Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 51 : Pelaku Pembullyan


__ADS_3

[Kelas 1A]


Cecilia terdiam melihat bangkunya yang telah dikotori oleh para pembully. Dia menatap seluruh kelas tapi semua orang memalingkan wajah tidak ingin bertemu dengan gadis itu.


“Oke teman-teman. Siapa yang melakukan ini?.” tanya gadis itu pada setiap murid. Sebagai balasannya semu orang mengangkat tangan mereka. Hal itu membuat Cecilia begitu kebingungan.


“Kenapa?.” Cecilia sangat terkejut.


“““Karena kami membencimu!”””


Mendengar jawaban setiap murid, mendadak Cecilia merasa pusing.


“Membenci? Tapi aku pikir kita teman!.” Cecilia terlihat sedih bahkan matanya berkaca-kaca seperti mau menangis.


“Ya kita memang teman.”


“Benar kita memang teman.”


“Apa benar kita berteman?.”


“Sudah pasti kita berteman bukan!.”


Dalam sekejap semua murid yang membenci Cecilia sekarang memiliki pendapat lain. Mereka bingung oleh perasaan sendiri karena memang sedang dimanipulasi. Semakin lama perasaan setiap murid semakin kuat hingga mereka meminta maaf pada Cecilia karena telah mengotori meja dan tempat duduk gadis itu.


Seluruh kelas pun berbondong-bondong membersihkan meja itu dan memperlakukan pemiliknya seperti ratu.


[Kelas 1B]


Sambil sibuk mengunyah gorengan dengan cabai rawit, Gilang menatap bangkunya yang menjadi begitu kotor.


“Hemp, pecundang. Dasar para mutan lemah seperti kalian beraninya lempar batu sembunyi tangan, penakut!.”


Perkataan Gilang tentu membuat setiap murid menjadi marah. Mereka telah menghajar pemuda itu berkali-kali namun Gilang tidak pernah belajar untuk lebih menghormati para mutant. Dia justru melakukan perkelahian dengan seisi kelas hanya untuk permainan.


Rendi si mutan Badak yang bertarung dengan Gilang pada pertandingan hari pertama sekolah menghampiri pemuda itu bersama dua temannya Super dan Jhon. Ketiga anak dalam kelompok itu memang yang paling sering berkelahi dengan Gilang.


Dapat dilihat dengan jelas jika ketiganya berniat untuk mengolok-olok Gilang karena sudah dikerjai oleh seluruh kelas


“Zehahahaha…”


Bletak! Jhon tertawa dengan suara aneh tapi Rendi segera memukulnya.


“Woy ngapain Lo ketawa kayak gitu, ntar kalo orangnya datang gimana?.” bentak bocah Badak.


“Uh… maaf bos!.” Jhon menahan sakit kepala akibat jitakan Rendi.


“Mmmfufufufu…” giliran Rendi yang tertawa aneh membuat setiap orang yang mendengarnya membuka lebar mulut mereka. Bahkan Gilang pun hampir memuntahkan goreng yang dia makan.


“Napa? Bagus kan suara aku.”


““““Jijik WOY”””” Bentak seluruh keras secara bersamaan.

__ADS_1


“Ngapain Lo tiga badut pada kemar?.” Rendi bertanya dengan nada sombong yang selalu dia tunjukkan pada semua teman sekelasnya.


“Marah kan Lo nggak bisa duduk.” Jhon tertawa sambil menunjuk kearah Gilang


“Benar makanya jangan sombong jadi manusia.” Supra menatap Gilang seperti melihat kotoran.


“Mmmfufu…. Huek!.” Sebelum Rendi mengatakan apapun Gilang lebih dulu menarik kerah lehernya lalu membenturkan kepala Rendi ke meja yang telah di kotor.


“Bajingan! Apa yang kau lakukan…. Huyaaa!.” seperti mencuci baju menggunakan papan, Gilang membersihkan mejanya dengan wajah Rendy.


Berulangkali wajah Rendy digosokkan pada bangku yang telah di kotori oleh semua murid, entah itu coretan spidol, lumpur maupun ludah semuanya sekarang menempel pada wajah pemuda badak itu.


Tidak terima teman mereka diperlakukan seperti kain lap, Jhon dan Supra berniat menghajar Gilang. Tapi mereka pun ikut dijadikan lain lap setelah seluruh wajah Rendy lebih kotoran. Tidak lama kemudian kelas 1B kembali dipenuhi keributan ketika setiap murid yang tangannya gatal ingin memukul sesuatu ikut dalam perkelahian keempatnya.


Beberapa menit kemudian bel berbunyi tanda dimulainya pelajaran pertama. Pak guru Antoni yang baru masuk kelas hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat seluruh muridnya terkapar dimana dengan kondisi kelas yang berantakan.


“Olahraga pagi hari memang bagus untuk tubuh.” kata pak guru Antoni.


Guru sihir pemanggilan itu pun memanggil salah satu monster yang dia kontrak, Ifrit Femon Flame yang kedatangannya membuat seisi kelas menjadi sepenas neraka. Para murid terpaksa merapikan seluruh kelas dan bersiap untuk memulai belajar jika tidak ingin dipanggang oleh iblis api yang gurunya panggil.


***



***


“Kenapa kau menyerang ku, apa kesalahan yang aku lakukan sehingga aku disakiti seperti ini?.” dengan wajah yang hampir menangis Ilham terus berteriak sambil memegang kepalanya yang berdarah karena benturan keras dari kepala Kirana.


“Hemp, kau pandai melakukan drama rupanya.” Kirana tersenyum sinis pada pemuda itu.


“Bagaimana bisa mutan seperti itu menyerang manusia normal yang tida... ghuaak!.” sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Kirana melempar buku Ilham yang ditaruh diatas meja. Buku yang Kirana lempar tepat mengenai tenggorokan murid itu yang seketika kesulitan untuk berbicara sementara waktu.


Semua orang terdiam ketika melihat betapa mudahnya Kirana melakukan itu. Gadis yang terlihat culun dari luar karena memiliki postur tubuh pendek dan berkacamata seperti Nerd (kutu buku) tidak mereka sangka akan begitu santai menyakiti orang lain.


“Aku tidak memiliki masalah dengan mu, atau kau juga salah satu orang yang membantu dia untuk mengerjai ku?.” tatapan Kirana begitu tajam membuat pemuda tadi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Jadi bisa kau beritahu aku masalahmu sehingga melakukan pembullyan padaku?.” perhatian Kirana kembali tertuju pada Ilham.


“Sudah aku katakan aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku terus duduk di sini sejak memasuki kelas jadi tidak tahu apa yang kau maksud dengan membully.”


Pemuda itu benar-benar sangat pandai bersandiwara, dia bahkan tidak memberikan sedikitpun celah untuk kecurigaan dan bukti. Tapi seperti Kirana sudah mempersiapkan cara agar Ilham tidak mempunyai kesempatan mengelak.


Kirana melirik ke arah Adriana, tapi gadis itu tidak membalas. Akhirnya Kirana pun kembali memperlihatkan sebuah foto yang seketika membuat Adriana bangkit.


“Hey! pembullyan itu tidak baik, aku sangat membenci tindakan itu!.” bentak Adriana kearah Ilham yang membuatnya terkejut.


“Ap... apa yang kau katakan aku samasekali tidak melakukan itu!.” Ilham masih bersikukuh tidak mau mengaku.


“Kau mencoba mengatakan jika Adriana berbohong! Dasar bajingan. Aku dan temanku melihatmu keluar dari kelas ini dengan beberapa senior, kemudian ketika kami memasuki kelas bangku Kirana sudah seperti itu.”


“Benar, aku melihatnya! dia dan beberapa senior pergi ke belakang sekolah dengan membawa beberapa spidol dan ember kotor. Mereka pasti membuang barang bukti dengan membakarnya.”

__ADS_1


Para murid dari kelompok Adriana mulai berbicara menyudutkan Ilham. Mendapatkan tekanan dari banyak murid akhirnya membuat pemuda itu tidak tahan lagi.


“Hahaha…” dia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, semua murid di kelas pun berpikir jika dia sudah gila.


“Benar aku memang melakukannya, tapi bukankah aku melakukan tindakan yang benar? Tempat yang kotor menang pantas untuk makhluk menjijikkan seperti mu, bersyukurlah karena aku memberikan ludah ke tempat duduk itu agar tidak terlalu naji5.” Ilham terlihat tidak menyesal sedikitpun. Dia justru merasa tindakan yang dia lakukan menang wajar untuk dilakukan.


Semua mutan yang ada di kelas 1C menatap dengan emosi pada Ilham, tapi pemuda itu tidak sedikitpun peduli. Bahkan saat semuanya dibuat geram olehnya, ilh8 masih merasa jika tidak melakukan kesalahan apapun.


“Aku melihatnya, seseorang telah memesona dirimu, aku bisa merasakannya.” dalam sekejap perhatian seluruh kelas tertuju pada Kirana. Sedangkan Ilham sendiri wajahnya mulai berubah gelap.


Semua tindakan bullying yang terjadi di setiap kelas 1A dan 1B dilakukan oleh murid kelas masing-masing, dan itu masih memikirkan alasan yang bisa diterima.


Cecilia dibully karena dia menggunakan kemampuannya untuk memanipulasi seluruh kelas yang membuat para murid geram padanya. Sementara Gilang adalah musuh utama dikelasnya itu sangat wajar jika dia mendapatkan pembullyan.


Lalu bagaimana dengan Kirana. Dia dianggap sebagai parasit karena satu kelompok dengan Leona dan Cecilia yang merupakan siswa baru terbaik di posisi pertama dan kedua, sedangkan dirinya hanya mampu mencapai rank 55 hingga membuatnya berada di kelas 1C.


Apakah semua faktor itu dapat membuat murid di klas 1C seperti Ilham membencinya hingga melakukan pembullyan bersama para senior.


Tentu tidak.


“Tawa gila mu tadi sudah memperlihatkan siapa dirimu yang sebenarnya.” tatapan kosong Kirana membuat Ilham bergerak mundur.


“Aku tidak tahu apa kesalahan yang telah aku lakukan hingga menarik perhatian orang berpengaruh seperti mu.”


Mendengar dari perkataan Kirana, semua orang mulai sadar jika saat ini Ilham tengah diguna-guna oleh seseorang sehingga tubuhnya dikendalikan oleh orang lain.


Tapi sebelum Kirana mengatakan nama seseorang yang berada di balik semua pembullyan ini, tiba-tiba…


Brak!


“Pagi anak-anak!.”


Pintu kelas yang terbuka digedor dan Bu Dean berdiri di sana dengan nafas yang terputus-putus seolah telah berlari menuju kelas yang berada di lantai tiga. Bersamaan dengan kemunculan Bu Dean, tubuh Ilham jatuh karena kesadarannya mendadak hilang.


Semua orang terkejut saat melihat Ilham terjatuh, tapi Kirana tidak peduli dan masih menatap kearah Bu Dean dengan bosan.


Guru muda itu terlihat tidak nyaman saat Kirana menatanya seperti itu.


“Pagi Bu, kok telat Bu? Ini sudah hampir jam istirahat loh.”


Senyum mulai melebar di bibir Kirana, melihat itu Bu Dean menelan ludahnya sendiri. Beberapa siswa menyadari sesuatu pada tatapan Kirana pada Bu Dean.


“Aku pikir hanya aku yang memilih kelas ini untuk mencari ketenangan.” ucap seorang gadis yang tempat duduknya tepat di samping meja Kirana.


Tanpa peduli keadaan yang mulai ribut karena seorang yang tiba-tiba pingsan, gadis berambut pendek berwarna biru gelap itu menguap dan kembali melanjutkan tidurnya.


***


Ilham konsep art.


__ADS_1


Chapter 51 Pelaku Pembullyan.


END.


__ADS_2