Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 44 : Sebuah Surat


__ADS_3

Brayen yang saat ini berada di kantor guild Dark Phoenix tengah disibukkan dengan beberapa dokumen yang perlu dia tandatangani.


“Dan ini yang terakhir.” ucap pemuda itu saat mendatangi berkas terakhir. Setelah itu Brayen menyandarkan punggungnya ke kursi untuk beristirahat, sudah beberapa jam dia hanya duduk di kursinya sambil membaca dokumen dan mencoret tanda tangan, tapi kelelahan yang dia rasakan melebihi ketika menyusuri sebuah dungeon.


Olivia mengambil semua dokumen yang Brayen telah tandatangani. Setelah melakukan proses pengecekan sebentar, gadis itu menyerahkan dokumen pada wanita pirang bercadar, S11.


“Kau terlihat kelelahan tuan brayen.” S11 memulai pembicaraan.


“Hehehe… yah mau bagaimana lagi, bisnis berjalan cukup lancar akhir-akhir ini.” balas Brayen sambil menikmati sisa rokok yang sebelumnya dia matikan. Sementara Olivia mulai memijat pundak kekasihnya itu.


“Apa bola memberikan saran?.” S11 melirik kedekatan 2 manusia didepannya.


“Tentu kenapa tidak?.” jawab Brayen.


“Jika kita terus melanjutkan bisnis seperti ini maka tidak akan lama lagi hingga keinginan nyonya Kira akan tercapai.”


Setelah menjalin kerjasama dengan guild BlackBone, Brayen merasakan guild yang dia buat mengalahkan pertumbuhan kekuatan yang luar bisa. Selain menyediakan dan, Guild BlackBone juga menjual berbagai kebutuhan Hunter seperti potion, perlengkapan dan beragam alat lainnya yang dapat mempermudah penjelajahan Dungeon. Hasilnya banyak anggota guild yang bertambah kuat dari perburuan dungeon tingkat menengah.


Kabar pun menyebar tentang bangkitnya guild Dark Phoenix membuat banyak orang di daerah kumuh berniat menjadi anggota mereka.


Sekarang kekuasaan guild Dark Phoenix menjadi peringkat ketiga dari posisi tujuh guild terbaik daerah kumuh.


“Yeah, itu bagus bukan. Aku berharap kerja sama kita akan terus berjalan saat hari dimana keinginan nona Kira terwujud.”


“Anda benar, tapi apakah anda siap untuk konsekuensinya?.” mendengar perkataan S11 membuat dua petinggi guild Dark Phoenix itu waspada, merasakan itu membuat S11 segera mempercepat kalimatnya.


“Semakin sukses guild Dark Phoenix maka pekerjaan yang anda miliki akan semakin padat, itu berarti anda mengorbankan waktu yang berharga demi kesuksesan guild. Apa itu tidak masalah untukmu?.”


“Tidak, aku pikir itu sepadan.” Brayen menjawab sambil melirik kekasihnya yang sepertinya sedang berpikir keras.


“Untuk sekarang, tapi semakin bertambah besar guild Dark Phoenix membuat watumu tersita maka sewaktu saat kau tidak akan memiliki waktu lagi yang dapat dihabiskan untuk diri sendiri. Itu adalah sebuah konsekuensi untuk apa yang anda inginkan. Apa anda tidak apa apa dengan semua itu?.”


Brayen memikirkan apa yang S11 katakan, sementara wanita disebelah mulai mengeluarkan asap di kepalanya.


“Tentu aku menyadari itu akan terjadi, dan aku sudah siap dengan resikonya.” bakas Brayen, kemudian dia melanjutkan “Lalu bagaimana dengan anda dan anggota BlackBone yang lain?.”


“?.” S11 memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan pertanyaan Brayen.


“Apa konsekuensi atau bayaran dari kekuatan yang anda miliki?.”

__ADS_1


S11 terdiam sesaat dengan tatapan yang menerawang jauh seolah sedang mengingat sesuatu.


“Kami mengorbankan…. Kebebasan.”


“?!!”


“Utuk mendapatkan apa yang diberikan oleh nona Kira, kami mengorbankan kebebasan kami.”


“Dan apa itu sepadan?.”


“Tentu, nona Kira memberikan lebih dari apa yang seharusnya kami terima.”


S11 menjawab dengan penuh rasa kekaguman yang mendalam pada tuannya. Hingga Brayen dan Olivia merasa wanita itu seperti memuji pemimpin guild BlackBone seperti ibunya sendiri.


***



***


Chaouen, Maroko.


Para warga telah diungsikan ke kota lain, namun masih banyak yang l terjebak di dalam kota. Puluhan helikopter pengangkut tidak henti-hentinya berterbangan untuk mengungsikan ribuan warga yang dikumpulkan di bukit untuk menghindari para monster. Sementara di kaki bukit yang telah menjadi Medan perang, ribuan tentara berjuang menahan para monster untuk memberi waktu berharap semua warga dapat diungsikan.


Semua orang berharap agar bantuan cepat datang, tapi sepertinya itu sulit karena biaya yang diminta oleh asosiasi Hunter begitu menyulitkan petinggi negara tersebut.


“Tsk, mereka ingin menghisap darah kita hingga kering.” ucap seorang menteri saat di depan belasan petinggi yang lain. Mereka saat ini tengah mengadakan rapat darurat untuk memutuskan menyerah pada kota Chaouen atau tetap bertahan hingga ada bantuan datang.


Semakin lama waktu terbuang maka semakin bertambah banyak nyawa prajurit yang di korbankan. Di tengah keputusasaan para menteri negara akhirnya memutuskan untuk menyerah pada kota itu dan memerintahkan semua pasukan untuk segera di tarik mundur setelah semua warga diungsikan.


Pilihan yang sangat berat, selain kehilangan kota yang penting, semua orang di ruangan itu pun tahu apa yang akan terjadi jika dungeon Rampage dibiarkan begitu saja. Monster akan selalu bermunculan tanpa henti hingga mungkin 2 atau 3 bulan selanjutnya monster-monster itu kan menyerbu' kota terdekat saat seluruh sumber daya di kota Chaouen telah habis.


Di tengah keputusasaan itu tiba-tiba seorang ajudan memasuki ruang rapat dengan terburu-buru, semua petinggi negara tidak memperdulikannya walaupun seharusnya tidak ada seorangpun yang boleh menggangu rapat itu. Mereka sangat dibuat pusing oleh masalah yang sedang terjadi sehingga tidak memiliki waktu untuk mempermasalahkan etika.


Ajudan itu menyerahkan sepucuk surat pada salah satu Mentri, surat dengan lambang tengkorak hitam dan nama si pengirimnya adalah...


“Guild BlackBone?.”


Perkataan Mentri itu seketika membuat semua petinggi yang lain mengarahkan perhatiannya padanya.

__ADS_1


Tentu mereka sudah mendengar tentang guild yang baru-baru ini telah menjadi perbincangan dunia, tentang keberanian mereka yang telah menghancurkan salah satu cabang asosiasi Hunter dan tentang teknologi kapal melayang yang terus menjadi fokus media selama dua hari terakhir.


‘Tapi kenapa guild BlackBone yang saat ini begitu diwaspadai oleh serikat Hunter internasional justru mengirim surat pada presiden disaat seperti ini’ pikir setiap orang yang berada di ruang rapat.


Kedua mata Mentri yang mendapat surat bergerak cepat ketika dia terus membaca isi surat dari guild BlackBone, semua Mentri yang melihatnya di buat begitu penasaran dengan isi surat.


“Haaa…. Ini sangat rumit.” Mentri menghela nafas berat sambil melempar surat itu ke meja, meja dengan teknologi canggih itu kemudian menscan surat lalu ditampilkan pada layar monitor raksasa agar semua orang di ruangan rapat bisa melihatnya.


Semua orang dibuat terkejut dengan isi surat yang menyatakan guild BlackBone akan memberikan bantuan menangani masalah dungeon Rampage dengan imbalan dungeon core dan semua item yang didapatkan didalam dungeon akan menjadi milik mereka.


Semua menteri saling menatap setelah membaca surat tersebut, mereka tidak tahu harus menerima tawaran dari guild BlackBone atau menolaknya.


Jika menerima tawaran itu sebagian dari menteri takut negara mereka akan dimusuhi oleh asosiasi Hunter internasional. Tapi jika ditolak lalu siap yang akan menolong negara ini dari musibah yang saat ini sedang terjadi?.


“Kita kehabisan waktu.” ucap Mentri pertahanan yang barusaja menerima kabar jika bukit yang menjadi tempat para warga diungsikan dengan helikopter telah terkepung sementara jumlah prajurit yang tersisa semakin sedikit.


“Persetan dengan mereka (Asosiasi Hunter Internasional),” Mentri pertahanan negara segera mengambil surat di atas meja lalu segera menandatangani persetujuan, setelah surat ditandatangani api melahap surat tersebut hingga tidak ada abu yang tersisa.


Sementara di rumahnya sendiri Kirana sedang menonton televisi dengan Koreo dan Olie, sementara Cecilia sedang belajar sesuatu dengan para anggota BlackBone yang lain.


Bwosss!


Kuruk ku ku kuruk!


Shaaaa!


Tiba-tiba api muncul dihadapan Kirana mengagetkan kucing di pangkuannya dan seekor burung hantu yang bertengger di atas kepalanya.


“Hou, itu cepat.” kira segera menenangkan kedua binatang itu, lalu dia menunggu hingga api yang mulai membesar padam.


Setelah padam sebuah surat tersisa dari api, surat yang barusaja ditandatangani oleh seorang menteri negara nan jauh.


“We got a job.” gumam Kirana dengan senyum yang begitu menawan.


***


Chapter 44 : Sebuah Surat


END

__ADS_1


__ADS_2