
Groooar…
“Mundur!.”
“Hiyaaaaa….”
Ratusan tentara yang menjaga kaki bukit saat ini tengah terdesak oleh monster yang jumlahnya tidak pernah berkurang. Mereka harus mempertahankan wilayah itu selama mungkin agar para warga dapat diungsikan.
“Awas!.” seorang prajurit berusaha menyelamatkan rekannya yang hampi saja diterkam harimau berbulu biru sebesar beruang. Rekannya berhasil di selamatkan tapi justru prajurit tadi yang mengalami luka di pergelangan kakinya.
“Kapten…”
“Pergi! Tinggal aku di sini, selamatkan para warga yang masih tersisa.”
Prajurit itu memberikan perintah terakhir pada bawahnya. Dia sadar jika bawahnya membawanya yang terluka hanya akan menjadi beban. Dari pada seluruh pasukannya terbunuh hanya karena dirinya, lebih baik prajurit itu mengorbankan dirinya untuk memberi waktu.
Hanya tersisa dirinya di tempat itu, di sekitarnya tergeletak beberapa mayat monster level rendah, sementara monster yang lebih kuat tidak dapat dia kalahkan karena kulitnya terlalu keras untuk ditembus peluru.
“Ini akhirnya, kah?.”
Terbaring di atas tanah yang dipenuhi selongsong peluru, prajurit itu mengingat kembali rekan-rekannya yang telah lebih dulu gugur dan keluarganya yang akan dia tinggalkan.
“Aku tahu jika tidak mungkin menghindari dari ini...” ucap prajurit saat menatap monster berkepala singa dengan tubuh kura-kura yang berdiri di atasnya, mulutnya terbuka lebar bersiap menerkam prajurit itu.
“Tapi aku masih berharap agar seseorang dapat menyelamatkan keluargaku.” dia mulai menangis ketika memikirkan apa yang akan terjadi pada istri dan satu anak lelakinya setelah dia tiada.
Zriiing!
Saat monster itu hampir memakan prajurit yang berada dibawahnya, tiba-tiba sebuah kilatan cahaya membelah tubuh monster tersebut menjadi dua bagian.
Prajurit yang berada dibawahnya begitu terkejut bukan karena darah dari monster yang telah membasahi seluruh tubuhnya, melainkan karena dia tidak percaya ketika melihat tempurung monster yang tidak tergores oleh tembakan senjata api atau pelontar granat sekalipun sekarang telah terbelah dengan sempurna menjadi dua bagian.
“Apa yang terjadi?.”
BLAAARRRR!
Tidak ada jawaban yang diterima oleh si prajurit, melainkan sebuah pemandangan mengerikan tentang sebuah gunung yang dipenuhi monster meledak tanpa menyisakan apapun.
Gunung yang semula menjadi titik pengungsian tapi beberapa jam lalu telah berhasil di terobosan oleh ratusan ribu monster. Dalam hitungan detik gunung itu lenyap.
Tidak lama kemudian prajurit itu dapat melihat ratusan pesawat dengan bentuk yang belum pernah dia lihat sebelumnya, terbang mengitari langit kota.
***
***
__ADS_1
Terbang dengan kecepatan tinggi ditenangkan pemukiman padat, melalui gang-gang sempit perumahan suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh pilot terbaik sekalipun. Namun anggota guild BlackBone melakukannya dengan begitu epik, bagaikan ikan yang terus berenang tidak peduli sederas apa pun sungainya.
Ratatatatata…
Tembakan mesin bertenaga mana dengan mudah membunuh puluhan monster yang bahkan tidak dapat dibunuh oleh amunisi biasa dan ledakan peluncur roket.
“Uuuu… aku mendapatkan 72 poin, ini kemenangan ku!.” Cecilia begitu bergembira setelah menghujani tembakan pada jalan utama kota yang penuh oleh monster.
[Jangan besar kepala dulu]
Sura Regina terdengar dari microphon. Dari kejauhan Flight unit yang dikendarai oleh wanita itu membombardir alun-alun kota dan menjadikannya tempat pembantaian.
[Haha... Itu 106 poin sayang.]
“Gununu….” Cecilia mengeratkan gigi saat mendengar poin yang didapatkan oleh kakaknya lebih besar. Perlombaan antara keduanya terus berlangsung hingga kurang dari setengah jam Keduanya telah membantai lebih dari dua ribu monster.
Sementara itu saat di udara para regu dua tengah melakukan pembersihan kota. Regu ketiga telah membersihkan kaki gunung dari kepungan monster. Menyadari jika tidak ada lagi monster yang akan naik untuk mengejar mereka, semua warga dan tentara yang sempat putus asa begitu berterimakasih pada anggota BlackBone.
Di sebuah rumah yang terletak di tengah kota, sebuah keluarga masih mencoba bertahan dari kepungan monster, mereka tidak sempat melarikan diri karena letak rumah yang begitu dekat dari dungeon membuat seluruh area terkepung sebelum satu keluarga itu kabur.
Geraman monster yang terdengar di luar rumah membuat semua orang yang bersembunyi ketakutan, mereka bahkan terus menahan nafas karena takut para monster dapat mendengar suara nafas mereka. Mereka berharap bantuan akan segera tiba, namun setelah menunggu berjam-jam membuat semua orang mulai frustasi dan melakukan kesalahan fatal...
Brut!.
Salah satu dari mereka mengeluarkan suara kentut yang begitu besar hingga membuat monster di luar mendengarnya.
Tidak lama setelah bunyi kentut meledak, pintu rumah didobrak membuat panik satu keluarga yang berjumlah 5 nyawa. Para anak-anak menangis, kedua orang tua mereka mencoba melindungi dengan menyembunyikan anaknya dibelakang, sementara si anjing yang tidak lain pelaku kentut maut sudah masuk ke toilet untuk buang hajat.
Groooar..! Monster itu menjilati bibirnya saat melihat mangsa lezat dihadapannya, tapi mengingat tangannya kotor setelah melakukan On, dia pun lebih dulu masuk ke kamar mandi untuk cuci tangan sekaligus memakan anjing didalamnya untuk makanan pembuka.
[Note : Apaan sih ini?]
Groooar…
Saat monster itu bersiap memakan hidangan utama berupa satu keluarga bahagia. Tiba-tiba...
“Meong!.”
Seekor anak kucing muncul entah dari mana, semua perhatian pun tertuju pada binatang imut itu yang merupakan pilihan tetangga. Tapi tidak untuk monster, karena dirasa mengganggu kucing itu pun menyusul si anjing menjadi makanan pembuka. Kemudian monster kembali fokus pada makanan utama, tapi dia kembali diganggu.
Braaak!
Dinding rumah dijebol oleh seorang bocah lelaki dengan penutup mata hitam, tindakan itu membuat kedua orang tua menangis darah. Walaupun pintu yang sebelumnya di dobrak oleh monster tepat di sebelahnya, masih menjadi misteri kenapa bocah berambut putih memilih untuk menjebol dinding.
Di belakang si bocah lelaki, ada seorang perempuan yang lebih dewasa dengan ciri-ciri yang sama.
“Berhenti monster!, Langkahi aku lebih dulu jika kau ingin memakan mereka!.” ucap bocah lelaki.
__ADS_1
Semua orang yang melihat keberanian bocah itu begitu senang. Walaupun dia hanya terlihat seperti bocah lelaki aneh dengan penutup mata, tapi para Hunter menang begitu, mereka semua aneh tapi kuat.
Berpikir jika dia adalah Hunter kuat, satu keluarga itu kembali memiliki harapan untuk dapat diselamatkan.
Bocah itu segera berlari kearah monster, kemudian dia melompat dengan tujuan melakukan Serangan tendangan melayang.
Melihat itu monster tidak berniat menghindar melainkan membuka lebar mulutnya dimana bocah lelaki terbang menuju kedalam…
Glurp...
Tanpa melakukan apapun bocah lelaki masuk kedalam mulut monster yang langsung ditelan bulat-bulat. Semua orang dalam keluarga yang semula mengira akan diselamatkan kembali putus asa, karena terlalu depresi mereka bahkan mengambil saus untuk dilumuri ke seluruh tubuh agar monster itu dapat secepatnya memakan mereka.
“Nins, kita tidak punya waktu untuk ini!.” wanita yang dari tadi diluar berbicara pada bocah lelaki yang sudah berada di dalam perut monster.
Tanpa memperdulikan wanita itu, monster berniat menakan keempat orang di depannya, tapi saat mulut monster terbuka. Terlihat kepala bocah aneh tadi muncul di dalam mulut monster.
““‘“Aaaaaaa…”’””
Keempatnya berteriak melihat pemandangan mengerikan itu.
“Um… halo..” Nins menyapa keluarga itu saat masih didalam mulut monster.
“Dia bicara!.” ayah.
“Mama aku takut…” anak lelaki
“Mama aku membasahi celanaku.” anak perempuan.
“Makan saja suamiku biar aku bisa kawin lagi dengan mantan pacarku!.” istri lucknut.
Monster itu tersedak ketika seluruh tubuh Nins berada di tenggorokannya. Untuk melepaskan diri Nins mengambil sebuah alat dari sakunya, alat yang mirip dengan senter LED lalu saat dinyalakan keluar sinar laser ber bentuk pedang.
Zraat!
Dalam satu tebasan kepala monster terbelah dua.
“Fiuh… ini cukup menjijikkan!.” Nins mencoba membersihkan dirinya yang dipenuhi cairan aneh dari perut monster.
***
Chapter 46 Pembebasan Kota
END.
[Note : Chapter aneh, nggak di komen Ama like juga nggak apa-apa]
[Author : Heeee... jangan gitu dong]
__ADS_1