
“Aku, dimana kelasku berada?.” Leona mencari kelasnya dengan serius hingga tidak memperdulikan Kirana kepalanya dihimpit dua gunung miliknya.
Kirana yang hanya setinggi pundak Leona membuatnya cukup khawatir saat temannya itu memeluknya dari belakang seperti yang terjadi saat ini. Pemandangan Kirana dan Leona semakin membuat para pemuda iri, mereka akan dengan senang hati menjual jiwa pada iblis hanya untuk menggantikan posisi Kirana memiliki hangatnya gunung kembar di kepala mereka.
“Len kemana kau mencari? Namamu ada di bagian paling atas klas A!.” tidak tahan dengan sensasi panas di kupingnya, Kirana segera memberitahu Leona kelas yang akan dua tempati.
“Oh itu aku ada peringkat pertama dan Cecilia dibawah ku.” Kirana akhirnya bisa bernafas lega saat pelukan Leona mulai mengendur, tapi itu hanya untuk sesaat “Lalu Kira.... heee... kenapa Kirana tidak ada di kelas A. Apa pihak sekolah lupa padamu?.”
Grab!
“Gufu… ak.. aku akan ma... mati!.”
Pelukan itu kembali membuat Kirana sesak nafas bahkan lebih kuat dari sebelumnya hingga kepala gadis itu semakin tenggelam, semu lelaki iri dan mengaggap Kirana begitu beruntung. Mati dalam pelukan malaikat secantik Leona mungkin sebuah berkah bagi para lelaki itu. Tapi tidak untuk Kirana.
“Hahaha… Len hentikan kau hampir membuat Kira pergi ke UKS.” suara Cecilia membuat Leona melepas pelukannya, Kirana yang hampir kehilangan kesadaran karena sesak nafas pun terselamatkan.
“Hey Cecil dengar pihak sekolah melupakan Kirana, mungkin karena hawa kehadirannya begitu tipis.” Leona berbicara dengan Cecilia.
“Mereka tidak melupakan aku!.” Kirana marah karena dianggap tidak terlihat.
“Hahaha… aku melihatnya dia pasti dimasukkan ke klas C karena tidak cukup banyak mengumpulkan poin.” Leona menjadi sedih saat mengetahui jika Kirana tidak akan satu kelas dengannya.
Cecilia melirik pemuda yang dari tadi tidak di sadari keberadaan oleh Leona. Gadis itu mulai tersenyum tipis seolah sedang merencanakan sesuatu.
“Oh apa yang kau lihat tuan yang tidak suka Mutan?.” perkataan Cecilia membuat seluruh perhatian murid tertuju pada Gilang.
“Oh itu kau yang kemarin terus menggangu Kira. Apa yang kau lakukan kali ini, apa kau bermaksud merencanakan hal buruk pada temanku, hah!.” Leona langsung pasang badan melindungi Kirana dari tatapan Gilang.
Sementara itu semua murid lainnya mulai membicarakan betapa arogannya Gilang saat pertempuran kemarin.
“Tidak berguna, kalian bisa bernafas lega di dalam sekolah ini karena aku pun tidak ingin dikeluarkan karena melakukan pembunuh di sini, tapi berhati-hati lah saat di luar.”
Senyuman binatang buas terlihat jelas di wajah Gilang, dia benar-benar berhasil mengintimidasi seluruh murid kelas satu. Dengan ini Gilang menjadi siswa paling diwaspadai oleh semua murid baru, tidak akan ada siswa yang akan berteman dengan pemuda itu, tapi Gilang seolah tidak peduli dan terus menunjukkan jika dia adalah anak nakal.
__ADS_1
***
“Aku pikir ini kelas ku.”
Setelah naik ke lantai tiga gedung sekolah, Kirana akhirnya sampai di rusng kelas C. Pembagian ruangan di sekolah ini menurut pada kelas, dimana kelas A akan berada di lantai dasar sementara klas B akan berada di atasnya dan seterusnya hingga lantai 5 akan ditempati oleh klas D.
“Tentu saja mereka melakukan itu agar jika ada tamu yang datang, hal pertama yang bisa para guru perlihatkan adalah klas terbaik (kelas A).” Kirana mulai memasuki ruang kelas 1C, “Investor itu penting.” Kirana menatap sekitar dan mendapati sudah banyak siswa yang telah menempati kursi.
Kirana mencoba mencari kursi yang kosong, tapi yang dia temukan justru Adriana yang tengah dikelilingi oleh banyak murid.
“Adriana, kau tidak apa-apa? siapa yang sudah memukulmu kita harus memberinya pelajaran!.”
“Benar, jahat sekali orang yang menyakiti Adriana!.”
“Aku tidak akan memaafkan orang yang telah menyakiti Adriana!.”
“Adriana…”
“Adriana…”
“Ada beberapa luka lebam di pipi dan tangan, Cecilia seperti menghajar gadis itu beberapa kali untuk peringatan” Kirana mengalihkan perhatian dari kelompok Adriana dan kembali mencari tempat duduk yang belum ditempati. Pandangan Adriana sempat bertemu dengan tatapan Kirana, gadis itu melihat senyum kecil pada bibir Kirana. Dengan satu kali lihat pun Adriana tahu makna dari senyuman itu.
“Kuh… kenapa dia ada di sini?.” Adriana meringis kesakitan karena luka dalamnya akibat pertarungan dengan Cecilia kembali terasa saat bertemu Kirana. Melihat Adriana kesakitan membuat teman-temannya menjadi khawatir, tapi gadis itu mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Kirana akhirnya menemukan kursi kosong pada bangku paling belakang barisan ke lima, itu kursi paling pojok dari pintu masuk. Kirana tidak segera menempati kursi tersebut karena takut ada murid iseng yang ingin mengerjai siapa pun yang menempati kursi itu.
‘Kursi yang paling nyaman untuk tidur saat jam pelajaran, tapi justru tidak ada satupun murid yang menempatinya, bukankah itu sedikit aneh.’
kira juga dapat merasakan tatapan para murid di dalam kelas yang memperhatikannya, seolah mereka sedang menunggu sesuatu.
‘Mungkin sudah ada beberapa korban.’
Setelah pencarian menyeluruh akhirnya Kirana menemukan beberapa rune sihir yang terpasang di kursi dan dalam laci meja. Kirana pun segera menyobeknya, perbuatan Kirana tentu membuat beberapa siswa terkejut.
__ADS_1
“Rune jump dan rune hawa panas, apakah seseorang ingin memanggang roti?.” Kirana meremas kedua rune tersebut lalu melemparnya pada seseorang yang duduk di kursi terdepan.
“Heh, Apa?.” pemuda itu terlihat terkejut saat mendapati kertas lusuh yang dilemparkan oleh Kirana mengenai kepalanya.
“Maaf seharusnya aku membuang sampah pada tempatnya.” ucap Kirana menyesal, tapi sebagai balasan pemuda itu menatapnya dengan begitu tajam.
Sementara para siswa bertanya apa yang sebenarnya terjadi, mereka heran kenapa Kirana yang terlihat seperti seorang kutu buku biasa dari penampilannya bisa duduk di kursi yang sudah beberapa kali menerbangkan murid ketika mencoba duduk di atasnya.
“Sial hari ini aku sangat dipermalukan oleh kursi itu, aku terbang membentur papan tulis dan dilihat banyak orang. Tapi kenapa gadis mutan itu tidak terbang?”
“Aku juga sama, tas dan seluruh buku milikku hampir terbakar habis saat aku memasukkannya kedalam laci meja.”
“Mungkinkah kertas yang gadis itu temukan adalah sebuah rune yang menyebabkan kursi itu melontarkan siapa pun yang duduk diatasnya dan membakar apapun yang ada di dalam laci?.”
Para murid pun segera mengalihkan perhatian mereka pada Kirana dan sobekan kertas yang saat ini dipegang oleh pemuda di kursi depan.
“Um.. biar aku membantumu untuk membuang ini.” kemudian pemuda itu segera berlari keluar kelas.
Melihat itu semua siswa semakin heran, tapi Kirana yang tidak peduli kembali duduk menikmati ketenangan di bagian paling sudut kelas.
“Yeah, aku pikir harus berterima kasih pada pemuda tadi, karena keusilannya membuat aku dapat duduk di kursi ini tanpa menggunakan sihir cuci otak.”
Dia sudah merencanakan untuk duduk di kursi tersebut.
***
Adriana Lustfull.
Chapter 40 : Tempat Duduk
END.
__ADS_1