
[Jangan lupa tinggalkan komentar dan like setelah membaca]
________________________________________________
{All Father sudah mengira jika kau akan kembali datang kemari}
“Benarkah? Aku berharap dia selalu sehat.”
{Biaya sedang mengalami tidur abadi sekarang}
“Wow... Tanpa ayahnya yang mengawasi pasti dewa bodoh itu terus membuat Asgard menjadi ramai bukan?.”
{Tidak juga, Dewi Frigga mengendalikan Asgard menggantikan all Father selama ia beristirahat}
Seolah tidak memperdulikan status antara keduanya, Kirana dan Heimdall terus mengobrol tentang apa yang terjadi setelah Kirana mengalahkan Yagdragoath.
{Keseimbangan sembilan dimensi utama telah diperbaiki, kau mendapatkan kesempatan kedua untuk menjalani kehidupan seperti yang kau inginkan. Lalu kenapa kau masih menginjakkan kekuatan itu? Kekuatan yang hanya akan menimbulkan masalah}
“Itu karena dimensi tempat aku berada saat ini begitu sama seperti dimensi tempat aku berasal. penuh kekuatan mana dan penuh orang gila yang ingin menebar kehancuran. Aku menggunakan semua yang aku dapatkan dulu hanya untuk melindungi kehidupan ku yang tenang.”
Kekuatan jika berada di tangan yang salah akan menjadi malapetaka. Tapi tidak berarti jika orang baik yang menggunakan kekuatan itu akan membuat dunia aman.
Kekuatan ada hanya untuk menghancurkan.
Di kehidupan Kirana yang dahulu dia adalah seorang prajurit. Kirana menghabiskan banyak waktu miliknya hanya untuk mengikuti perintah dari mereka yang memiliki posisi lebih tinggi. Dia merasa tidak ubahnya seperti alat.
“Aku tidak ingin melalu kehidupan seperti itu lagi.” kata Kirana, Heimdall hanya meliriknya dengan tatapan tidak percaya.
{Itu mustahil jika masih tersisa empati dalam dirimu}
Perkataan Heimdall membuat Kirana terdiam seribu bahasa. Dia kembali teringat tentang perbuatannya menolong Cecilia dan Regina. Jika dia tidak menolong kedua perempuan itu maka Cecilia akan terbangkitkan menjadi Ratu Kecemburuan. Tapi akibat dari campur tangan yang dia lakukan kini guild Wongasu pun akan mencari dirinya.
“Kau benar jika aku ingin hidup dengan tenang maka aku harus membuang empati dalam diriku.”
“Tapi bukankah itu berarti aku akan berhenti menjadi seorang manusia?.”
Heimdall menghela nafas lega saat melihat Kirana masih tidak ingin kehilangan sifat kemanusiaannya, walaupun gadis itu akan mendapatkan apa yang dia inginkan jika dia membuang perasaan itu.
{Aku pikir All Father memang membuat pilihan tepat untuk mengembalikan semua yang kau tinggalkan}
Heimdall menjulurkan tangannya pada Kirana, perlahan titik cahaya kecil tercipta di telapak tangan Heimdall.
Titik cahaya yang merupakan celah dimensi yang selama ini Kirana cari.
“Pantas aku tidak dapat menemukannya, ternyata selama ini ada padamu.” Kirana sempat berpikir jika kemampuan pencariannya telah menurun, tapi ternyata memang dimensi yang dia cari telah disembunyikan oleh Heimdall.
{Tidak ada satupun kehidupan didalamnya, hanya reruntuhan dunia dan benda yang kau tinggalkan}
__ADS_1
Kirana kemudian mengambil cahaya itu lalu dia memasukkan kedalam mulutnya.
“Terimakasih Heimdall, aku senang bisa bertemu lagi dengan mu. Dan sampaikan salam ku pada semua orang, oke!.” setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Kirana segera berpamitan dengan Heimdall.
Kirana tidak dapat masuk ke Asgard karena apa yang telah dia lakukan di masa lalu.
“Di mana wanita manusia itu!. Aku mendengar jika dia kembali datang ke mari.” pria besar dengan rambut merah dan membawa palu, bertanya pada Heimdall dengan begitu kasar.
Setelah kepergian Kirana, beberapa orang masuk ke ruangan observasi Heimdall. Mereka membawa senjata lengkap seolah bersiap untuk bertarung.
{Seperti yang anda lihat tuanku, dia telah meninggalkan tempat ini setelah mendapatkan apa yang dia inginkan}
Jawaban Heimdall membuat pri besar itu begitu marah.
“Kau bodoh! Bagaimana kau bisa melakukan itu, bagaimana jika wanita manusia itu memiliki niat untuk menyerang Asgard setelah mendapatkan kekuatannya kembali?.”
Bau alkohol tercium menyengat saat pria itu berbicara.
{Itu telah mendapatkan izin dari ayahmu}
“Cih, dasar tidak berguna.” mendengar ayahnya sendiri yang telah memberi izin, membuat pria itu tidak memiliki hak untuk mengatakan keberatan.
‘Tidak, aku tidak bisa membiarkan wanita manusia itu memiliki semuanya. Energi tanpa batas dari pecahan inti Yggdaradil, pengetahuan dari perpustakaan Akashic, pasukan kuat yang dia ciptakan dan yang paling aku inginkan inti kehidupan Yagdragoath.’
Saat berjalan kembali ke istana para dewa Asgard bersama pengikutnya. Dewa Thor begitu marah karena sesuatu yang bisa membuat dirinya menggantikan posisi ayahnya, kini telah dikembalikan kepada pemiliknya.
Dewa Thor menghentikan langkahnya, dia melirik semua anak buah di belakang.
‘Aku tidak bisa membiarkan ini berakhir begitu saja, aku akan mengutus anak buah ku secara rahasia untuk mencari keberadaan dimensi yang saat ini dia tempati.’
Melihat Dewa Thor pergi dengan penuh amarah, Heimdall hanya diam menatap milyaran dimensi yang merupakan tugasnya sebagai pengawas.
{Aku pikir kehidupanmu kali ini pun tidak akan berbeda dengan yang sudah kau alami}
Ucap Heimdall saat memfokuskan penglihatannya pada satu titik cahaya yang letaknya paling jauh dari cahaya lainnya.
{Hidup ditengah pertikaian para dewa, aku penasaran apa yang akan kau lakukan kali ini Wahai penerus Dewa Kehancuran}
***
Kirana meninggalkan Asgard dengan langsung melakukan teleportasi kedalam lubang dimensi yang diberikan oleh Heimdall.
“Lubang dimensi sudah aku amankan dengan menyimpannya di dalam jiwaku.” ucap Kirana.
Dia tahu jika banyak Dewa yang mengincar kekuatan dari tubuh Dewa kehancuran dan harta yang dia simpan. Di mana saat ini semua itu berada di dimensi tempat Kirana berasal.
“Oke mereka mungkin akan datang mencari ku karena apa yang aku miliki, jadi mari tumbuh semakin kuat agar bisa mempertahankan kehidupanku yang santai.”
Walaupun sebenarnya dia tidak ingin berurusan lagi dengan para dewa. Tapi Kirana sadar jika apa yang telah dia miliki jatuh ke tangan yang salah maka akan melahirkan Dewa Kehancuran lain yang bahkan bisa lebih buruk dari Yagdragoath.
__ADS_1
Dia tidak ingin itu terjadi karena sudah dapat dipastikan jika seluruh kehidupan bisa terancam, termasuk kehidupannya yang santai.
Menyusuri sungai mana yang menghubungkan Yggdaradil dengan dimensi, Kirana akhirnya kembali masuk kedalam dimensinya berasal.
Tidak ada apapun selain kegelapan, semesta telah mati hingga tidak ada satupun bintang yang bersinar.
“Sunyi dan gelap, beginikah jika sebuah dimensi telah mati?.”
Menggunakan sihir pencarian Kirana menemukan bangunan besar berbentuk kotak, itu adalah wujud dari kapal induk luar angkasa yang dibangun Kirana untuk menjelajahi seluruh dimensi.
Dia membangun pesawat luar angkasa yang besarnya hampir seperempat dunia dengan tujuan menampung koloni manusia yang masih tersisa. Tujuannya berhasil hingga bisa mempertahankan kehidupan manusia hingga tujuh ratus tahun, tapi manusia yang muak berada di dalam pesawat luar angkasa mulai saling berperang satu sama lain.
“Dilihat kembali semua yang aku lakukan untuk mempertahankan kehidupan manusia terasa sia-sia. Mereka bagaikan bom waktu yang siap meledak kapanpun karena emosi yang mereka miliki.”
Pesawat itu menyala saat jiwa Kirana menghampirinya. Setelah melakukan pemindaian pada jiwa Kirana, pintu pesawat pun terbuka lebar.
[Selamat datang kembali Master]
Suara mekanik terdengar langsung di kepala Kirana, itu sama seperti saat dia berada di dalam dungeon.
“Kau juga Big Bro, aku begitu rindu dengan suaramu walaupun dalam waktu yang aku lalui itu hanya beberapa hari. Sedangkan kau, berapa lama kau menunggu?.”
Di temani dengan suara yang berasal dari kecerdasan buatan, Kirana menuju ruang kendali.
[Dikonfirmasi jika telah berlalu 520 tahun sejak kontrak terakhir dengan master]
“Lima ratus tahun? Itu lama, aku pikir perlu menyesuaikan waktu di dimensi ini dengan dimensi yang saat ini aku tempati.”
Sampai di kokpit, Kirana duduk didepan kemudi. Kirana terdiam saat melihat pemandangan di luar pesat.
Itu hanyalah bongkahan batu besar yang dulu merupakan bumi tempatnya dilahirkan.
“Aku… aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika dunia itu mendapat nasib sama seperti dunia ini.”
[……]
Setelah menenangkan diri dari kesedihan yang datang akibat kenangan lama. Kirana memencet sebuah tombol yang membuat seluruh bagian pesawat itu menyala.
“Ayo kita pergi menuju rumah baru kita, Big Bro.”
[Aye Aye kapten.]
***
Chapter 19 : Big Bro.
End.
__ADS_1