
[kelompok Adriana]
Groooar!
Serangan datang dari satu kelabang raksa, Fey yang merupakan tengker utama segera menghadang serangan itu.
Brak!
“Kuh!.” Fey terlihat kesulitan saat menghadapi tabrakan kelabang raksasa.
“Samuel bantu Fey dengan ku, yang lain tetap jaga semua blood bar dan berusaha mengalahkan mereka.”
“““Yes Adriana!”””
Mengikuti arahan Adriana, kelompok sepuluh Murid melawan sejumlah kelelawar darah dan kelabang raksasa. Pertarungan berlangsung cukup lama karena kelelawar darah turus bermunculan.
“Fuwaaaaa… itu pertarungan yang sangat melelahkan.” Fey mengelap keringat di dahinya, tapi tindakan itu justru membua setiap anak menatap kearahnya, terutama para pria. Menyadari tatapan setiap pria dikelopok itu membuat Fey kebingungan.
“Kau gadis tidak.… Argh!.” Samuel merasa sulit sendiri saat ingin mengatakan apa yang dia lihat.
“Hahaha… Fey gunakan jaket ini untuk menutupi dadamu.” Adriana menyerahkan sebuah jaket yang dia ambil dari item box, sebuah skill yang memungkinkan pengguna untuk menyimpan berbagai benda di dalam dimensi kecil.
“He?… Heweeeeee....” Fey awalnya bingung kenapa Adriana memintanya untuk menutupi dadanya dengan jaket, tapi dia segera sadar saat melihat baju yang dia kenakan robek dan memperlihatkan pakaian dalam yang dia kenakan.
“Biru.”
“Dengan bintik putih.”
“Berendra.”
“Wow cukup besar bukan.”
Pera murid lelaki mendeskripsikan apa yang mereka lihat.
“Kalian para hidung belang berhenti menatap.” Fey yang malu mengacungkan pedangnya pada Samuel.
“Kenapa justru aku yang kau salahkan?.”
Kelompok Adriana telah mengalahkan banyak monster Dungeon, jumlah mereka yang lebih banyak karena menggabungkan dua kelompok membuat perburuan semakin mudah.
Mereka telah membunuh Lina belas kelabang raksasa dan 32 kelelawar darah, membuat kelompok Adriana menjadi yang terbanyak mengumpulkan inti monster untuk saat ini.
***
__ADS_1
***
Prupler berlari dengan tombak terbunuh, didepannya satu prajurit tengkorak menahan kelabang raksasa dengan prisai.
“Tusuksn tajam!.” gadis berambut biru gelap itu menghujam keras tombak yang dia gunakan hingga menembus kulit kelabang raksasa.
Groaaar! Teriakan kematian kelabang terdengar, lalu monster Dungeon itu pun jatuh kehilangan nyawa.
“Itu satu lagi.” Prupler mengambil inti monster setelah kelabang raksasa menghilang, dia kemudian menatap teman-temannya yang tengah berusaha mengalahkan monster yang mereka hadapi.
“Tck, kelelawar bodoh kemari lah!.” Black Roa melompat saat satu kelelawar berada dalam jarak serangannya. Tebasan tajam membuat satu saya p kelelawar putus dan terjatuh.
“Lihat tikus terbang ini begitu lucu.” ucap black Roa menatap kelelawar yang kesakitan karena salah satu sayapnya putus.
Krac!
Kreaaak!.
“Oh itu cukup menyenangkan.” seperti seorang psikopat, Black Roa menginjak kelelawar darah dengan senyum lebar. Dia terlihat senang melihat kelelawar yang menyerangnya menjadi tikus tumbuk.
“Black, berhenti bermain-main. Kita kedatangan tamu lainnya.” suara Kirana menyadarkan Black Roa.
“Witch Hat, berapa banyak yang datang!.” Prupler bersiap menghadapi serangan yang datang.
“Si… siapa yang kau sebut topi penyihir? Apa itu aku, karena hanya aku yang menggunakan topi di dini?.” Kirana tidak menyukai sebutan yang diberikan oleh Prupler.
“Empat kelabang raksasa dan 10 kelelawar darah, mereka akan tiba kemari dalam tiga menit.” Kirana menggunakan kemampuan deteksi untuk mengetahui jumlah monster yang datang.
“Banyak, banyak daging cincang yang datang!.”
“Tck, tanganku akan pegal.”
“Hahaha… datanglah pada ibumu!.”
Ketiga Sha sister bersiap untuk gelombang lainnya. Mereka segera mempersiapkan senjata karena beberapa kali mendapatkan serangan dari para monster. Skeleton soldier yang dipanggil oleh Kirana membantu dengan mengumpulkan panah milik Green Ren. Sementara Kirana sendiri memeriksa perlengkapan teman-temannya dan memperbaikinya.
“Jika kau benar-benar bercita-cita menjadi Hunter hebat, kau harus mengetahui dasar untuk merawat senjata yang kau gunakan!.” Kirana memberikan nasehat pada keempat temannya. Gadis-gadis hanya menatap Kirana yang sedang memperbaiki senjata mereka.
Tombak Prupler agak Livin karena terkena darah monster, Kirana membersihkannya dengan sihir air. Lalu mata pedang yang sudah hampir copot, Kirana melakukan perbaikan dengan mengencangkan menggunakan teknik las sihir api, kemudian mengasah mata tombak yang mulai tumpul menggunakan inti monster.
“Oh… ini… lumayan.” Prupler memeriksa tombaknya yang telah diperbaiki oleh Kirana. Dia merasa tombaknya lebih ringan namun tetap kokoh.
__ADS_1
“Seolah aku telah memperbaikinya di blacksmit.”
Kemudian giliran senjata tiga Sha bersaudari. Kirana mengencangkan tali pada panah Green Ren, retakan pada panah dia perbaiki dengan sihir kehidupan membuat panah berbahan kayu itu kembali seperti baru.
“Um… ini sangat membantu, aku selalu khawatir jika tiba-tiba panah ini patah.” Green Ren berterimakasih pada Kirana yang telah memperbaiki panahnya.
“Giliran ku, giliran ku!.”
Pink Nik segera menyerahkan tameng dan pedagang sebelum saudarinya Black Roa menyerahkan Beliti miliknya.
“Tck,” Black Roa tidak senang karena menjadi yang terakhir.
Kira mulai memperbaiki perlengkapan Pink Nik. Mata pedang yang bergerigi karena terus digunakan gadis itu perbaiki dengan sihir api lalu mengasahnya dengan inti monster. Tameng yang retak di berikan tambalan menggunakan cangkang kelabang raksasa lalu direkatkan dengan memanaskan tameng menggunakan sihir api
“Ini agak berat sedikit tapi terasa semakin kokoh. Dan pedang... pedangnya sangat berkilau.” Pink Nik merasa senang perlengkapannya telah di perbaiki.
“Terakhir giliran nona assassin.” Kirana meminta senjata Black Roa untuk dia perbaiki. Namun setelah mendapatkan senjata Assassin itu, kira merasakan sesuatu yang aneh.
“Ini?.”
Melihat Kirana yang terdiam menatap belati Black Roa membuat semua gadis penasaran.
“Ada apa dengan belati milikku? Apa kau tidak bisa memperbaikinya?.” tanya Black Roa yang mulai khawatir. Dia merasakan tangannya sakit saat menggenggam belati itu karena telapak tangannya terluka lama bertarung.
“Tidak. Tentu aku bisa memperbaikinya, dan obati luka mu itu dengan ini.” Kirana mengambil obat merah dan perban untuk Black Roa mengobati tangannya.
‘Aku tidak mengira True Death Dagger akan berada ditangan Black Roa.’
Kirana mengenali belati yang saat ini dia pegang. Namun dia heran bagaimana Black Roa bisa mendapatkan batu itu.
True Death Dagger, sebuah belati dengan rank B namun dapat tumbuh hingga mencapai rank SS. Kemampuan dari belati itu adalah menangkap jiwa dari makhluk yang dia bunuh untuk memperkuat belati tersebut.
‘Mereka menyebutnya sebagai peringkat 5 senjata pembunuh imortal.’
Di masa depan akan muncul banyak individu dan monster kuat dengan kemampuan abadi. Entah karena regenerasi yang super cepat seperti Gilang, hidup lagi setelah mati beberapa detik atau nyawa yang dapat berpindah ke tubuh lain jika terbunuh. Mereka disebut sebagai imortal.
Entitas yang tidak dapat dikalahkan dengan cara biasa, memerlukan teknik dan senjata khusus untuk melenyapkan mereka selamanya. Salah satunya adalah belati kematian yang dapat menyerap jiwa makhluk yang dia bunuh dan menjadikannya sebagai makanan penambah kekuatan.
‘Menghentikan siklus reinkarnasi dari mereka yang memiliki kemampuan kembali ke masa lalu, senjata ini akan menjadi ancaman untuk beberapa MC anime.’
***
Chapter 55 : Tim Kirana.
__ADS_1
END.