
‘…..
Bangunlah jiwanya
Bangunlah budayanya
Untuk Indonesia raya’
Ratusan siswa-siswi dari kelas satu hingga kelas 3 SMA Archata melakukan upacara. Mereka menyanyikan lagu Indonesia raya sambil memberikan hormat pada bendera merah putih yang perlahan dinaikkan ke puncak tiang.
[Author : anjir lah, keinget masa sekolah lagi, bangk* :'(]
Kemudian setelah bendera mencapai puncaknya, semua orang jatuh dalam keheningan. Seorang tua dengan penampilan seperti penyihir agung mulai naik ke podium untuk memberikan pidato.
Tejo Dobeldor, kepala sekolah Archata. Mantan Hunter tingkat S+, setelah pensiun dia mendirikan sekolah ini untuk mendidik generasi baru. Nama sekolah diambil dari nama party terbaik Indonesia pada masanya, dan Tejo merupakan salah satu petinggi party tersebut.
[Note : Dobeldor?, nggak sekalian aja Dobelbed?]
Kirana menatap orang tua yang sedang berpidato itu dengan tatapan dingin. Dia yang telah kembali dari masa depan. Tidak, lebih tepatnya pergi ke dimensi lain dengan waktu masa lalunya.
[Note : Bingung kan lu]
Kirana tahu ada apa dibalik senyum cerah yang ditunjuk oleh kepala sekolah itu.
“Well, aku tidak ingin mendapatkan banyak perhatian seperti menjadi seorang pahlawan sekolah atau semacamnya, jadi mari kita sejauh mungkin menghindari dari tua bangka ini.”
Yang sudah berlalu biarlah berlalu, Kirana sudah menyelesaikan masalahnya dengan kepala sekolah di kehidupannya dahulu, dengan itu Kirana mengaggap semuanya selesai.
“Tapi jika tua bangka ini masih sengaja membuat gara-gara dengan ku, maka akan aku bereskan sebersih mungkin, seperti yang aku lakukan di masa lalu.”
“!!!!”
Seolah menyadari jika Kirana menatap tajam kearahnya, Tejo Dobeldor melirik ke arah Kirana, tapi gadis itu segera menggunakan sihir untuk menyembunyikan keberadaannya.
“Sudah menjadi sebuah tradisi di sekolah ini untuk menentukan klas mana yang Kan kalian tempati.”
Kepala sekolah menjelaskan tentang tradisi tahun yang selalu diselenggarakan untuk menguji para siswa baru. Ini untuk menyeleksi siswa mana yang akan dimasukkan ke dalam klas terbaik yaitu kelas A dan B, sementara sisanya akan di masukkan ke kelas C,D dan E.
“Dulu aku begitu bersemangat dalam pertandingan ini hingga akhirnya masuk ke klas B. Tapi tidak disangka kelas itu justru menjadi mimpi buruk yang membuat kehidupan SMA ku serasa di neraka.”
__ADS_1
Kirana bisa saja masuk ke klas manapun yang dua inginkan, A atau B tidak ada masalah untuknya. Tapi dia tidak menginginkannya karena tujuannya datang ke sekolah adalah menikmati masa SMA bukan untuk berjuang menjadi budak mereka yang memiliki kekuasaan.
“Target ku adalah klas C, tidak terlalu bagus tidak pula terlalu buruk.”
Setelah menentukan kelas mana yang akan dia tempati, Kirana segera bersiap untuk mengikuti lomba.
***
Archata Stadion.
Tempat berolahraga semua siswa sekolah Archata. Ada kolam renang, Trac lari, lapangan bola, lapangan tenis dan masih banyak lagi yang membuat tempat itu lebih mirip arena olimpiade daripada sebuah tempat olahraga sekelas sekolah SMA.
Setiap siswa baru berada di lapangan luas bersiap untuk pertandingan, sementara para senior tengah melihat di kursi penonton.
“Aldi, Lo pikir siapa yang bakalan menang?.” Gema, murid kelas tiga bertanya pada temannya.
“Hemm…” siswa yang di panggil Aldi menatap para juniornya, senyumnya melebar saat dia melihat beberapa gadis yang membuatnya tertarik. “Dia dan dia yang akan memenangkan lomba ini.” ucap pemuda itu sambil menunjuk dua gadis.
“Bah… Lo mah pikirannya ke cewek mulu.” Gema mengaggap jika pilihan Aldi hanya berdasarkan kecantikan gadis itu. Tapi sebenarnya pilihan Aldi berdasarkan kemampuan penilaian yang dia miliki.
‘Tidak, aku yakin jika mereka berdua akan menjadi juara satu dan dua. Kecuali jika seseorang yang mampu memblokir kemampuan penilaian ku ada diantara para junior.’
Aldi terus menatap dua gadis yang tidak lain Leona dan Cecilia, keduanya terus berbincang dengan gadis bertanduk yang menurut Aldi biasa-biasa saja.
“Ini cukup mengejutkan melihat tuan Akira datang ke tempat ini untuk melihat lomba. biasanya anda langsung mengurung diri di bengkel.”
Akira sama sekali tidak menanggapi perkataan Gema, pemuda itu terus saja menatap para siswi perempuan sambil menikmati lolipop besar miliknya.
[Note : kok agak ambigu yak?]
“Huwaa… dia benar-benar tidak memperdulikan aku.” Gema terkejut melihat Akira yang tidak memperdulikan apapun dan terus melihat murid perempuan.
“Mungkin dia sedang berada di musim semi nya.” kata Aldi.
Semua siswa baru telah berkumpul di tengah lapangan bersiap untuk memulai perlombaan. Di podium seorang guru mengambil secarik kertas diantara tumpukan kertas si dalam box kaca.
“Pertandingan kali ini adalah... ”
“Bounty Hunter.” Kirana menebak sebelum guru itu membaca nama perlombaan yang tertulis pada kertas.
“Bounty Hunter.” dan memang tebakan Kirana tepat sasaran.
__ADS_1
Beragam reaksi ditunjukkan oleh para peserta lomba, banyak yang sudah tahu tentang lomba ini karena pihak sekolah selalu menayangkan lomba tahun di saluran yuptup mereka. Tapi ada pula yang tidak tahu perlombaan macam apa itu ‘Bounty Hunter’
“Ini permainan yang mudah, kami akan menebar poin ke seluruh area, tugas kalian hanya mengumpulkan poin sebanyak mungkin. Semakin banyak poin impian kalian untuk duduk di kelas A atau B akan semakin dekat.”
Bu Laura, guru olahraga yang begitu menawan. Dia menjelaskan permainan dengan sangat baik hingga banyak peserta yang mengira ini akan mudah.
“Tapi, berhati-hati lah karena lomba ini mengizinkan untuk mendapatkan poin dengan cara apapun.” lanjut Bu Laura dengan wajah gelap dan intimidasi yang membuat semua murid bergidik ketakutan.
Prok.
Dalam satu tepuk tangan intimidasi yang dia keluarkan lenyap dalam sekejap.
“Oke, hitung mundur untuk dimulainya lomba akan segera dimulai, persiapkan diri kalian!.” Dengan penuh antusias semua orang begitu tidak sabar untuk dimulainya pertandingan.
9… 8…
Waktu hitung mundur mulai berjalan, hingga akhirnya...
1.
Go!
Dor!
Di langit-langit muncul balon yang segera meledak lalu menyebarkan kepingin emas. Kepingin itu merupakan hasil dari sihir salah satu guru, koin emas palsu itu memiliki nilai 10 poin.
“Oh kita harus cepat!.” Leona dengan semangat mengambil koin emas yang masih melayang ke bawah.
Keributan segera terjadi saat semua orang saling berebut untuk mendapatkan poin. Mereka tanpa segan melakukan kekerasan untuk mendapatkan poin yang telah di kumpulan oleh orang lain. Bahkan demi mendapatkan kursi di kelas terbaik, beberapa peserta menikam temannya dari belakang.
“Poin itu milikku!.” seorang siswa bertubuh besar berniat mengambil poin yang dikumpulkan oleh Leona, tapi dia samasekali tidak mengira jika gadis yang ia jadikan sebagai sasaran karena terlihat lemah, justru mampu menumbangkan dirinya dengan satu tendangan yang mengenai dagu.
Bruk …
Melihat siswa itu terkapar membuat mereka yang sebelumnya berniat untuk merampok Leona segera mundur.
***
Chapter 28 Perlombaan
END.
__ADS_1