
Terdapat sebuah retakan di langit, asap biru kehitaman keluar dari retakan itu.
Retakan yang dibuat oleh Yagdragoath saat ia berusaha menembus perbatasan dimensi.
Saat perbatasan dimensi hancur Yagdragoath masuk kedalam dan mulai menginvasi bumi. Jumlah robot yang tak terhitung banyaknya keluar dari pecahan dimensi menutupi seluruh permukaan bumi.
Saat semua kehidupan telah musnah, Yagdragoath mencengkeram bumi dengan satu tangan lalu menelannya.
Setelah bumi musnah seluruh bintang mulai padam.
{Ini adalah apa yang harus kita lakukan}
Perkataan Yagdragoath terasa berbeda dari yang aku ingat, itu terdengar lebih feminim seperti suara seorang wanita.
{Benar, masih banyak dimensi yang harus kita hancurkan demi kestabilan sembilan dimensi utama}
Lebih dari itu kenapa Yagdragoath semakin mirip dengan ku?.
{Itu karena takdirmu untuk menjadi…}
Tangan besar Yagdragoath terarah padaku, tangan yang mampu mencengkeram dunia, menarik ku lalu melempar ku kedalam mulutnya yang begitu gelap seperti jurang tanpa batas.
{… Sang penghancur}
***
“Haaah…?!”
Kirana langsung bangkit dari tempat tidur ketika dia bermimpi aneh.
“Apa yang baru saja aku lihat.”
Dia merasa sekujur tubuhnya dipenuhi keringat hingga baju tidurnya basah kuyup. Kirana berusaha menghapus keringat yang membasah wajahnya, namun dia merasakan ada sesuatu yang janggal.
“Tanduk? Kenapa ada tanduk di kepalaku?.” Kirana kebingungan saat mendapati dua tanduk tumbuh di kepalanya tanpa dia sadari.
Merasa khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada tubuhnya, Kirana segera bangkit dan melihat dirinya di cermin.
“Wat d hell.…” tapi setelah melihat dirinya di cermin. Bukan hanya sepasang tanduk yang berubah di tubuhnya, rambutnya yang hitam telah berubah menjadi putik, lalu Kirana juga merasakan perubahan pada kedua matanya .
Dengan pupil merah sementara semua bagian Sklera berubah hitam. Terasa begitu mengintimidasi seolah dapat membunuh seseorang hanya dengan tatapan.
Jenis mata yang hanya dimiliki oleh ras iblis.
“Guh… sebenarnya apa yang terjadi, apa itu ada hubungannya dengan mimpi aneh yang aku lihat barusan?.” Kirana teringat dengan wujud dari Yagdragoath di dalam mimpi yang begitu mirip dengan dirinya.
“Jika itu benar berarti tubuhku mulai berubah karena inti kehidupan Yagdragoath yang aku serap mulai bereaksi.” Kirana mulai memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
Kembali membaringkan tubuhnya di kasur, Kirana menatap tangannya sendiri yang menengadah ke atas.
“Itu artinya aku barusaja terbangkitkan (Awakened).”
__ADS_1
Dalam ingatan Kirana, dia seharusnya terbangkitkan saat kelas dua SMA. Masa itu benar-benar berat baginya, dia dikucilkan di sekolah, tidak memiliki teman, lalu tempat Kirana pekerja pun di tutup karena berbagai masalah, sementara penagih hutang yang diutus oleh senior di sekolah terus menerornya.
Kirana yang tidak lagi memiliki pekerjaan, tidak tahu harus berbuat apa untuk bertahan.
Hingga pikiran untuk bunuh diri pun terlintas di kepalanya. Kirana meminum racun yang dapat membuat monster tingkat C sakit perut, tapi sangat mematikan bagi manusia level rendah sepertinya.
Namun pilihan terakhir yang dia ambil justru merubah hidupnya untuk selamanya. Racun kematian yang dia kira akan mengirimkannya ke alam baka justru membuatnya terbangkitkan.
Melewati rasa sakit yang bertahan hingga berhari-hari Kirana mendapati rambutnya memutih dan kekutan sihirnya naik berkali-kali lipat.
“Tapi saat itu hanya rambut yang menjadi putih tanpa ada dua tanduk besar ini.” Kirana menyentuh tanduk di kepalanya, gadis itu tidak merasakan apapun selain keras dan tajam di ujung.
“Mungkin karena efek inti kehidupan Yagdragoath.... hoaaam.”
Jam masih menunjukkan pukul satu pagi. Kirana yang akan mulai bersekolah esok pagi pun kembali melanjutkan tidurnya.
***
Triiii..
Tap!
Jam weker seperti biasanya berisik di pagi hari, namun kali ini Kirana sudah bangun lebih awal sebelum jam itu berbunyi. Gadis itu bahkan sudah mandi dan mengenakan seragamnya dengan rapih.
“Tidak untuk hari ini kawan.” ucap Kirana pada jam weker.
“Kira... kau sudah bangun? Kita akan sekolah hari ini.” suara Cecilia terdengar mulai mendekat, tidak lama kemudian pintu kamar Kirana terbuka.
“Oh sit...” menyadari keanehan yang terjadi pada Cecilia adalah akibat dari tatapan matanya, Kirana segera memejamkan mata.
“[Stona].”
Dengan mata masih tertutup Kirana menggunakan sihir anti Petrify (pembatuan) sehingga efek dari tatapan matanya yang mengenai tubuh Cecilia menghilang.
“Arg...”
Tubuh Cecilia yang lemas hampir terjatuh tapi Kirana segera menangkapnya.
“Cecil apa kau baik-baik saja? Cecil!.” Kirana begitu panik, dia berusaha mengecek denyut nadi dan detak jantung Cecilia untuk memastikan jika temannya masih hidup.
“Apa yang baru saja?.” Cecilia kebingungan dengan apa yang baru saja dia lihat.
Saat tatapnya bertemu dengan tatapan Kirana, tiba-tiba Cecilia seperti dilempar ketempat yang begitu panas dan penuh oleh jeritan seperi sebuah neraka, lalu ribuan duri tiba-tiba menghujani Cecilia.
“Aku benar-benar minta maaf, aku tidak tahu jika tatapanku memiliki efek pembatuan.” Kirana sangat menyesal karena hampir saja membunuh temannya. Dia tidak tahu jika tatapannya memiliki efek seperti itu karena saat Kirana menatap dirinya sendiri di cermin, gadis itu tidak merasakan apapun.
“Tatapan pembantu? Seperti Medusa di kisah Dewa Yunani?.” tanya Cecilia yang sudah sepenuhnya terbebas dari efek tatapan.
“Ya seperti itu.”
Kirana kemudian menjelaskan jika dirinya telah mengalahkan kebangkitan tadi malam. Mendengar penjelasan Kirana, Cecilia segera memberi selamat pada temannya.
__ADS_1
Kebangkitan memang peristiwa yang jarang terjadi pada setiap orang, hanya Hunter kuat dengan rank S dan lebih tinggi saja yang pernah terbangkitkan. Tapi jumlah yang dikonfirmasi saat ini mereka yang terbangkitkan masih bisa dihitung dengan jari.
“Jadi bagaimana kau tidak bisa pergi ke sekolah dengan terus menutup matamu kan?.” Cecilia terus memperhatikan rambut Kirana yang memutih lalu tanduk di kepalanya.
“Tentu saja, jika seperti ini aku akan menarik perhatian.” Kirana kemudian mengambil kacamata hitam yang sempat dia beli saat di pantai.
“Aku tidak merasakan apapun saat menatap diriku sendiri di cermin, mungkin aku bisa menahan kekuatan mata dengan kaca.” pikir Kirana.
Gadis itu kemudian membuka lagi matanya setengah memakai kacamata.
“Apa ini berhasil?.” tanya Kirana pada Cecilia yang menjadi kelinci percobaan.
“Umm… aku... aku tidak tahu... tiba-tiba aku merasa aneh pada diriku.” wajah Cecilia mulai memerah dengan nafas yang tidak beraturan. Cecilia merasakan jantungnya berdebar-debar dan kulit yang begitu sensitif. Kakinya yang semakin lemas membuat Cecilia jatuh ke lantai.
“Tck, ini efek tatapan pemikat.” Kirana menyadari jika kacamata yang dia gunakan tidak dapat menahan kekuatan mata miliknya.
“Terpaksa aku harus menggunakan salah satu harta yang aku simpan.”
Mengambil sesuatu dari item box, Kirana mendapatkan sebuah kacamata berbingkai merah.
________________________________________________
[10th Hokage Glasses]
Tipe : Equipment
Tier : SSS
Keterangan : Kacamata yang digunakan oleh Hokage ke 10 sejak dia masih berusia 6 tahun. Memiliki kekuatan untuk menyegel kekutan mata pengguna dan meniadakan efek ilusi yang mengarah pada pengguna.
________________________________________________
“Oleh oleh dari dimensi yang di diami oleh para sinobi.” gumam Kirana yang segera mengenakan kacamata berbingkai merah tersebut.
Setelah dia memakainya dan mengarahkan tatapan pada Cecilia yang masih duduk lemas di lantai, Kirana tidak menunjukkan keanehan pada temannya itu.
“Hemm… aku pikir ini bekerja.” Kirana tersenyum puas dengan efek dari item tingkat SSS.
“Baiklah, ayo kita sarapan dan segera berangkat ke sekolah.” ajak Kirana, tapi Cecilia masih saja duduk di lantai.
“Ada apa, apa ada sesuatu yang aneh pada tubuhmu?.” Kirana kembali khawatir.
“Tidak, hanya saja aku pikir sudah membasahi cel4na dal4m ku.” balas Cecilia dengan wajah merah padam.
***
Chapter 26 : (Arc 2) Terbangun (Awakened).
END.
__ADS_1