
Triiiiiing.
Seperti pagi sebelumnya, Kirana bangun karena suara berisik dari jam weker.
Akibat tidur lewat tengah malam membuat Kirana begitu mengantuk walaupun jam menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit.
Tapi karena terus diganggu oleh suara berisik membuat Kirana terpaksa bangkit dari tempat tidurnya.
“Aku akan membunuhmu!.” ancam Kirana pada jam weker yang kemudian menekan tombol off.
Setelah mematikan jam weker Kirana kembali menatap ranjangnya, dia dapat mendengar jika tempat tidur itu tengah menggodanya untuk kembali berbaring.
“Hoooamm… aku masih sangat ngantuk.” ucap Kirana sambil mengucek matanya, dia mulai rebahan di tempat tidur namun dia segera bangkit dengan mata terbuka lebar.
“Hari ini aku akan sangat sibuk, tidak ada waktu untuk bermalas-malasan.” hampir saja Kirana tergoda oleh rayuan bantal guling.
[Kasur dan bantal guling :'(.]
***
[Kirana POV]
Air dingin di pagi hari membuat rasa kantukku lenyap. Setelah membersihkan diri aku segera mengenakan baju olahraga untuk joging.
Hari libur sekolah masih berlangsung sehingga banyak orang yang melakukan olahraga pagi sama seperti ku, walaupun sebenarnya tidak semua orang memiliki niat untuk berolahraga. Mereka bangun pagi dan turun ke jalan untuk niat yang berbeda.
“Ah sungguh ini sangat menyakitkan.” kata ku saat menatap di sepanjang jalan depan rumahku terdapat puluhan pasangan muda mudi tengah bermesraan. Bukan hanya para pemuda pemudi saja, pasangan yang sudah menikah dan lansia pun ikut meramaikan jalan itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa jalan ini merupakan satu-satunya jalan yang diperbolehkan untuk pacaran di kota?.” aku agak kesal melihat mereka yang terlihat bahagia dengan pasangan mereka.
“Tapi mengapa mereka juga membawa senjata seolah ingin melakukan tawuran?.” karena penasaran aku pun memeriksa status semua pasangan di sana dan mendapati kebanyakan dari mereka adalah Hunter dengan level 10 kebawah.
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi.” aku semakin penasaran, tapi melihat ada sepasang kekasih berciuman di depan mataku yang membuatku bertambah kesal.
“Bodo lah!.”
Dengan perasaan yang kacau aku berniat untuk segera pergi dari jalan terkutuk ini, namun tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang.
“Tu… tunggu bisakah kita bicara sebentar.” suara seorang perempuan terdengar di belakang.
“Hah….?.”
Aku menatap perempuan yang menarik tanganku, dia terlihat kebingungan. Karena aku tidak buru-buru maka aku putuskan untuk mendengar urusan apa yang ingin dia bicarakan denganku.
***
“Hey kemana wanita itu?, sial dia terlihat begitu ‘Panas’ kawan.”
“Hahaha, ini adalah hari keberuntungan ku. Mungkin setelah acara ini kami bisa benar-benar berkencan.”
“Cih, dasar b4jingan beruntung. Yang aku dapatkan justru barang normal.”
__ADS_1
Tiga pemuda saling mengobrol sambil terlihat sedang mencari seseorang. Sementara gadis yang sedang mereka cari tengah bersamaku bersembunyi ditengah kerumunan.
“Jadi ada sebuah dungeon khusus muncul di sekitar sini yang hanya bisa dimasuki oleh sepasang kekasih?.”
“He eh.… Tidak juga, asalkan kau memiliki pasangan maka kau bisa menantang dungeon” gadis itu membalas dengan kondisi mulut dipenuhi es dawet.
Menghindari kejaran tiga pemuda yang mencari gadis itu, kami terus berpindah dari kerumunan satu ke kerumunan lainnya sambil sesekali menikmati makan gratis yang disediakan oleh orang-orang baik.
“Lalu kenapa kau berada di sini? Kemana pasanganmu?.” sementara itu aku menikmati es kopi susu yang menyegarkan.
“Tidak aku tidak punya.” balas gadis itu. Aku dapat melihat wajahnya yang menunjukkan kemarahan.
“Aku datang kemari dengan temanku, namun dia bertemu pasangannya lalu pergi begitu saja masuk kedalam dungeon.”
Sepertinya dia kesal karena teman yang meninggalkannya membuat dia menjadi sasaran untuk di goda oleh para pria hidung belang.
“Jadi kau akan tetap di sini untuk menunggu temanmu?.” membalas perkataanku gadis itu hanya mengangguk.
“Apa kau keberatan jika menemaniku sebentar?.” dia bertanya dengan begitu berhati-hati seolah takut jika gadis yang baru dia temui menolak untuk menemaninya.
“Tidak masalah untukku.”
Boeing Boing!!
Gadis itu seketika memeluk lenganku setelah mendengar jika aku akan menemaninya. Aku dapat merasakan wajahku sedikit memerah saat merasakan lenganku diapit oleh dua belahan dada yang cukup besar.
“Ini bukan apa apa kau tahu.”
“Tidak, kau telah menyelamatkan aku. Tiga pria tadi sangat menakutkan bagiku.” Dia terlihat begitu tertekan, aku pun mencoba menenangkannya dengan mengusap bahunya.
“Namaku Leona Wildroar.”
Aku terdiam saat mendengar nama Wildroar, namun segera membalas saat sadar Leona terus menatapku.
“Kirana, Just Kirana.”
Kami berdua terus bersama menonton beberapa pertunjukan seniman jalanan dan menikmati makanan gratis. Hingga akhirnya Leona mendapatkan panggilan dari temannya yang ternyata sudah keluar dari dungeon.
“Woah... Lena, aku benar-benar minta maaf karena si bodoh itu terus memaksaku untuk mencoba menantang dungeon.” teman Leona terus meminta maaf karena telah meninggalkannya.
Leona mengatakan itu bukan masalah besar, walaupun dia hampir mendapatkan masalah dengan lelaki hidung belang yang terus mengejarnya.
“Oh benar, perkenalkan dia Kirana yang telah menemaniku saat kau sibuk berpacaran.” Leon memperkenalkan aku pada temannya dengan nada sedikit sarkastik.
Teman Leona bernama Cecilia Swampsin. Dia terlihat begitu periang namun aku merasa ada sesuatu yang mencurigakan dari gadis ini.
‘Dia terlihat berbeda dari yang aku ingat.’ pikirku.
Nama Cecilia Swampsin (Rawa Dosa) begitu terkenal di kehidupanku sebelumnya. Namun dia terkenal dengan cara yang buruk. Dia terkenal sebagai Ratu kecemburuan yang menguasai bisnis prost1tusi dan obat terlarang di banyak negara.
‘Dia terlihat begitu rapuh saat ini, begitu berbeda dengan Ratu kecemburuan yang mampu membuat ribuan pria bertekuk lutut hanya dengan satu kedipan mata.’
__ADS_1
Karena terlalu berbeda dari yang aku ingat membuat ku berpikir jika dia adalah orang lain.
Tapi aku sadar hidup itu keras. Mungkin ada beberapa hal yang dapat membuat gadis rapuh ini menjadi penguasa diktator dunia hitam di masa depan.
Seingat ku, Cecilia juga seangkatan dengan ku di sekolah. Tapi kelas kami yang berbeda membuatku tidak begitu mengenalnya saat di sekolah.
Sedangkan Leona, aku masih belum ingat tentang gadis ini. Jika kita di sekolah yang sama seharusnya aku mendengar tentang dia setidaknya sekali, terlebih dengan kecantikan yang dia miliki pasti akan menjadi salah satu siswi terpopuler di sekolah.
Namun aku tidak memiliki ingatan apapun tentang Leona.
***
“Jadi bagaimana hasilnya?.” Leona menanyakan tentang penakluk dungeon.
“Haaa… aku tidak ingin membicarakannya, karena dungeon itu kami putus.” jawab Cecilia dengan ketus.
“Apa? Kenapa.” Leona begitu terkejut mendengar temannya telah putus.
“Aku sudah bilang tidak ingin membicarakannya!.” balas Cecilia dengan nada tinggi membuat Leona terkejut.
“Ah… maaf Len, aku benar-benar tidak ingin membicarakannya.” Cecilia sadar jika telah membentak temannya, diapun segera meminta maaf.
Sementara Leona pun mencoba memahami perasaan temannya yang barusaja putus cinta.
“Aku ingin sendiri untuk saat ini, bisakah kau pulang dengan….” dia memerlukan beberapa saat untuk mengingat namaku.
“Kiranti…. Kan?.” dia bahkan salah menyebutkan namaku, pikirannya pasti benar-benar sangat kacau.
“Pfffft…” Leona dengan sekuat tenaga menahan tawanya.
“Ya jangan khawatir, aku pasti akan mengantarnya pulang apapun yang terjadi.” balasku yang tidak peduli jika namaku telah berubah menjadi nama produk jamu datang bulan.
Cecilia sedikit tersenyum saat melihat Leona tertawa, tapi aku merasakan perasaan amarah yang tertahan di dalam dirinya. Cecilia pun akhirnya pergi meninggalkan kami.
“Cecil apa dia sungguh baik-baik saja sendirian?.” Leon masih khawatir dengan temannya.
“Beri dia waktu untuk menenangkan diri.” aku memberinya saran. Dengan berat hati Leona hanya bisa menerima.
Dari semua tindakan dan emosi yang aku dapatkan dari Cecilia membuatku sadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Dia pasti begitu kebingungan. Cintanya berakhir karena temannya, namun temannya tidak melakukan kesalahan apapun yang membuatnya kehilangan cinta...
“Benar-benar tumit.... eh rumit maksudku.”
***
Leona Wildroar
Cecilia Swampsin
__ADS_1
Chapter 9 : Pertemanan dan Cinta
END.