Kembalinya Puteri Tengkorak Putih

Kembalinya Puteri Tengkorak Putih
Chapter 52 : Guru Olahraga


__ADS_3

Berjarak sekitar lima ratus meter dari kompleks sekolah terdapat sebuah bunker yang dijaga ketat oleh keamanan sekolah Archata. Bunker yang dibuat untuk menjaga sarang Monster.


Ada dua Dungeon yang dimiliki oleh sekolah, yang pertama adalah dungeon tingkat rendah tipe labirin yang hanya terdiri dari suatu lantai namun memiliki kerumitan Medan dengan jebakan yang tersebar.


Dungeon labirin di sekolah Archata sudah sepenuhnya dijelajahi hingga monster bos pun sudah ditaklukkan, tapi selama Dungeon core masih ada maka Dungeon itu tidak akan lenyap. Pihak sekolah sengaja melakukan itu untuk menjadikan dungeon labirin sebagai tempat pelatihan.


Sedangkan dungeon yang kedua adalah dungeon biasa dengan tipe lantai menurun. Di ketahui jika ada 20 lantai di dungeon ini menjadikannya sebagai dungeon tingkat menengah.


***


Semua murid kelas 1C tengah mempersiapkan diri untuk melakukan penjelajahan Dungeon yang merupakan salah satu mata pelajaran sekolah. Hari sebelumnya Bu Dean sudah mengatakan jika para murid boleh membawa dua perlengkapan bertarung.


“Oh itu orb blood pearl, seperti yang diharapkan dari Adriana, kau memiliki perlengkapan yang luar biasa.”


“Ini tidak sebagus itu. Tapi lihat tameng cangkang kura-kura batu yang kau bawa, aku merasa terlindungi saat kau bersama di kelompok kami.”


“Tentu, aku akan menjadi tanker terkuat di kelompok ini.”


“Adriana bagaimana dengan pedangku ini?.”


“Wow pedang Scimitar yang terlihat sangat tajam, kita pasti akan mengalahkan banyak monster bersamamu.”


“Hahaha… aku akan berusaha sebaik mungkin agar kelompok kita mendapatkan banyak inti monster.”


“Adriana bagaimana dengan jubah ku...”


“Adriana…..”


“Adriana...”


Kelompok yang dipimpin oleh Adriana ramai seperti hari Biasanya. Semua murid bukan hanya dari kelompok Adriana, mereka senang memamerkan item sihir yang dibawa dengan harapan mendapatkan pujian, walaupun di mata kita semua item itu tidak lebih dari krikil yang bisa dia temukan di pinggir jalan.


“Sangat tidak berharga.” ucap Kirana sambil menatap tongkat kayu lusuh yang merupakan alat pelatihan sihir yang disediakan oleh pihak sekolah. Sedangkan item yang dia bawa dari rumahnya hanya sebuah topi kerucut yang digunakan oleh para penyihir zaman pra sejarah dengan pita merah yang melingkarinya menjadi satu-satunya aksesoris.


“Long time no see old friend.” Kirana merasa melankolis saat melihat topi dengan banyak jahitan dan sobekan yang membuatnya seperti topi bekas.

__ADS_1


Melihat perlengkapan yang dibawa oleh Kirana yang terlihat begitu biasa, Adriana tersenyum sinis.


Setelah mempersiapkan diri, semu murid berjalan kaki menuju dungeon. Di perjalanan dia melihat Ilham dengan beberapa temannya sedang mengobrol, Kirana melihat pemuda itu terlihat sedikit pucat, gadis itu pun menghampirinya.


“Kau tidak terlihat sehat, kenapa tidak melewati kelas ini dan beristirahat di UKS?.”


“Huwaa!.”


Ilham yang tidak menyadari Kirana sudah berjalan disampingnya menjadi begitu terkejut.


“Ap… apa yang kau mau!.” dia terlihat ketakutan, entah itu karena masih shock atau trauma yang dialami oleh tubuhnya saat sedang dikendalikan. Ilham sendiri bingung dengan tubuhnya yang bergidik saat berada di dekat Kirana.


“Aku hanya ingin meminta maaf karena memukul kepalamu, kau mungkin masih pusing bukan?.” Kirana terlihat menyesal membuat Ilham sedikit bersalah.


“Itu bukan masalah besar, aku justru berterimakasih karena kau telah membuat aku kembali sadar. Jika terus dibiarkan diriku dikendalikan oleh orang lain entah apa yang akan orang itu lakukan menggunakan tubuhku.” Ilham berkata dengan senyum canggung, walaupun tubuhnya masih bergetar ketakutan.


‘Apa yang sebenarnya terjadi hingga tubuhku terus saja bergetar?.’


Ilham tidak mengingat apapun yang telah dua lakukan pada Kirana. Yang dia ingat adalah seseorang menepuk pundaknya namun saat dia berniat melihat siapa itu tiba-tiba kesadarannya menghilang, lalu saat tersadar Ilham mendapati dirinya berada di UKS dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya yang sudah diperban.


“Syukurlah jika kau baik-baik saja. Tapi aku tetap berharap kau tidak memaksa diri.” setelah mengatakan itu Kirana mempercepat langkahnya karena melihat tubuh Ilham yang tidak berhenti menggigil saat dekat dengannya.


***


Setelah berjalan sekitar 10 menit semua murid kelas 1C tiba di depan gerbang besar sering 10 meter. Penjaga dungeon terlihat begitu kuat hingga membuat para murid agak takut melihat mereka. Para penjaga tersebut merupakan mantan Hunter yang diperkerjakan oleh pihak sekolah, mereka memiliki pengalaman yang diperlukan untuk menangani monster. Walaupun dungeon ini merupakan tingkat rendah tetap saja memerlukan ‘pembersihan’ secara berkala untuk menghindari dungeon Rampage.


“Oke lihat daging-daging segar ini. Terlihat seperti menu makan malam yang lezat untuk para monster bukan?.”


“““Buwahahaha””” Para penjaga tertawa mendengar lelucon Bu Laura.


Bu Laura yang telah menunggu di depan dungeon menyambut kedatangan para murid kelas 1C. Aura kuat yang dia pancarkan membuat sebagian besar murid merasa kagum, sementara kecantikan dewasa yang dia miliki membuat para murid lelaki jatuh hati padanya.


Bu Laura kemudian memerintahkan para murid untuk segera berbaris, dengan patuh semua murid berbaris dengan rapi sesuai dengan urutan tempat duduk mereka.


‘Leadership, sangat praktis.’ Kirana merasa kagum dengan kemampuan Bu Laura yang begitu mudah mengkoordinasikan semua murid.

__ADS_1


“Oke anak-anak walaupun mungkin sebagian besar dari kalian tahu siapa aku, tapi aku akan memperkenalkan diri secara resmi.” Bu Laura batuk kecil untuk membersihkan tenggorokannya seolah akan mulai berpidato.


Bu Laura seorang pengajar yang baru saja dipindahkan ke sekolah Archata yang dulunya beliau merupakan seorang anggota militer, walaupun wanita itu tidak menyebutkan posisinya pada murid yang lain tapi Kirana sudah tahu identitas asli Bu Laura berkat mata penilaian yang dia miliki.


Dengan kemampuan dan pengalaman yang Bu Laura miliki membuatnya menjadi guru olahraga yang bertugas mengajari dasar-dasar teknik pertarungan, dia juga mengajari keahlian pedang secara khusus.


“…. Dan itu semuanya apa ada pertanyaan?.” dia tetap terlihat begitu cantik walaupun sudah berbicara hampir lima menit tanpa jeda.


“Bu saya punya pertanyaan Bu!.” seorang siswa mengangkat tangan, dengan kacamata bulat dan dua gigi yang keluar dari mulut walaupun dia sedang diam pemuda itu terlihat seperti seekor tikus.


“Yes, Sohan Somy?.” semua mata tertuju pada anak yang mengangkat tangan.


“Apa boleh saya tahu ukuran dada ibu?.” luar biasa dia bertanya dengan begitu percaya diri seolah itu adalah hal yang sangat wajar.


“Wow, itu adalah pertanyaan yang terus menggangguku setelah bertemu dengan Bu laura.”


“Seorang pahlawan telah muncul.”


“Dia seorang pria sejati.”


Murid lelaki menatapnya dengan penuh kekaguman, sementara sebaliknya para murid perempuan menatanya dengan jijik.


“Hahaha… rupanya ada anak nakal di sini.” tidak ada sedikitpun kemarahan di wajah Bu Laura, justru dia semakin menggoda para murid lelaki jika dia akan mengatakan banyak hal tentang dirinya khusus untuk tim yang bisa mendapatkan inti monster paling banyak.


“Oh seriusan? seperti yang digambarkan oleh guru paling panas di sekolah.”


“Ini akan menjadi pemacu yang bagus agar aku lebih bersemangat.”


“Kemenangan sudah pasti akan menjadi milikku!.”


Teriakan semangat para murid lelaki begitu kencang, mereka menantikan wawancara eksklusif dengan wanita yang memiliki predikat guru tercantik di sekolah Archata. Sementara itu Bu Laura sendiri menatap sosok murid perempuan yang terlihat tidak begitu menonjol. Tatapannya bertemu dengan gadis itu tapi si gadis segera mengalihkan pandangannya, tapi senyum dibibir yang begitu se×i Bu Laura mulai merekah.


***


Chapter 52 : Guru Olahraga

__ADS_1


END.


__ADS_2