
Ruang UKS.
Kirana terbaring di tempat tidur, sementara di luar kamarnya keadaan sangat sibuk oleh petugas medis yang membawa para siswa terluka.
“Tidak apa. Luka pergilah fu.. fuu...” seorang wanita berambut hijau dengan baju perawat tengah mengobati siswa terluka dengan hembusan nafasnya.
Mrs Siska, salah satu wanita yang duduk di deretan kursi guru saat pertandingan berlangsung. Tapi melihat jika siswa yang terluka sangat banyak membuat guru yang mengajar sihir suci itu turun tangan untuk membantu UKS.
“Hem… ruangan ini kosong?.” Bu Siska kebingungan melihat ruangan yang ditempati Kirana telah kosong.
“Mungkin dia sudah sembuh.” kata petugas kesehatan lainnya.
“Hemm… padahal sebelumya gadis itu terlihat begitu kesakitan.” Bu Siska mengingat wajah penuh kesakitan gadis bertanduk itu.
“Aku jadi khawatir.” ucapnya sambil menyentuh pipinya sendiri dan memiringkan kepala, tindakan itu membuatnya terlihat begitu cantik, semua siswa yang melihat itu seketika disembuhkan.
***
Untuk menghindari kebohongannya terbongkar, Kirana keluar dari UKS secara diam-diam. Usahanya berhasil dengan mudah karena semua orang sedang sibuk.
Tapi saat dia keluar dari UKS…
“Kirana!.”
“Gufuuu…”
Leona yang telah menunggu di luar segera memeluknya. Cecilia pun ikut, tapi gadis itu tahu apa yang sebenarnya terjadi membuatnya tidak terlalu memikirkan kondisi Kirana.
“Le… Len kau memelukku berlalu keras.” Kirana merasa sesak nafas akibat Leona memeluknya terlalu keras.
“Oh… maaf, kau bagaimana kau bisa dibawa kemari, aku pikir telah berhasil melindungi mu.”
“Entahlah, itu terjadi begitu cepat. Tiba-tiba ada ledakan dan aku kehilangan kesadaran.”
Kirana merasa begitu bersalah karena membohongi temannya yang begitu menghawatirkan dirinya.
‘Ya apa boleh buat, aku tidak mau berada di kelas merepotkan seperti A dan B, jadi maafkan aku Leona.’
Kirana berpikir untuk mentraktir Leona saat di kantin untuk permintaan maaf.
Pertandingan murid baru telah usai, sekarang giliran siswa tahun ke dua yang akan bertanding. Sementara itu para guru tengah sibuk menyusun kelas untuk para murid baru.
“Kenapa mereka begitu serius untuk memilih para siswa yang akan masuk kelas A atau B? Apakah setiap kelas berbeda?.”
Leona bertanya pada dua temannya, saat ini ketiga gadis itu tengah menikmati makan siang di kantin sekolah. Itu karena Kirana yang memaksa keduanya untuk dia traktir, walaupun Leona menolak tapi Kirana tetap bersikeras untuk membayarkan semua makanan yang mereka ambil. Tidak bisa menolak paksaan Kirana, Leona pun mengambil roti kari dan satu kotak susu vanilla.
“Itu karena kelas A dan B adalah kelas khusus untuk mereka yang akan menjadi Hunter atau tentara.” jawab Cecilia pada Leona.
“Hem?.” Leona yang masih meminum susu kotak, memiringkan kepalanya menandakan jika dia tidak mengerti. Dia begitu imut sehingga membuat semua lelaki dan perempuan di kantin langsung jatuh hati padanya.
Karena penjelasan Cecilia sulit dipahami untuk Leona, Kirana pun menjelaskan sedetail mungkin pada temannya.
__ADS_1
Ada Tiga kategori job yang akan memisahkan setiap siswa sesuai keahlian mereka.
Petarung : Para siswa yang memiliki kemampuan tinggi dalam pertempuran.
Suport : Para siswa yang memilik keahlian bantuan seperti misalnya sihir pemulihan, sihir penguat dan sebagainya.
Taktikal : Para siswa yang memiliki keahlian dalam bidang Alkemis, Rune, pembuatan senjata dan sebagainya.
Semua murid baru di kelas manapun akan mempelajari semuanya tapi dalam batas tertentu.
Para guru yang memiliki keterbatasan tidak mungkin mengajarkan semu yang mereka tahu pada semua murid karena terlalu membuang waktu, ditambah tidak semua murid memiliki potensi pada keahlian yang dimiliki setiap guru.
Karena itu mereka mengelompokkan para murid sesuai dengan keahlian mereka lewat kelas yang ada.
Klas A dan B akan mempelajari tentang kemampuan bertarung dan Suport secara merata.
Kelas C mempelajari Teknikal dan Suporter.
Sedangkan D dan E mereka hanya figuran.
[Note : so sad :(]
“Jadi maksudmu para siswa D dan E tidak akan mendapatkan pelajaran tentang sihir dan penguatan tubuh?.”
“Tidak, mereka tetap akan mempelajarinya tapi dalam batas tertentu. Mereka tidak akan sebaik klas A dan B.”
Mendengar penjelasan Kirana membuat Leona berpikir ada yang salah dengan sekolah ini.
Yang dikatakan oleh Leona memang benar. Sudah sejak lama sekolah ini menganggap jika klas A memiliki derajat lebih tinggi dari klas lainnya, begitu juga dengan klas B yg lebih tinggi derajatnya dari klas C, D dan E.
Bullying yang terjadi sudah biasa terjadi, para guru seakan membiarkan mereka yang dari kelas lebih tinggi untuk memperlakukan murid kelas di bawahnya sesuka mereka.
“Tapi itu dulu!.”
“““!!!!”””
Tiba-tiba seorang wanita seksi berambut merah ikut duduk di meja ketiga gadis yang sedang mengobrol.
“Siapa yak?.”
Pertanyaan terus terang dari Kirana mewakili kedua temannya. Mendengar pertanyaan itu si wanita hanya tertawa kecil, dia menyuruh ketiga gadis untuk menebak indentitasnya, yang menang akan dibelikan roti panggang.
“Aku rasa nyonya ini adalah salah satu guru. Aku ingat melihatnya di atas podium bersama guru lain.” ucap Cecilia.
“Ya, tapi guru apa?.” Leona mulai mengacak rambutnya berusa untuk mengingat.
“Hemmm…” Bahkan Kirana pun tidak ingat dengan guru didepannya.
‘Di kehidupanku sebelumnya aku yakin tidak ada wanita ini sebagai guru, tapi kenapa tiba-tiba dan siapa dia sebenarnya?.’ Kirana dikejutkan oleh sesuatu yang tidak dia ketahui.
‘Tapi jika dipir lagi seharusnya ini normal.’ Kirana kembali memikirkan apa yang telah dia lakukan sehingga masa depan yang dia ingat berubah.
__ADS_1
‘Hal paling besar yang aku lakukan adalah menyelamatkan Regina sehingga Cecilia tidak terbangkitkan menjadi Ratu Kecemburuan.’
‘Tidak bukan hanya itu, aku lupa tentang semua dungeon yang telah aku keringkan Mana nya.’
Kirana memikirkan ulang tentang efek kupu-kupu yang bisa terjadi setelah dia menghilangkan ribuan dungeon penting di seluruh dunia.
Ketika dungen tua di Kalimantan tertutup membuat hubungan perusahaan Wildroar dan guild Mahakam berakhir, hasilnya Leona bisa melanjutkan sekolahnya.
Harga inti monster naik hingga 25%, sehingga banyak Hunter yang mendadak menjadi kaya raya.
Kemudian para guild top dunia yang kehilangan tempat mereka berburu mulai mencari dungeon lain yang sesuai, mereka juga mulai kembali merekrut anggota karena basis operasi yang semakin lebar.
Kemudian retakan dimensi semakin melebar karena tingkat mana yang terkuras….
‘!’
Kirana seolah telah memecahkan misteri yang mengganggu pikirannya.
‘Semua ini karena aku.’
Kirana menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena merasa telah melakukan kesalahan besar. Guru dan kedua temannya yang melihat Kirana menjadi heran.
“Yah apa boleh buat, toh aku bisa memutar balik dunia.”
“Benarkah kau bisa melakukan itu?.”
Tanpa sadar Kirana berbicara sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan. Ketiga perempuan yang duduk bersamanya diam menatap Kirana. Bahkan Cecilia pun terkejut dengan perkataan Kirana.
“Ya… yah, tentu aku bisa melakukannya jika mendapatkan pelatihan sepeti di kelas A.”
Kirana tidak menyadari jika perbuatannya untuk meningkatkan kapasitas mana akan berpengaruh besar pada masa depan yang dia ingat.
‘Aku mungkin tidak akan bisa mengandalkan senjata andalan para MC yang kembali ke masa lalu (ingatan masa depan) dengan adanya perubahan besar ini.’
‘Tapi siapa juga yang butuh itu jika aku dapat dengan bebas menulis ulang takdir dunia.’
Kirana teringat sebuah senjata yang tidak pernah dia sentuh selama ribuan tahun sejak dia menciptakannya. Senjata itu masih dia simpan di dalam pesawat Big Bro dan disimpan di brankas dengan keamanan maksimum.
‘Aku pikir perlu untuk mengunjunginya.’
Pada akhirnya tidak ada yang bisa menebak identitas dari guru berambut merah itu. Kirana sengaja tidak mengatakannya agar guru itu tidak curiga jika dia bisa melihat status orang lain.
‘Tidak aku sangka seorang Sword Saint pun datang ke sekolah ini untuk menjadi guru.’
***
Chapter 31 Tamu tidak diundang.
END
__ADS_1