Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 6 : Olivia


__ADS_3

Di pertandingan kelima menghadirkan petarung dimana seorang anak yang terlihat baru berusia 14 tahun dengan tas ransel dibelakangnya akan melawan pria dewasa yang tingginya hampir tiga meter dan memiliki empat tangan.


“Buahahaha… ini akan mudah, sudah jelas pemenangnya adalah pria raksasa itu.” mata wanita berambut merah itu dipenuhi oleh kegilaan. Kirana hanya menggelengkan kepalanya melihat wanita itu sudah begitu kecanduan berjudi.


“Dia akan kalah lagi jika seperti ini.” ucap Kirana yang telah melihat seratus dari kedua petarung.


Walaupun anak kecil itu terlihat lemah tapi siapa sangka jika dia adalah seorang jenius. Tidak ada yang tahu tentang ini kecuali Kirana yang telah kembali dari masa depan.


“Aku tidak pernah mengira akan bertemu dengan Senpai di sini.” ucap Kirana.


[Note : ‘Senpai’ adalah sebutan untuk senior dalam budaya Jepang]


Walaupun bocah itu mengenakan topeng rubah tapi tetap Kirana dapat mengenalinya lewat ransel di punggungnya. Walaupun usianya sangat muda yang seharusnya masih duduk di bangku SMP, tapi karena kejeniusannya membut pemuda itu sudah menduduki bangku kelas tiga SMA.


“Aku akan bertaruh pada si tangan empat itu!.” wanita berambut merah berteriak keras seolah telah memastikan kemenangannya kali ini. Begitu pula sebagian besar dari penonton yang bertaruh pada pria raksasa bertangan empat.


Hingga nilai taruhan kali ini mencapai 1 banding 9, yang artinya 90% lebih penonton telah bertaruh pada pria raksasa.


“Mungkin kau harus membeli rambut palsu setelah ini.” kata Kirana.


“Apa yang baru saja kau katakan!.” dengan penuh amarah wanita itu menatap Kirana. Hawa panas terpancar dari wanita itu saat dia mengeluarkan nafsu membunuhnya, ia siap menyerang Kirana kapanpun.


“Aku pikir jika kali ini kau kalah lagi mungkin seluruh rambut di kepalamu akan menghilang, jadi aku menyarankan agar kau membeli rambut palsu setelah pertandingan ini berakhir.” balas Kirana yang tidak terpengaruh sedikitpun dengan aura pembunuh yang berasal dari wanita berambut merah.


“Hemp, apa kau bodoh? Sudah jelas bukan jika pertandingan kali ini akan dimenangkan oleh pria raksasa itu semua orang pun tahu itu.” wanita itu berkata dengan begitu sombong, dia bahkan menatap rendah pada Kirana.


Tapi kesombongannya segera lenyap saat...


“Benarkah, lalu apa semua vocer yang aku dapatkan ini adalah sebuah lelucon bagimu?.” Dengan sombong Kirana menggunakan semua vocer yang ia miliki menjadi kipas tangan lipat dan mengibaskannya pada diri sendiri.


Dia terlihat seperti seorang ratu yang sedang kepanasan.


Melihat itu wanita berambut merah hanya bisa mengeratkan giginya karena begitu iri melihat uang-uang yang dimiliki Kirana. Dia pun mulai berpikir ulang untuk bertaruh pada si raksasa tangan empat atau bocah lelaki dengan ransel.


‘Tidak dia pasti hanya ingin membodohi ku.’ pikir wanita berambut merah, ‘Tapi bagaimana jika dia benar. Ini adalah satu banding sembilan, jika memang bocah itu menang maka uang yang akan dihasilkan adalah sembilan kali nilai taruhan. Semua uang yang aku keluarkan sebelumnya akan dikembalikan hanya dalam satu pertanda.’


Wanita itu kembali mengacak-acak rambutnya karena kebingungan, sementara Kirana hanya menikmati reaksi wanita berambut merah sambil meminum alkohol yang sebelumnya dia ambil dari klub.

__ADS_1


“Aaahh… mouh! Sebaiknya bocah itu yang menang karena jika tidak aku akan membunuhmu!.” pada akhirnya wanita itu mengikuti saran Kirana.


Pertandingan kelima berlangsung sengit. Pria raksasa itu terus melakukan serangan secara aktif, sementara bocah dengan ransel mencoba bertahan dengan berbagai alat yang dia bawa di ranselnya.


Wanita berambut merah terus dibuat jantungan selama pertandingan. Dia khawatir jika kalah kali ini maka uang yang dia miliki akan habis.


“Apa yang akan aku katakan pada Zec jika aku menghabiskan seluruh uang untuk berjudi.” gumam wanita itu.


Kekhawatiran wanita itu akhirnya berakhir saat pertandingan yang berlangsung selama dua puluh menit dimenangkan oleh bocah dengan ransel.


“Hayaaaaaa….. akhirnya dia menaaaaang!.” dia berteriak keras untuk meluapkan kegembiraannya. Walaupun dia menjadi pusat perhatian semua penonton yang kesal akibat kehilangan uang dari pertandingan ini, tapi dia tidak peduli.


“Kakak terimakasih!.” tiba-tiba wanita itu memeluk Kirana yang sontak membuatnya terkejut, “Terimakasih berkatmu aku tidak jadi bankrut.” dia terus memeluk Kirana yang terus berusaha menyingkirkannya.


Tapi karena pelukan tidak kunjung lepas, Kirana pun akhirnya menyerah dan membiarkan wanita itu terus memeluknya.


“Haah… dia memang seperti gelar yang dia miliki, Pangeran Drama.” ucap Kirana saat menatap bocah dengan ransel. Dia tahu jika bocah itu bersungguh-sungguh maka pertarungan hanya akan berlangsung kurang dari satu menit.


***


“Kakak biar aku menyalakan rokok untukmu.” ucap wanita berambut merah yang memperkenalkan diri sebagai Olivia.


Olivia menyalahkan api dari ujung jarinya dan menunjukkannya ke depan wajah Kirana. Tidak ada yang bisa dilakukan Kirana selain menerima niat baik Olivia.


“Fuuuu….” Kirana merasa agak tenang saat menghirup asap rokok, tapi itu tidak berlangsung lama karena Olivia terus mengganggunya.


Pertandingan kembali berlangsung, Olivia selalu meminta saran Kirana setiap kali dia ingin bertaruh. Karena terlalu senang menenangkan taruhan tiga pertandingan berturut-turut membuat Olivia melupakan pacarnya yang sejak tadi belum kembali dari toilet.


“Aku pikir sudah cukup untuk hari ini.” ucap Kirana yang tidak lagi memasang taruhan untuk pertandingan. Hal itu tentu membuat Olivia terkejut.


“Ke… kenapa? Ini adalah dua pertanyaan terakhir.” Olivia sudah memenangkan banyak uang tapi dia menginginkan lebih.


“Sebaiknya kau segera berhenti nona, jika kau terlalu rakus makan mungkin saja ada orang yang akan menikammu dari belakang setelah meninggalkan tempat ini.” saran Kirana.


Mendengar saran dari Kirana membuat Olivia sadar jika beberapa pasang mata saat ini tengah mengawasi mereka berdua.


“Oh jadi mereka yang kakak khawatirkan, para anjing yang tergiur dengan bau tulang lezat.” tapi seakan tidak peduli Olivia justru menunjukkan semua vocer yang dia menambahkan. Melihat vocer itu membuat setiap orang menelan ludah mereka.

__ADS_1


“Kau terlihat percaya diri dengan kemampuan mu.” kata Kirana dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya setiap dia berbicara.


“Hahaha… tentu saja karena aku adalah salah satu dari petinggi guild Dark Phoenix.” Olivia menyebutkan nama guild nya dengan penuh percaya diri.


Guid atau serikat adalah sebuah perkumpulan para Hunter, dengan membentuk guild para Hunter bisa menemukan misi dari warga biasa maupun pemerintah.


“Dark Phoenix? Aku tidak pernah mendengarnya.”


Olivia membatu dalam sekejap saat Kirana mengatakan itu. Menyadari perkataannya membuat wanita itu semakin aneh, Kirana pun memberikan alasan.


“Aku bukan berasal dari daerah sekitar sini kau tahu?, ini bahkan pertama kalinya aku berada di tempat ini.”


Mendengar alasan Kirana, Olivia kembali seperti semula, “Fuuuhh… pants saja kakak tidak mengenal guild kami.”


Olivia kemudian menjelaskan jika guild Dark Phoenix adalah salah satu dari 7 guild penguasa di daerah kumuh.


Mendengar cerita Olivia membuat Kirana menjadi heran, ‘Jika yang dikatakan oleh Olivia benar lalu kenapa aku tidak mengingat apapun tentang guild Dark Phoenix?.’


Kirana mencoba mencari tahu dengan berusaha mengingat apapun tentang daerah kumuh. Kemudian hanya dalam sepersekian detik Kirana menemukan jawabannya.


‘Ah aku lupa dengan insiden itu, insiden yang membuat daerah kumuh menjadi lautan darah.’


Kirana mengingat sebuah insiden yang menurut ingatannya akan terjadi beberapa Minggu lagi. Insiden itu begitu besar hingga negara sampai turun tangan.


Insiden dimana tujuh guild penguasa daerah kumuh saling berperang dan hanya satu yang menjadi pemenang.


Perlahan senyum kecil mengembang di bibir Kirana saat dia memiliki rencana yang menguntungkan jika insiden itu kembali terjadi.


“Mungkin aku bisa menjadi penguasa wilayah ini.”


***



Chapter 6 : Olivia.


END.

__ADS_1


__ADS_2