Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 53 : Dungeon Sekolah


__ADS_3

Ada dua puluh lima murid yang berada di kelas 1C, sehingga Bu Laura membagi mereka menjadi lima kelompok dengan masing-masing lima murid per kelompok. Setiap kelompok bisa bergabung dengan kelompok lain namun hanya boleh menggabungkan dua kelompok saja.


Kelompok Adriana memiliki 10 murid termasuk Gadis itu. Lalu kelompok lainnya terdiri dari persatuan anak aneh yang salah satunya adalah Sohan Somy, lelaki pemberani yang bertanya ukuran dada Bu Laura. Kemudian kelompok atletik atau mungkin bisa dibilang otak otot dimana sebagian besar dari mereka adalah pelajar dengan tubuh yang berotot, Ilham berada di kelompok ini.


Lalu yang terakhir kelompok Kirana…


“““““…….”””””


Kelima gadis itu saling menatap dalam diam saat menyadari hanya mereka yang tersisa dari semua murid yang seolah menjauhi kelimanya.


“Sepertinya tidak ada kelompok yang ingin mengajakku… haha, yah itu bisa dimaklumi karena aku jarang berbicara dengan teman sekelas.” Kirana berbicara sendiri sambil memperhatikan keempat gadis yang akan menjadi rekannya memasuki dungeon.


“Tiga gadis nakal dengan penampilan punk, lalu seorang gadis berpenampilan emo mendung seperti baru saja pulang dari pemakaman, dan yang terakhir gadis kutu buku?.” Kirana memberikan deskripsi singkat dari keempat gadis.


“Wow aku tahu apakah ada kelompok yang lebih aneh dari kelompok kita.” Itu akan terasa lebih aneh lagi jika melihat fakta kelima perempuan di kelompok ini semuanya duduk di barisan belakang.


Mendengar perkataan dari Kirana membuat keempat gadis menanggapi dengan cara berbeda, ketiga gadis dengan penampilan penuh warna terlihat tidak peduli sementara gadis dengan rambut biru kehitaman menjadi marah saat disebut gadis murung pulang dari kuburan oleh Kirana.


“Kau sebaiknya jaga bicaramu atau mungkin kau tidak akan keluar dari dungeon itu.” ucapnya dengan penuh ancaman.


“Yeah… itu baru yang dinamakan dengan semangat.”


“Apa…!.”


Tapi Kirana sama sekali tidak memperdulikan ancaman yang diberikan oleh gadis tersebut.


“Well aku tidak berniat lebih dekat dengan kalian atau semacamnya, hanya saja aku merasa akan sulit memanggil kalian dengan ‘Kamu’ itu akan sangat merepotkan, jadi bukankah kita sebaiknya memperkenalkan diri lebih dahulu?.”


Semua gadis menatap Kirana yang terus berbicara dengan mereka yang baru saja dia temui, sehingga imej gadis kutu buku yang terasa begitu kental pada Kirana mulai pudar di mata keempatnya. Mereka kembali dibuatkan oleh apa yang terjadi pagi tadi di mana Kirana memberikan tekanan luar biasa hingga seisi kelas dapat merasakan tekanan tersebut.


“Aku.. aku yang pertama!.” gadis berambut pink bersemangat untuk memperkenalkan diri, begitu juga dua gadis berpenampilan unik lainnya.


“Sha Pink Nik!”


“Sha Black Roa.”


“Sha Green Ren.”


Ketiganya merusak anak kembar, orang-orang tidak akan menyadarinya karena warna rambut dan aksesoris yang ketiganya gunakan. Tapi jika mereka menggunakan warna rambut yang sama tanpa aksesoris pasti semua orang akan mengaggap ketiganya adalah manusia buatan dengan model yang sama.


“Aku prupler.” gadis terakhir memperkenalkan diri dengan malas.


“……”

__ADS_1


“Apa!.” Prupler merasa tidak nyaman saat keempat rekannya menatap dirinya.


“Haaah… itu bukan nama asli oke,”


‘‘‘‘‘Oouuhh….’’’’’


Setelah saling memperkenalkan diri, mereka kemudian memperlihatkan senjata masing-masing.


Pink Nik menggunakan sebuah pedang saru tangan dan perisai, dia seorang Warrior.


Black Roa menggunakan belati yang menandakan dia adalah seorang Assassin.


Sedangkan Sha sister terakhir Green Ren menggunakan panah menandakan dia sedang Archer.


“Hem.. kelompok yang tidak buruk.” ucap Prupler yang menggunakan sebuah tombak, kemungkinan dia seorang Spearman.


“Ouh dan yang terakhir adalah aku sang penyihir.” Kirana begitu bersemangat hinga mengangkat tangan ke udara.


“O… oo...ww!” Pink Nik ikut mengangkat tangannya walaupun gadis itu tidak tahu kenapa dua melakukan itu. Sha sister yang satu ini sangat mudah terbawa suasana.


Setelah saling memperkenalkan diri dan memperlihatkan job masing-masing, kelimanya kemudian memasuki dungeon. Dari kelima kelompok yang ada, kelompok Kirana adalah yang terakhir masuk.


Sebelum keempatnya masuk Bu Laura memberi sebuah gelang yang memiliki sihir pelacak, itu berguna jika keadaan darurat terjadi para petugas dapat segera menolong para murid dengan sihir pelacak.


Di ruangan kontrol Bu Laura melihat para murid yang sudah masuk kedalam dungeon. Tatapan tajam wanita berambut merah itu tertuju pada seseorang di dalam kelompok yang terakhir memasuki dungeon.


Wanita itu sama sekali tidak begitu tertarik dengan Kirana saat melihatnya di pertandingan hari pertama sekolah. Tapi itu berubah setelah melihatnya bersama dengan kedua murid terbaik, Leona dan Cecilia.


“Dia dikelilingi oleh anak-anak dengan talenta luar bisa sementara dirinya hanya bisa-biasa saja. Itu bahkan terlalu biasa sehingga tidak terasa biasa.”


“????”


Semua penjaga yang bersamaan Bu Laura menjadi bingung dengan perkataan wanita itu.


***


Setelah memasuki Dungeon, kelompok Kirana mendapati diri mereka seperti memasuki ruangan bawah tanah, di mana dinding terbuat dari batu bata sementara penerangan merupakan obor. Saat ini kelimanya berada di dalam ruangan besar dengan lima terowongan yang mengarah pada jalur yang berbeda.


“Itu kelompok si tuan putri.” Black Roa melihat kelompok 10 anak yang seperti kesulitan untuk memilih akan memasuki terowongan yang mana.


“Putri?.” Kirana merasa heran dengan perkataan Black Roa.


“Ya, kau pasti tidak tahu karena selalu pergi saat jam istirahat.” Kata Prupler yang terlihat lebih segar karena biasanya dia selalu terlihat mengantuk.

__ADS_1


“Oh, aku tidak tahu jika nona kadal tidur sering memperhatikan kelas di jam istirahat.”


Prupler tidak membalas perkataan Green Ren, gadis berambut biru gelap itu hanya mengeratkan genggaman pada tombak yang dia bawa.


“Sudah aku bilang lebih baik kita menggunakan jalur yang lebih aman, kita tidak ingin berurusan dengan perlombaan bodoh itu.”


“Tidak, aku juga tidak peduli dengan perlombaan bodoh itu. Tapi jika kita menggunakan jalur tersulit maka akan banyak inti monster yang kita peroleh sehingga kita akan menjadi kelompok terkuat.”


Perdebatan dua murid terdengar dari kelompok Adriana. Kelompok Kirana tetap diam ditempatnya untuk menonton.


Perdebatan terjadi karena salah satu gadis bernama Fey ingin jika kelompok memasuki terowongan paling kanan yang merupakan jalur yang lebih aman, sedang seorang pemuda bernama Samuel menyarankan untuk menggunakan jalur kiri yang dikenal sebagai jalur tersulit demi mendapatkan banyak inti monster dan menenangkan pertandingan.


“Halah bilang ajah kamu mau tau ukuran dada Bu Laura, dasar lelaki mesum!.” Fey menatap jijik pemuda yang berdebat dengannya.


“Mana ada. Aku hanya ingin agar grup kita menjadi yang terbaik dari grup lain.”


Keduanya terus berdebat hingga memakan banyak waktu, hingga akhirnya Adriana menyarankan jika menggunakan pengundian koin.


“Oh seperti yang diharapkan dari Adriana. kau selalu memiliki solusi untuk semua masalah.”


“Adriana sangat jenius.”


Hanya solusi mudah namun Adriana dipuja-puja bagaikan seorang ilmuan jenius yang telah menciptakan vaksin Anti penuaan. Melihat kelompok Adriana yang memuja gadis itu membuat keempat gadis di kelompok Kirana merasa abeh.


“Jadi itu yang selalu mereka lakukan?.” tanya Kirana.


“Tidak, mereka melakukan sesuatu yang lebih parah.” ketiga Sha sister mengangguk setuju pada perkataan Prupler.


“Le… lebih buruk?.” Kirana tidak dapat membayangkan apa yang lebih buruk dari pemujaan yang saat ini dia lihat.


“Mereks… Ah aku sulit untuk mengatakannya.” wajah Prupler terlihat ingin menangis begitu juga Sha sister. Keempat membuat Kirana hampir mati karena penasaran.


Akhirnya setelah Kirana terus mendesak Prupler pun memberitahu gadis itu dengan menunjukkan sebuah video pada smartphone miliknya.


Setelah menonton beberapa detik dalam sekejap wajah Kirana beruban hijau lalu tiba-tiba perutnya mulas, Kirana tidak tahan untuk muntah.


***


Chapter 53 : Dungeon Sekolah


END


[Note : Penasaran apa yang dilakukan oleh Adriana dan kelompoknya saat jam istirahat.]

__ADS_1


[Author : Bayangkan Takeshi Goda nyanyi pake baju balet]


[Note : …… Huek!]


__ADS_2