang. Sementara Kirana menulis namanya dengan begitu besar hingga seluruh papan tulis terisi penuh.


“Kirana, itu namaku. Aku percaya diri dengan sihir yang aku miliki dan…” kira bingung dengan apa yang akan dia tampilkan. Sementara semua orang di kelas 1C terdiam menantikan apa yang akan gadis dengan kehadiran tipis itu tampilkan.


“Aha... aku punya sebuah trik.” Kirana akhirnya tahu apa yang akan dia tunjukkan pada teman sekelas.


Bum..


Lingkaran jari yang saling mengaitkan terlepas.



Semua murid bahkan Bu Dean terdiam dengan mulut terbuka lebar melihat pertunjukan yang ditampilkan oleh Kirana.


“Uuuu… bagaimana aku melakukannya?.”


Krik krik krik... Hanya suara jangkrik yang terdengar di kelas itu.


“Masih menjadi sebuah misteri.” lanjut Kirana.


Setelah memperlihatkan trik sulap yang begitu menakjubkan hingga tidak ada seorangpun yang mampu menjelaskan, Kirana pun kembali ketempat dudu saat semua orang masih berusaha mencerna apa yang baru saja mereka lihat.


“Ghom!… O.. oke ibu akan mulai menulis jadwalnya.” akhirnya Bu Dean memecah keheningan kelas.


Hari kedua sekolah masih tidak ada pelajaran, hanya mencatat jadwal pelajaran dan pembagian tugas piket harian.

__ADS_1


Ada 25 murid di setiap kelas, piket dilakukan oleh 5 murid setiap harinya secara bergiliran. Sementara di hari Sabtu akan diadakan kerja bakti bersama seluruh kelas 1. Entah itu membersihkan seluruh sekolah atau tempat umum lainnya.


“Terdengar seperti pelayan masyarakat.” gumam Prupler saat mendengar penjelasan dari Bu Dean.


“Oke semuanya, pastikan untuk mencatat semua yang ada di papan tulis, karena saat jam istirahat semua akan dihapus. Kemudian di jam pelajaran kedua akan ada kakak kelas kalian yang akan mempresentasikan klub mereka, jika kalian tertarik bisa bergabung dengan klub...”


Bu Dean menjelaskan saat dia melihat secarik kertas sambil membetulkan posisi kacamata yang bergeser.


“…. Dan setiap anak wajib mengikuti setidaknya satu klub antara beladiri dan sihir!.” ucap guru paling muda diantara semua pengajar di sekolah Archata.


Teng! Teng! Teng! Teng!..


Bunyi lonceng terdengar menandakan jam pertama telah berakhir, semua siswa pun mulai keluar setelah Bu Dean, untuk beristirahat. Sementara Kirana terdiam di mejanya dengan terus memikirkan perkataan Bu Dean.


‘Wajib mengikuti satu klub beladiri atau sihir, Bukankah itu hanya ditujukan untuk klas A dan B? Ini pasti perubahan yang sebelumnya di katakan oleh Bu laura.’


“Ya terserah lah, mungkin aku harus merubah rencana untuk masuk klub minum teh.” kira kemudian meninggalkan kelas untuk bertemu dengan Leona dan Cecilia.


Tapi saat menuruni tangga lantai 2 dimana kelas 1B beranda, Kirana dikejutkan dengan seonggok mayat yang tergeletak di anak tangga. Kirana sangat mengenali mayat itu..


“Apa dia benar-benar mati?.” dia mencoba merasakan nafa di hidung pemuda yang berusaha membunuhnya kenari.


“Haaa… dasar trouble maker.” Kirana bernafas lega saat memastikan jika Gilang masih hidup.


Seluruh tubuh pemuda itu dipenuhi oleh luka akibat perkelahiannya di kelas. tapi luka akan sembuh dengan cepat karena karakteristik tubuh Gilang yang memiliki faktor speed healing. Walaupun demikian Gilang Masih tetap akan merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya selama penyembuhan masih berlangsung.


“Jangan jadi orang mesum, tidur di tangga cuma buat ngintip rok cewek.” kata Kirana yang mulai pergi.


Meninggalkan Gilang, Kirana segera bertemu dengan kedua sahabatnya. Mereka saling mengobrol tentang banyak hal yang berkaitan dengan kelas masing-masing. Selama bersama kedua sahabatnya Kirana merasakan tatapan banyak orang yang menatap kearahnya.


Sebagian besar dari tatapan itu menunjukkan kebencian pada Kirana.


‘Haaah… memiliki teman seorang artis sekolah sementara kau bukan siapa-siapa memang sebuah ujian.’ Kirana sadar dengan maksud dari tatapan itu. Kirana dapat melihat tatapan kecemburuan dari beberapa murid yang melihatnya berjalan bersama kedua sahabatnya.


‘Mungkin akan ada beberapa pengganggu yang akan memberiku nasehat.’


Dia yang ingin menjalani kehidupan damai di sekolah, namun masalah tiba dari jalan yang tak terduga.


***


KPT 42 : Trik Sulap Kirana


END.

__ADS_1


__ADS_2