
Sepuluh pertandingan yang diadakan di Colosseum telah usai, para penonton mulai meninggalkan tempat itu. Beragam reaksi ditunjukkan oleh mereka yang telah bertaruh pada pertandingan.
Ada yang kecewa karena kehilangan uang dan adapula yang….
“Ceria ceria.…huwahahah.”
Olivia begitu bahagia setelah berhasil memenangkan enam taruhan. Air liur yang membanjir mulut menetes keluar saat melihat master card berwarna emas yang dia dapatkan setelah menukar semua vocer.
[Olivia : bolehkah aku menghajar author kurang ajar ini!]
Setelah merasa tenang Olivia kemudian mengajak Kirana ke klub untuk merayakan kemenangan mereka.
Dia masih lupa tentang pacarnya yang entah saat ini tidak diketahui keberadaannya.
Tapi saat dia memasuki klub, Olivia melihat kekasihnya bermesraan dengan wanita lain sedang berciuman.
***
Bloody Gear klub.
Mengikuti alunan musik seorang pria berjoget ria sambil sesekali menggoda wanita yang ikut berjoget bersamanya.
“Hey nona bolehkah aku membelikan mu segelas teh kota?” ucapnya, namun tiba-tiba seorang pria datang dan langsung berniat menghajarnya.
“Apa yang coba kau lakukan b4jingan, jangan menggoda pacarku.”
“Oh aku pikir dia sendirian, maafkan aku kalau begitu.”
Misi pertama untuk mengajak kencan seorang gadis gagal.
Mencari target berikutnya pria itu melihat tiga wanita yang sedang duduk di depan bartender. Matanya terpikat pada wanita yang paling ujung kiri. Sebelum melancarkan aksinya pria itu memastikan jika wanita yang ingin dia goda tidak sedang bersama kekasihnya.
“Wokeh… sepertinya dia seorang diri.” dia pun mulai mendekati wanita itu.
“Hay cantik, ingin minum segelas…” perkataan pria itu terhenti saat melihat wanita atau begitulah yang dia pikirkan sedang menenggak sebotol minuman.
“……..” pria itu seketika membeku saat melihat wajah wanita yang dia incar ternyata begitu abstrak.
Baam! Wanita itu membanting botol minuman ke meja, “Oh my oh my, aku sangat tersanjung dibilang cantik oleh pria tampan seperti mu.”
Pria itu langsung muntah darah saat mendengar suara dari wanita yang terlihat sangat seksi dari belakang namun terlihat bagaikan tukang bengkel yang wajahnya terkena tumpahan oli jika dilihat dari depan. Suara wanita itu terdengar seperti pria paruh baya yang merokok selama bertahun-tahun.
“Um…sorry aku salah orang!.” pria itu mencoba untuk kabur, namun lengan besar w4ria itu menggapai lehernya.
“Tidak ini bukanlah kesalahan, dewa cinta pasti sengaja mempertemukan kita.” bisik w4ria dari belakang. Karena begitu dekat membuat si pria dapat merasakan setiap hembusan nafas w4ria itu.
“Hieeeee….” kaki pria itu seketika lemas karena begitu ketakutan.
__ADS_1
‘Seseorang aku mohon selamat aku.’ batin si pria. Wajahnya semakin pucat saat w4ria itu mencoba mencium bibirnya.
Namun beruntung nyawanya berhasil diselamatkan.
“BRAYEN!.”
PLAAAK!
Suara teriakan seorang wanita terdengar diikuti suara tamparan keras.
Olivia yang mengajak Kirana minum justru mendapati pacarnya sedang bermesraan bersama seseorang yang sulit dibedakan apakah itu wanita atau pria.
“Oliv…. aku mencintaimu!.” walaupun pipinya terdapat bekas tamparan Olivia, sama sekali pria yang bernama Brayen itu tidak marah, melainkan dia merasa hidupnya telah diselesaikan Olivia.
Brayen segala berlari kearah Olivia setelah lepas dari pelukan war1a, namun saat dia ingin memeluk pacarnya...
Sebuah hantaman dari Olivia mengenai wajah pria itu.
“Heng! Dasar lelaki playboy, kau sengaja meninggalkan aku agar bisa bermesraan dengan wanita lain.” mata Olivia berkaca-kaca dengan air mata yang hampir tumpah.
“Tunggu Oliv, kau salah paham.” dengan darah yang mengalir di hidungnya, Brayen mencoba untuk memberikan penjelasan.
“Aku bahkan tidak mengingat Kenapa aku berada di sini.” ucapnya dengan bingung.
Brayen mengatakan jika dirinya tiba-tiba tersadar di dalam toilet tanpa ingatan apapun tentang apa yang sebelumnya dia lakukan.
“Alasaaan… kau pasti mabuk sehingga melupakan aku!.” Olivia masih marah.
Perdebatan antara sepasang kekasih itu terjadi cukup lama. Olivia marah karena meninggalkannya begitu saja, sedangkan Brayen khawatir pacarnya menghabiskan seluruh uangnya untuk berjudi.
“Berapa banyak yang kau habiskan!.” tanya Brayen dengan panik. Mendengar itu Olivia menunjukkan senyum lebar.
“Kenapa kau berbicara seperti itu, seolah aku ini buruk dalam berjudi.”
“Ya tapi memang kenyataannya seperti itu.” balasan Brayen mendapat dukungan dari Kirana yang sejak tadi hanya melihat keduanya sambil minum-minum.
Merasa diremehkan oleh kekasihnya sendiri, Olivia pun menunjukkan Mastercard emas yang dia dapatkan.
“Tidak… tidak mungkin, ini pasti hanya sebuah mimpi.” Brayen menatap dengan tidak percaya.
“Hemp, sudah aku katakan jika bertaruh dalam pertandingan akan mudah.” wanita lupa jika tanpa bantuan Kirana maka dia sudah bankrut.
***
Setelah perdebatan pasangan itu selesai Olivia memperkenalkan Kirana pada kekasihnya.
“Kau pasti yang telah membantuku Olivia, aku sangat berhutang padamu, karena jika wanita ini dibiarkan begitu saja mungkin semua uang guild akan dia habiskan.” ucap Brayen, sepertinya dia benar-benar direpotkan oleh kecanduan berjudi kekasihnya.
__ADS_1
“Itu bukan apa-apa.” balas Kirana singkat.
Ketiganya pun akhirnya minum-minuman bersama sambil membicarakan banyak hal.
“Jadi kau adalah seorang anggota dari guild tentara bayaran yang baru berdiri, begitu?.” dengan wajah memerah karena mabuk Brayen berbicara.
“Yeah, aku sedang melihat kondisi pasar di daerah ini.” balas Kirana.
“Itu… akan sulit…” giliran Olivia yang berbicara, dia sudah tidak kuat minum setelah menghabiskan tiga gelas menaruh kepalanya di atas meja.
“Sudah banyak guild tentara bayaran yang menguasai daerah ini. Guild baru akan sulit berkembang karena persaingan yang keras.” tambahnya.
Walaupun wanita ini buruk dalam berjudi tapi dia adalah pengawas guild Dark Phoenix yang membuatnya tahu banyak informasi di sekitar guild.
“Benarkah? Tapi aku tetap memiliki keyakinan jika daerah ini akan menjadi ‘ladang’ yang bagus untuk perkembangan guild.”
Guild Mercenary (tentara bayaran) adalah guild yang menawarkan bantuan pada guild lainnya, kekuatan dari anggota guild.
Seringkali sebuah guild mengalami masalah saat mereka menjalankan sebuah misi, misalnya Monster yang harus mereka kalahkan terlalu kuat. Karena kekuatan guild yang tidak cukup sementara misi harus secepatnya diselesaikan guild tersebut pun tidak memiliki pilihan selain meminjam kekuatan dari luar.
Tapi permasalahannya setiap guild biasanya saling bersaing satu sama lain, mereka selalu bermusuhan karena berbagai alasan yang biasa tentang perebutan wilayah dan area berburu monster. Karena berbagai masalah itu tidak mungkin sebuah guild akan saling membantu.
Lalu disitulah peran guild tentara bayaran diperlukan. Guild tentara bayaran biasanya tidak memiliki wilayah sendiri sehingga mereka netral dalam perebutan wilayah antar guild.
“Kami tidak hanya menawarkan kekuatan anggota guild tapi kami pun menjual produk seperti perlengkapan senjata dan beragam potion.” ucap Kirana menawarkan sesuatu yang sebenarnya saat ini tidak dia miliki.
‘Aku tidak sedang menipu kau tahu! Dengan kekuatanku aku bisa menciptakan semua itu dalam beberapa hari.’ pikirnya.
“Hahaha… ya aku dapat melihat kau sudah siap untuk terjun di bisnis ini.” balas Brayen.
Kirana pun segera memberikan sebuah kartu nama berlambang tengkorak pada lelaki itu.
“Backbone Company? Tidak pernah mendengar sebelumnya.”
“Tentu karena kami baru saja muncul ke permukaan.” sikap misterius Kirana membuat Brayen merasa begitu penasaran.
Sebagai seorang petinggi guild Dark Phoenix kekuatannya tidak perlu dipertahankan lagi. Dengan kemampuan yang dia miliki Brayen bisa merasakan kekuatan lawannya dengan mudah, namun saat berhadapan dengan wanita bernama Kirana. Brayen merasa bagaikan melihat sebuah jurang tanpa dasar.
Terasa mengerikan saat dirimu menatap kebawah dan begitu menakutkan saat jurang itu menatap balik kerah mu.
***
Chapter 7 : Backbone Company.
END.
__ADS_1